Selamat Menikah, Ardhika dan Murti!

Selamat buat Ardhika dan Murti. Selamat berlayar dengan bahtera rumah tangga menuju pulau impian. Kadang layar tak sesuai dengan arah angin, badai datang tak diduga, rayap melapukkan kayu, namun itu semua dapat diatasi dengan kesepahaman kapten dan awak kapal. Semoga sampai dengan selamat!

Ardhika ini yang membuat saya menginjakkan kaki ke negeri Jiran. Dia mengajak saya untuk melanjutkan studi di Malaysia. Dengan gaya khasnya yang ‘agak memaksa’, saya tertarik untuk masuk ke IIUM, satu kampus dengannya. Tak hanya mengajak, Ardhika juga mengarahkan, menjemput, dan ‘mengajari’ detail bagaimana hidup di tanah Malaysia. Dari cara menyambungkan koneksi wifi kampus, sampai cara pesan jus semangka tanpa gula di kantin Ali. Ngomong-ngomong, terima kasih ya, Ardhika!

Pernah suatu kali melakukan perjalanan menuju Kedah. Yang kala itu bertujuan mengantar salah satu kawan kami, Badruttamam, yang akan mengajar di sebuah pondok di Kedah. Dengan gayanya, Ardhika berseloroh kepada saya yang menjadi sopir malam itu, “gak usah buka maps, ikutin tol ini saja, pasti sampai!” Dan akhirnya, kami tersesat. Perjalanan 5 jam, menjadi 12 jam. Yang seharusnya perjalanan 300 km, menjadi 700 km.

Pernah suatu kali ‘bekerja’ mencari tambahan sangu sebagai tour guide jamaah umroh berkeliling Malaysia. Saya bertugas dengan Ardhika. Alih-alih menjadi tour guide, saya malah menjadi petugas medis, karena hampir separuh jamaah sakit. Akhirnya saya stand by di hotel, mengantar para jamaah bergantian ke klinik samping hotel. Dan Ardhika sibuk membawa dua rombongan bus berkeliling Kuala Lumpur. Saat mereka sudah kembali ke Indonesia, qodarallah salah satu jamaah harus rawat lanjutan di Hospital Serdang, hingga menghembuskan nafas terakhir.

Beberapa kali sibuk mengurus kedatangan mahasiswa Unida yang datang studi pengayaan ke Malaysia. Dari yang dimudahkan dalam segala urusan, sampai yang bermasalah. Salah satunya, ada anak yang kehilangan paspor. Sampai yang bersangkutan dilarang terbang oleh imigrasi. Saya dan Ardhika harus ‘ngopeni’ anak ini. Selama beberapa hari, kami kawal kepengurusan ke KBRI, kantor imigrasi Sri Rampai, hingga Putrajaya. Agar tidak stress, sempat kami ajak jalan-jalan ke Penang, kebetulan bersamaan dengan tour Ikpm Malaysia. Meski akhirnya, saat setelah semua urusan surat keterangan selesai, hari terakhir anak tersebut di Malaysia, paspornya ditemukan.

Dan masih ada beberapa cerita konyol selama di Malaysia, yang saya kira terlalu panjang untuk dikupas di sini. Alasan sebenarnya bukan itu, namun karena saya masih punya malu untuk menceritakan di sini. Mari tertawa sejenak, haha!

Apapun itu, kemarin Sabtu, Ardhika sudah menikah. Di lingkaran pertemanan kami, Ardhika mendapat giliran terakhir untuk berakad. Selamat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *