Yuk Kuliah di IIUM!

Ini adalah bagian pertama dari sekian tulisan yang akan saya tulis. Bisa jadi ada belasan atau puluhan bagian, atau bisa jadi juga di bawah sepuluh tulisan. Ya, kita lihat saja nanti.

IIUM memiliki kepanjangan International Islamic University of Malaysia. Sejarahnya bisa dicari sendiri di internet. Singkatnya, ia adalah bagian dari perwujudan cita-cita Organisasi Konferensi Islam (OKI) dalam mengembangkan keilmuan Islam. Itulah mengapa ada kampus di Islamabad, Pakistan, yang namanya mirip. Awalnya, OKI masih memegang penuh manajemen. Namun pada perkembangannya, diserahkan pada pemerintah Malaysia.

Saya pribadi memilih IIUM sebagai tempat berlabuh karena beberapa pertimbangan. Salah satunya, jurusan saya Pendidikan Bahasa Arab, IIUM menyediakan jurusan linear tersebut tepat di bawah Fakultas Pendidikan. Artinya, sesuai dengan rencana saya. Sempat saya hampir masuk ke Kajian Timur Tengah di UGM, namun setelah berdiskusi dengan beberapa alumninya, saya mengurungkan niat. Juga ada ajakan untuk masuk di UIN Malang -yang terkenal dengan PBA-nya juga-, namun saya pribadi belum tertarik.

Ada tantangan tersendiri bagi saya untuk melanjutkan studi master di luar negeri, meski jarak dan budayanya tidak jauh-jauh amat dari Indonesia.

Ada beberapa kawan tidak tertarik melanjutkan kuliah di Malaysia, alasan utamanya adalah biaya. Saya katakan, keputusan tersebut adalah tepat, namun juga tidak tepat. Tergantung dari sudut pandang mana kita melihat.

Guyonan seorang kawan, mahasiswa Indonesia di Malaysia itu dibagi tiga; mahasiswa pintar alias berprestasi hingga mendapatkan beasiswa, mahasiswa anak sultan, dan mahasiswa nekat. Sayangnya, kategori ketiga, sepertinya adalah presentase terbesar, meski belum ada -atau saya tidak tahu- riset terkait hal ini. (bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *