Pakde Muchlis dan Persemar

Desember 2017 lalu, saya berkesempatan mengunjungi rumah Pakde Muchlis dan Bude Tutik di Tebet, Jakarta Selatan. Kunjungan kala itu sekaligus dalam rangka pembuatan SIM Internasional di Korlantas Polri, yang kebetulan lokasinya berdekatan dengan rumah Pakde.

Selain saya sendiri, Pakde adalah satu-satunya alumni Gontor dalam keluarga Bani Haiban dan Bani Cokrosunaryo. Dan semenjak saya di Gontor, belum sekalipun saya ngobrol santai dengan Pakde tentang Gontor. Hingga akhirnya, momen itu datang.

Kala itu, Pakde sedang bersantai di ruang tamu. Kami duduk membersamai. Seksama mendengar kisah itu.

“Dulu Pakde ini salah satu santri yang diusir saat persemar.”

Aku menelan ludah. Wah, berarti Pakde saya sendiri adalah salah satu saksi sejarah peristiwa 19 Maret 1967. Sejarah yang sangat penting bagi Gontor. Saking pentingnya, Gontor memperingatinya tiap tahun. Lebih penting dari tanggal berdirinya, karena Gontor tidak pernah memperingati miladnya tiap tahun, hanya pada momen-momen tertentu saja.

“Beberapa bulan setelah peristiwa itu terjadi, sebagian siswa yang dianggap tidak terlibat, dipanggil. Pakde termasuk yang dipanggil. Saat itu Pakde sudah tidak begitu minat untuk kembali. Hanya saja karena dorongan orang tua, Pakde kembali ke Gontor.”

Sampai di situ, saya belum begitu tertarik dengan cerita Pakde. Sudah banyak cerita tentang hal itu dari para senior di Gontor. Ternyata, drama dari kisah itu baru saja dimulai.

Pakde berkisah, saat sampai di Gontor, Pakde bertemu seorang kawan di dekat rumah Pak Zar. Kawan itu berkelakar, “Muchlis, mendingan ente gak usah balik lagi ke Gontor. Nanti ente harus mengikuti disiplin ketat, diawasi penuh sama Pengasuhan, kalau melanggar sedikit saja, langsung diusir.”

Menurut Pakde, setelah Gontor mengusir seluruh santrinya, disiplin kala itu diperketat. Segala hal yang menunjukkan tindak tanduk perlawanan, langsung diusir. Memang sulit bagi Gontor, namun mungkin saja ini menjadi titik balik Gontor untuk mendisiplinkan santrinya, hingga hari ini. Bisa jadi, sebelum adanya Persemar, disiplin di Gontor tidak terlalu ketat.

“Saat itu Pakde ragu, apalagi ada info seperti itu dari kawan. Namun setelah berkonsultasi dengan beberapa asatidz, saya lanjut. Setelah datang ke Pengasuhan, saya harus melewati semacam wawancara oleh Pengasuhan Santri. Karena, beberapa saat sebelum peristiwa terjadi, saya memimpin baris-berbaris siswa kelas 5 Konsulat Jakarta. Jadi, saya dianggap terlibat peristiwa. Kan yang menjadi motor peristiwa itu siswa kelas 5.”

Namun, setelah melalui beberapa pertimbangan, Pakde tetap diperbolehkan kembali ke Gontor. Meski pada akhirnya, beberapa waktu setelah itu, saya tidak yakin berapa lama, Pakde memutuskan untuk pindah ke Sekolah Persiapan (SP) IAIN.

Dalam penuturan kisah itu, sebenarnya Pakde menyebutkan beberapa nama. Termasuk nama kawan, nama ustadz yang mana Pakde berkonsultasi dengannya, juga nama ustadz staf pengasuhan santri yang mengawasi penuh gerak-gerik pakde. Namun, mohon maaf, saya lupa.

Rabu, 29 Juli 2020, pukul 15.15 WIB, Pakde Muchlis dipanggil Yang Maha Kuasa. Kondisi fisiknya memang sudah melemah beberapa waktu terakhir.

Keluarga besar Bani Haiban Hadjid, Muhammadiyah Tebet, serta Gontor, tentunya sangat merasa kehilangan. Semoga segala amalan beliau diterima Allah SWT, aamiin.binhadjid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *