Melati Suci Kiai Syamsul Hadi Abdan

Air mukanya kedamaian

Bermekaran melati suci

Pusaran kezuhudan kesajahaan

Menuju kekekalan abadi

Selamat jalan, guru kami

Kiai Syamsul Hadi Abdan

Hari ini, 18 Mei 2020, Gontor berduka. Pimpinan kami, Kiai kami, Kiai Syamsul Hadi Abdan, kembali ke haribaan-Nya.

Setiap dari kita; santri, guru, alumni, keluarga, dan siapapun yang merasa dirinya Gontory, benar-benar merasa kehilangan. Pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, di tengah ujian pandemi, beliau meninggalkan kita semua.

Setiap dari kita memiliki kenangan tersendiri terhadap beliau. Khususnya kita sebagai santri, karena Kiai Syamsul adalah guru kita semua. Kesederhanaan, keikhlasan, dan kezuhudannya tak pernah hilang hingga akhir hayatnya.  

Kiai Syamsul menjadi Pimpinan Pondok Gontor sejak 2006, saat saya duduk di bangku kelas 2 KMI, menggantikan Kiai Imam Badri. Kiai Syamsul melepaskan amanah sebelumnya, Direktur KMI, untuk diserahkan kepada Ustadz Ali Syarqowi. Saat itu, tak banyak hal yang saya ingat.

Saat menjadi Sekretaris Pimpinan pada 2012-2017, saya menjadi saksi perjuangan Kiai Syamsul dalam memimpin Gontor yang kala itu, Pimpinan yang aktif, hanya beliau bersama Kiai Hasan. Selepas Kiai Syukri harus menjalani berbagai perawatan dan pemulihan kesehatan.

Kiai Syamsul adalah sosok bersahaja, santun, dan penyayang. Rasa-rasanya, saya belum mendengar cerita bahwa beliau pernah marah terhadap guru ataupun santri. Tidak marah bukan berarti tidak tegas. Kiai Syukri pernah berkelakar, diamnya Kiai Syamsul itu ya marahnya beliau.

Pada berbagai kesempatan, Kiai Syamsul seringkali mengisi pidato dengan bercerita tentang sejarah Pondok. Cerita yang tak ditemukan di berbagai buku-buku sejarah Gontor. Cerita tentang asal muasal Masjid Atiq, Ustadz Imam Badri yang sering meletakkan sepeda di bawah pohon depan Kantor Pimpinan agar kehadirannya ‘dianggap ada’ oleh Kiai Imam Zarkasyi, cerita asal muasal adanya fathul kutub, bagaimana guru zaman dulu menulis i’dad, bagaimana panitia ujian zaman dulu menulis rapor KMI, dan masih banyak cerita yang lain yang membuat saya merasa berhutang untuk tidak menuangkannya dalam sebuah buku.

Ramadhan tahun 2013 kalau tidak salah, pernah saya menghadap ke Kiai Syamsul untuk melaporkan suatu hal. Karena di Kantor Pimpinan tidak ada, saya menuju ke rumah beliau di Mambil. Saat itu rumah tampak lengang. Sempat saya urungkan niat untuk menemui beliau. Namun, saat itu ada sosok orang tua dengan kaos oblong dan celana santai sedang menyusun gabah untuk dikeringkan di samping rumah beliau. Posisinya membelakangi saya. Saya terbersit untuk menanyakan keberadaan Kiai Syamsul. Tak dinyana, sosok tua itu adalah Kiai Syamsul. Dalam perjalanan pulang menuju kantor, saya masih tidak habis pikir, bagaimana Gontor dengan 25 ribu santri, ratusan gedung megah, ribuan hektar tanah, dan aset miliyaran, pimpinannya mengeringkan gabah di depan mata saya. Tentunya, selain karena tidak ada sepeser pun uang pondok masuk ke kantong beliau, saya yakin, bahwa itu merupakan wujud nyata kisah kezuhudan dan kesederhanaan dari seorang Kiai Syamsul.

Pembawaan Kiai Syamsul yang jarang bergurau, menurut saya, menjadi paduan ideal untuk memimpin Gontor bersama dengan Kiai Hasan -yang kita semua tahu sifat beliau sangat humoris-, dan Kiai Syukri dengan ketegasan serta idealisme beliau. Meski memiliki belasan kampus, Gontor masih tetap dipimpin oleh 3 pimpinan yang usianya ketiganya sudah di atas 60 tahun. Yang mana, seharusnya orang seusia itu, harusnya sudah pensiun dan tidak lagi memikirkan hal-hal yang dianggap memberatkan. Setiap hari, beliau bertiga harus memikirkan perputaran uang milyaran, kebijakan pembelian tanah, permasalahan santri dan guru, hubungan dengan masyarakat, dan lain sebagainya.  Apalagi kalau bukan barakah tiada henti serta doa para santri yang menguatkan beliau bertiga.

Dan masih banyak kenangan lainnya yang tak dapat saya tuangkan dalam tulisan ini.

Setelah tiga trimurti pendiri Gontor, kemudian Kiai Shoiman dan Kiai Imam Badri, Kiai Syamsul menjadi Pimpinan Pondok Gontor selanjutnya yang dipanggil oleh Allah SWT. Semoga Kiai Hasan Abdullah Sahal dan Kiai Abdullah Syukri Zarkasyi dikaruniai kesehatan dan kekuatan dalam mengemban amanah umat ini.

Selamat jalan Kiai Syamsul, husnul khatimah dan syahid, in sya Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *