Catatan Kiai Kafrawi Ridwan (1932-2019)

“Sampai di mana kita, Zaki?”

Kiai Kafrawi bertanya. Mobil berhenti di sebuah persimpangan. Perlu beberapa saat untuk menjawab pertanyaan beliau. Aku memastikan setelah melihat baliho sebuah perguruan terpampang jelas di pinggir jalan.

“Di Jalan Taman Siswa, Ustadz.” Jawabku, yakin.

Wah, Taman Siswa itu dulu sekolah saya.”

Menarik, bukannya sekolah itu milik seorang tokoh pendidikan nasional.

“Berarti antum kenal Ki Hajar Dewantara, Ustadz?”

Lha, kamu ini gimana. Itu guru saya.”

Aku tak melanjutkan pembicaraan. Dalam imajinasiku, beliau duduk rapi di atas bangku sekolah, kemudian Ki Hajar Dewantara masuk kelas, kemudian menulis di papan tulis:

Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani

Kemarin, 13 Maret 2019, Kiai Kafrawi Ridwan meninggal dunia. Riwayat penyakit beliau cukup panjang, saya pribadi tidak mempunyai data akurat tentang hal tersebut. Yang pasti, beberapa tahun terakhir, kemampuan beliau untuk melihat menurun. Sehingga untuk melakukan pelbagai aktivitas, harus dibantu oleh orang lain. Dalam data, beliau lahir 5 Januari 1932, hingga kemarin menghembuskan nafas terakhir, beliau memasuki usia ke 87 pada tahun ini. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

Kiai Kafrawi dikenal sebagai sosok tangguh, tegas, dan pekerja keras. Meski memiliki berbagai riwayat penyakit, namun beliau masih saja aktif dalam berbagai aktivitas Pondok. Setidaknya hingga tahun 2015, beliau selalu hadir dalam Sidang Badan Wakaf, Apel Tahunan, Peresmian Unida Gontor, dan beberapa aktivitas lainnya.

Satu hal yang paling saya ingat, adalah betapa cintanya beliau terhadap lagu Hymne oh Pondokku. Di berbagai acara -meskipun tidak resmi-, beliau selalu meminta hadirin untuk bersama menyanyikan lagu tersebut.

“Lagu ini, sudah menyebutkan ‘Indonesia’ sebelum Indonesia sendiri itu lahir.”

Kalimat itu masih selalu terngiang dalam benak saya hingga hari ini.

Haiban, Zaki Haiban

Semenjak kemampuan melihat Kiai Kafrawi menurun, setiap kali beliau bertemu orang, harus bertanya nama. Namun, terkadang banyak nama yang sama. Maka beliau biasanya mencari satu julukan khas bagi setiap orang. Bahkan bagi staf-staf muda, seperti saya kala itu.

“Kamu orang Kauman, ya?”

“Iya, Ustadz?”

“Cucunya siapa?”

“Haiban Hadjid.”

“Oh, itu pernah haji sama saya. Saya kenal baik.”

Semenjak itu, beliau selalu memanggil saya Zaki Haiban.

Dalam buku Santri Inklusif, dikisahkan secara gamblang perjuangan beliau saat nyantri di Gontor. Bagaimana keikhlasan Trimurti, kesederhanaan para guru dan santri, semangat perjuangan para pemuda kala itu, kesibukan sebagai pengurus Pelajar Islam Indonesia, hingga kisah kawan sekelas beliau yang kala itu hanya 4 orang siswa; Kiai Ibrahim Thoyyib, Muhammad Toha, dan satu nama lagi saya lupa.

Dan kalau tidak salah, kisah tentang bagaimana Kiai Imam Zarkasyi meletakkan songkok di atas meja, kemudian meninggalkan kelas untuk suatu urusan penting, terjadi di kelas beliau. Satu kisah turun temurun dari generasi ke generasi, menandakan ketaatan para siswa kepada Kiai Zarkasyi. Karena memang saat songkok masih nyingkruk di atas meja guru, tak ada seorang siswa pun berani beranjak keluar, meski pelajaran telah usai.

Kini, Kiai Kafrawi Ridwan telah pergi. Begitu banyak amal jariyah yang beliau tinggalkan untuk Gontor. Selain pemikiran, kewibawaan, dan power beliau dalam menjaga marwah ISID (yang kini menjadi Unida Gontor), juga wakaf tanah istri beliau yang kini menjadi Pondok Pesantren Darul Qiyam (Gontor 6).

In sya Allah amal jariyah tersebut akan selalu mengalirkan pahala kepada beliau di alam sana. Aamin ya rabbal alamin.

Selamat jalan, Kiai Kafrawi. Doa kami selalu menyertai.Binhadjid

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *