Terbang ke Kuala Lumpur Hanya dengan Rp 38 Ribu

Beberapa waktu lalu saat saya menikmati liburan break semester di Jogja, ada kabar mengejutkan yang dibagikan beberapa teman melalui status whatsapp. Tak hanya satu orang, namun sampai 10 orang kawan yang juga berkuliah di Malaysia, juga membagikan foto tersebut.

Foto tersebut adalah screenshot dari daftar harga pesawat Malaysia Airlines dari Jakarta ke Kuala Lumpur pada tanggal 5 November 2018. Sepintas, tak ada yang istimewa dari foto tersebut. Hanya berisikan data seperti biasanya; nomor pesawat, tanggal dan jam penerbangan, asal dan tujuan, maskapai, dan harga.

Namun, yang mengejutkan, adalah harga tiket penerbangan tersebut, yaitu Rp 38 ribu…!#@!%@!!

Ini tidak masuk akal, mustahil, gila! Pasti ada kesalahan sistem! Pasti ada human error!

Saya tidak percaya. Beberapa kali saya terbang mondar-mandir Jakarta ke Kuala Lumpur, tiket harga promo terendah ada di kisaran Rp 380 ribu rupiah. Itu pun tiket Air Asia tanpa bagasi, tanpa pilihan asuransi, tak memilih kursi, dan tanpa setetes pun minum air di kabin. Bisa dibilang satu-satunya fasilitas selain jatah kursi di pesawat, adalah penggunaan toilet (karena memang gratis) dan senyuman mbak-mbak pramugari.

Dan mukjizat ini, ada di Malaysia Airlines. Jadi tiket Rp 38 ribu itu sudah termasuk bagasi 30 kg dan makan malam di kabin. Pokoknya sudah standar maskapai sekelas Garuda Indonesia.

Tanpa pikir panjang, saya segera booking via tiket.com untuk penerbangan tanggal 11 November 2018, dan ternyata ada juga yang seharga itu. Sehingga saya punya 2 jam ke depan untuk berpikir, jadi ambil penerbangan ini atau tidak. Total harga Rp 64 ribu, karena ditambah biaya insurance.

Satu-satunya yang menghalangi saya untuk segera transfer biaya tiket, adalah kekhawatiran bahwa ini adalah penipuan. Saya juga sempat berpikiran bahwa hal ini tidak nyata, seperti mimpi. Seperti halnya dalam film, saya coba mengucek mata, menampar wajah perlahan, dan mencubit tangan, sekedar memastikan bahwa ini bukan mimpi.

Namun saya pikir, toh kalau pun biaya segitu hangus, gak masalah. Tak terlalu besar. Maka saya mantapkan hati untuk transfer tiket tersebut.

Tibalah tanggal 11 November 2018. Saya berangkat ke Soekarno Hatta terminal 2, karena dalam tiket, tertulis bahwa saya terbang dari terminal 2. Ternyata oleh petugas, saya diarahkan ke terminal 3. Lagi-lagi kekhawatiran itu muncul. Jangan-jangan penerbangan ini memang fake.

Namun, alhamdulillah, semua kekhawatiran raib setelah saya menerima boarding pass dari petugas check in. Sempat saya cek nomor kursi pesawat. Jangan-jangan saya mendapat “tiket berdiri” seperti halnya kereta ekonomi beberapa tahun silam. Namun tidak, di pesawat tersebut saya mendapat kursi 9F.

Istri saya sempat menanyakan via whatsapp, apa para penumpang tersebut tampak sumringah dengan tiket semurah itu. Saya jawab, tak ada yang berbeda dari penerbangan biasanya. Semua sibuk dengan urusan masing-masing. Karena, tiket ini viral baru sekitaran tanggal 5 November. Jadi yang sudah pesan sebelum itu, pasti dengan harga normal. Kisaran Rp 800 ribu-Rp 1 juta rupiah.

Setelah saya foto tiket dan bagikan di status whatsapp, ada beberapa kawan yang memberi komentar. Salah satunya ada yang mencoba menganalisa, mengapa bisa ada tiket semurah itu. Dia berpikir, bahwa jatuhnya Lion Air yang baru terbang dari Soekarno Hatta kemungkinan juga menjadi salah satu faktor “jatuhnya” harga tiket tersebut. Mungkin ada instruksi dari atasan untuk membanting harga, dengan tujuan menghilangkan efek psikologis takut naik pesawat akibat kecelakaan tersebut. Dan jika bukan karena efek kecelakaan tersebut, pasti ini adalah kesalahan sistem atau kesalahan petugas.

Sekitar pukul 22.00 waktu Kuala Lumpur, alhamdulillah saya landing dengan selamat di KLIA 1.

Semoga, ke depannya, ada lagi keajaiban-keajaiban seperti ini. Khususnya penerbangan Jakarta-Jeddah. Biar bisa sekalian umrah.. hehe..

Binhadjid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *