Saatnya Media Pembelajaran Bahasa Arab “Online” Merebak

Pada semester lalu, saya mengambil materi kuliah master Instructional Method in teaching Arabic di bawah bimbingan Dr. Shobri Sahrir. Awalnya, saya pikir materi ini “hanya” akan membahas bermacam metode pembelajaran Bahasa Arab, teknik pelaksanaanya, evaluasi, dan pengembangannya.

Namun, ternyata terkaan saya salah. Mungkin karena terlalu terpaku dengan materi pembelajaran Bahasa Arab selama saya belajar di Unida Gontor. Dalam materi yang saya pelajari saat degree, selalu hanya melibatkan: Siswa (objek), guru (subjek), metode, dan media. Untuk tiga hal pertama, saya kira Gontor sudah menjadi kiblat untuk beberapa sekolah, pondok, dan kampus di banyak tempat. Namun, untuk sisi media pembelajaran, khususnya media yang bersentuhan dengan teknologi, meski sudah ada, tampaknya Gontor masih perlu banyak pengembangan. Mengingat anak zaman now sudah mulai beralih dari dunia “manual” ke dunia teknologi.

Dalam perkuliahan saya, Dosen tidak banyak memberikan materi di tiap pertemuannya. Ya, mungkin hanya ada beberapa poin penting saja yang perlu kami pahami. Selebihnya, hanya penekanan terhadap apa yang sudah kami pahami saat degree. Sisanya, kami diwajibkan untuk nugas.

Tugas inilah yang menarik. Kami diinstruksikan untuk membuat sebuah media online pembelajaran Bahasa Arab untuk tujuan tertentu (spesific purpose), kemudian dipromosikan dalam sebuah poster, serta dituangkan dalam sebuah proposal. Cukup dengan mengerjakan 3 poin tugas ini saja, kami sudah dianggap lulus, tak perlu hadir di ruang kuliah.

Tampaknya sederhana, namun ternyata rumit.

Dosen saya tidak kaburo maqtan dalam penugasan ini. Dengan bangga beliau seringkali membawa produk-produk media pembelajaran bahasa Arab hasil karyanya ke kelas. Entah dalam bentuk website, aplikasi, video, buku, hingga ada semacam permainan anak yang dapat “hidup” secara hologram. Pastinya, semua produk itu mendapat sokongan besar dari sponsor, kampus, pemerintah, atau perusahaan, entah apa itu namanya. Karena produk semacam ini jelas-jelas tidak gratis.

Ada kawan saya yang menggunakan skypee, ada pula yang membuat blog sederhana, ada pula yang sedikit modal dengan merancang sebuah website. Dosen sempat merekomendasikan kami untuk membuat sebuah aplikasi yang bisa diakses di playstore atau appstore, namun, tak satupun dari kami mampu.

Saya memilih untuk membuat sebuah blog sederhana, kemudian diisi dengan materi pembelajaran Bahasa Arab untuk diplomasi. Artinya, bagi orang yang akan memasuki dunia diplomasi Bahasa Arab, namun buta bahasa Arab, blog saya ini adalah jawaban tepat untuk mengatasinya. Blog saya isi dengan kosakata khusus dunia diplomasi, artikel-artikel politik, video-video wawancara, dan rujukan buku-buku politik, semua tentu berbahasa Arab.

Dalam menggarap tugas ini, diperlukan pengetahuan mengenai teknik built up sebuah blog, mengisi konten, kemudian mengunggah. Saya tidak perlu menyusun ratusan kosa kata bahasa Arab dalam dunia politik satu per satu, cukup dengan mengambil dari sebuah kamus bahasa Arab diplomasi yang ada dalam internet. Ingat, dalam pengerjaan tugas, proses dan isi adalah penting, namun titik “done” dan “submit” pada waktu yang ditentukan adalah sangat jauh lebih penting. Maka sisi efektivitas dan efisiensi perlu kita kedepankan.

Alhamdulillah, di akhir semester saya berhasil mengumpulkan tepat waktu, kemudian mendapatkan nilai yang “cukup”, meski tidak memuaskan.

Materi ini benar-benar menggugah pola pikir saya selaku seorang pengajar bahasa Arab. Berharap agar Unida Gontor dapat fokus mengembangkan metode pembelajaran Bahasa Arab melalui media online.binhadjid

Berikut adalah link blog hasil tugas saya: https://arabicdiplomacy.wordpress.com/

Sumber foto: https://www.republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/16/09/01/ocu3io313-tingkat-adopsi-alat-digital-di-sekolah-rendah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *