Kuala Lumpur-Kedah, 16 Jam, dan Rasi Bintang

Malam sunyi. Angin sepoi-sepoi bertiup kencang. Menggoyangkan pepohonan. Mengisi heningnya malam yang kala itu bulan sedang tersenyum lebar.

Kami menyiapkan raga. Empat anak muda, menyatu dalam tujuan yang sama.

Sembari menyetir, aku sempat menyalakan handphone dan menyalakan GPS menuju lokasi yang dituju.

Maklum, kami belum begitu paham jalur transportasi Malaysia. Meski rata-rata sudah tinggal di sini setengah tahun, namun itu belum menjamin hafalan kuat tentang logika jalur di Malaysia.

“Ente ngapain? Nyalain GPS?” Kuncoro bertanya padaku. Ia heran dengan apa yang kulakukan.

“Iya, kan kita belum tahu jalan ke arah sana.”

“Gak usah, yang penting dari jalur Genting Highland, lurus ke utara. Perjalanan kita jauh, jadi harus hemat baterai.”

Aku ragu.

Kita sama-sama belum pernah ke lokasi yang dituju, kita mulai perjalanan malam, kita semua bukan warga negara Malaysia, dan ini, adalah pengalaman kami pertama kali melakukan perjalanan jauh.

Perjalanan sejauh ini tanpa GPS. Aneh.

Namun karena Kuncoro adalah kawan yang paling lama menetap di sini. Kami diam, menurut tanpa tahu apa akibatnya.

Malam terus saja diam. Kami isi dengan gurauan ke sana kemari. Sembari mencari pom bensin dan mini market. Kami butuh stimulus.

Di malam yang sunyi itu, bintang tampak tegar di kejauhan.

Aku pernah mendengar bahwa orang dulu, di kala teknologi belum ditentukan, bepergian jauh melintas lautan adalah menggunakan rasi bintang. Bayangkan, zaman di mana anda tak mengetahui posisi anda di lautan, tak tahu arah, dengan perahu kuno, namun dapat melintas samudera dan sampai di pulau tujuan.

Ternyata selain rasi bintang, nenek moyang kita juga memiliki beberapa cara unik untuk menentukan arah di lautan.

Yang pertama, adalah melihat warna awan di langit. Dahulu nenek moyang kita, saat akan menentukan arah, mereka memperhatikan perbedaan warna langit. Jika warna awan tampak memiliki warna keputih-putihan, maka sudah dipastikan bahwa mereka mulai dekat dengan daratan. Namun jika warna awan masih samar-samar dengan warna putih yang masih tersebar, maka menjadi sebaliknya, mereka menjauhi daratan.

Yang kedua, Burung Jagong. Melihat Burung Jagong terbang secara berkelompok, nenek moyang kita dapat menentukan arah barat dan barat laut. Kebiasaan Burung jagong adalah mencari makan ke arah tenggara. Ketika nenek moyang melihat sekelompok Burung Jagong terbang ke tenggara, maka mereka dapat menentukan arah yang lainnya.

Yang ketiga, adalah kilat. Ketika nenek moyang terdampar di laut, dan saat itu akan turun hujan, mereka menggunakan cara ini untuk menentukan arah daratan. Nenek moyang dapat menentukan arah mana ketika jenis kilat tertentu terlihat di langit. Dan jika sudah terjadi kilat dan mengetahui arah mana daratan, maka nenek moyang akan segera menuju ke daratan tersebut. Namun teknik membedakan jenis kilatnya, tampaknya kita harus kembali ke masa lalu dan bertanya pada nenek moyang.

Yang keempat, adalah menggunakan rasi bintang. Ketika nenek moyang melihat kelompok bintang biduk, maka itu adalah arah utara. Ketika nenek moyang melihat kelompok bintang pari, maka itu adalah arah selatan. Adanya kelompok bintang orion, itu sebagai arah barat. Adanya kelompok bintang tujuh, maka menunjukkan arah timur. Dan jika melihat kelompok bintang tiga, itu adalah arah tenggara.

Tampak tidak masuk akal, namun itulah orang kuno. Karena ketiadaan gadget, mereka lebih memperhatikan alam secara detail. Hingga dapat merasakan fenomena alam. Tidak seperti manusia kini, sangat bergantung pada alat.

“Ada yang pernah nonton Film Moana?” Aku membuka pembicaraan.

“Ya jelas pernah, dong!” Tamam menimpali.

“Nah, dalam film itu, kalau melaut, Moana dan kelompoknya selalu menggunakan rasi bintang.”

“Oalah, lha terus apa kita juga sekarang ingin mengikuti rasi bintang?”

“Ya, coba saja..”

Kami terus bergurau.

Bagaimanapun juga, malam semakin larut. Langit semakin kelam. Hawa semakin dingin menusuk.

Satu per satu, mulai terlelap dalam tidur. Dimulai dari Nata, Tamam, hingga akhirnya Kuncoro yang sedari tadi menemaniku, kini dengkuran khasnya mulai terdengar.

Kami sudah berjalan 3 jam. Rasa kantuk pun mulai menyerang. Aku ingin berhenti sejenak di tempat peristirahatan.

Kuamati, signboard yang kulalui satu per satu, tak ada satu pun yang menunjukkan tanda rest area akan segera dilewati.

Aku harus menunggu 30 menit, hingga akhirnya rest area kami lalui.

Namun, rest area itu, aneh.

Aku tak menemukan seorang pun di dalam rest area itu. Tak ada stasiun pengisian bahan bakar, hanya ada toilet, warung, dan mushala.

Usai buang air dan cuci muka, aku kembali ke mobil. Semua tertidur, hanya aku, mobil, dan malam.

Tiba-tiba, terbesit dalam pikiran.

Kira-kira, sudah sampai mana ya?

Aku segera mengeluarkan smartphone-ku. Tertulis dalam halaman utamanya, menunjukkan kondisi cuaca cerah di daerah Pahang. Artinya, aku saat ini berada di Pahang. Aku tak tahu Pahang itu di mana, jadi aku perlu melihat peta. Toh, dari tadi aku melewati Kerak, Kuantan, dan beberapa daerah dengan nama aneh lainnya. Namun tanpa peta, aku tak tahu apapun.

Kubuka aplikasi google maps, kemudian kulihat posisiku dalam peta.

Malam begitu sunyi. Di kesepian itu, ada satu mobil datang menemani kami. Sepertinya mereka hendak beristirahat.

Aku bermetaformosis.

Lega setelah buang air dan cuci muka – tenang dengan heningnya malam – membuka smartphone – melihat mobil datang –melihat posisi dalam peta – kaget – shock – marah – mengutuk diri sendiri – ingin teriak – membangunkan Kuncoro sembari mata tetap melihat ke layar smartphone – kemudian membangunkan seisi mobil.

!?!?<:{^$%#^&@*!!!!!*@&#?>””{}>@#!!!!!

Kita ini di mana!?!?

Kuncoro segera mengambil paksa smartphone-ku. Dia kaget.

“Kamu tadi ambil jalur mana? Lurus terus kan?” Kuncoro bertanya. Berusaha menyudutkan dan melemparkan kesalahan padaku.

“Saya yakin tidak. Jalur ini lurus terus dari jalur Genting.”

Kuncoro kemudian memastikan jalur ke arah kedah.

“Alamak… ternyata kalau mau ke Kedah, kita harus lewat jalur Rawang. Bukan Genting.” Tegas Kuncoro.

“Lalu?” Aku bertanya, melempar objek kambing hitam.

“Berarti kita salah jalan.”

Jelas sudah, ini perintah siapa dan salah siapa. Namun aku sebagai sopir, tak ingin memperpanjang masalah. Yang terpenting sekarang adalah solusi.

Jika belum paham peta Malaysia, mungkin bisa dipermudah dengan gambaran daerah di Indonesia. Anda berangkat dari Yogyakarta, menuju Jakarta dengan jarak tempuh 500 km. Karena kepercayaandirian anda, anda tak membuka GPS, dan percaya dengan arah yang anda yakini. Anda melaju sejauh 300 km, tanpa anda sadari, anda sudah sampai di Surabaya. Seperti itulah gambaran perjalanan kami di malam ‘malang’ itu.

Perlu menjadi catatan, kami, 4 orang di dalam mobil, sama sekali tak tahu menahu posisi daerah Malaysia. Jadi, saat menuju Pahang, kami melihat tulisan daerah Karak, Temerloh, Maran, Gambang, Kuantan, dan Pahang, kami biasa saja. Karena memang dasarnya tak tahu daerah apa saja yang harus dilewati jika akan ke Kedah.

Maka, sejak saat itu, kami menyetting GPS agar menunjukkan kami ke arah Kedah. Sialnya, GPS menunjukkan jalur tercepat, yaitu dengan kembali lagi ke Kuala Lumpur.

Sebagai laki-laki, kami pantang mundur. Lebih baik maju, meskipun sulit. Dengan mempertimbangkan berbagai resiko, akhirnya kami yakin untuk mengambil jalur lain. Yaitu menuju utara, Terengganu, Kelantan, kemudian menyusuri perbatasan Thailand, hingga sampai ke Kedah.

Otomatis dengan jarak tempuh yang lebih jauh, yaitu 700 km. Jarak Jakarta menuju Surabaya. Namun, waktu tempuh lebih cepat, yaitu 8 jam. Karena melalui jalur tol. Meski akhirnya, karena sering berhenti rehat, menjadi 12 jam perjalanan.

“Harusnya jam segini, matahari sudah terbit.”

Aku mengingatkan kawan-kawan. Penasaran, mengapa di jalur tol pantai timur itu, yang ada hanya bukit, hutan, dan kabut.

“Iya nih, serasa sedang di planet lain. Jalan sepi, kabut, melalui gunung-gunung, dan yang pasti, tidak ada penduduk sekitar sama sekali,” kuncoro menimpali.

Meski melewati pegunungan, namun jalan tidak berkelok. Hanya lurus saja, tak berujung. Yang unik dari jalur ini, adalah banyaknya rambu jalan bergambar hewan-hewan yang tak lazim. Kami melihat rambu bergambar Gajah, Sapi, Tapir, Rusa, dan Kambing. Cukup aneh untuk hewan-hewan yang biasa berlalu lalang di sepanjang jalur tol. Beruntung kami melakukan perjalanan pagi hari, jadi hewan-hewan tersebut tak ada yang menunjukkan batang hidungnya.

Peta yang kami anut menunjukkan, bahwa beberapa kilometer lagi akan melewati kawasan perairan.

Bukannya ini hutan nasional, mengapa ada perairan?

Dengan sikap pasrah dan sisa keberanian yang ada, kami melanjutkan perjalanan. Beruntung perjalanan di daerah antah-berantah itu kami lakukan siang hari. Setidaknya kami memiliki penglihatan yang jelas.

Tak disangka, daerah perairan yang kami lihat itu, adalah kawasan danau air tawar yang amat sangat luas. Di tengahnya ada pulau unik yang masih ditinggali suku primitif. Saat kami melewati jembatannya, kami menyempatkan untuk mampir di resort wisata yang sudah dipermak cantik. Kami makan siang sekaligus melepas penat di sana.

Royal Belum.

Itu nama yang tertulis jelas di atas pintu. Kami masih belum paham maksud dari lokasi wisata “aneh” ini. Hingga akhirnya kami mendapatkan penjelasan dari keterangan yang ditempel di dinding-dindingnya.

Taman Royal Belum adalah taman besar di bagian utara Semenanjung Malaysia. Ini adalah bagian dari Hutan Belum-Temengor Forest (BTFC). Sebagai taman negara, ini adalah salah satu hutan hujan tertua di dunia, yang berasal dari 130 juta tahun yang lalu. Lebih tua dari Hutan Amazon.

Di dalam Royal Belum State Park terletak Danau Temenggor, danau terbesar kedua di Semenanjung Malaysia setelah Danau Kenyir. Danau Temenggor adalah, sama seperti Danau Kenyir, danau buatan manusia yang digunakan untuk daerah tangkapan air. Danau ini memiliki beragam jenis ikan air tawar termasuk Kelah, Toman, Sebarau, Tenggalan dan Baung, yang menjadikannya tempat yang tepat untuk pemancing.

Selepas kunjungan singkat ke Royal Belum, kami menghabiskan sisa perjalanan. Hingga tak lama kemudian, kami kembali ke jalur yang biasa digunakan “manusia normal” untuk melakukan perjalanan dari Kuala Lumpur ke Kedah.

Memang panjang perjalanan ini, namun setidaknya kami mendapatkan pengalaman berharga. Dari melakukan perjalanan mengitari tol pantai timur Malaysia, memasuki daerah mirip planet lain, bertemu signboard hewan-hewan aneh, hingga kami menemukan peribahasa baru, “hemat baterai pangkal tersesat.”

binhadjid

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *