Mengapa Ter(di)lupakan?(Review Buku)

Judul: Buku Perjuangan Yang Dilupakan

Penulis: Rizki Lesus

Rasanya tak adil menyingkirkan peran umat Islam dalam sejarah panjang perjalanan kemerdekaan Indonesia. Tak hanya pra kemerdekaan, namun juga pasca kemerdekaan. Karena memproklamirkan kemerdekaan itu adalah awal, mempertahankan serta mendapat pengakuan internasional adalah proses lanjutan yang juga tak mudah. Dan di balik itu, ada jasa para ulama tokoh nasional.

Mari bersikap objektif pada sejarah. Perubahan kata “Mukaddimah” menjadi “Pembukaan”; Kalimat “Berdasarkan kepada Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” diganti menjadi “Berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa”; Pasal 6 ayat (1) pada kalimat “Presiden ialah orang Indonesia dan beragama Islam”, kata-kata ‘dan beragama Islam’ dicoret.

Kita sedang tidak berbicara tentang kebhinekaan yang seharusnya dijaga, bahwa yang hidup di Indonesia tak hanya umat Islam, bahwa kebebasan beragama harus dijamin, dan pola-pola pikir lainnya yang sebenarnya hanya sikap tak suka pada umat Islam yang berperan besar. Namun coba bayangkan betapa kebesaran hati para ulama yang saat itu mengikuti sidang. Para ulama pejuang bersama santrinya berperang mempertahankan kemerdekaan, termasuk di dalamnya fatwa Jihad Kiai Hasyim Asy’ari.  Begitu juga dengan pekikan “Allahu Akbar” oleh Bung Tomo saat membakar semangat juang di Surabaya pada 10 November.

Selain itu, pada awal Desember 1946, perlu diingat bahwasanya Liga Arab mengambil keputusan untuk merekomendasikan negara-negaranya mengakui kedaulatan Negara Indonesia. Keputusan ini dimuat dalam Harian Akhbar Al-Yaum berjudul Al-Jaami’ah al-‘Arabiyyah wa Indonesia (Liga Arab dan Indonesia). Pengakuan ini membuat Belanda dan negara-negara barat dongkol. Hingga akhirnya Sekjen Liga Arab, Azzam Pasya, yang saat itu ingin mengunjungi Indonesia, tidak diberikan visa untuk melalui wilayah yang dikuasai Inggris dan Belanda dalam proses menuju tanah Indonesia.

Hingga beberapa kisah unik para ulama diplomat Indonesia lainnya yang patut kita ingat kembali peran dalam mendapat pengakuan internasional. Buku ini mengingatkan kita akan peran umat Islam yang sangat vital dalam meraih kemerdekaan, mempertahankannya, dan mendapatkan pengakuan dari dunia internasional.

Dengan diksi yang tepat, bumbu fakta yang valid, serta argumen yang tajam, Rizki Lesus berhasil menyegarkan ingatan kita akan peran umat Islam dalam proses kemerdekaan Indonesia yang kini perlahan mulai ter(di)lupakan. Buku ini layak menjadi salah satu referensi sejarah Indonesia.

Selamat Menikah, Ardhika dan Murti!

Selamat buat Ardhika dan Murti. Selamat berlayar dengan bahtera rumah tangga menuju pulau impian. Kadang layar tak sesuai dengan arah angin, badai datang tak diduga, rayap melapukkan kayu, namun itu semua dapat diatasi dengan kesepahaman kapten dan awak kapal. Semoga sampai dengan selamat!

Ardhika ini yang membuat saya menginjakkan kaki ke negeri Jiran. Dia mengajak saya untuk melanjutkan studi di Malaysia. Dengan gaya khasnya yang ‘agak memaksa’, saya tertarik untuk masuk ke IIUM, satu kampus dengannya. Tak hanya mengajak, Ardhika juga mengarahkan, menjemput, dan ‘mengajari’ detail bagaimana hidup di tanah Malaysia. Dari cara menyambungkan koneksi wifi kampus, sampai cara pesan jus semangka tanpa gula di kantin Ali. Ngomong-ngomong, terima kasih ya, Ardhika!

Pernah suatu kali melakukan perjalanan menuju Kedah. Yang kala itu bertujuan mengantar salah satu kawan kami, Badruttamam, yang akan mengajar di sebuah pondok di Kedah. Dengan gayanya, Ardhika berseloroh kepada saya yang menjadi sopir malam itu, “gak usah buka maps, ikutin tol ini saja, pasti sampai!” Dan akhirnya, kami tersesat. Perjalanan 5 jam, menjadi 12 jam. Yang seharusnya perjalanan 300 km, menjadi 700 km.

Pernah suatu kali ‘bekerja’ mencari tambahan sangu sebagai tour guide jamaah umroh berkeliling Malaysia. Saya bertugas dengan Ardhika. Alih-alih menjadi tour guide, saya malah menjadi petugas medis, karena hampir separuh jamaah sakit. Akhirnya saya stand by di hotel, mengantar para jamaah bergantian ke klinik samping hotel. Dan Ardhika sibuk membawa dua rombongan bus berkeliling Kuala Lumpur. Saat mereka sudah kembali ke Indonesia, qodarallah salah satu jamaah harus rawat lanjutan di Hospital Serdang, hingga menghembuskan nafas terakhir.

Beberapa kali sibuk mengurus kedatangan mahasiswa Unida yang datang studi pengayaan ke Malaysia. Dari yang dimudahkan dalam segala urusan, sampai yang bermasalah. Salah satunya, ada anak yang kehilangan paspor. Sampai yang bersangkutan dilarang terbang oleh imigrasi. Saya dan Ardhika harus ‘ngopeni’ anak ini. Selama beberapa hari, kami kawal kepengurusan ke KBRI, kantor imigrasi Sri Rampai, hingga Putrajaya. Agar tidak stress, sempat kami ajak jalan-jalan ke Penang, kebetulan bersamaan dengan tour Ikpm Malaysia. Meski akhirnya, saat setelah semua urusan surat keterangan selesai, hari terakhir anak tersebut di Malaysia, paspornya ditemukan.

Dan masih ada beberapa cerita konyol selama di Malaysia, yang saya kira terlalu panjang untuk dikupas di sini. Alasan sebenarnya bukan itu, namun karena saya masih punya malu untuk menceritakan di sini. Mari tertawa sejenak, haha!

Apapun itu, kemarin Sabtu, Ardhika sudah menikah. Di lingkaran pertemanan kami, Ardhika mendapat giliran terakhir untuk berakad. Selamat!

Yuk Kuliah di IIUM!

Ini adalah bagian pertama dari sekian tulisan yang akan saya tulis. Bisa jadi ada belasan atau puluhan bagian, atau bisa jadi juga di bawah sepuluh tulisan. Ya, kita lihat saja nanti.

IIUM memiliki kepanjangan International Islamic University of Malaysia. Sejarahnya bisa dicari sendiri di internet. Singkatnya, ia adalah bagian dari perwujudan cita-cita Organisasi Konferensi Islam (OKI) dalam mengembangkan keilmuan Islam. Itulah mengapa ada kampus di Islamabad, Pakistan, yang namanya mirip. Awalnya, OKI masih memegang penuh manajemen. Namun pada perkembangannya, diserahkan pada pemerintah Malaysia.

Saya pribadi memilih IIUM sebagai tempat berlabuh karena beberapa pertimbangan. Salah satunya, jurusan saya Pendidikan Bahasa Arab, IIUM menyediakan jurusan linear tersebut tepat di bawah Fakultas Pendidikan. Artinya, sesuai dengan rencana saya. Sempat saya hampir masuk ke Kajian Timur Tengah di UGM, namun setelah berdiskusi dengan beberapa alumninya, saya mengurungkan niat. Juga ada ajakan untuk masuk di UIN Malang -yang terkenal dengan PBA-nya juga-, namun saya pribadi belum tertarik.

Ada tantangan tersendiri bagi saya untuk melanjutkan studi master di luar negeri, meski jarak dan budayanya tidak jauh-jauh amat dari Indonesia.

Ada beberapa kawan tidak tertarik melanjutkan kuliah di Malaysia, alasan utamanya adalah biaya. Saya katakan, keputusan tersebut adalah tepat, namun juga tidak tepat. Tergantung dari sudut pandang mana kita melihat.

Guyonan seorang kawan, mahasiswa Indonesia di Malaysia itu dibagi tiga; mahasiswa pintar alias berprestasi hingga mendapatkan beasiswa, mahasiswa anak sultan, dan mahasiswa nekat. Sayangnya, kategori ketiga, sepertinya adalah presentase terbesar, meski belum ada -atau saya tidak tahu- riset terkait hal ini. (bersambung)