Covid dan Soekarno-Hatta

Beberapa hari lalu, saya kembali dari Malaysia. Kepulangan ke Jogja kali ini terasa istimewa, karena menyandang istilah “back for good”. Ada yang mengatakan dengan “boyongan” atau “balik terus” dll. Apapun itu, sederhananya, saya tidak perlu lagi kembali ke Malaysia untuk studi, karena sisa prosesnya bisa diurus dari rumah.

Di masa pandemi, perjalanan lintas negara menjadi sebuah challenge. Di awal pandemi kemarin, beberapa kawan sampai harus memesan tiket melalui agen travel yang memesan sebuah pesawat sewa. Tentunya dengan biaya yang tidak sedikit. Namun berangsur covid-19 mereda di Malaysia, maskapai-maskapai mula membuka penerbangannya. Termasuk Air Asia, Malindo, Garuda, dan Malaysia Airlines.

Di akhir bulan Agustus, saya memesan tiket Kuala Lumpur langsung ke Jogja dengan harga 239 RM (800 ribu rupiah) untuk tanggal 5 September, sangat murah untuk harga masa pandemi. Cukup aneh, di masa pandemi, saat maskapai gak mau rugi, ini justru menjual murah. Tak dinyana, ternyata penerbangan saya diubah ke tanggal 10 September. Saya pun mencari maskapai lain yang lebih ‘pasti’, karena beberapa kawan sudah mengalami perubahan jadwal Air Asia mendadak, bahkan di H-1.

Tanggal 2 September saya terbang menggunakan Malindo dari Kuala Lumpur ke Jakarta dengan harga 299 RM (1 juta rupiah), masih tergolong murah juga. Sebelum penerbangan, saya menjalani tes covid dengan metode PCR di rumah sakit Malaysia dengan harga 300 RM (1 juta rupiah). Memang cukup mahal, namun di sinilah proses penting yang ingin saya ceritakan.

Saat landing di Jakarta, seluruh penumpang langsung diarahkan untuk mengisi beberapa formulir. Sejak awal membagikan formulir, petugas langsung membedakan mana penumpang yang memiliki hasil tes PCR, dan mana yang tidak. Karena formulir yang diisi memang berbeda. Saya sarankan, anda wajib membawa pulpen saat proses tersebut. Saat itu saya tidak membawa, akhirnya kebingungan mencari ke sana kemari, beruntung ada orang baik yang mau meminjamkan.

Setelah mengisi formulir, penumpang diarahkan untuk tes suhu tubuh dan tekanan darah. Hasil tes tersebut, bersama surat hasil tes PCR, kemudian disahkan oleh petugas kesehatan yang lebih senior, juga diperiksa detailnya, benarkah surat ini menandakan sang penumpang sehat, dll. Setelah melewati imigrasi dan mengambil bagasi, para penumpang diperiksa oleh tentara yang berjaga, tujuannya adalah untuk memisahkan mana penumpang yang harus karantina di wisma atlet atau di hotel, dan mana penumpang yang boleh melanjutkan perjalanan. Perlu saya sampaikan, personel militer cukup banyak di bandara, rasa-rasanya kita sedang dalam kondisi perang.

Boleh saya sarankan, bagi anda yang akan masuk Indonesia melalui Soekarno-Hatta, hasil tes PCR adalah hal yang sangat penting. Kecuali memang anda merencanakan untuk dikarantina, tidak masalah. Karena saya dengar, karantina di wisma atlet tidak dipungut biaya sepeser pun, lumayan, liburan gratis. Namun bisa berbeda jika anda mendarat di Surabaya, Yogyakarta, ataupun Medan. Saya belum tahu bagaimana kondisi tempat-tempat tersebut.

Saya melanjutkan perjalanan dengan menaiki kereta Taksaka dari Stasiun Gambir ke Yogyakarta. Untuk menaiki kereta, syaratnya lebih sederhana, cukup rapid test atau surat keterangan sehat. Malahan saat saya menunjukkan hasil tes PCR, petugasnya terlihat bingung, sampai harus menanyakan ke petugas yang lebih senior. Padahal tes PCR ini yang paling valid dan mahal.

Selain hal-hal di atas, kondisi dalam pesawat dan kereta sama saja. Tidak ada social distancing, para penumpang duduk sesuai pesanan kursinya masing-masing. Ada yang sendiri, ada yang berdampingan.

Semoga pandemi segera berakhir, sehingga segala sesuatunya bisa kembali normal. Meski ada yang mengatakan inilah new normal, namun sejujurnya kita mengingkan kenormalan yang sebelum ini.