22 Juni, Resepsi, dan ‘Liburan’

Jikalau kemarin saat milad pernikahan versi hijriyah (9 Syawwal) saya berbagi cerita tentang akad nikah. Maka hari ini, pada milad pernikahan versi masehi (22 Juni), izinkan saya berbagi cerita tentang kisah lainnya.

Setelah akad tanggal 22 Juni, keesokan paginya kami menggelar resepsi pernikahan di Gedung IPHI Sukoharjo. Menurut informasi, Gedung IPHI ini merupakan salah satu gedung terbesar yang biasa digunakan untuk pernikahan. Meski besar, gedung ini terjangkau untuk pembiayaan.

Sejak pukul 06.00 pagi, saya dan istri diminta untuk datang ke ruang tata rias. Sebagai laki-laki, saya banyak menghabiskan waktu untuk duduk, sembari menunggu istri saya dirias. Giliran saya dirias, cukup diberi bedak tipis saja. Mungkin karena aslinya memang sudah ganteng.

Sekitar pukul sepuluh pagi, gedung sudah terisi penuh. Para hadirin duduk tenang di tempat yang telah disediakan. Dimulai dengan prosesi masuk gedung, kemudian duduk di kursi pelaminan, hingga acara demi acara berlangsung. Saya lupa persisnya susunan acara. Yang saya ingat, isinya sambutan-sambutan. Beruntung, saat itu ada grup musik yang meramaikan acara. Karena tema acara islami, jadilah lagu-lagu yang dinyanyikan religi modern.

Sebuah kesyukuran bagi kami, kala itu Kiai Hasan Abdullah Sahal berkenan hadir bersama keluarga. Dan lebih membahagiakannya lagi, beliau menyampaikan sambutan sekaligus nasihat. “Dulu, yang menulis bahan-bahan pidato saya ya Zaki ini, mempelai pria,” sulit bagi saya melupakan bagian itu.

Acara diakhiri dengan proses perfotoan. Bagian ini cukup menguras tenaga. Apalagi istri saya sebagai alumni Gontor Putri, dan timing pernikahan kami sangat tepat bagi para ustadzah untuk hadir. Jadilah pernikahan kami ini ajang reuni dan perfotoan. Sesi perfotoan sendiri memakan waktu yang cukup lama.

Satu nasihat dari saya untuk anda para calon pengantin, bersabarlah di kala resepsi pernikahan dilaksanakan. Kuatkanlah diri anda berdiri berjam-jam sembari menahan senyuman. Karena senyuman pengantin, akan menjadi pusat perhatian para tamu undangan. Juga saat foto-foto pernikahan tersebar, senyuman anda akan mewarnai status dan story medsos keluarga, juga teman-teman anda.

Usai rententan acara pernikahan, ditambah menyambut para tamu yang datang ke rumah, kami merencanakan liburan. Ada yang habis menikah, langsung honey moon ke Bali, atau luar negeri, sembari menginap di hotel berhari-hari. Ada juga yang cukup berwisata di dalam kota. Saya dan istri saya, masuk ke golongan kedua. Karena bagi kami, bukan di mana kita berlibur, tapi dengan siapa kita berlibur.

Kala itu kami berlibur ke Tawangmangu, tepatnya Kemuning. Naik motor berdua sembari menembus hujan. Sempat berteduh di pom bensin sembari beli teh hangat dan siomay di pinggir jalan. Sekali lagi, untuk romantis, tidak perlu merogoh kantong terlalu dalam. Jajan di pinggir jalan, asalkan sama-sama bahagia, bakal terasa romantis juga.

Selain ke Tawangmangu, kami sempat juga berlibur ke mall, nonton film, car free day, dan beberapa tempat wisata lainnya. Hanya sekali kami menginap di hotel, itu pun karena menghadiri walimah kawan di Semarang. Tidak sulit menemukan hotel murah dan ‘aman’ zaman now. Karena aplikasi penyedia hotel murah sudah begitu banyak di internet.

Bagi anda yang belum pernah duduk di kursi pelaminan, belum menggandeng pasangan sah, alias jomblo, bersabarlah. Karena waktu ‘berlibur’ pasca nikah itu niscaya akan datang. Datang jika anda menginginkannya. Datang jika anda mengusahakannya.

Tidak perlu terlalu ribet memikirkan liburan dan honey moon, cukup sederhana dan sesuai budget. Karena sejatinya, setelah menikah, kita akan honey moon bersama pasangan seumur hidup.

9 Syawwal

Dua tahun lalu, saya mengikat janji dengan seorang perempuan, Hasna Nur Faza. Tulisan ini saya persembahkan dalam rangka memperingati 2 tahun pernikahan kami, 9 Syawwal 1439-9 Syawwal 1441.

Sore itu, saya bersama keluarga berangkat dari Jogja menuju Sukoharjo. Setiap keluarga menggunakan mobilnya masing-masing. Niatan awal ingin berangkat beriringan, namun karena padatnya jalan, kami berpencar dan langsung bertemu di Sukoharjo.

Sebelum acara akad nikah pada malam harinya, keluarga kami transit dan beristirahat di Gubuk Jannati, sebuah penginapan di dekat alun-alun kota Sukoharjo.

Konon, mendengar cerita para senior, saat-saat menjelang akad nikah adalah hal yang tak terlupakan. Perasaan bercampur aduk. Dari bayangan filosofis, hingga pikiran teknis mewarnai. Jantung berdegup kencang, sembari lafadz dzikir terus menemani. Agar akad malam ini berjalan lancar.

Iya, sederhana saja. Semoga berjalan lancar. Karena saya sendiri mendengar banyak cerita, banyak akad nikah yang pelafalannya kurang tepat, sehingga perlu diulang beberapa kali. Maka harapan saya kala itu, semoga tiap kalimat yang sudah saya persiapkan, mengalir tanpa ada halangan. Terucap tanpa ada sekat, semoga. Terlebih lagi,ada sebuah nasihat, jika lafal akad terucap terbata, maka ada niatan yang tak tulus untuk menjalani hidup rumah tangga. Tentunya hal tersebut benar-benar saya hindari.

Saat beberapa kali konsultasi, saya diingatkan agar nanti saat akad harus mempersiapkan diri dengan matang. Termasuk permintaan mertua, yaitu sekaligus menjadi qari’ Qur’an dan menyampaikan kalimat ‘pamit’ kepada kedua pihak orang tua usai akad nikah.

Jadilah momen akad nikah malam ini lebih kompleks dari yang dibayangkan. Maka tak ayal, persiapan yang saya lakukan memang cukup panjang.

Malam itu, keluarga kami berkumpul sejenak untuk menyamakan persepsi dan doa bersama. Bersama kami mengenakan pakaian serba putih, sesuai konsep acara akad nikah malam itu. Usai doa, bersama kami berangkat menuju Masjid Al-Huda, masjid kelurahan yang posisinya pas depan rumah Hasna.

Di perjalanan saya kembali mengulang lafal akad berkali-kali, sehingga hampir hafal luar kepala. Karena akad nikah ini ada momen sakral, bukan seperti amaliyah tadris yang dulu saya lakukan saat masih santri. Akad nikah adalah janji suci, pernyataan fundamental, dan ikatan tanggung jawab. Konsekuensinya dunia dan akhirat.

Sesampai di masjid, saya dan keluarga segera menuju ke tempat yang telah disediakan. Suasana cukup ramai. Semua berbaju serba putih. Kebanyakan adalah kerabat keluarga mertua. Ada beberapa kawan saya hadir, hendak menyapa, namun urung karena mungkin melihat saya sedang konsentrasi menjelang akad.

Acara diawali dengan pembacaan ayat Quran. Dengan bacaan murattal, saya membaca tiap ayatnya perlahan hingga usai. Setelah beberapa prosesi, akhirnya momen itu tiba.

“Ahmad Zaki Annafiri, saya nikahkan…..” Mertua saya memulai prosesi. Tak lupa saat nama saya disebut, saya mengucapkan, “iya, saya.”

Setelah mertua saya menyesaikan bagiannya, giliran saya untuk berjanji. “Saya terima nikahnya Hasna Nur Faza binti Suwignyo dengan mahar tersebut dibayar tunai!” Kedua saksi menyatakan sah, dan dilanjutkan dengan doa.

Saya masih hafal betul lafal itu. Dan akan selalu saya ingat hingga kapanpun. Ada kawan mengatakan, baiknya dengan bahasa Arab, agar kita saat mengucapkan janji, lebih mudah dan ringkas. Namun terkadang, hal tersebut justru mempersulit mertua kita saat menyebutkan mahar, apalagi jika mertua kita tidak fasih berbahasa arab. Untuk akad saya, sejak awal memang sudah dikehendaki oleh mertua untuk berbahasa Indonesia. Agar para saksi juga betul-betul memahami apa yang disaksikannya.

Usai akad, dilanjutkan dengan doa, dan seterusnya. Hingga perfotoan, yang cukup meriuhkan seisi ruangan. Juga saya. Karena itu momen pertama kali saya menyentuh istri saya, juga mencium keningnya. Para hadiri ramai, sebagian ada yang mengenang masanya dulu saat menikah, sebagian ada yang membayangkan masanya nanti saat ia menikah.

Dan di akhir, mertua saya memberi wejangan pernikahan. Dilanjutkan dengan kalimat ‘pamit’ dari saya. Agar terkonsep dan tidak melebar, saya membaca teks yang sudah saya siapkan. Intinya, saya memohon izin kepada kedua pihak orang tua, untuk mengarungi bahtera rumah tangga.

Usai seluruh prosesi akad, saya berjalan ke rumah bersanding dengan Hasna, sembari bergandengan tangan, berlari, dan tertawa… eh maaf, itu akadnya Payung Teduh. Sesampai di rumah, masih ada prosesi pengajian pernikahan. Sekitar satu jam acara itu berjalan, berisikan nasihat membina rumah tangga dan lain sebagainya. Dilanjutkan dengan perfotoan dan jamuan makan.

9 Syawwal, setiap tahunnya selalu menjadi kenangan indah. Kenangan sekaligus refleksi atas kesyukuran hadirnya Hasna, dan tahun ini, ditambah buat hati Nadwa. Refleksi perjalanan rumah tangga kami, suka dan dukanya, problem dan solusinya, untuk menambah bekal perjalanan rumah tangga ke depannya.

Meski sudah dua tahun menikah, doa agar sakinah mawaddah wa rahmah selalu saya panjatkan. Agar ia terus ada, dan terus menaungi rumah tangga kami hingga akhir hayat.