Ustadz Dihyatun Masqon dan Episentrum

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat disampaikan kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Sapardi Djoko Darmono

Tidak ada guru yang sempurna, namun sosok Dr. Dihyatun Masqon, adalah salah satu yang paling mendekati episentrumnya.

Tahun 2012, saat ada perkumpulan dosen di Gontor Putri, ada hal yang tak lazim terjadi.

Dr. Dihyatun yang mendadak harus mengikuti perkumpulan tersebut, hingga akhirnya, tanpa ingin membuat orang lain kerepotan, beliau diam-diam menggunakan bis umum.

Pagi semacam itu, tentunya bis penuh dengan anak-anak sekolah, ibu-ibu membawa perbelanjaan ke pasar, dan para pekerja kantoran.

Di sela-sela ruang itu, ada sosok bersahaja, berjas, dan berdasi, berdiri sembari menggenggamkan tangannya pada gantungan pengaman, Dr Dihyatun Masqon. Sosok sederhana dan bersahaja itu, kini telah tiada.

Jadi jika kita sekarang masih saja mengeluh karena harus naik bis umum, ataupun kendaraan sederhana, ingatlah bahwa beliau yang saat itu sudah mengemban amanah yang cukup tinggi, masih saja berkenan menggunakan bis umum.

Based on true story. Sumber tak mau disebutkan namanya.

Saat kabar Dr. Dihyatun Masqon tersebar luas, serentak seluruh story whatsapp dan instagram warga Gontor; mahasiswa, guru, dosen, dan seluruh alumni, serentak mengucapkan kalimat yang senada, “Selamat jalan, guru kami..” Karena memang semua, sedang merasa sangat kehilangan.

Dr. Dihyatun memang teramat baik untuk pergi secepat ini. Sosok periang, ramah, murah senyum, dan yang paling terkenang, motivator ulung bagi para siswanya, kini telah pergi.

“Kalau habis kuliah sama Dr. Dihyatun, bawaanya bahagia. Banyak vitamin-vitamin segar yang menyehatkan, “ ucap seorang kawan.

Beliau adalah guru KMI di Gontor, sekaligus dosen di Unida. Ada yang mengalami masa-masa menjadi siswa KMI bersama beliau, ada pula yang menjadi mahasiswa atau mahasiswi semasa perkuliahan di UNIDA Gontor. Dan semua berkesan sama, Dr. Dihyatun adalah motivator ulung.

Di luar kelas, beliau memangku jabatan sebagai Wakil Rektor UNIDA Gontor. Setiap kali ada tamu dari luar negeri, beliau selalu diplot menjadi penyambut utama. Hingga Dr Zakir Naik ke Gontor, Dr. Dihyatun lah yang selalu bersama beliau. Para staf yang bekerja bersama beliau pun, selalu kagum terhadap petuah-petuah menyegarkan yang keluar setiap waktu.

Banyak orang di Gontor yang pakar dalam bidang bahasa. Biasanya, hanya satu bahasa saja, Arab atau Inggris. Namun, ada pula yang pakar dalam kedua bahasa tersebut. Sepertinya, dalam kategori ini, hanya beliaulah opsinya, Dr. Dihyatun Masqon.

Jika anda pernah merujuk kepada Warta Dunia (Wardun) Gontor dalam penggunaan bahasa Arab atau Inggris, maka berterima kasihlah kepada Dr. Dihyatun. Di balik buku setebal itu, ada keringat orang-orang ikhlas yang bercucuran. Dr. Dihyatun sudah menjadi Pimpinan Redaksi penerbitan Wardun selama puluhan tahun. Proses penerjemahan, pemilihan foto, pemilihan kertas, hingga detail-detail ornamen di dalamnya, Dr. Dihyatun ikut terjun langsung mengatur.

Maaf, kalau tulisan di atas berlebihan. Itu tak lebih karena luapan emosi yang tak dapat dibendung setelah mendengar beliau tiada.

Selamat jalan guru kami, Dr. Dihyatun Masqon.

Binhadjid

Keajaiban di Kelas Celpad

Kalau boleh jujur, saya benar-benar tidak berani membuat tulisan ini, sebelum saya terlepas dari belenggu judul di atas.

Celpad, singkatan dari The Centre for Languages and Pre-University Academic Development, adalah sebuah lembaga di kampus saya, IIU Malaysia, yang bertugas menegakkan standarisasi mahasiswa yang hendak masuk dunia perkuliahan. Sederhananya, agar kuliah tidak kewalahan mendidik mahasiswa yang buta bahasa, khususnya bahasa Inggris dan Arab.

Dilema, itulah kata yang pantas menggambarkan isi hati saya saat mengikuti ujian di awal pertama kali masuk Kampus. Maaf, saya menyandang gelar sarjana S1 dari Universitas Darussalam Gontor, lembaga yang kapabel dalam bahasa Arab dan Inggris. Sesuai fakultas yang saya tuju, Pendidikan Bahasa Arab, saya diwajibkan untuk mengikuti ujian di kedua bahasa. Berbeda dengan beberapa kawan saya yang masuk Fakultas Ekonomi yang tak perlu masuk ujian bahasa Arab.

Ada kawan mengatakan, “belajar yang rajin, biar gak perlu masuk Celpad.” Sebagian lagi mengatakan, “Sudah, tak perlu belajar. Celpad banyak manfaatnya, kok!”. Dua-duanya disampaikan “orang lama” Kampus ini, bingung hendak ikut aliran yang mana.

Saya niati, belajar serius dulu, hasil belakangan. Meski akhirnya, kelulusan hanya berpihak kepada ujian bahasa Arab. Sedangkan ujian Inggris, tidak.

Saya mesti memasuki kelas bahasa selama 4 bulan. Meski jadwal kelas padat, materi yang sama dalam jangka lumayan panjang, membosankan, namun di Celpad, saya menemukan keajaiban.

Ahlis, Abbas, Altin, Fadhilah, Niam, Sareena, Lamia, dan lima belas orang lainnya, adalah keajaiban itu. Di sini kami bertukar kultur dan budaya. Budaya orang Turki, Cina, Yaman, Afrika, Bangladesh, Mesir, Thailand, dan satu lagi, Eritria, negara yang membuat anda perlu membuka google untuk mengetahuinya.

Tahukah anda, jika makan Mie Cina sambil mengecap, berarti anda menganggap masakan itu lezat dan menghormati sang koki? Jika tidak, berarti anda belum pernah makan Mie Cina bersama orang Cina langsung. Budaya orang Indonesia, makan tidak boleh mengecap, tak sopan. Namun di Cina, sebaliknya.

Informasi tentang kehidupan di Turki, kebiasaan aneh orang Thailand, panasnya Eritria, kemiripan Malaysia dengan Indonesia, uniknya cara berpakaian orang Afrika di kelas, senangnya orang Bangladesh membanggakan negaranya, hingga kehidupan rumah tangga di Mesir, semua saya ketahui secara langsung di kelas Celpad. Tentunya dengan saling berbagi cerita saat kelas kosong, di kantin, ataupun diskusi di perpustakaan. Dan semua komunikasi menggunakan bahasa Inggris, pastinya.

Semua yang saya paparkan di atas adalah pengalaman saya di Celpad dari sisi non akademik. Kalau dari sisi akademik, tentunya saya mendapat siraman ilmu tentang Reading, Writing task 1, Writing task 2, speaking, dan kisi-kisi bahasa Inggris hingga paling dalam. Sekali lagi, semuanya komunikasi di kelas adalah total berbahasa Inggris. Sampai berguraunya pun, berbahasa Inggris.

Kini, 1 Februari 2018, saya dinyatakan lulus dari lembaga ini. Jujur, selama 5 bulan di Celpad saya terus menerus merasakan kegalauan akut. “Lulus apa enggak, ya?”, “Kalau gak lulus, harus masuk kelas Celpad 4 bulan lagi.” “Kapan mulai kuliah, ya?” Itulah list pertanyaan yang selalu menggentayangi saya.

Namun bagaimana pun juga, melalui tulisan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Cik Noorita yang dengan gaya tegasnya mendidik kami, Cik Noor Hasni, Cik Fuadah, dan satu lagi (waduh, saya lupa), atas semua yang telah diberikan selama kami belajar di Celpad.

Bagi anda yang membaca tulisan ini, dan kebetulan berkuliah di IIU Malaysia serta masuk kelas Celpad, berbanggalah! Karena sejatinya anda sedang menjalani proses penting pendidikan dalam hidup anda. binhadjid