Language and Schools

Today, all schools have to pay attention to language education. Improving students language skills must be developed in every period. People today think that language lessons should not be held only inside the class, but it is necessary to be carried out outside the classroom. It is strongly agreed that language lessons should also be carried out outside the classroom because of practice and effectiveness.

Firstly, practice is the key to reach language skill. Students have to practice their language whenever and wherever. For example, students should go to some vacation destination where they can meet tourists from many countries. Students can try to practice their language with them. So, language lessons should to be carried out outside classroom for practice.

Secondly, teaching language in the classroom is not effective without carrying it outside. Language lessons in the classroom always limited by time and space. The teacher has to give assignments or homework to students. For instance, students have to memorize five new words at home every day. Their language will improve and develop. Thus, language lessons should to be carried out outside the classroom for effectiveness.

In conclusion, practice and effectiveness are reasons to carry out language lessons outside the classroom. It is suggested that language teachers give some assignment or homework to students.binhadjid

Alif dan Semesta

Surau mendengung

Gunung mengaung

Anak kecil mengaji di saung

Alif tak tahu, untuk apa ia diciptakan

 

Apakah ia harus melucu hingga Hamzah tertawa

Apakah ia harus menangis hingga Kaf iba

Apakah ia harus membumi hingga Mim menyapa

 

Hingga fajar hampir terbenam

Ia masih saja tak tahu, kelam

 

Di akhir senja

Ia mengadu panorama

Ia memuja cakrawala

Alif menemukan filsafat, untuk apa ia berada

 

Adalah Lam dijawabnya

Alif diciptakan untuk menyatu dalam Lam

Agar saat bersama, mereka dapat menerangkan segala kegelapan

Agar saat bersama, Alif dan Lam mampu mema’rifatkan segala naqirah

 

Kini, Alif telah menemukan Lam

Ia mulai mampu mengeja semesta

Ia berani menangkap peraduan

 

Selamat beraliflam

Agar semua yang masih saja naqirah

Menjadi ma’rifat bagi anda

 

Kuala Lumpur, 7 Desember 2017

“Hadza al-Kitab, fiihi barakah”

Beberapa waktu lalu, kami berkesempatan untuk bersua dengan guru kami dari Gontor, Dr. Abdul Hafid Zaid, M.A. Momen tersebut tak kami sia-siakan begitu saja, kami menggelar acara Knowledge Sharing bersama beliau, tentunya dalam bidang yang beliau tekuni, Bahasa Arab. Alhamdulillah, jumlah peserta acara melebihi ekspektasi panitia, ruangan seminar penuh. Bahkan, panitia harus menambah jumlah kursi dari ruangan samping.

“Orang Arab, tak terlalu memikirkan bagaimana sulitnya orang non-Arab mempelajari detail Nahwu, Shorf, dan berbagai ilmu bahasa Arab lainnya.”

Sederhana pernyataan beliau, namun poin ini membuka pikiran kami. Lantas, jika orang Arab sendiri tak memikirkan, lalu siapa yang akan mengajarkan bahasa Arab kepada orang non-Arab? Beliau menjelaskan, bahwa orang Arab memang memiliki kemampuan berbahasa Arab dengan sangat baik, namun mereka tak memiliki kemampuan untuk mengajarkannya, khususnya untuk orang non-Arab.

Saat orang Arab menjadi pengajar bahasa Arab, ia akan mengajar dengan metode yang ia yakini, dan itu cukup sulit. Dalam beberapa kasus, beliau mencontohkan, ada saja orang non-Arab yang tak mampu diajar bahasa Arab meskipun oleh orang Arab asli sekalipun. “Mereka tak melakukan pendekatan personal terhadap siswa. Apakah siswa tersebut seorang yang pemalu, tidak cakap, atau memang benar-benar tidak mampu mengikuti materi. Para pengajar tersebut belum sampai pada titik tersebut.

Dalam kasus lain, pondok-pondok alumni Gontor, alias yang didirikan atau diasuh oleh Alumni Gontor, meskipun menggunakan buku yang sama (Durusullughah), namun mereka tetap saja tak mampu membuat para santrinya cakap dalam berbahasa Arab. Gontor menggunakan buku tersebut, dan berhasil.

Mengapa?

Sederhana saja. Tanyakan saja pada pengurus di pondok-pondok alumni, apakah mereka memiliki sistem wajib berbahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari? Apakah mereka memiliki Bagian Pengumuman yang selalu berbahasa Arab? Apakah mereka memiliki kegiatan pemberian kosakata bahasa Arab setiap pagi? Dan yang terpenting, apakah metode pengajaran buku Durusullughah yang tepat?

Pertanyaan terakhir menjadi unik. Melihat sepintas buku Durusullughah, tampak seperti buku pelajaran bahasa Arab bagi siswa pra sekolah di Arab sana. Hanya terdapata kata-kata dasar, gambar-gambar, dan rumus-rumus yang sangat sederhana. Namun mengapa bisa mencetak orang semacam Dr. Hafidz Zaid? Jawabannya adalah karena adanya guru-guru yang tahu dan melaksanakan metode mengajar yang tepat.

Karena kenal dekat dengan Dr. Abdul Hafidz Zaid, suatu saat, salah seorang pakar bahasa Arab pengarang Buku Al ‘Arabiyyah Baina Yadaik (saya lupa namanya) berkunjung ke Gontor. Saat pertama kali menginjakkan kakinya di tanah Gontor, hal pertama yang beliau ucapkan adalah, “Aina al-kitab alladzi tata’allamu minhu?” Sontak Dr. Abdul Hafidz Zaid menyodorkan kitab Durusullughah.

Pakar bahasa Arab tersebut membuka buku tersebut perlahan, per lembar, hingga halaman terakhir, kemudian kembali membuka dari halaman pertama lagi. Pertanda beliau sangat heran. Kalau saya boleh menuangkan penggambaran Dr. Hafidz tentang Pakar bahasa Arab tersebut dalam sebuah kalimat, saya akan menulis, “buku sesederhana ini kok bisa membuat anda pandai berbahasa Arab?”

Maka Pakar bahasa Arab tersebut dengan yakin menyatakan, “hadza al-kitab, fiihi barakah.”

Di lain kasus, beliau bercerita tentang kehebatan alumni Gontor dalam mempelajari bahasa baru. Menurut beliau, tak hanya bahasa Arab, saat seorang Gontory dalam kondisi mendesak untuk mempelajari suatu bahasa baru, ia mampu mempelajarinya otodidak dan menguasainya. “Dulu kawan saya ada yang jatuh cinta terhadap seorang akhwat dari Turki, maka dengan otodidak, metode yang sama saat dia belajar bahasa Arab, dia mulai mempelajari bahasa Turki perlahan. Hingga akhirnya dapat menguasai bahasa tersebut.” Jadi, otak anak Gontor sudah disetting untuk mampu beradaptasi dengan bahasa baru.

Meski hanya satu jam, namun kami mendapatkan vitamin dan gizi ilmu pengetahuan malam itu.binhadjid