Prof. Erry, Beasiswa Melahirkan, dan Kiai Hasan

Semalam, kami bertemu dengan Prof. Dr. Erry Yulian T. Adesta, IPM, CEng, MIMechE (selanjutnya saya sebut Prof. Erry) dalam Pelantikan Pengurus Persatuan Pelajar Indonesia. Bagi saya pribadi, ini pertemuan pertama. Dalam kesempatan tersebut, beliau memberikan kuliah singkat tentang long term plan yang digambarkan dengan bagaimana beliau mengarungi kehidupan kuliah di Inggris.

Prof. Erry mendapat gelar bachelor di Council for National Academic Award (CNAA), kemudian menyelesaikan master di University of Birmingham, dan meraih gelar PhD di Universty of Huddersfield. Ketiga kampus tersebut berada di Inggris, sama-sama dalam bidang engineering, dan keseluruhannya adalah beasiswa.

Sepintas, pemaparan tersebut tampak biasa saja. Karena mahasiswa yang lulus hingga S3 dengan beasiswa tidaklah sedikit. Namun, kami sangat takjub bagaimana Prof. Erry membuat long term plan dalam hal yang tak terpikirkan oleh orang lain. Yakni, dalam merencanakan menambah jumlah anggota keluarga.

Di Inggris, bagi siswa yang mendapatkan visa student (legal), maka pemerintah Inggris akan menanggung biaya kehidupannya dari A sampai Z. Pernah Prof. Erry mengalami sakit di bagian tulang belakang, hingga rawat inap selama 4 bulan. Namun hingga sembuh, beliau tidak dipungut biaya sedikit pun. Pemerintah Indonesia pun tidak mendapatkan charge apapun.

Nah, uniknya adalah setelah Prof. Erry menikah, beliau selalu mengusahakan agar istrinya dapat melahirkan di tanah Inggris. Mengapa? Karena dengan sistem The National Health Service (NHS), Prof. Erry tidak perlu mengeluarkan gocek sedikit pun sejak anaknya meneriakkan tangisan pertama kali, hingga usia tertentu. Keuntungan inilah yang beliau ambil untuk membuat long term plan memiliki anak kedua dan ketiga.

Saat beliau kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan bachelor, beliau berpikir untuk cukup memiliki 1 anak saja. Namun, saat beliau mendapatkan beasiswa master di Inggris, agar mendapatkan “beasiswa melahirkan” lagi, maka beliau pun dikaruniai anak kedua yang dilahirkan pula di tanah Inggris. Usai master, beliau kembali ke Indonesia, dengan pikiran yang sama pula, cukup memiliki 2 anak. Saat panggilan beasiswa PhD datang, maka beliau merencakan lagi untuk memiliki anak ketiga yang lahir di tanah Inggris, dan Allah SWT mengizinkan.

Sebuah perencanaan yang unik, tentunya dibarengi dengan anugerah dari Allah SWT. Memiliki anak pertama, kedua, dan ketiga di tanah Inggris, dengan biaya nol rupiah.

Di akhir sambutan, Prof. Erry memberikan kritik terhadap sistem demokrasi di Indonesia. Beliau memang tak mengatakan langsung, namun dapat disimpulkan bahwa Prof. Erry tidak setuju dengan sistem demokrasi. Dengan berbagai pemaparan ala profesor dan dengan bermacam istilah ilmiah, beliau mengkritisi proses demokrasi.

Hal inilah yang membuat saya teringat dengan KH. Hasan Abdullah Sahal. Kiai Hasan, yang selalu berapi-api dalam berpidato, seringkali mengkritisi sistem demokrasi di Indonesia. Mendengar Prof. Erry sepemikiran dengan Kiai Hasan, rasa kekaguman saya terhadap Kiai kami ini semakin tinggi. Ternyata tak perlu kuliah jauh-jauh ke eropa, mendapat beasiswa penuh hingga PhD, mendapatkan “beasiswa melahirkan” dari pemerintah Inggris, mendapat gelar profesor, hanya untuk menyimpulkan bahwa sistem demokrasi adalah kurang tepat untuk negara kita.

Kiai Hasan, memang selalu saja memberikan terobosan pemikiran yang kami tak mampu menangkap sepintas. Perlu dijelaskan oleh ilmuwan sekelas Prof. Erry hingga semuanya tampak jelas.binhadjid

 

 

Tuhan, Gontorkah Aku?

Sebuah Puisi

Untuk perubahan yang kini sedang berproses

 

Tuhan

Layakkah kami

Saat aku-aku ini masih saja terpatri di jidat kami

Aku-aku yang membuat kuku bersiku

Aku-aku ubun-ubun setinggi kayangan

Aku-aku akal sedalam magma

Aku-aku, bahwa aku adalah Gontor

 

Namun, hingga para pujangga itu pergi

Kami masih saja tak mampu menangkap makna yang mereka hadirkan

Tepat di tengah-tengah kami

 

Kiai Ahmad Sahal

Senior, inspirator

Pemegang teguh marwah kebersahajaan kami

 

Kiai Imam Zarkasyi

Eksekutor, konseptor ulung

Pembaharu, pencerah

Tonggak perubahan ma’rifat kami

 

Kiai Zainuddin Fannani

Negosiator, aktor transmisi

Sang penjaga eksistensi kami

Satu per satu pujangga itu pergi

Para pakar ilmu itu, kini menemukan pengetahuan sejati

 

Kepergian mereka disusul satu, dua, tiga, dan selanjutnya

Tak terhitung mereka berduyun-duyun menuju ma’rifat abadi

 

Sayangnya, sekali lagi

Kami masih saja sibuk dengan keyahanuan kami

Tuhan, Gontorkah aku?

 

Masjid Shah Alam, Kuala Lumpur

5 November 2017