Naik Pesawat, Jangan Sampai Kelebihan Beban Bagasi

Sekedar sharing pengalaman, beberapa waktu lalu saat saya dan kawan-kawan akan berangkat dari Jakarta ke Kuala lumpur, kami terjebak dalam situasi rumit.

Awalnya, kami sudah sepakat untuk membeli tiket dengan bagasi 23 kg dan kabin 7 kg. Kami berangkat menggunakan pesawat KLM, maskapai belanda, agak susah menjelaskan kepanjangan dari KLM.

Saat check in, satu per satu barang kami ditimbang. Kami dengar dari kawan-kawan yang lebih berpengalaman, jika pembelian tiket dan check in dilakukan bersamaan, maka barang akan ditimbang dengan jumlah bersamaan pula. Artinya, sisa kuota kg milik satu orang, bisa dipakai oleh teman lainnya yang berat barangnya melebihi kuota. Namun apa daya, rencana itu gagal pada hari itu.

Salah seorang kawan kami, membawa satu koper yang beratnya mencapai 30 kg. Alhasil, kawan kami terkena charge. Saya kira hanya beberapa puluh ribu. Namun setelah dihitung kelebihan berat, yakni 7 kg, kawan saya disuruh membayar sebesar Rp 700 ribu. Alamak, tiket kami per orang hanya Rp 500 ribu, terkena charge Rp 700 ribu.

Alhasil, setelah ditawar, bisa turun sampai Rp 300 ribu dengan kesepakatan kami tidak mendapatkan receipt charge tersebut. Tak apalah, yang penting kami berangkat.

Hal ini menjadi pelajaran berharga, agar tak ada lagi beban barang bawaan melebihi kuota. Entah di bagasi, ataupun di kabin. Harus teliti dan jeli sebelum packing. Hanya karena sedikit kecerobohan dan kurangnya informasi, kita bisa mendapat kerugian berarti.binhadjid

Belajar untuk Menjadi Jujur di Kampus IIUM

Kampus kejujuran, begitu saya menyebut kampus ini. Sejak awal saya masuk di sini, banyak hal-hal unik yang membuat saya takjub. Dari sekian banyak hal unik tersebut, tampaknya urusan kebiasaan untuk jujur adalah yang paling membuat saya kagum terhadap kepribadian para mahasiswa di sini.

DSC_0292Sejak pertama kali datang, saya melihat tumpukan botol air mineral tertata rapi dalam sebuah rak besi. Sepintas saya pikir, air ini memang gratis bagi para jamaah masjid. Namun setelah saya perhatikan seksama, ternyata air tersebut tidak gratis. Tampak sebuah tulisan, “Choose to be honest”. Sebuah tulisan yang mengingatkan akan arti penting sebuah kejujuran. Mengapa demikian, karena bagi siapa yang ingin mengambil botol air tersebut, maka ia harus membayar 1 ringgit. Kepada siapa ia harus membayar? Di samping rak tadi terdapat sebuah kotak kecil tempat uang bagi siapa yang ingin membeli. Ini bukan mesin air minum kemasan otomatis seperti yang banyak kita temukan di bandara atau mal –meski di sini banyak juga mesin semacam itu–, namun untuk mesin ini, dijalankan dengan kejujuran dari hati para mahasiswa.

Tak berhenti pada rak minuman botol, selain itu ada juga makanan ringan dan parfum. Di depan kelas, terletak sebuah kardus kecil berisi makanan ringan dengan berlabel 1 RM. Juga sebuah kardus berisikan puluhan botol parfum terletak begitu saja di depan kantin, bertuliskan 5 RM. Untuk kardus-kardus kecil tadi, karena tidak ada tempat khusus uang untuk membayar, maka uangnya hanya diletakkan begitu saja di dalam kardus.

Bayangkan, beberapa lembar uang DSC_0294terletak begitu saja di tempat umum. Namun tak ada satu pun yang terbesit untuk mengambilnya. Mengapa? Sederhana saja, karena itu bukan haknya. Hingga nanti sang ‘penjual’ datang, mengambil uang tersebut, dan mengisi stok barang yang baru.

Maka, kebiasaan untuk melakukan sebuah kejujuran telah mendarah daging dalam diri setiap penghuni kampus ini. Tak hanya mahasiswa, karena tiap hari kampus ini juga dipadati oleh para karyawan kampus dan pengunjung dari luar. Sebuah kebiasaan yang patut diteladani dan layak dicontoh untuk diaplikasikan di Indonesia.binhadjid

 

Kumcer “Santri Istimewa”, Bacaan Wajib para Santri

Alif terjaga di pesawat menuju Jakarta.

Kursi bussines class yang dia duduki bersama sang Ayah memang sangat nyaman. Membuat siapa pun bisa tidur nyaman di atasnya. Meski sang Ayah terlelap, kalimat wejangan Kiai Ahmad masih saja masih saja berputar-putar di benaknya. Ia bingung memaknainya.

Puluhan menit berlalu, hingga tak terasa kalimat itu membuat Alif tertidur. Namun, masih saja kalimat tersebut ‘mengganggu’ Alif dalam tidurnya.

Alif bertemu Kiai Ahmad dalam mimpinya.

Bocah itu bingung siapa yang ia hadapi. Kiai Ahmad mengucapkan sebuah kalimat, kalimat yang sama persis dinyatakan sang Ayah sebagai mantra ajaib dalam hidupnya, kalimat yang membuat ayahnya menangis tiap kali mengucapkannya.

Bondho, bahu, pikir, lek perlu sak nyawane pisan.”

Dan, bagaikan mukjizat, Alif langsung memahami isi dan makna dari wejangan Kiai Ahmad. Ia bertekad untuk mengingat dan mengamalkannya dalam kehidupan.

Agar ia menjadi ‘santri istimewa’, seperti ayahnya.

Kiranya demikianlah cuplikan kisah yang disajikan dalam buku Kumpulan Cerpen (Kumcer) “Santri Istimewa” persembahan para santri Warta Mingguan Darussalam Pos, Pondok Modern Darussalam Gontor. Buku setebal 198 halaman ini adalah murni karya santri Gontor. Terdiri dari 13 buah cerpen dan dari 9 penulis berbeda.

Dengan para penulis; Binhadjid, Aji Gema, Izzuddin Al Qossam, Wajdymuna Fillah, Asyam Dhiyaurrahman, Adam Aziz, Ikhlasul Amal, Farhan Fahlevi, dan Tonny Ilham; buku ini layak menjadi vitamin segar untuk menyejukkan kembali pandangan di tengah pekatnya hidup ini. Penyajiannya yang sederhana, kisah-kisah inspiratif dari para santri, dan pesan-pesan moral yang terkandung, membuat buku ini menjadi bacaan wajib bagi setiap santri ataupun para pelajar.

Selain “Santri Istimewa”, buku ini juga menyajikan kisah; “Lonceng yang Berdentang”, “Andai”, “Wawancara Horor”, “Menunggu 1 Muharam”, “Jalan Kehidupan”, “Kejutan Pahit di Pagi Buta”, “Sang Inspirator”, “Maaf”, “Rohan”, “Tak Pudar”, dan “Tanah Damai”.

Dunia pendidikan yang kini tak lagi bersahabat dengan para pelakunya, dikarenakan orientasi yang kian berubah, membuat para orang tua khawatir akan masa depan sang buah hati. Maka, banyak diantara para pelajar tersebut memilih pesantren untuk melanjutkan masa studinya. Dan pilihan ke pesantren, adalah pilihan yang cukup tepat, mengingat notabene pesantren memberlakukan sistem disiplin dan kemandirian yang cukup baik. Sehingga para santri nantinya dapat menjadi ‘manusia’ seutuhnya dan siap menghadapi kehidupan di masa depan.

Maka buku ini menjadi rujukan yang tepat untuk menggambarkan begitu indahnya, uniknya, dan serunya hidup di dunia pesantren.

Pemesanan buku dapat dilakukan di Toko Buku Latansa Gontor dengan nomor 0812 4981 1114.

Joglo All Star Show

Di akhir masa pengabdian, tentunya saya tak mau hanya diisi dengan hal-hal yang membuang waktu. Entah kenapa, sudah mengalir dalam darah ini, bahwa waktu kosong apapun harus dibunuh dengan hal-hal bermanfaat. Maka, kali ini, saya berniat untuk turut serta membantu penyelenggaraan Joglo All Star Show. Satu ajang pentas seni santri Gontor yang berasal dari daerah Surakarta, Yogyakarta, dan sekitarnya.

Tepat pada tanggal 18 Mei 2017, pentas tersebut digelar.

Karena bertajuk “All Star”, maka para panitia mengusahakan agar para guru pun ikut turun tangan dalam setiap penampilan dan hal detail penyelenggaraan acara. Jujur, kesibukan di kantor membuat saya agak kelimpungan mengatur waktu. Namun itu semua dapat dijalani dengan baik, tentunya dengan pengorbanan berat.

WhatsApp Image 2017-05-18 at 05.52.38Untuk menambah sumber daya manusia, kami mengajak para santri dari gontor kampus 2, 3, 5, dan 6. Jika dijumlahkan, hampir menyentuh angka 300 orang. Jumlah yang cukup untuk menggelar sebuah pementasan berkelas. Hampir-hampir seperti jumlah siswa kelas 5 gontor cabang saat menggelar pentas drama arena.

Tidak mudah mempromosikan acara ini. Karena masyarakat luar tak banyak tahu tentang pentas yang biasa digelar di Gontor. Maka untuk memudahkan dalam memahami, kami membuat promosi dengan tema, “Joglo All Star Show, 300 santri, 30 acara, 30 jam non stop.” Alhamdulillah, tema tersebut cukup membuat masyarakat paham, bahwa kaliber acara ini cukup besar, karena melibatkan 300 orang, dan itu semua santri pula. Selain itu, jumlah acaranya juga banyak, yakni 30 acara pementasan. Serta digelar dalam jangka waktu yang cukup panjang, 3 jam.

Namanya juga penyelenggaraan selevel acara konsulat, maka tentunya ada teramat banyak kekurangan dalam persiapan acara. Termasuk dana. Kami tergolong nekat dalam hal ini. Bagaimana tidak, dana kami hanya sekitar 15 juta, terkumpul dari iuran para santri. Padahal estimasi biaya pelaksanaan adalah 20 juta rupiah. Namun, kami yakin, akan ada banyak bantuan dari wali santri dan masyarakat. Dan alhamdulillah, hingga acara berakhir, kami masih memiliki saldo.

Acara yang digelar di Lapangan Karang, Kotagede, Yogyakarta ini, dimulai tepat pukul 20.00 WIB. Diawali dengan pemutaran video profil pondok selama 10 menit. Kemudian acara bergulir seperti biasanya pementasan Gontor digelar, yakni hadrah, sambutan, dan pembukaan. Namun ada yang berbeda, di pementasan ini, ada ceramah agama.

Ada 30 acara yang dipentaskan. Mudahnya, dikategorikan dalam bidang tari daerah, tari modern, drama, puisi, musik, seni visual, dan kreasi santri.

Salah satu acara yang menarik perhatian, adalah Tari Topeng Ireng. Sebagai salah satu tari khas daerah Magelang, masyakarat merasa takjub karena yang menampilkan tarian tersebut adalah para santri. Selain itu, ada Drama Alif Lam Mim yang menceritakan tentang kisah persahabatan tiga santri di pondok. Ada juga acara speed painting, yakni lukis cepat dengan durasi 4 menit, namun dapat melukis detail wajah Trimurti Pondok. Acara ini mendapat apresiasi yang luar biasa, karena jarang ada yang seperti itu di luar pondok.

Selain acara di atas, ada juga acara pantomim yang cukup memukau. Dalam hal ini, saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya pada Abdurrahman dan Maulana yang menyempatkan waktunya untuk tampil di tengah kesibukan yang ada. Cukup dengan latihan pada siang harinya, dapat mementaskan pantomim dengan luar biasa. Sekali, terima kasih.

Acara berakhir pada 23.30 WIB. Dilanjutkan dengan perfotoan dan pelepasan para santri menuju rumah masing-masing.

Alhamdulillah, acara ini mendapatkan respon positif dan apresiasi tinggi dari para wali santri. Sampai-sampai ada wali santri yang mengatakan, “jika acaranya seperti ini, saya siap tanggung biaya untuk pelaksanaan acara ini di dalam Stadion Maguwoharjo.” Tentunya ucapan ini tidak main-main adanya, karena stadion tersebut kini sudah bertaraf internasional.

Apapun itu, saya sangat berbahagia dapat berkecimpung dalam acara ini di akhir pengabdian ini. Terima kasih untuk Alifiu, Jibril, Luthfi, dan Ustadz Taqiyuddin yang telah mengeluarkan segenap tenaga bahu membahu melaksanakan acara ini. Juga untuk seluruh guru-guru dari gontor cabang, tanpa kalian, acara malam itu bakal berantakan.

Sekali lagi, terima kasih.binhadjid

Come on, Visit Tangkuban Parahu

For passing the time while my holiday, I visited Bandung which has many places destination for vacation. Even just two days in Bandung, I travelled to many destination that has recommended by my friend before. I arrived at Bandung through Leuwi Panjang Terminal,  than my friend, Arya Brahmana, picked me up there. For his time and kindness, I must give my gratitude for him. Having a friend in many cities makes me comfort for making any vacations any where.

We began the journey with breakfast at an area called by Pluncut. I forgot what the name of restaurant. The important things, we was very enjoy with the view which presented. We ate at second level of restaurant which the hill perspective coddled our eyes. Fried chicken and hot tea which being the characteristic of Pluncut, satisfied us more and more.

Than we continue our adventure to Tangkuban Parahu Mountain. Even this mountain was not active, but we can see the smoke out every second from the crater. The location of Tangkuban Parahu was very large. From the gate that we have paid 54.000 IDR  for two person and one motorcycle, until the main destination was so far. We must ride the car or motorcycle to parking location. If you arrived by bus, from bus parking to main location usually by spesial car which provided by the management.

We spend for one hours with enjoying the view from starting poin to the top of the hill. In every view meters, we cand find amazing spot for taking picture. The wind was breze and cooled the atmosphere which the sun burned us in that evening. If you were boring, you can have a horse which provided there. I have no idea about the price, because it must be so expensive.

I suggested, if you want go to Tangkuban Parahu, better for you to bring mask because the smell of sulfur was very sting. On the other hand, bringing the sunglasses will makes you comfortable more. Meanwhile, if you want to enjoy your vacation more, you have to visit Tangkuban Parahu with your family.

Furthermore, except travelling to Tangkuban Parahu, we also take our time with visiting to Floating Market and Farm House.binhadjid

Berkunjung ke Curug Cibeureum

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi kawan dekat saya di Sukabumi. Sebagai salah satu kota sejuk di Jawa Barat, Sukabumi menyimpan beberapa destinasi wisata yang cukup menarik.

Siang itu, sesampainya di Sukabumi, saya langsung diajak menuju ke Curug Cibeureum. ‘Curug’ dalam bahasa Sunda berarti air terjun. Jadi, siang itu, saya dan kawan saya, bermaksud mengisi waktu kosong mengunjungi air terjun Cibeureum.

“Jauh apa tidak jalan kakinya?” Pertanyaan sederhana yang kuajukan pada kawan saya. “Enggak kok, hanya jalan kaki sebentar.” Jawaban ini membuat saya yakin ‘mampu’ melakoni perjalanan ini.

Menuju Curug Cibeureum, kita perlu melewati beberapa jalur yang cukup curam. Jujur, saya tidak begitu hafal jalan menuju ke sana. Namun, zaman sekarang, tampaknya problem semacam itu tak terlalu sulit. Cukup membuka google maps atau waze, pasti kita sampai tempat tujuan. Harus menggunakan kendaraan pribadi, mobil atau motor boleh. Tidak ada angkutan umum mengantar ke tempat ini.

Sesampai di lokasi, kita bakal takjub dengan pesona rerimbunan hutan lebat di sekitaran parkir Curug Cibeureum. Ada beberapa pedagang makanan dan minuman di sekitaran lokasi. Karena saat itu bukan weekend, maka tak banyak pengunjung yang datang pada hari itu.

Usai parkir, kami segera berjalan menuju arah yang telah ditentukan oleh petugas. Di kawasan parkir, tampak beberapa pedagang yang sejak pagi barang dagangannya belum terjual sama sekali. Saat kami mulai menyusuri jalur menuju Curug, awalnya tampak normal-normal saja. Kanan kiri ada beberapa kantor kecil tempat pengelola bertugas. Semakin jauh, jalur semakin menyempit dan akhirnya hanya menyerupai jalan setapak pegunungan.

“Masih jauh, gak?” Tanyaku pada kawanku. “Ya, lumayan..”

Jawaban yang tidak memuaskan.

Semakin jauh, semakin lebat pula hutan di kanan kiri. Dan tampak sekali hutan ini tidak terawat. Semakin lama, jalan semakin kecil dan curam. Ada perasaan khawatir, jangan-jangan kita tersesat. Tidak mungkin, jalur wisata, namun dibuat seseram ini. Namun kawanku terus menenangkan. Katanya, jalur kita memang sudah benar. Tanpa terasa, kami sudah melewati 30 menit sejak awal tiba di tempat ini. Dan tempat yang dituju, masih juga belum ada tanda-tanda mendekati.

DSC_0568
Bersama kawan saya dan seorang tukang Cilog di Curug Cibeureum

Tiba-tiba, di tengah lebatnya hutan, kami mendengar suara gemericik air. Saya yakin, ini pertanda sebentar lagi kami akan sampai di tujuan. Ternyata tidak. Kami hanya turun menyusuri jalan setapak yang kemudian terhubung dengan jembatan kecil melewati sebuah sungai kecil pula. Usai melewati sungai, lagi-lagi jalan curam kami hadapi.

Setelah melewati sungai kedua, ada jalan yang super curam. Bahkan mendekati sudut 90 derajat. Kawanku meyakinkan, memang ini jalannya. Jalur tak masuk akal itu pun kami lalui perlahan. Alhasil, setelah melewati jalur tadi, Curug yang kami nantikan, akhirnya tampak.

Kami berlari kecil menuju Curug. Alhamdulillah, akhirnya sampai juga.

Dan yang mengagetkan, adalah di kawasan Curug itu, tak ada siapapun kecuali kami, dan seorang tukang penjual Cilog. Meski siang hari, keadaan di sekitar Curug sangat dingin. Percikan air terjun bak air embun yang berterbangan ke sana kemari. Setelah berpuas diri mengabadikan momen, kami mencicipi Cilog khas Cibeureum itu.

Untuk anda yang ingin datang ke Curug ini, kami sarankan untuk membawa beberapa perlengkapan, seperti: jaket, penutup kepala, air yang cukup, dan snack secukupnya. Usahakan jangan sendirian atau hanya berdua, kalau bisa pergi ke lokasi ini sekeluarga besar, bisa juga bersama teman-teman kampung, kantor, atau yang lainnya. Karena anda akan menyusuri jalur pendakian sejauh 3,5 km dengan estimasi jalan kaki 1,5 jam dari tempat parkir. Ditambah dengan jarak kembali ke parkiran, berarti anda akan berjalan kaki selama 3 jam. Cukup melelahkan bagi anda yang jarang berolahraga.

Namun bagaimanapun juga, Curug Cibeureum tetap menjadi destinasi yang harus anda kunjungi saat anda berada di Sukabumi. Tak hanya Curugnya, namun jalur pendakiannya juga menjadi sensasi tersendiri bagi anda yang menyukai tantangan.Binhadjid

Bagaimana Air Mata ini Tidak Mengalir?

Di sudut sana, ada senyuman manis dari seorang anak kecil dibarengi sodoran bungkusan teh manis. “Ini, kak. Diminum dulu, biar gak haus.” Berjalan beberapa meter, tampak seorang ibu menggendong anak sembari menangis dan mempersilahkan kami mengambil bungkusan nasi yang tertata rapi di atas meja. Di kejauhan sana barisan anak-anak berusia kisaran 8-10 tahun meneriakkan suara yang samar-samar terdengar. Saat kudekati, ternyata mereka meneriakkan takbir, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!”

Hari ini Bandung menyajikan pemandangan yang tidak biasa. Dan pemandangan itu dipersembahkan bagi para mujahid yang berteguh hati mengadakan perjalanan jauh, yang semata-mata untuk membela kitab pedomannya, al-Qur’an. Merekalah para mujahid dari Ciamis. Mujahid yang mengapresiasikan kecintaan terhadap al-Qur’an dengan berjalan kaki dari Ciamis menuju Jakarta. Satu perjalanan yang tentu saja tidak masuk akal bagi manusia normal.

Terlepas dari cemoohan di sana-sini, sekali lagi, cercaan dari berbagai pihak, yang menganggap hal ini adalah suatu pemaksaan yang biadab. Kenapa tidak mereka saja yang mencemooh memberi solusi dengan memfasilitasi kendaraan menuju Jakarta. Toh aksi ini tak akan terjadi jika ada perusahaan bus yang rela melawan aturan dengan menyewakan armadanya. Sekali lagi, tak elok kita memperdebatkan masalah mendasar jika tak tahu asal muasalnya.

Dan sambutan luar biasa dari warga Bandung ini adalah aprsesiasi dukungan bagi para mujahid Ciamis. Bak kaum Anshar yang menyambut para Muhajirin dari Makkah. Memberi makan, minum, pakaian, sandal, dan kebutuhan secukupnya. Bahkan setidaknya jika mampu, hadir di samping jalan, sembari melempar senyum kepada para mujahid dan mengucapkan, “Allahu Akbar”. Bagaimanapun juga, hanya Allah yang pantas membalas jasa-jasa mereka, entah kaum ‘Anshar’, ataupun kaum ‘Muhajirin’.

Melihat peristiwa langka ini di media sosial, rasanya air mata ini tak kuasa untuk ditahan. Kami tak pernah melihat pemandangan seperti sebelumnya. Kalaupun ada, tidak seeksttrem ini, tidak seluarbiasa ini, tidak semenakjubkan ini.

Saya pribadi, merasa malu sangat tak dapat membantu mereka secara langsung. Setidaknya dengan doa dan tumpahan rasa dalam tulisan ini, membuat saya memuaskan diri untuk tidak bermalu sangat kepada mereka yang jauh lebih hebat dalam berkorban bagi Qurannya.Binhadjid

Terima Kasih Ayah, Kami Bangga Menjadi Bagian dari Sejarah ini

Tanpa terasa Peringatan 90 Tahun Gontor telah berlalu. Suka duka kami lewati dengan kebersamaan. Kami merasa sangat bangga telah menjadi bagian dari Peringatan ini, kami sungguh bahagia menjadi bagian dari sejarah ini. Sejarah Peringatan 90 Pondok Modern Darussalam Gontor. Peringatan kesepuluh yang digelar oleh Pondok tercinta kami.

Rasanya sebulan ini adalah sebulan yang sungguh berarti bagi kami. Dari kulitnya saja kami tampak sering meninggalkan ruang kelas untuk berbagai kegiatan di sana sini. Sebagai santri, kami sangat disibukkan dengan kegiatan Peringatan 90 tahun, khususnya dengan kedatangan tiga tamu maha penting ke Pondok kami.

Berawal dari Grand Syeikh Al-Azhar, Ahmad Thayyib. Awalnya, kami tak tahu banyak tentang apa dan siapa beliau. Perlahan kami menelaah, ternyata beliau adalah Pemimpin tertinggi Universitas Al-Azhar, sebuah lembaga pendidikan yang kami idam-idamkan sejak dulu, sekaligus menjadi sintesa Pondok kami. Beberapa hari kami disibukkan dengan persiapan penyambutannya, hingga kami juga meninggalkan ruang kelas. Namun, betapa hari itu kami mendapat pelajaran berharga. Pelajaran bagaimana merajakan tamu. Pelajaran penting, bahwa Pondok kami, teramat profesional dan terlatih dalam menyambut tamu sehebat apapun.

Pun juga saat kedatangan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla. Lagi-lagi kami disibukkan dengan banyak persiapan. Termasuk gladi yang digelar berkali-kali. Sekilasnya saja persiapan tersebut adalah bagian dari prosedur Pondok menerima tamu negara. Namun sejatinya, Pondok sedang mendidik kita. Pondok sedang mengajari kita bagaimana ikromu adh-dhuyuf (menerima tamu). Satu pelajaran penting yang juga diajarkan oleh Rasulullah SAW. Kami melihat betapa banyaknya tentara dan polisi yang berlalu lalang di sekitaran Pondok. Kendaraan-kendaraan mewah dari protokoler istana, provinsi, dan daerah, serta kendaraan militer dari mobil tentara hingga Panser ‘Anoa’, juga dikerahkan mengamankan Pondok kami. Kami sungguh bangga melihat betapa besar perhatian Negara terhadap Pondok kami. Meski hanya sehari dua hari, namun kami sangat bangga dengan Pondok ini. Kami semakin cinta dan rindu terhadap Pondok ini.

Dalam bulan Peringatan ini digelar, kami sangat disibukkan dengan banyaknya kegiatan Divisi Santri. Sebagian dari kami mengikuti acara Pekan Olahraga dan Seni, Olimpiade Sains, Gontor Music Festival, Cerdas cermat, dan Haflah Tilawah al-Qur’an. Selama hari-hari itu, kegiatan belajar mengajar di kelas kami sedikit terganggu. Hingga kelas-kelas kami digabung, agar tenaga pengajar menjadi efektif dan efisien.

Ditambah lagi dengan latihan Darussalam All Star Show (DASS), ruang kelas kami menjadi semakin kosong tiap paginya. Hanya setengah atau bahkan seperempat kelas yang hadir. Namun di situ baru kami sadari, bahwa ini semua ada pelajaran yang tak dapat kami lihat dari kulitnya. Apa yang kami lakukan, apa yang dilombakan, apa yang dipentaskan, hingga persiapan untuk menuju hari H, adalah pendidikan mahal dari Pondok untuk kami. Jadi meski kami sering absen di kelas, namun kami tak pernah ketinggalan ‘pelajaran’.

Usai rentetan perlombaan tadi, belum usai juga seluruh tugas kami. Masih ada latihan DASS, Workshop Marching Band, dan Jambore. Karena Jambore digelar di Gontor Kampus 2, tak banyak pengalaman yang kami rasakan di dalamnya, terkecuali para pesertanya. Adapun yang paling berkesan bagi kami adalah latihan DASS. Jikalau Drama Arena hanya untuk kelas 5, Panggung Gembira hanya untuk para santri selain kelas 5, maka DASS, diperuntukkan bagi semua santri dan guru, muda maupun tua. Hampir seribu orang diizinkan meninggalkan beberapa jam pelajaran demi menggelar latihan. Dan hasilnya cukup manis, kami berhasil menampilkan sesuatu yang belum pernah khalayak ramai tonton. Kami sungguh bahagia. Sekali lagi, terima kasih Ayah.

Selesai seluruh rentetan kegiatan Santri, rasanya Pondok sudah beranjak normal kembali. Saat itu kami mendengar bahwa Presiden belum pasti datang. Meski pada akhirnya, dua hari sebelum hari H, kami kembali dikumpulkan untuk menggelar gladi penyambutan. Berarti, Pak Presiden, Pak Joko Widodo, pasti datang. Seluruh rentetan prosedur protokoler dan pengamanan kembali digelar.

Namun untuk yang ketiga kali ini, kami tak terlalu asing dengan cara penyambutan ini. Kami sudah tahu, kami sudah berpengalaman. Tak perlu diajari, rasanya kami sudah siap dengan proses penyambutan rumit ini. Mulai dari penyebaran pagar betis, pengadaan Paskibra dan Marching Band, penempatan santri, memasuki metal detector, pasukan militer yang berdiri sebagai ‘tirai’ di depan kami, hingga penertiban bangku dan meja, kami sudah hafal semuanya.

Hingga akhirnya, puncak kegiatan itu datang juga. Tepatnya tanggal 19 September 2016. Hari bersejarah bagi kami. Hari maha penting bagi kami. Presiden ke-7, Pak Joko Widodo hadir tepat di tengah-tengah kami. Ini seperti mimpi. Orang yang selama ini hanya hadir di televisi, kini benar-benar nyata di depan mata kami. Rasa bangga dan haru menyelimuti kami. Tak hanya Presiden, menteri-menteri, pejabat-pejabat penting, hingga petinggi militer yang selama ini kami melihat di televisi, kini berada tepat di depan kami.

Entah kami duduk di kelas berapa pun, sebagai santri, kami sangat bangga menjadi bagian dari Peringatan ini. Kami bangga menjadi bagian dari Pondok ini. Kami sungguh bangga menjadi santri Pondok ini. Terlebih saat Presiden mengatakan, “Terima kasih karena di Indonesia, ada Pondok Modern Darussalam Gontor.” Tangis kami tumpah ruah, terharu dengan apresiasi orang nomor satu di negeri kami terhadap Pondok.

Hingga suatu saat nanti, akan kami ceritakan kisah ini kepada generasi-generasi selanjutnya. Saat kami menjadi guru nanti, kami akan berkisah kepada para santri. “Nak, dulu Ustadz masih merasakan Peringatan 90 tahun. Saat itu kami……,” cerita kami sulit untuk disembunyikan dan ditutupi di depan para santri.

Sekali lagi. Terima kasih Ayah, kami bangga menjadi bagian dari sejarah ini. Ayah kami, Pondok Modern Darussalam Gontor.Binhadjid

Modern adalah Proporsional

Saya mendengar ini dari seorang putra kyai. Satu statemen menarik yang membuat saya ingin menulis. Kemodernan adalah proporsionalitas dalam suatu hal. Saat kita menempatkan sesuatu pada tempatnya, berarti modern. Saat bekerja sesuai aturan, berarti modern. Saat menggunakan pakaian sesuai dengan tempat, berarti modern. Modern adalah berpikiran maju, tidak sempit. Modern adalah berpikir secara profesional dan rasional.

Gontor sangat ahli dalam melakukan hal ini. Disiplin yang diciptakan sangat sistemik. Semua saling berhubungan. Contoh saja dari pakaian, saat olahraga, setiap santri diwajibkan mengenakan kaos, celana training, dan bersepatu. Tentu kita ketahui bersama, orang-orang di Jepang yang sering kita kaitkan dengan budaya modern, berolahraga dengan dress tersebut. Sebaliknya, di Gontor, saat beribadah, seluruh santri diwajibkan mengenakan koko, sarung, gesper, peci, dan sajadah. Satu tanda bahwa pendidikan modern sudah ditanamkan sejak dini.

Pun dengan kegiatan yang begitu padat. Di Gontor, dibiasakan dengan kesibukan padat. Mengapa demikian? Karena hal tersebut adalah pendidikan penting. Tak perlu ada seminar cara membagi waktu, namun cukup dengan menenggelamkan para santri dalam kesibukan. Seperti halnya gravitasi, tinggal mendorongnya jatuh ia akan berlari cepat ke arah tanah. Maka para santri dibiarkan saja dalam kesibukan, mereka akan belajar membagi waktu, mencari cara agar semua terpenuhi, berpikir cerdas menata diri, dan yang terpenting, adalah tenang dalam kesempitan. Seperti motto anak pramuka, bersiul dalam badai.

Satu hal lagi, saat beberapa waktu lalu saya menemani tamu dari luar negeri, setelah Maghrib saya ajak mereka berkeliling Pondok. Sekilas di mata saya, tak tampak hal menarik, semuanya berjalan rutin begitu saja. Namun saat itu, para tamu berkilah, “Para santri tampak sibuk sekali ya, tak ada satupun yang menganggur.” Tamu lain menambahi, “ Iya, seperti orang Jepang saja.”

Komentar tamu ini cukup menyentak saya. Memang benar. Karena terlalu biasa, sehingga hal luar biasa di mata tampak semu. Setelah Maghrib tak ada satu pun anak yang menganggur, duduk-duduk di depan asrama. Dari anak paling kecil sampai paling besar, tenggelam dalam kesibukan. Ada yang ingin ke dapur, ada yang ingin ke kantor Administrasi, hingga hal paling sepele, ke koperasi membeli sabun. Namun setidaknya semua kegiatan tersebut telah direncanakan. Dalam satu waktu kosong tersebut, beberapa kebutuhan harus terpenuhi. Ke koperasi dulu, kemudian makan, dan mengambil papan nama di Bagian Keamanan. Tiga hal ini harus dibagi waktunya dengan cermat dan cerdas.

Maka label modern di Pondok tak sekedar pajangan di nama depan Gontor. Namun benar-benar menjadi jiwa dan nafas. Satu falsafah yang mendarah daging dalam diri para santrinya, yang nantinya akan berguna baginya di masa mendatang.Binhadjid

Opera Bento di ‘Bukan PG Biasa’

Di pertengahan masa latihan menuju ‘Bukan PG Biasa’, ada satu acara tambahan yang diamanatkan pada saya. Acara baru ini tergolong unik. Acara ini membutuhkan kemampuan vokal, drama, dan koreografi di saat bersamaan. Yang saya maksud di sini, adalah Opera.

Kami mengemas Opera dalam ‘Bukan PG Biasa’ kali ini dengan judul ‘Alangkah Lucunya Negeri Bento’. Sepintas, memang terdengar seperti film ‘Alangkah Lucunya Negeri ini’ yang tampil di layar lebar beberapa tahun lalu. Namun, sebenarnya, isinya jauh berbeda, hanya misi saja yang berdekatan.

Opera ini berkisah tentang perjuangan sekawanan anak SD bersama gurunya dalam mempertahankan bangunan sekolahnya yang akan digusur. Untuk memenuhi ekpektasi, pemeran kesepuluh anak SD ini haruslah mempunyai kemampuan akting dan vokal. Cukup sulit mendapatkan para pemeran dengan kemampuan yang diinginkan, harus gerilya hingga ke akar-akar. Kami yakin, potensi itu ada.

Akhirnya, kami mendapatkan Rafif dan Ahmad. Dua bocah kelas 2 dengan suara oktaf tinggi, ditambah 8 anak lainnya yang memiliki vokal baik. Untuk aktor utama, karakter yang diinginkan adalah seorang guru, jadi pemeran harus dapat menyanyi sekaligus memerankan karakter guru. Kami memilih Fahmi Dwi Tarwanto, anak kelas 6 dengan perawakan dewasa, suara syahdu, dan kemampuan akting di atas rata-rata.

Nah, ada satu pos peran yang sangat sulit untuk memilih pemerannya. Yakni menjadi ‘Bento’, alias si bos perusahaan yang memimpin pengusiran sekolah. Beruntung kami menemukan talenta dalam diri seorang vokalis Nasyid, namanya Ihsan. Anak kelas 6 ini memiliki karakter yang terbilang unik. Bagaimana tidak, gaya bicara dan berjalan yang linglung, terkesan ngawur, sembrono, dan tak tahu aturan. Dalam dunia nyata, anak ini memang jarang memiliki kawan. Namun dalam dunia akting, ternyata bocah ini mampu memenuhi harapan.

Usai penggusuran ilegal oleh Bento dan komplotannya, cerita berlanjut dengan selebrasi Bento atas kesuksesannya menggusur sekolah. Namun, tak lama kemudian, ia ditangkap polisi. Di dalam penjara, ia bertemu dengan Joko, seorang petani yang dijebloskan ke bui karena mencuri tebu. Tak berselang lama, Bento dapat lolos dari penjara karena polisi penjaga dapat dengan mudahnya disuap. Saat lolos, ia menjadi gelandangan karena seluruh asetnya telah disita negara. Opera diakhiri dengan situasi masuk kelas yang kembali normal usai penggusuran.

Sepintas, cerita dalam Opera ini biasa saja. Namun, yang menjadi ruh dalam Opera ini, adalah iringan musik organ live. Beruntung kami mendapat servis dari salah seorang anak kelas 4, namanya Arkan. Kemampuan luar biasanya dalam memainkan organ, membuat Opera menjadi sangat hidup. Ada beberapa lagu masyhur yang dinyanyikan, seperti ‘Dunia Berputar’ (Sherina), ‘Tak ada yang Abadi’ (Peterpan), ‘Bento’ dan ‘Surat untuk Wakil Rakyat’ (Iwan Fals), ‘Melayang’ (Dams Family), dan ‘Kertaradjasa’ (Djaduk). Adapun beberapa lagu sisanya, adalah karangan sendiri.

Dengan kisah unik, aktor-aktor mumpuni, tata busana lengkap, tata rias memadai, tata panggung profesional, serta diiringi musik live, membuat para penonton begitu tertarik dengan Opera di ‘Bukan PG Biasa’ ini. Lucu, mengesankan, menghibur, syahdu, asyik, dan baru, itulah komentar para penonton usai acara.Binhadjid