Ustadz Dihyatun Masqon dan Episentrum

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat disampaikan kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Sapardi Djoko Darmono

Tidak ada guru yang sempurna, namun sosok Dr. Dihyatun Masqon, adalah salah satu yang paling mendekati episentrumnya.

Tahun 2012, saat ada perkumpulan dosen di Gontor Putri, ada hal yang tak lazim terjadi.

Dr. Dihyatun yang mendadak harus mengikuti perkumpulan tersebut, hingga akhirnya, tanpa ingin membuat orang lain kerepotan, beliau diam-diam menggunakan bis umum.

Pagi semacam itu, tentunya bis penuh dengan anak-anak sekolah, ibu-ibu membawa perbelanjaan ke pasar, dan para pekerja kantoran.

Di sela-sela ruang itu, ada sosok bersahaja, berjas, dan berdasi, berdiri sembari menggenggamkan tangannya pada gantungan pengaman, Dr Dihyatun Masqon. Sosok sederhana dan bersahaja itu, kini telah tiada.

Jadi jika kita sekarang masih saja mengeluh karena harus naik bis umum, ataupun kendaraan sederhana, ingatlah bahwa beliau yang saat itu sudah mengemban amanah yang cukup tinggi, masih saja berkenan menggunakan bis umum.

Based on true story. Sumber tak mau disebutkan namanya.

Saat kabar Dr. Dihyatun Masqon tersebar luas, serentak seluruh story whatsapp dan instagram warga Gontor; mahasiswa, guru, dosen, dan seluruh alumni, serentak mengucapkan kalimat yang senada, “Selamat jalan, guru kami..” Karena memang semua, sedang merasa sangat kehilangan.

Dr. Dihyatun memang teramat baik untuk pergi secepat ini. Sosok periang, ramah, murah senyum, dan yang paling terkenang, motivator ulung bagi para siswanya, kini telah pergi.

“Kalau habis kuliah sama Dr. Dihyatun, bawaanya bahagia. Banyak vitamin-vitamin segar yang menyehatkan, “ ucap seorang kawan.

Beliau adalah guru KMI di Gontor, sekaligus dosen di Unida. Ada yang mengalami masa-masa menjadi siswa KMI bersama beliau, ada pula yang menjadi mahasiswa atau mahasiswi semasa perkuliahan di UNIDA Gontor. Dan semua berkesan sama, Dr. Dihyatun adalah motivator ulung.

Di luar kelas, beliau memangku jabatan sebagai Wakil Rektor UNIDA Gontor. Setiap kali ada tamu dari luar negeri, beliau selalu diplot menjadi penyambut utama. Hingga Dr Zakir Naik ke Gontor, Dr. Dihyatun lah yang selalu bersama beliau. Para staf yang bekerja bersama beliau pun, selalu kagum terhadap petuah-petuah menyegarkan yang keluar setiap waktu.

Banyak orang di Gontor yang pakar dalam bidang bahasa. Biasanya, hanya satu bahasa saja, Arab atau Inggris. Namun, ada pula yang pakar dalam kedua bahasa tersebut. Sepertinya, dalam kategori ini, hanya beliaulah opsinya, Dr. Dihyatun Masqon.

Jika anda pernah merujuk kepada Warta Dunia (Wardun) Gontor dalam penggunaan bahasa Arab atau Inggris, maka berterima kasihlah kepada Dr. Dihyatun. Di balik buku setebal itu, ada keringat orang-orang ikhlas yang bercucuran. Dr. Dihyatun sudah menjadi Pimpinan Redaksi penerbitan Wardun selama puluhan tahun. Proses penerjemahan, pemilihan foto, pemilihan kertas, hingga detail-detail ornamen di dalamnya, Dr. Dihyatun ikut terjun langsung mengatur.

Maaf, kalau tulisan di atas berlebihan. Itu tak lebih karena luapan emosi yang tak dapat dibendung setelah mendengar beliau tiada.

Selamat jalan guru kami, Dr. Dihyatun Masqon.

Binhadjid

“Hadza al-Kitab, fiihi barakah”

Beberapa waktu lalu, kami berkesempatan untuk bersua dengan guru kami dari Gontor, Dr. Abdul Hafid Zaid, M.A. Momen tersebut tak kami sia-siakan begitu saja, kami menggelar acara Knowledge Sharing bersama beliau, tentunya dalam bidang yang beliau tekuni, Bahasa Arab. Alhamdulillah, jumlah peserta acara melebihi ekspektasi panitia, ruangan seminar penuh. Bahkan, panitia harus menambah jumlah kursi dari ruangan samping.

“Orang Arab, tak terlalu memikirkan bagaimana sulitnya orang non-Arab mempelajari detail Nahwu, Shorf, dan berbagai ilmu bahasa Arab lainnya.”

Sederhana pernyataan beliau, namun poin ini membuka pikiran kami. Lantas, jika orang Arab sendiri tak memikirkan, lalu siapa yang akan mengajarkan bahasa Arab kepada orang non-Arab? Beliau menjelaskan, bahwa orang Arab memang memiliki kemampuan berbahasa Arab dengan sangat baik, namun mereka tak memiliki kemampuan untuk mengajarkannya, khususnya untuk orang non-Arab.

Saat orang Arab menjadi pengajar bahasa Arab, ia akan mengajar dengan metode yang ia yakini, dan itu cukup sulit. Dalam beberapa kasus, beliau mencontohkan, ada saja orang non-Arab yang tak mampu diajar bahasa Arab meskipun oleh orang Arab asli sekalipun. “Mereka tak melakukan pendekatan personal terhadap siswa. Apakah siswa tersebut seorang yang pemalu, tidak cakap, atau memang benar-benar tidak mampu mengikuti materi. Para pengajar tersebut belum sampai pada titik tersebut.

Dalam kasus lain, pondok-pondok alumni Gontor, alias yang didirikan atau diasuh oleh Alumni Gontor, meskipun menggunakan buku yang sama (Durusullughah), namun mereka tetap saja tak mampu membuat para santrinya cakap dalam berbahasa Arab. Gontor menggunakan buku tersebut, dan berhasil.

Mengapa?

Sederhana saja. Tanyakan saja pada pengurus di pondok-pondok alumni, apakah mereka memiliki sistem wajib berbahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari? Apakah mereka memiliki Bagian Pengumuman yang selalu berbahasa Arab? Apakah mereka memiliki kegiatan pemberian kosakata bahasa Arab setiap pagi? Dan yang terpenting, apakah metode pengajaran buku Durusullughah yang tepat?

Pertanyaan terakhir menjadi unik. Melihat sepintas buku Durusullughah, tampak seperti buku pelajaran bahasa Arab bagi siswa pra sekolah di Arab sana. Hanya terdapata kata-kata dasar, gambar-gambar, dan rumus-rumus yang sangat sederhana. Namun mengapa bisa mencetak orang semacam Dr. Hafidz Zaid? Jawabannya adalah karena adanya guru-guru yang tahu dan melaksanakan metode mengajar yang tepat.

Karena kenal dekat dengan Dr. Abdul Hafidz Zaid, suatu saat, salah seorang pakar bahasa Arab pengarang Buku Al ‘Arabiyyah Baina Yadaik (saya lupa namanya) berkunjung ke Gontor. Saat pertama kali menginjakkan kakinya di tanah Gontor, hal pertama yang beliau ucapkan adalah, “Aina al-kitab alladzi tata’allamu minhu?” Sontak Dr. Abdul Hafidz Zaid menyodorkan kitab Durusullughah.

Pakar bahasa Arab tersebut membuka buku tersebut perlahan, per lembar, hingga halaman terakhir, kemudian kembali membuka dari halaman pertama lagi. Pertanda beliau sangat heran. Kalau saya boleh menuangkan penggambaran Dr. Hafidz tentang Pakar bahasa Arab tersebut dalam sebuah kalimat, saya akan menulis, “buku sesederhana ini kok bisa membuat anda pandai berbahasa Arab?”

Maka Pakar bahasa Arab tersebut dengan yakin menyatakan, “hadza al-kitab, fiihi barakah.”

Di lain kasus, beliau bercerita tentang kehebatan alumni Gontor dalam mempelajari bahasa baru. Menurut beliau, tak hanya bahasa Arab, saat seorang Gontory dalam kondisi mendesak untuk mempelajari suatu bahasa baru, ia mampu mempelajarinya otodidak dan menguasainya. “Dulu kawan saya ada yang jatuh cinta terhadap seorang akhwat dari Turki, maka dengan otodidak, metode yang sama saat dia belajar bahasa Arab, dia mulai mempelajari bahasa Turki perlahan. Hingga akhirnya dapat menguasai bahasa tersebut.” Jadi, otak anak Gontor sudah disetting untuk mampu beradaptasi dengan bahasa baru.

Meski hanya satu jam, namun kami mendapatkan vitamin dan gizi ilmu pengetahuan malam itu.binhadjid

 

 

 

 

Joglo All Star Show

Di akhir masa pengabdian, tentunya saya tak mau hanya diisi dengan hal-hal yang membuang waktu. Entah kenapa, sudah mengalir dalam darah ini, bahwa waktu kosong apapun harus dibunuh dengan hal-hal bermanfaat. Maka, kali ini, saya berniat untuk turut serta membantu penyelenggaraan Joglo All Star Show. Satu ajang pentas seni santri Gontor yang berasal dari daerah Surakarta, Yogyakarta, dan sekitarnya.

Tepat pada tanggal 18 Mei 2017, pentas tersebut digelar.

Karena bertajuk “All Star”, maka para panitia mengusahakan agar para guru pun ikut turun tangan dalam setiap penampilan dan hal detail penyelenggaraan acara. Jujur, kesibukan di kantor membuat saya agak kelimpungan mengatur waktu. Namun itu semua dapat dijalani dengan baik, tentunya dengan pengorbanan berat.

WhatsApp Image 2017-05-18 at 05.52.38Untuk menambah sumber daya manusia, kami mengajak para santri dari gontor kampus 2, 3, 5, dan 6. Jika dijumlahkan, hampir menyentuh angka 300 orang. Jumlah yang cukup untuk menggelar sebuah pementasan berkelas. Hampir-hampir seperti jumlah siswa kelas 5 gontor cabang saat menggelar pentas drama arena.

Tidak mudah mempromosikan acara ini. Karena masyarakat luar tak banyak tahu tentang pentas yang biasa digelar di Gontor. Maka untuk memudahkan dalam memahami, kami membuat promosi dengan tema, “Joglo All Star Show, 300 santri, 30 acara, 30 jam non stop.” Alhamdulillah, tema tersebut cukup membuat masyarakat paham, bahwa kaliber acara ini cukup besar, karena melibatkan 300 orang, dan itu semua santri pula. Selain itu, jumlah acaranya juga banyak, yakni 30 acara pementasan. Serta digelar dalam jangka waktu yang cukup panjang, 3 jam.

Namanya juga penyelenggaraan selevel acara konsulat, maka tentunya ada teramat banyak kekurangan dalam persiapan acara. Termasuk dana. Kami tergolong nekat dalam hal ini. Bagaimana tidak, dana kami hanya sekitar 15 juta, terkumpul dari iuran para santri. Padahal estimasi biaya pelaksanaan adalah 20 juta rupiah. Namun, kami yakin, akan ada banyak bantuan dari wali santri dan masyarakat. Dan alhamdulillah, hingga acara berakhir, kami masih memiliki saldo.

Acara yang digelar di Lapangan Karang, Kotagede, Yogyakarta ini, dimulai tepat pukul 20.00 WIB. Diawali dengan pemutaran video profil pondok selama 10 menit. Kemudian acara bergulir seperti biasanya pementasan Gontor digelar, yakni hadrah, sambutan, dan pembukaan. Namun ada yang berbeda, di pementasan ini, ada ceramah agama.

Ada 30 acara yang dipentaskan. Mudahnya, dikategorikan dalam bidang tari daerah, tari modern, drama, puisi, musik, seni visual, dan kreasi santri.

Salah satu acara yang menarik perhatian, adalah Tari Topeng Ireng. Sebagai salah satu tari khas daerah Magelang, masyakarat merasa takjub karena yang menampilkan tarian tersebut adalah para santri. Selain itu, ada Drama Alif Lam Mim yang menceritakan tentang kisah persahabatan tiga santri di pondok. Ada juga acara speed painting, yakni lukis cepat dengan durasi 4 menit, namun dapat melukis detail wajah Trimurti Pondok. Acara ini mendapat apresiasi yang luar biasa, karena jarang ada yang seperti itu di luar pondok.

Selain acara di atas, ada juga acara pantomim yang cukup memukau. Dalam hal ini, saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya pada Abdurrahman dan Maulana yang menyempatkan waktunya untuk tampil di tengah kesibukan yang ada. Cukup dengan latihan pada siang harinya, dapat mementaskan pantomim dengan luar biasa. Sekali, terima kasih.

Acara berakhir pada 23.30 WIB. Dilanjutkan dengan perfotoan dan pelepasan para santri menuju rumah masing-masing.

Alhamdulillah, acara ini mendapatkan respon positif dan apresiasi tinggi dari para wali santri. Sampai-sampai ada wali santri yang mengatakan, “jika acaranya seperti ini, saya siap tanggung biaya untuk pelaksanaan acara ini di dalam Stadion Maguwoharjo.” Tentunya ucapan ini tidak main-main adanya, karena stadion tersebut kini sudah bertaraf internasional.

Apapun itu, saya sangat berbahagia dapat berkecimpung dalam acara ini di akhir pengabdian ini. Terima kasih untuk Alifiu, Jibril, Luthfi, dan Ustadz Taqiyuddin yang telah mengeluarkan segenap tenaga bahu membahu melaksanakan acara ini. Juga untuk seluruh guru-guru dari gontor cabang, tanpa kalian, acara malam itu bakal berantakan.

Sekali lagi, terima kasih.binhadjid

Terima Kasih Ayah, Kami Bangga Menjadi Bagian dari Sejarah ini

Tanpa terasa Peringatan 90 Tahun Gontor telah berlalu. Suka duka kami lewati dengan kebersamaan. Kami merasa sangat bangga telah menjadi bagian dari Peringatan ini, kami sungguh bahagia menjadi bagian dari sejarah ini. Sejarah Peringatan 90 Pondok Modern Darussalam Gontor. Peringatan kesepuluh yang digelar oleh Pondok tercinta kami.

Rasanya sebulan ini adalah sebulan yang sungguh berarti bagi kami. Dari kulitnya saja kami tampak sering meninggalkan ruang kelas untuk berbagai kegiatan di sana sini. Sebagai santri, kami sangat disibukkan dengan kegiatan Peringatan 90 tahun, khususnya dengan kedatangan tiga tamu maha penting ke Pondok kami.

Berawal dari Grand Syeikh Al-Azhar, Ahmad Thayyib. Awalnya, kami tak tahu banyak tentang apa dan siapa beliau. Perlahan kami menelaah, ternyata beliau adalah Pemimpin tertinggi Universitas Al-Azhar, sebuah lembaga pendidikan yang kami idam-idamkan sejak dulu, sekaligus menjadi sintesa Pondok kami. Beberapa hari kami disibukkan dengan persiapan penyambutannya, hingga kami juga meninggalkan ruang kelas. Namun, betapa hari itu kami mendapat pelajaran berharga. Pelajaran bagaimana merajakan tamu. Pelajaran penting, bahwa Pondok kami, teramat profesional dan terlatih dalam menyambut tamu sehebat apapun.

Pun juga saat kedatangan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla. Lagi-lagi kami disibukkan dengan banyak persiapan. Termasuk gladi yang digelar berkali-kali. Sekilasnya saja persiapan tersebut adalah bagian dari prosedur Pondok menerima tamu negara. Namun sejatinya, Pondok sedang mendidik kita. Pondok sedang mengajari kita bagaimana ikromu adh-dhuyuf (menerima tamu). Satu pelajaran penting yang juga diajarkan oleh Rasulullah SAW. Kami melihat betapa banyaknya tentara dan polisi yang berlalu lalang di sekitaran Pondok. Kendaraan-kendaraan mewah dari protokoler istana, provinsi, dan daerah, serta kendaraan militer dari mobil tentara hingga Panser ‘Anoa’, juga dikerahkan mengamankan Pondok kami. Kami sungguh bangga melihat betapa besar perhatian Negara terhadap Pondok kami. Meski hanya sehari dua hari, namun kami sangat bangga dengan Pondok ini. Kami semakin cinta dan rindu terhadap Pondok ini.

Dalam bulan Peringatan ini digelar, kami sangat disibukkan dengan banyaknya kegiatan Divisi Santri. Sebagian dari kami mengikuti acara Pekan Olahraga dan Seni, Olimpiade Sains, Gontor Music Festival, Cerdas cermat, dan Haflah Tilawah al-Qur’an. Selama hari-hari itu, kegiatan belajar mengajar di kelas kami sedikit terganggu. Hingga kelas-kelas kami digabung, agar tenaga pengajar menjadi efektif dan efisien.

Ditambah lagi dengan latihan Darussalam All Star Show (DASS), ruang kelas kami menjadi semakin kosong tiap paginya. Hanya setengah atau bahkan seperempat kelas yang hadir. Namun di situ baru kami sadari, bahwa ini semua ada pelajaran yang tak dapat kami lihat dari kulitnya. Apa yang kami lakukan, apa yang dilombakan, apa yang dipentaskan, hingga persiapan untuk menuju hari H, adalah pendidikan mahal dari Pondok untuk kami. Jadi meski kami sering absen di kelas, namun kami tak pernah ketinggalan ‘pelajaran’.

Usai rentetan perlombaan tadi, belum usai juga seluruh tugas kami. Masih ada latihan DASS, Workshop Marching Band, dan Jambore. Karena Jambore digelar di Gontor Kampus 2, tak banyak pengalaman yang kami rasakan di dalamnya, terkecuali para pesertanya. Adapun yang paling berkesan bagi kami adalah latihan DASS. Jikalau Drama Arena hanya untuk kelas 5, Panggung Gembira hanya untuk para santri selain kelas 5, maka DASS, diperuntukkan bagi semua santri dan guru, muda maupun tua. Hampir seribu orang diizinkan meninggalkan beberapa jam pelajaran demi menggelar latihan. Dan hasilnya cukup manis, kami berhasil menampilkan sesuatu yang belum pernah khalayak ramai tonton. Kami sungguh bahagia. Sekali lagi, terima kasih Ayah.

Selesai seluruh rentetan kegiatan Santri, rasanya Pondok sudah beranjak normal kembali. Saat itu kami mendengar bahwa Presiden belum pasti datang. Meski pada akhirnya, dua hari sebelum hari H, kami kembali dikumpulkan untuk menggelar gladi penyambutan. Berarti, Pak Presiden, Pak Joko Widodo, pasti datang. Seluruh rentetan prosedur protokoler dan pengamanan kembali digelar.

Namun untuk yang ketiga kali ini, kami tak terlalu asing dengan cara penyambutan ini. Kami sudah tahu, kami sudah berpengalaman. Tak perlu diajari, rasanya kami sudah siap dengan proses penyambutan rumit ini. Mulai dari penyebaran pagar betis, pengadaan Paskibra dan Marching Band, penempatan santri, memasuki metal detector, pasukan militer yang berdiri sebagai ‘tirai’ di depan kami, hingga penertiban bangku dan meja, kami sudah hafal semuanya.

Hingga akhirnya, puncak kegiatan itu datang juga. Tepatnya tanggal 19 September 2016. Hari bersejarah bagi kami. Hari maha penting bagi kami. Presiden ke-7, Pak Joko Widodo hadir tepat di tengah-tengah kami. Ini seperti mimpi. Orang yang selama ini hanya hadir di televisi, kini benar-benar nyata di depan mata kami. Rasa bangga dan haru menyelimuti kami. Tak hanya Presiden, menteri-menteri, pejabat-pejabat penting, hingga petinggi militer yang selama ini kami melihat di televisi, kini berada tepat di depan kami.

Entah kami duduk di kelas berapa pun, sebagai santri, kami sangat bangga menjadi bagian dari Peringatan ini. Kami bangga menjadi bagian dari Pondok ini. Kami sungguh bangga menjadi santri Pondok ini. Terlebih saat Presiden mengatakan, “Terima kasih karena di Indonesia, ada Pondok Modern Darussalam Gontor.” Tangis kami tumpah ruah, terharu dengan apresiasi orang nomor satu di negeri kami terhadap Pondok.

Hingga suatu saat nanti, akan kami ceritakan kisah ini kepada generasi-generasi selanjutnya. Saat kami menjadi guru nanti, kami akan berkisah kepada para santri. “Nak, dulu Ustadz masih merasakan Peringatan 90 tahun. Saat itu kami……,” cerita kami sulit untuk disembunyikan dan ditutupi di depan para santri.

Sekali lagi. Terima kasih Ayah, kami bangga menjadi bagian dari sejarah ini. Ayah kami, Pondok Modern Darussalam Gontor.Binhadjid

Opera Bento di ‘Bukan PG Biasa’

Di pertengahan masa latihan menuju ‘Bukan PG Biasa’, ada satu acara tambahan yang diamanatkan pada saya. Acara baru ini tergolong unik. Acara ini membutuhkan kemampuan vokal, drama, dan koreografi di saat bersamaan. Yang saya maksud di sini, adalah Opera.

Kami mengemas Opera dalam ‘Bukan PG Biasa’ kali ini dengan judul ‘Alangkah Lucunya Negeri Bento’. Sepintas, memang terdengar seperti film ‘Alangkah Lucunya Negeri ini’ yang tampil di layar lebar beberapa tahun lalu. Namun, sebenarnya, isinya jauh berbeda, hanya misi saja yang berdekatan.

Opera ini berkisah tentang perjuangan sekawanan anak SD bersama gurunya dalam mempertahankan bangunan sekolahnya yang akan digusur. Untuk memenuhi ekpektasi, pemeran kesepuluh anak SD ini haruslah mempunyai kemampuan akting dan vokal. Cukup sulit mendapatkan para pemeran dengan kemampuan yang diinginkan, harus gerilya hingga ke akar-akar. Kami yakin, potensi itu ada.

Akhirnya, kami mendapatkan Rafif dan Ahmad. Dua bocah kelas 2 dengan suara oktaf tinggi, ditambah 8 anak lainnya yang memiliki vokal baik. Untuk aktor utama, karakter yang diinginkan adalah seorang guru, jadi pemeran harus dapat menyanyi sekaligus memerankan karakter guru. Kami memilih Fahmi Dwi Tarwanto, anak kelas 6 dengan perawakan dewasa, suara syahdu, dan kemampuan akting di atas rata-rata.

Nah, ada satu pos peran yang sangat sulit untuk memilih pemerannya. Yakni menjadi ‘Bento’, alias si bos perusahaan yang memimpin pengusiran sekolah. Beruntung kami menemukan talenta dalam diri seorang vokalis Nasyid, namanya Ihsan. Anak kelas 6 ini memiliki karakter yang terbilang unik. Bagaimana tidak, gaya bicara dan berjalan yang linglung, terkesan ngawur, sembrono, dan tak tahu aturan. Dalam dunia nyata, anak ini memang jarang memiliki kawan. Namun dalam dunia akting, ternyata bocah ini mampu memenuhi harapan.

Usai penggusuran ilegal oleh Bento dan komplotannya, cerita berlanjut dengan selebrasi Bento atas kesuksesannya menggusur sekolah. Namun, tak lama kemudian, ia ditangkap polisi. Di dalam penjara, ia bertemu dengan Joko, seorang petani yang dijebloskan ke bui karena mencuri tebu. Tak berselang lama, Bento dapat lolos dari penjara karena polisi penjaga dapat dengan mudahnya disuap. Saat lolos, ia menjadi gelandangan karena seluruh asetnya telah disita negara. Opera diakhiri dengan situasi masuk kelas yang kembali normal usai penggusuran.

Sepintas, cerita dalam Opera ini biasa saja. Namun, yang menjadi ruh dalam Opera ini, adalah iringan musik organ live. Beruntung kami mendapat servis dari salah seorang anak kelas 4, namanya Arkan. Kemampuan luar biasanya dalam memainkan organ, membuat Opera menjadi sangat hidup. Ada beberapa lagu masyhur yang dinyanyikan, seperti ‘Dunia Berputar’ (Sherina), ‘Tak ada yang Abadi’ (Peterpan), ‘Bento’ dan ‘Surat untuk Wakil Rakyat’ (Iwan Fals), ‘Melayang’ (Dams Family), dan ‘Kertaradjasa’ (Djaduk). Adapun beberapa lagu sisanya, adalah karangan sendiri.

Dengan kisah unik, aktor-aktor mumpuni, tata busana lengkap, tata rias memadai, tata panggung profesional, serta diiringi musik live, membuat para penonton begitu tertarik dengan Opera di ‘Bukan PG Biasa’ ini. Lucu, mengesankan, menghibur, syahdu, asyik, dan baru, itulah komentar para penonton usai acara.Binhadjid

Persiapan Matang di ‘Bukan PG Biasa’

Sudah lama sekali tak menulis di blog ini, makanya tangan saya ini terasa gatal.

Sejatinya, semenjak lebaran kemarin ada begitu banyak hal yang ingin ditumpahkan di blog ini. Entah perasaan bahagia, sedih, penat, hingga euforia dan atmosfir di beberapa situasi, rasanya amat sayang jika tidak ‘diabadikan’ dalam blog ini.

Dari keseluruhan pengalaman akhir-akhir ini, yang sepertinya paling sayang kalau dilewatkan adalah pengalaman menjadi pembimbing siswa akhir KMI di Panggung Gembira.

Subhanallah, ternyata hal tersebut bukanlah perkara mudah. Untuk mewujudnyatakan slogan kami, “Bukan Panggung Gembira Biasa”, maka harus ada effort yang lebih untuk mencapai cita-cita tersebut. Dan itu semua sudah kami fikirkan matang semenjak bulan Ramadhan, sebagian acara sudah didapatkan konsepnya sejak setengah tahun sebelumnya. Ada juga beberapa acara yang sudah mulai diraba sejak setahun atau dua tahun sebelumnya. Bahkan, percaya atau tidak, ada juga acara yang konsepnya sudah dicita-citakan semenjak 4 tahun sebelumnya.

Maka tidak aneh jika rundown acara sudah bisa print out jauh sebelum latihan itu dimulai. Ada 60 acara lebih yang kami susun, hampir dari seluruh acara tersebut adalah murni dari hasil pemikiran anak-anak tim inti Panggung Gembira.

Karena persiapan sejak awal sudah matang, maka tak ayal, kami memiliki begitu banyak variasi acara untuk PG kali ini. Saat gladi pertama saja, baru dua pertiga acara ditampilkan, waktu sudah tak mencukupi. Akhirnya dengan pemikiran mendalam, kami berhasil menyisihkan beberapa acara yang tak layak tampil.

Dalam perjalanannya pun, latihan PG harus menemui banyak sekali rintangan. Para pembimbing yang disibukkan di kepanitiaan Wisuda, LP3, dan PKA, serta kesibukan di bagian masing-masing. Pun juga dengan siswa akhir KMI, yang jauh lebih sibuk di kepanitiaan-kepanitiaan tersebut.

Kami melakukan 6 kali gladi, dengan masa latihan 50 hari. Namun jika dikurangi dengan beberapa hari yang bertabrakan aktivitas Pondok, maka ‘netto’nya hanya sekitar 30 hari.

Alhamdulillah, berkat persiapan panjang dan perhitungan matang yang saya beberkan di atas tadi, serta konsep yang sudah ada sejak jauh-jauh hari, Panggung Gembira kali ini mengundang decak kagum dari ribuan penonton yang hadir. Tentang acara, pelaksanaan acara di hari H serta gebrakan-gebrakan lainnya, akan saya tuangkan dalam tulisan di bagian lainnya.Binhadjid

Gontor dan Endut Blagedaba

Endut Blegedaba merupakan lava yang terdapat dalam Kawah Candradimuka. Lava yang dikenal dengan panas tujuh kali lipat dari panas api di bumi. Mendengar Kawah Candradimuka, yang terbesit dalam benak pastilah seorang ksatria pewayangan Gatotkaca. Namun sebenarnya, ada beberapa bayi yang kelahirannya tak diharapkan, pernah ‘diceburkan’ ke dalam kawah ini. Sebut saja Bambang Wisageni, Boma Narakasura dan Bambang Nagatatmala juga pernah dijebloskan ke dalam kawah ini.

Namun, uniknya, menurut cerita pewayangan, tak satupun dari bayi yang masuk, mati karena Endut Blegedaba. Yang ada, para bayi tersebut justru ‘digodok’ dengan panasnya lava, suhu kawah yang sangat tinggi dan keadaan api yang membara, membuat mereka semakin sakti dan kuat. Artinya, mesti tak semua, justru penggemblengan dalam keadaan kritis dan mencekiklah, yang dapat melahirkan ‘orang sakti’ macam Gatotkaca di dunia pewayangan.

Mendengar cerita ini, kita menjadi teringat dengan pidato Bung Karno. “Tidak ada pemimpin dilahirkan dari kutub utara atau selatan, karena di sana hanya adem ayem tentrem. Akan tetapi, dari bangsa Indonesia ini, Kawah Candradimuka ini, bisa melahirkan pemimpin-pemimpin hebat dunia.” Kurang lebih demikianlah pidato Bung Karno di depan rakyat.

Negeri yang berisi banyak gejolak, konflik di sana-sini, permasalahan abadi dan kekalutan yang tak kunjung selesai ini, menurut Bung Karno, justru akan melahirkan orang-orang besar yang terbiasa menghadapi masalah-masalah besar.

Beberapa hari terakhir ini, Pondok Modern Darussalam Gontor sedang dalam masa super sibuknya menghadapi kegiatan Gontor Olympiad. Jika kita berkeliling pada pagi atau sore hari, tak satupun anak yang tampak menganggur. Tiap orang dari mereka bergerak dinamis dalam setiap perlombaan, perjuangan, persaingan hingga terkadang sedikit pertengkaran ringan. Ini semua terlahir dari sikap memperjuangkan kelompok masing-masing, namun masih tetap dalam koridor pendidikan ala Gontor hasil desain para Kiai.

Gontor yakin, bahwa semakin banyak pergolakan dan ruh persaingan yang diciptakan di pondok ini, akan semakin membuat anak-anak berpikir dan berjuang keras. Dalam kondisi tersebut, anak-anak dituntut untuk berpikir dan cepat mengambil keputusan, seperti halnya kriteria yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu mampu mengambil keputusan dengan cepat meski di saat sempit.

K.H. Hasan Abdullah Sahal mengatakan bahwa tidak ada pendidikan yang ahsan (paling benar). Yang ada adalah pendidikan yang ansab (paling sesuai). Dan Gontor Olympiad ini merupakan bagian dari pendidikan yang diyakini ansab dengan visi dan misi Gontor, yakni melahirkan pemimpin-pemimpin perekat umat. Tanpa kegiatan ekstra dan menguras tenaga, anak-anak hanya akan menjadi singa ompong yang tak mampu mengaum.

Wal usdu lau la firoqul ghobi ma iftarosyat. Seekor tak akan menjadi buas jika tak digembleng dengan kehidupan keras di hutan. Sejak lahirnya pun, anak singa sudah diancam akan dimakan oleh ayahnya sendiri. Jadilah kerasnya kehidupan singa sudah dihadapinya sejak lahir. Maka saat dewasa, singa layak disandangkan menjadi raja hutan, karena sudah ‘biasa’ menghadapi rintangan di belantara hutan.

Gontor dan Kawah Candradimuka, meski tak mutlak sama, merupakan dua tempat penggemblengan yang dapat melahirkan pemimpin-pemimpin besar dan ksatria-ksatria pejuang umat. Walaupun kawah tersebut hanya ada dalam dunia pewayangan, namun ini dapat menjadi gambaran bagi orang yang masih asing terhadap pesantren. Bahwa apa yang ada di pesantren, sejatinya adalah pendidikan ‘keras’ untuk melahirkan pemimpin hebat.

Maka Gontor Olympiad dan Endut Blagedaba, sekali lagi, meski tak mutlak, adalah dua variabel yang tak bisa dilepaskan satu sama lain. Gontor Olympiad di pondok, sudah menjadi semacam ajang persaingan yang akan menggembleng siapapun di dalamnya. Seperti halnya Endut Blagedaba yang akan menggodok siapa saja yang ‘berani’ masuk ke Kawah Candradimuka.binhadjid

Santri ‘Militant High Level’

Ada begitu banyak ruh persaingan diciptakan di pesantren kami. Perlombaan dalam berbagai kategori digelar dengan waktu berurutan dari satu lomba ke lomba lainnya. Para santri tak pernah diberi waktu kosong menganggur tanpa pekerjaan. Perlombaan itu menyebabkan terjadinya persaingan. Persaingan itu datang dengan sendirinya, melihat situasi panas kompetisi di tiap pagelaran lomba. Tiap kelompok menginginkan kemenangan, kemenangan dan kemenangan.

Meski sejatinya, usai sebuah persaingan sehat, tidak ada satu pihak pun yang kalah, mungkin hanya merasa kalah. Saat satu kelompok kalah, maka dia akan memberi apresiasi dan tepuk tangan kepada sang pemenang. Sang pemenang pun akan balik memberi apresiasi kepada pihak yang kalah atas sportivitas yang dibangun. Begitu juga sebaliknya, jika kelompok pemenang tadi mengalami kekalahan, mereka akan melakukan sebagaimana pihak yang kalah tadi perbuat. Jadi, tiap orang memiliki porsi kemenangan masing-masing, hanya saja tugasnya saja berbeda.

Yang jadi pertanyaan, mengapa tiap perlombaan yang digelar, bisa melahirkan sebuah ruh persaingan diantara peserta ajang?

Sebelum menelaah jawaban, ada baiknya kita melihat terlebih dahulu ‘orang’ yang berada di balik setiap kelompok tersebut. Orang-orang yang berada di tiap kelompok tersebut ternyata bukanlah para pecundang, namun para fighter yang selalu dididik dengan pendidikan santri militant high level. Saya katakan, militan tak selalu berarti militer, namun yang diambil di sini adalah jiwa militan, jiwa berdisiplin dan jiwa pantang menyerah.

Jadi, jangan aneh apabila ada sebuah ajang yang diciptakan diantara mereka, menimbukan persaingan ketat nan sengit. Ini karena orang-orang yang berada di balik persaingan itu, sudah mempunyai mental-mental pesaing hingga titik akhir, mental pejuang tak patah arang dan mental juara yang terasah.

Ini semua tak akan tercipta, tanpa sebuah lingkungan mendukung yang didesain sedemikian hebatnya. Inilah pesantren kami, lingkungan ‘orang-orang’ militan, santri dan pejuang. Semua berkat proses panjang nan melelahkan selama 89 tahun. Siapa pendesain lingkungan para pejuang ini? Tidak lain dan tidak bukan adalah Kiai para pendiri dengan bantuan dari para anshar dan generasi penerusnya.Binhadjid

Genta Jam Satu Siang

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, ‘Genta’ diartikan semacam alat bunyi-bunyian atau lonceng. Arti di kamus tersebut seringkali hanya ditafsirkan sebagai suara penanda dengan perangkat listrik sekali tekan akan berbunyi, seperti halnya di sekolah-sekolah modern ataupun kawasan pekerjaan umum. Pesantren kami menyebutnya dengan jaros.

Namun, walau jaros diletakkan di tempat umum, tak ada seorang pun santri yang berani menyentuhnya kecuali yang bertugas. Seakan ada aura tersendiri saat kita berpapasan dengan jaros yang tergantung di jalanan umum, karena memang jaros tersebut memiliki nilai kesakralan tersendiri. Jika suatu saat berbunyi tak pada waktunya, para punggawa pesantren kami akan bertanya-tanya, penegak disiplin akan meneliti, hingga pada akhirnya, pelakunya akan mendapat hukuman setimpal.

Dari sekian banyak jaros yang menggema, ada dua waktu jaros yang unik untuk dibahas. Salah satu jaros ini mengakibatkan density (kepadatan) menjadi vacuum (kekosongan). Dan sebaliknya, genta yang satu lagi mengakibatkan vacuum menjadi density.

Tiap hari menjelang jamaah shalat Maghrib di Masjid Jami’, keberangkatan para santri di pesantren kami dimulai pukul setengah lima sore dan diakhiri dengan suara jaros yang terkadang dipukul jam lima, jam lima lewat lima menit, ataupun jam lima seperempat. Kegaduhan para santri yang awalnya begitu riuh menuju masjid, menjelang jaros dipukul, keriuhan tersebut semakin menjadi. Terutama para santri yang masih saja berada di asrama. Mereka bergegas berlari menuju masjid, entah sarung, peci, baju koko sudah sempurna terpakai atau belum.

Nah, saat jaros dipukul, density yang baru saja memuncak, dalam waktu singkat, berubah menjadi vacuum situation. Di depan masjid tak terdapat seorang santri pun yang masih berjalan menuju masjid, yang ada hanya para penegak disiplin berdiri bersama para muta’akkhirin (orang-orang yang terlambat).

Namun, yang menurut saya lebih menarik, adalah dari vacuum situation menuju density situation. Dan salah satunya, terjadi saat jaros pukul satu siang.

Menurut hukum organisasi, tidak ada santri yang boleh keluar dari rayon sebelum jaros jam satu siang. Mereka wajib berada di asrama masing-masing, menunggu jaros tersebut berdentang. Meski ada saja santri yang usil dan melanggar peraturan tersebut.

Karena kesibukan, para pengurus rayon memang tidak begitu mengindahkan disiplin tersebut, hanya penegak disiplin pusat saja yang memperhatikan. Jadilah para santri keluar rayon sebelum saatnya, mengendap di sekitar jalanan protokol, menunggu jaros berbunyi. Sebagian diantara mereka ada yang hendak cukur rambut, makan di dapur, mengurus pembayaran di kantor Admnistrasi hingga jajan di kantin. Mereka khawatir, jika terlambat menuju tempat-tempat tersebut, akan berdiri di antrian paling belakang.

Dan benar saja, saat jaros berbunyi, ratusan santri berhamburan keluar dari sudut-sudut pesantren. Mereka mempunyai kepentingan masing-masing, di tempatnya masing-masing pula. Karena sempitnya jalan, seringkali terjadi tabrakan yang tak diinginkan, hingga mengakibatkan beberapa piring pecah, ataupun luka-luka ringan. Meski bertabrakan, usai kejadian, tak ada tuntut ganti rugi ataupun perdebatan sengit mencari siapa yang salah, namun kedua belah pihak segera bangkit untuk berlari menuju tujuan masing-masing.

Dengan perubahan pergerakan ini, terjadi perubahan situasi dari kekosongan menuju kepadatan. Sekali lagi, perubahan ini terjadi dalam waktu yang sangat singkat, hitungan menit, bahkan detik. Ini mengingatkankan kepada cerita bibi saya selama hidup di negara Amerika Serikat, yakni tentang disiplin bermain air di pantai. Sebelum pukul sepuluh pagi, para wisatawan dilarang ‘menyentuh’air di pantai tersebut. Tanda diperbolehkannya adalah dengan suara sirine panjang. Tidak ada satupun wisatawan ataupun anak mereka yang menyentuh air sebelum sirine tersebut, karena memang security system belum berlaku sebelum jam sepuluh pagi. Saat sirine berbunyi, ratusan wisatawan tersebut langsung berlomba-lomba menuju air, tentunya dengan sistem penjagaan baywatch yang sudah siaga.

“Dinamis,” tampaknya itu kata yang tepat untuk sebuah peradaban ini, peradaban pesantren kami ini. Ada perubahan sistem, perubahan situasi yang ditandai dan diakhiri dengan jaros. Hingga kapanpun jaros akan selalu saja seperti itu, karena ia tak lekang oleh waktu.Binhadjid

Obituari Ustadz Ahmad Tauhid Sahal: “Kepergian Sosok Militan itu Sungguh Menggertak Kami”

Selain Pimpinan Pondok dan Direktur KMI, jika para santri ditanya tentang siapa guru senior yang paling mereka kenal, hampir setiap santri di Pondok Modern Darussalam Gontor akan menjawab, “Ustadz Tauhid.” Hal ini bukan tanpa sebab, hampir pada setiap aktivitas pondok, Ustadz Tauhid ikut turun tangan menegakkan disiplin pondok, baik bagi santri maupun guru.

Meski tubuhnya kurus dan pembawaannya sederhana, namun Ustadz Tauhid memiliki ketegasan, kejujuran serta kedisiplinan yang kuat. Sifat-sifat yang dahulu ditanamkan oleh sang ayah, K.H. Ahmad Sahal, pendiri Pondok Gontor, selalu beliau pelihara hingga akhir hayat.

Hampir di setiap kegiatan santri maupun guru, ‘Pak Tauhid’, sapaan akrab beliau, tanpa merasa gengsi karena usia yang sudah terlampau tua, selalu turun dan ikut menegakkan disiplin santri ataupun guru. Dengan teriakan khasnya, para santri pasti akan segera mengikuti disiplin yang ada tanpa ragu. Karena, usai teriakan, biasanya beliau tak segan-segan ‘menyentuh’ beberapa santri yang sulit diatur. Ada hal-hal yang menurut beliau tak pantas, tanpa pandang bulu, Ustadz Tauhid langsung menegurnya, kapanpun dan di manapun. Meski, terkadang banyak yang tak suka dengan ketegasan dan disiplin beliau.

Bahkan dalam satu kesempatan, ada seorang kyai sedang menyampaikan pengajian di daerah Lasem, Rembang. Saat itu, Sang Kyai kurang tepat menuturkan lafadz dalam sebuah hadits, Ustadz Tauhidpun tanpa ragu langsung meng-islah di tempat. Hingga Sang Kyaipun bertanya-tanya, siapa sebenarnya orang tersebut, begitu berani membenarkan penuturan orang yang dianggap ‘suci’ di kalangan masyarakat pada waktu itu.

Dari sepuluh putra pendiri PMDG, K.H. Ahmad Sahal, selain K.H. Hasan Abdullah Sahal (Pimpinan PMDG), Pak Tauhid merupakan sosok yang sangat istiqomah dalam menjaga pesan-pesan orang tuanya. Kalau boleh meminjam istilah Ustadz H. Imam Shobari, beliau ini sangat ta’dzim terhadap kedua orang tuanya. Salah satu buktinya, adalah saat Ustadz Tauhid menyelesaikan studi di KMI pada tahun 1974. Kala itu, K.H. Ahmad Sahal meminta agar Ustadz Tauhid menetap di pondok untuk mengajar, tanpa perlu kuliah terlebih dahulu di tempat yang diinginkan. Tanpa banyak pertimbangan, beliau manut terhadap apa yang dikatakan oleh K.H. Ahmad Sahal.

Selama puluhan tahun mengajar di KMI, Pak Tauhid mengampu materi Hadits untuk siswa kelas 3 KMI. Jadi jangan kaget, bila beliau sudah nelotok jika ditanya tentang Hadits, terutama Hadits dalam Kitab Bulughul Maram.

Materi Hadits ini jugalah yang mengantarkan beliau meraih gelar sarjana dari Sekolah Tinggi Agama Islam Shalahuddin Al-Ayyubi Jakarta Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam. Sebab, skripsi yang ditulis oleh Ustadz Tauhid juga mengenai Hadits. Jadi tidak salah, bila ‘seakan’ yang diuji lebih pandai dan menguasai materi dari pada yang menguji.

Selama mengajar di KMI, Ustadz Tauhid memang dikenal sebagai sosok yang sangat tegas di kalangan para santri. Tegas bukan berarti keras. Karena memang pendidikan di Gontor seperti itu. Mendidik para santri untuk memiliki jiwa militan. Teriakan dan gertakan hingga ‘sentuhan’ menjadi makanan sehari-hari para siswa yang diajar oleh beliau. Namun, pada beberapa reuni alumni Gontor, banyak dari para mantan murid beliau mengatakan, “Kalau dulu saya tidak dimarahi, diteriaki dan ‘disentuh’ oleh Ustadz Tauhid, mungkin saya sekarang tidak bisa menjadi sukses seperti sekarang ini.” Ini pertanda bahwa pendidikan mental dan karakter yang ditanamkan oleh begitu melekat dan membekas di benak para santri.

Meski terkenal ‘galak’, sebenarnya Ustadz Tauhid merupakan pribadi humoris. Hal ini terlihat saat beliau bertemu dengan para guru ataupun para alumni di luar kegiatan pondok. Terkadang beliau pandai membuat lelucon sambil nostalgia dengan para muridnya terdahulu. Meski sudah tua, beliau memiliki memori yang sangat kuat. Hingga sebelum pergi, beliau masih dapat menghafal para mantan muridnya, ataupun menghafal hadits-hadit maupun ayat-ayat tafsir yang dulu pernah dihafal.

Riwayat penyakit Pak Tauhid berawal pada Ramadhan 2 tahun yang lalu. Ustadz Tauhid mengalami kecelakaan yang mengharuskan beliau mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit selama beberapa hari. Namun Allah masih memberi kesempatan pada beliau untuk aktif mengajar hingga pada Hari Raya Qurban lalu.

Tepat pada 15 Oktober 2013, usai Shalat Subuh, beliau beberapa kali bersin yang mengakibatkan pandangan kabur dan tak sadarkan diri. Setelah sempat kejang dan tensi darah naik hingga 230 mmHg, beliau dilarikan ke UGD Rumah Sakit Aisyiah Ponorogo. Pada saat itu, beberapa kali keadaan beliau tidak stabil, baik dari kesadarannya maupun tensi darahnya. Hingga pada Rabu, 16 Oktober 2013, di hadapan K.H. Hasan Abdullah, Ibu Siti Aminah Sahal dan Pak Imam Budiono Sahal, beliau menghembuskan nafas terakhir untuk selama-lamanya.

Memang kini beliau telah tiada, namun penanaman nilai-nilai kejujuran, disiplin serta sikap tegas untuk selalu beristiqomah terhadap pesan orang tua, akan selalu diteladani oleh para santri yang pernah, ataupun belum pernah merasakan pendidikan dari Ustadz Ahmad Tauhid Sahal. Allahummaghfirlahu, warhamhu.binhadjid