Faiz

Ya Allah, berikan kepada kami pemain-pemain yang handal.

Jadikan kiper kami mampu menepis segala tendangan.

Jadikan penyerang kami mampu mencetak gol.

Berikan kepada kami hasil yang terbaik.

Faiz menangis.

Menjelang pertandingan itu, Faiz berubah. Sifat humorisnya raib entah ke mana. Penciptaannya seakan didesain ulang. Kami kaget, sekaligus kagum.

Sebegitu seriusnya Faiz untuk kompetisi ini.

Dua minggu sebelumnya.

“Ayo kawan-kawan, lapangan sudah di-booking. Mari kita latihan.” Faiz mengirim pesan melalui whatsapp dalam grup tim futsal.

Faiz, sang kapten, memang sangat rajin memimpin latihan para anggota. Kami para alumni pesantren yang sekarang kuliah di Malaysia, memutuskan untuk mengikuti turnamen futsal antarwarga Indonesia di Malaysia.

Ditemani Wira, Faiz menggebu bersemangat menunggu di lapangan. Lapangan merah yang sejatinya lebih cocok untuk basket itu menjadi lapangan favorit bagi kami, juga seluruh mahasiswa pencinta futsal di kampus ini. Selain karena lampu penerangan yang baik, bahan dasar paving yang digunakan juga nyaman.

Latihan memang masih akan dilaksanakan jam setengah 10 malam, namun Faiz dan Wira sudah berada di lapangan 2 jam sebelumnya.

Untuk apa mereka secepat itu?

Ternyata lapangan merah adalah lapangan favorit. Jadi, siapa cepat, dia dapat. Faiz dan Wira harus “mempertahankan” lapangan, sampai kami semua tiba.

Karena ini kampus internasional, maka para pemain yang datang ke lapangan juga dari berbagai negara. Dan yang paling rumit, adalah jika para mahasiswa Afrika yang notebene berbadan besar dan berkulit gelap, datang beramai-ramai ke lapangan.

Faiz dan Wira harus memutar otak agar mereka tak “diremehkan”.

Muncul sebuah ide gila.

Wira mengambil sebatang rokok, kemudian disulut di depan para mahasiswa Afrika tersebut. Tiba-tiba, wajah mereka yang sebelumnya garang ingin mengambil alih lapangan, berubah menjadi ramah.

Sembari menyebul asap rokok dengan santai, Wira memberi pernyataan bahwa lapangan tidak bisa mereka gunakan. Tanpa banyak beralasan, mereka pun meminta maaf karena sudah mengganggu, kemudian pergi keluar lapangan.

Angkat topi untuk Wira.

Aku selalu menunggu datangnya waktu latihan. Bagiku, bermain futsal adalah sangat penting. Bagaimana tidak, tugas kuliah yang begitu banyak, membuat dunia ini semakin sempit. Maka penjernihan otak dengan bermain futsal adalah efektif dan manjur.

Bagi para mahasiswi, banyak dari mereka yang mencari hiburan dengan berbelanja. Namun bagi kami, para mahasiswa, berbelanja malah membuat dunia serasa makin sempit.

Kami berlatih hampir setiap hari, terutama menjelang kompetisi bergulir. Berbagai persiapan kami lakukan, mulai dari teknis pendaftaran, strategi bermain, hingga stimulus penguat tenaga selalu kami pikirkan.

Tanpa terasa, hari pertarungan telah tiba.

Jarak dari kampus kami ke lokasi pertandingan sekitar 20 kilometer. Perlombaan digelar di Universitas Malaya. Salah satu kampus tenar di Malaysia. Sama besarnya dengan kampus kami, bedanya, mereka tak berlabel islami. Jadi mahasiswi tak berjilbab dan berpakaian minim amat mudah ditemukan.

Universitas Malaya adalah universitas pertama yang didirikan di Malaysia. Cukup luas kawasannya, sekitar 300 hektar. Sudah menjadi kebiasaan di Malaysia, bahwa yang namanya universitas, haruslah memiliki kawasan luas. Karena di dalamnya akan didesain sedemikian rupa dengan dilengkapi taman, danau, sungai, lapangan, gedung-gedung fakultas yang terintegrasi, hingga jalur-jalur pedestrian.

Kami berangkat sejak pagi buta menuju Universitas Malaya. Meski akhirnya kami datang terlalu pagi. Namun tak masalah, setidaknya kami memiliki waktu panjang untuk berlatih.

Pertandingan demi pertandingan kami lalui. Tim kami dibagi menjadi dua, karena stok pemain yang cukup banyak dengan kualitas merata. Kedua tim yang dikirimkan tampak mudah melalui 3 pertandingan pertama.

Karena pertandingan dilaksanakan di ruang terbuka, panas begitu terasa menyengat. Semakin tinggi suhu udara, semakin tinggi pula tensi pertandingan di lapangan.

Tak jarang ada protes keras dari para pemain terhadap wasit dan ofisial. Meski demikian, emosi masih dapat diredam.

Kedua tim lolos ke babak 16 besar.

Karena suhu yang sangat tinggi, pertandingan dipindahkan ke dalam ruangan. Sebuah lapangan futsal indoor milik Kampus dijadikan venue.

Berbeda lapangan, berbeda pula kondisinya. Lapangan outdoor yang tadinya ukurannya cukup luas dengan bahan lantai dari anyaman plastik, membuat cara bermain kami sedikit santai. Penguasaan bola diutamakan.

Berpindah ke indoor, lapangan lebih sempit dengan bahan lantai kayu. Sehingga tendangan langsung menjadi hal yang paling sering dilakukan. Beruntung tim kami memiliki para shooter handal, sehingga dengan mudah melaju ke babak selanjutnya.

Di babak 8 besar inilah kami mendapat ujian sesungguhnya.

Satu dari dua tim kami gagal melaju ke babak selanjutnya. Jatuhnya Niam, kiper kami, menjadi titik awal kegagalan kami.

Dalam laga itu, lawan kami menyerang dengan sekuat tenaga. Beruntung Niam tampil ciamik. Sayang, tak lama kemudian, benturan keras terjadi. Niam tak mampu melanjutkan pertandingan. Hingga akhirnya digantikan oleh pemain lain.

Dengan mudahnya kami kebobolan. Gol demi gol terjadi. Hingga akhirnya saat peluit panjang dibunyikan, kami kalah.

Meski kalah, setidaknya pertandingan berjalan sportif. Berbeda dengan nasib tim kami yang satu lagi, melawan tim yang cukup garang.

Persepakbolaan di Indonesia adalah ironi.

Ini tak lain adalah karena sifat dan mental yang dimiliki. Sikap tidak sportif, sulit menerima kekalahan, maunya menang sendiri, dan nihilnya sikap saling menghargai menjadi hubungan kausal dengan prestasi minor timnas Indonesia.

Melihat suporter rusuh, pemain memukul wasit, adu jotos antar ofisial, hingga nyawa melayang karena perkelahian anta suporter menjadi hal lumrah di Indonesia. Dan sayangnya, komite sepakbola seakan tutup mata dengan hal tersebut.

Berbeda dengan Mesir, saat ada tragedi nyawa melayang dalam liganya, pemerintah langsung membekukan seluruh kegiatan persepakbolaan. Tegas memang, namun itu harus demi kemaslahatan bersama. Karena ketegasan itulah, saat sepak bola di Mesir digulirkan kembali, prestasi mereka turut serta meningkat.

Dan yang memprihatinkan, sifat buruk para suporter di negara kita sudah mendarah daging. Bahkan saat sudah di luar negeri pun, sikap tak sportif itu masih ada.

Faiz memang pemain unik. Ia menjadi tumpuan tim kami dalam mencetak gol. Hal itu pulalah yang membuat lawan selalu mengincar Faiz. Entah dengan cara fair atau pelanggaran, yang penting Faiz dapat dihentikan.

Akhirnya aksi-aksi tidak profesional terjadi. Berkali-kali pemain lawan mencoba mengambil bola dari kaki Faiz dengan kasar. Bahkan tak jarang, langsung dengan tendangan ke arah kaki. Entah mengapa, wasit pun diam saja.

Hingga satu momen buruk terjadi, di mana saat Faiz mencoba merebut bola dari pemain lawan, namun kemudian lawan terjatuh. Saat itu pemain lawan tidak terima, kemudian dengan lagak tidak sopan seakan menantang Faiz berkelahi.

Barok, kawan satu tim Faiz, terpancing emosi. Ia mendekati orang tersebut, kemudian memasang kaki. Seakan ingin menendangnya.

Namun sayang seribu kali sayang. Gelagat tersebut membuat para suporter masuk lapangan. Barok menjadi bulan-bulanan suporter tim lawan. Beruntung, sebelum semuanya menjadi semakin runyam, tim keamanan dengan sigap melerai. Meski Barok sudah diamankan, namun kami tidak terima dengan perlakuan suporter tim lawan, yang mana sempat ada pukulan keras ke arah kepala Barok.

Kami pun mulai terpancing emosi. Kami mencari si pemukul tersebut. Kami anggap ia biang keladi semua ini.

Saat kami beramai-ramai mencari si pelaku, tiba-tiba Barok datang dan berteriak.

“Sudaaaah!! Gak perlu dicari orangnya!! Biarin saja!!”

Aku kaget setengah mati. Ini bukan Barok yang kukenal. Biasanya di tengah kondisi serumit apapun, ia tetaplah seorang penggurau. Namun, hari ini, situasi mampu melebur tawanya menjadi amarah.

Barok pun mendapat kartu merah dan meninggalkan lapangan. Sekaligus meninggalkan venue, kami amankan, kami takut ia menjadi incaran suporter lawan, meski sudah di luar lapangan.

Pertandingan kembali dilanjutkan.

Sebelum kerusuhan terjadi, kami tertinggal 1-0. Kami pun mencoba mengejar ketertinggalan. Tak ayal, usaha kami membuahkan hasil. Kami berhasil memecahkan telur. Sekaligus menyamakan kedudukan. Dan wasit pun meniup peluit panjang.

Pertandingan harus dilanjutkan ke babak adu penalti.

Namanya juga adu penalti, isinya hanya adu keberuntungan. Namun bagi kami, tidak ada keberutungan, yang ada hanyalah karunia Allah SWT. Dan sore itu, karunia Allah SWT berpihak pada kami. Penendang kedua dari tim lawan, gagal mengeksekusi penalti.

Kami pun melaju babak semi final.

Selamat, Faiz.

Sembari menunggu babak semi final, Faiz dan timnya beristirahat di mushala. Selain Memusatkan tenaga, mereka juga bermuhasabah dengan berdizikir dan membaca Quran.

Aku dan beberapa kawan tetap menunggu di lapangan, sekaligus menonton babak perempat final lainnya.

Dan kali ini, kerusuhan terjadi lebih seru.

Seorang pemain terjatuh usah diganjal kaki lawan. Pemain lain mendekati sang pelanggar, menenangkan. Namun ia terpancing emosi dan mendorong. Sudah melakukan pelanggaran, malah emosi.

Ah, sudahlah..

Panitia mencoba masuk lapangan untuk melerai. Namun ia tak terima dengan perlakuan panitia. Saling dorong pun terjadi. Suporter turun ke lapangan. Adu jotos terjadi. Saling lempar kursi mewarnai kerusuhan.

Yang paling miris, ini adalah kompetisi sesama warga Indonesia dan dilaksanakan di negara orang. Dan yang paling membuat malu, adalah seluruh wasit yang bertugas, berasal dari Malaysia.

Mungkin saja para wasit membatin dalam hatinya.

Haha, lagu lama. Namanya juga pemain dan suporter Indonesia, pasti ada kerusuhan. Kalau bertindak sportif dan damai, malah perlu dipertanyakan.

Partai semifinal berlangsung cukup ketat, namun gol semata wayang Faiz, menjadikan mereka kampiun dan melaju ke babak final.

Sejatinya, kami merasa tidak nyaman, karena lawan yang kami hadapi adalah kawan sendiri, dari kampus yang sama. Jadilah kami tidak memberi dukungan dengan stamina penuh, lebih tenang dan kalem. Cukup doa yang mengiringi, dan ternyata manjur.

Padahal penjaga gawang tim lawan cukup tenar di seantero kampus sebagai pemain handal. Handal dalam menjaga gawang. Namun malam itu, karunia belum turun pada tim mereka.

Kini, saat fokus kepada partai final. Sembari menunggu babak perebutan juara tiga bergulir, Faiz dan timnya beristirahat total.

Hingga pertandingan usai, dan kami dipanggil ke lapangan, sebuah keajaiban terjadi.

Tim kami berkumpul dalam lapangan, termasuk ofisial, satu tim lainnya yang sudah kalah, serta para suporter.

Faiz menangis.

Rintikan air matanya terjatuh saat ia melantunkan doa. Suaranya serak, sesekali tersedak. Di tengah sedaknya, hening, tak ada suara. Keheningan itulah yang membuat pertandingan final terasa khidmat.

Usai berdoa, ia memberi motivasi.

Kita sudah terlanjur melangkah jauh.

Kita sudah berada di partai final.

Maka tak ada kata lain, selain kemenangan.

Yakinlah, Allah bersama kita.

Ingatlah hari ini, kawan

Karena hari ini akan menjadi milik kita, untuk selamanya.

Aku seperti sedang melihat Thariq bin Ziyad, Shalahuddin Al-Ayyubi, Thariq bin Ziyad, atau bahkan Julius Caesar, the Great Alexander, Jengis Khan, yang sedang berpidato menjelang berperang.

Sederhana kata-kata Faiz. Karena ia memang bukan seorang pujangga. Justru malah aneh jika kata yang ia ucapkan terlalu puitis. Pasti itu hanya karangan orang, kemudian dihafal.

Kata-kata ini menunjukkan siapa Faiz sebenarnya.

Doa Faiz didengar oleh-Nya

Tim kami begitu mudah mendulang gol demi gol di partai final. Entah mengapa, tendangan Faiz yang sedari tadi mampat, kini mengalir begitu saja.

Entah karena lawan yang lemah, atau tim kami yang terlalu kuat, aku tak tahu. Yang pasti skor kini 5-0 untuk kemenangan kami. Sampai-sampai Wira, yang notabene lemah dalam bermain futsal, diberi kesempatan oleh Faiz untuk bermain.

Hingga peluit akhir ditiup, skor adalah 6-1 untuk kemenangan kami. Kami juara pada kompetisi ini.

Alhamdulillah.

Sederhana, namun mengena.

Itulah gambaran Faiz selama kompetisi ini. Bila dilihat, materi pemain timnya sebenarnya biasa-biasa saja. Bahkan ada yang baru memiliki skill akhir-akhir ini. Namun tak dinyana, mereka mampu meraih kampiun.

Ini adalah bukti, bahwa hasil tak akan pernah mengkhianati proses.

Ada apa dengan Der Oranje? (Menelisik Kekalahan Telak Belanda di Euro 2012)

Piala Eropa 2012 kembali menghadirkan sensasi baru. Penuh kejutan, kemenangan atau kekalahan tak terduga, bintang baru, gol-gol indah, kejadian-kejadian unik hingga kebiasaan para pemain di luar lapangan serta dukungan suporter yang tak pernah lelah mendukung tim kesayangan mereka. Dimulai dari terjungkalnya sang finalis piala dunia 2010, der oranje, kemudian kekalahan menyakitkan Rusia atas Yunani dilanjutkan dengan tendangan ‘panenka’ ala Andre Pirlo ke gawang Joe Hart, hingga menyingkirkan inggris dari Euro 2012.

Dari seluruh kejutan-kejutan itu, ada satu keanehan yang layak diperbicangkan. Yakni kekalahan telak Belanda atas lawan-lawannya di grup ‘neraka’, grup B. Diawali dengan meledaknya tim Dinamit, seakan benar-benar menjadi pertanda bakal terseok-seoknya der oranje di Euro kali ini.

Menelisik lebih dalam, di bawah komando Van Marwijk sebenarnya Belanda sempat menjadi kekuatan yang  menyeramkan pada Euro kali ini. Melihat prestasi anak-anak tim oranye selama piala eropa 2008, piala dunia 2010, hingga babak kualifikasi piala eropa 2012. Tak terkalahkan di sembilan laga kualifikasi, serta kemenangan telak atas Irlandia Utara 6-0 beberapa hari sebelum kick off di Polandia, menjadi teror bagi lawan-lawan Belanda di grup B.

Namun, itu semua hanya statistik hitam di atas putih. Sepak bola tetap sajalah rumusan yang tak akan bisa dipecahkan dengan hasil pasti. Apa yang diprakirakan para analis, justru sebaliknya. Belanda diledakkan oleh Denmark, dipencudangi Jerman. Sempat ada harapan di laga pamungkas melawan Portugal, dengan syarat harus menang minimal dua gol, serta Jerman harus menang atas Denmark. Jerman sudah membantu der oranje untuk lolos, namun apa daya, Belanda malah harus mengakui keunggulan Portugal 1-2 setelah mencetak gol terlebih dahulu melalui Van der Vaart. Sehingga harus tersingkir dengan memalukan di fase grup. Satu hal yang pernah dialami Belanda, setidaknya 24 tahun terakhir di Piala Eropa.

Sekarang pertanyaannya, ada apa dengan Belanda? Tim dengan segudang pemain berkualitas nomor wahid di dunia ini. Di bawah mistar gawang ada Martin Stekelenberg, sang penjaga gawang AS Roma. Komando pertahanan dipimpin oleh Jon Cloris Mathijsen, dibantu oleh bek sekaliber Heitinga, Willems serta bek muda berbakat incar Real Madrid, Van der Will.

Barisan tengah, siapa lagi kalau bukan sang jenderal lapangan Inter Milan, Wesley Sneijder, disokong pemain jangkar Van Bommel, Nigel de Jong serta Rafael van Der Vaart. Barisan depan, ada 2 top skor di 2 liga berbeda, yakni Robin van Persie di Liga Primer, serta Klass Jan Huntelar di Bundesliga. Ditambah penyerang kecepatan tinggi macam Arjen Robben, Ibrahim Afellay, serta pemain-pemain lain yang tak kalah hebatnya.

Apanya yang salah? mungkin inilah pertanyaan yang terbesit di benak kita melihat Belanda harus angkat koper lebih awal dengan 3 kali kekalahan. Menyorot dari permainan anak-anak der oranje, nampaknya, cara main mereka mudah diatasi. Umpan-umpan panjang khas Sneijder mudah dibaca, kecepatan Robben dan Afellay mudah ditebak arah larinya serta Van Persie dan Huntellar yang nampak kebingungan tak tahu apa yang harus dilakukan. Para penyerang, seakan ‘lupa’ bagaimana cara membobol gawang lawan. Grogi depan gawang, kehabisan akal, kelelahan dan tekanan luar biasa nampak bercampur aduk di benak para pemain. Umpan-umpan cerdas ala Sneijder pun nampak tak banyak membantu.

Inilah yang disebut dengan sepakbola. Permainan yang melibatkan 22 orang di atas lapangan, ditonton  jutaan pasang mata, tak hanya sebatas usaha membobol gawang lawan selama 90 menit, namun hingga  pertaruhan harga diri dan martabat bangsa. Tidak ada hal pasti dalam sepakbola, semua terlihat relatif. Banyak keajaiban terjadi, gol-gol tak terduga, hingga semangat para pemain di liga-liga kasta kedua di eropa, justru tampil lebih baik dari pemain-pemain bintang di liga-liga elite eropa. Semangat, harga diri, harapan, keyakinan, keringat serta pertaruhan martabat bangsa seakan bersatu padu guna mendapat gelar prestisius setelah Piala Dunia, yakni Piala Eropa.Binhadjid