Mengapa Ter(di)lupakan?(Review Buku)

Judul: Buku Perjuangan Yang Dilupakan

Penulis: Rizki Lesus

Rasanya tak adil menyingkirkan peran umat Islam dalam sejarah panjang perjalanan kemerdekaan Indonesia. Tak hanya pra kemerdekaan, namun juga pasca kemerdekaan. Karena memproklamirkan kemerdekaan itu adalah awal, mempertahankan serta mendapat pengakuan internasional adalah proses lanjutan yang juga tak mudah. Dan di balik itu, ada jasa para ulama tokoh nasional.

Mari bersikap objektif pada sejarah. Perubahan kata “Mukaddimah” menjadi “Pembukaan”; Kalimat “Berdasarkan kepada Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” diganti menjadi “Berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa”; Pasal 6 ayat (1) pada kalimat “Presiden ialah orang Indonesia dan beragama Islam”, kata-kata ‘dan beragama Islam’ dicoret.

Kita sedang tidak berbicara tentang kebhinekaan yang seharusnya dijaga, bahwa yang hidup di Indonesia tak hanya umat Islam, bahwa kebebasan beragama harus dijamin, dan pola-pola pikir lainnya yang sebenarnya hanya sikap tak suka pada umat Islam yang berperan besar. Namun coba bayangkan betapa kebesaran hati para ulama yang saat itu mengikuti sidang. Para ulama pejuang bersama santrinya berperang mempertahankan kemerdekaan, termasuk di dalamnya fatwa Jihad Kiai Hasyim Asy’ari.  Begitu juga dengan pekikan “Allahu Akbar” oleh Bung Tomo saat membakar semangat juang di Surabaya pada 10 November.

Selain itu, pada awal Desember 1946, perlu diingat bahwasanya Liga Arab mengambil keputusan untuk merekomendasikan negara-negaranya mengakui kedaulatan Negara Indonesia. Keputusan ini dimuat dalam Harian Akhbar Al-Yaum berjudul Al-Jaami’ah al-‘Arabiyyah wa Indonesia (Liga Arab dan Indonesia). Pengakuan ini membuat Belanda dan negara-negara barat dongkol. Hingga akhirnya Sekjen Liga Arab, Azzam Pasya, yang saat itu ingin mengunjungi Indonesia, tidak diberikan visa untuk melalui wilayah yang dikuasai Inggris dan Belanda dalam proses menuju tanah Indonesia.

Hingga beberapa kisah unik para ulama diplomat Indonesia lainnya yang patut kita ingat kembali peran dalam mendapat pengakuan internasional. Buku ini mengingatkan kita akan peran umat Islam yang sangat vital dalam meraih kemerdekaan, mempertahankannya, dan mendapatkan pengakuan dari dunia internasional.

Dengan diksi yang tepat, bumbu fakta yang valid, serta argumen yang tajam, Rizki Lesus berhasil menyegarkan ingatan kita akan peran umat Islam dalam proses kemerdekaan Indonesia yang kini perlahan mulai ter(di)lupakan. Buku ini layak menjadi salah satu referensi sejarah Indonesia.

Yuk Kuliah di IIUM!

Ini adalah bagian pertama dari sekian tulisan yang akan saya tulis. Bisa jadi ada belasan atau puluhan bagian, atau bisa jadi juga di bawah sepuluh tulisan. Ya, kita lihat saja nanti.

IIUM memiliki kepanjangan International Islamic University of Malaysia. Sejarahnya bisa dicari sendiri di internet. Singkatnya, ia adalah bagian dari perwujudan cita-cita Organisasi Konferensi Islam (OKI) dalam mengembangkan keilmuan Islam. Itulah mengapa ada kampus di Islamabad, Pakistan, yang namanya mirip. Awalnya, OKI masih memegang penuh manajemen. Namun pada perkembangannya, diserahkan pada pemerintah Malaysia.

Saya pribadi memilih IIUM sebagai tempat berlabuh karena beberapa pertimbangan. Salah satunya, jurusan saya Pendidikan Bahasa Arab, IIUM menyediakan jurusan linear tersebut tepat di bawah Fakultas Pendidikan. Artinya, sesuai dengan rencana saya. Sempat saya hampir masuk ke Kajian Timur Tengah di UGM, namun setelah berdiskusi dengan beberapa alumninya, saya mengurungkan niat. Juga ada ajakan untuk masuk di UIN Malang -yang terkenal dengan PBA-nya juga-, namun saya pribadi belum tertarik.

Ada tantangan tersendiri bagi saya untuk melanjutkan studi master di luar negeri, meski jarak dan budayanya tidak jauh-jauh amat dari Indonesia.

Ada beberapa kawan tidak tertarik melanjutkan kuliah di Malaysia, alasan utamanya adalah biaya. Saya katakan, keputusan tersebut adalah tepat, namun juga tidak tepat. Tergantung dari sudut pandang mana kita melihat.

Guyonan seorang kawan, mahasiswa Indonesia di Malaysia itu dibagi tiga; mahasiswa pintar alias berprestasi hingga mendapatkan beasiswa, mahasiswa anak sultan, dan mahasiswa nekat. Sayangnya, kategori ketiga, sepertinya adalah presentase terbesar, meski belum ada -atau saya tidak tahu- riset terkait hal ini. (bersambung)

Saatnya Media Pembelajaran Bahasa Arab “Online” Merebak

Pada semester lalu, saya mengambil materi kuliah master Instructional Method in teaching Arabic di bawah bimbingan Dr. Shobri Sahrir. Awalnya, saya pikir materi ini “hanya” akan membahas bermacam metode pembelajaran Bahasa Arab, teknik pelaksanaanya, evaluasi, dan pengembangannya.

Namun, ternyata terkaan saya salah. Mungkin karena terlalu terpaku dengan materi pembelajaran Bahasa Arab selama saya belajar di Unida Gontor. Dalam materi yang saya pelajari saat degree, selalu hanya melibatkan: Siswa (objek), guru (subjek), metode, dan media. Untuk tiga hal pertama, saya kira Gontor sudah menjadi kiblat untuk beberapa sekolah, pondok, dan kampus di banyak tempat. Namun, untuk sisi media pembelajaran, khususnya media yang bersentuhan dengan teknologi, meski sudah ada, tampaknya Gontor masih perlu banyak pengembangan. Mengingat anak zaman now sudah mulai beralih dari dunia “manual” ke dunia teknologi.

Dalam perkuliahan saya, Dosen tidak banyak memberikan materi di tiap pertemuannya. Ya, mungkin hanya ada beberapa poin penting saja yang perlu kami pahami. Selebihnya, hanya penekanan terhadap apa yang sudah kami pahami saat degree. Sisanya, kami diwajibkan untuk nugas.

Tugas inilah yang menarik. Kami diinstruksikan untuk membuat sebuah media online pembelajaran Bahasa Arab untuk tujuan tertentu (spesific purpose), kemudian dipromosikan dalam sebuah poster, serta dituangkan dalam sebuah proposal. Cukup dengan mengerjakan 3 poin tugas ini saja, kami sudah dianggap lulus, tak perlu hadir di ruang kuliah.

Tampaknya sederhana, namun ternyata rumit.

Dosen saya tidak kaburo maqtan dalam penugasan ini. Dengan bangga beliau seringkali membawa produk-produk media pembelajaran bahasa Arab hasil karyanya ke kelas. Entah dalam bentuk website, aplikasi, video, buku, hingga ada semacam permainan anak yang dapat “hidup” secara hologram. Pastinya, semua produk itu mendapat sokongan besar dari sponsor, kampus, pemerintah, atau perusahaan, entah apa itu namanya. Karena produk semacam ini jelas-jelas tidak gratis.

Ada kawan saya yang menggunakan skypee, ada pula yang membuat blog sederhana, ada pula yang sedikit modal dengan merancang sebuah website. Dosen sempat merekomendasikan kami untuk membuat sebuah aplikasi yang bisa diakses di playstore atau appstore, namun, tak satupun dari kami mampu.

Saya memilih untuk membuat sebuah blog sederhana, kemudian diisi dengan materi pembelajaran Bahasa Arab untuk diplomasi. Artinya, bagi orang yang akan memasuki dunia diplomasi Bahasa Arab, namun buta bahasa Arab, blog saya ini adalah jawaban tepat untuk mengatasinya. Blog saya isi dengan kosakata khusus dunia diplomasi, artikel-artikel politik, video-video wawancara, dan rujukan buku-buku politik, semua tentu berbahasa Arab.

Dalam menggarap tugas ini, diperlukan pengetahuan mengenai teknik built up sebuah blog, mengisi konten, kemudian mengunggah. Saya tidak perlu menyusun ratusan kosa kata bahasa Arab dalam dunia politik satu per satu, cukup dengan mengambil dari sebuah kamus bahasa Arab diplomasi yang ada dalam internet. Ingat, dalam pengerjaan tugas, proses dan isi adalah penting, namun titik “done” dan “submit” pada waktu yang ditentukan adalah sangat jauh lebih penting. Maka sisi efektivitas dan efisiensi perlu kita kedepankan.

Alhamdulillah, di akhir semester saya berhasil mengumpulkan tepat waktu, kemudian mendapatkan nilai yang “cukup”, meski tidak memuaskan.

Materi ini benar-benar menggugah pola pikir saya selaku seorang pengajar bahasa Arab. Berharap agar Unida Gontor dapat fokus mengembangkan metode pembelajaran Bahasa Arab melalui media online.binhadjid

Berikut adalah link blog hasil tugas saya: https://arabicdiplomacy.wordpress.com/

Sumber foto: https://www.republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/16/09/01/ocu3io313-tingkat-adopsi-alat-digital-di-sekolah-rendah

Ustadz Dihyatun Masqon dan Episentrum

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat disampaikan kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Sapardi Djoko Darmono

Tidak ada guru yang sempurna, namun sosok Dr. Dihyatun Masqon, adalah salah satu yang paling mendekati episentrumnya.

Tahun 2012, saat ada perkumpulan dosen di Gontor Putri, ada hal yang tak lazim terjadi.

Dr. Dihyatun yang mendadak harus mengikuti perkumpulan tersebut, hingga akhirnya, tanpa ingin membuat orang lain kerepotan, beliau diam-diam menggunakan bis umum.

Pagi semacam itu, tentunya bis penuh dengan anak-anak sekolah, ibu-ibu membawa perbelanjaan ke pasar, dan para pekerja kantoran.

Di sela-sela ruang itu, ada sosok bersahaja, berjas, dan berdasi, berdiri sembari menggenggamkan tangannya pada gantungan pengaman, Dr Dihyatun Masqon. Sosok sederhana dan bersahaja itu, kini telah tiada.

Jadi jika kita sekarang masih saja mengeluh karena harus naik bis umum, ataupun kendaraan sederhana, ingatlah bahwa beliau yang saat itu sudah mengemban amanah yang cukup tinggi, masih saja berkenan menggunakan bis umum.

Based on true story. Sumber tak mau disebutkan namanya.

Saat kabar Dr. Dihyatun Masqon tersebar luas, serentak seluruh story whatsapp dan instagram warga Gontor; mahasiswa, guru, dosen, dan seluruh alumni, serentak mengucapkan kalimat yang senada, “Selamat jalan, guru kami..” Karena memang semua, sedang merasa sangat kehilangan.

Dr. Dihyatun memang teramat baik untuk pergi secepat ini. Sosok periang, ramah, murah senyum, dan yang paling terkenang, motivator ulung bagi para siswanya, kini telah pergi.

“Kalau habis kuliah sama Dr. Dihyatun, bawaanya bahagia. Banyak vitamin-vitamin segar yang menyehatkan, “ ucap seorang kawan.

Beliau adalah guru KMI di Gontor, sekaligus dosen di Unida. Ada yang mengalami masa-masa menjadi siswa KMI bersama beliau, ada pula yang menjadi mahasiswa atau mahasiswi semasa perkuliahan di UNIDA Gontor. Dan semua berkesan sama, Dr. Dihyatun adalah motivator ulung.

Di luar kelas, beliau memangku jabatan sebagai Wakil Rektor UNIDA Gontor. Setiap kali ada tamu dari luar negeri, beliau selalu diplot menjadi penyambut utama. Hingga Dr Zakir Naik ke Gontor, Dr. Dihyatun lah yang selalu bersama beliau. Para staf yang bekerja bersama beliau pun, selalu kagum terhadap petuah-petuah menyegarkan yang keluar setiap waktu.

Banyak orang di Gontor yang pakar dalam bidang bahasa. Biasanya, hanya satu bahasa saja, Arab atau Inggris. Namun, ada pula yang pakar dalam kedua bahasa tersebut. Sepertinya, dalam kategori ini, hanya beliaulah opsinya, Dr. Dihyatun Masqon.

Jika anda pernah merujuk kepada Warta Dunia (Wardun) Gontor dalam penggunaan bahasa Arab atau Inggris, maka berterima kasihlah kepada Dr. Dihyatun. Di balik buku setebal itu, ada keringat orang-orang ikhlas yang bercucuran. Dr. Dihyatun sudah menjadi Pimpinan Redaksi penerbitan Wardun selama puluhan tahun. Proses penerjemahan, pemilihan foto, pemilihan kertas, hingga detail-detail ornamen di dalamnya, Dr. Dihyatun ikut terjun langsung mengatur.

Maaf, kalau tulisan di atas berlebihan. Itu tak lebih karena luapan emosi yang tak dapat dibendung setelah mendengar beliau tiada.

Selamat jalan guru kami, Dr. Dihyatun Masqon.

Binhadjid

Language and Schools

Today, all schools have to pay attention to language education. Improving students language skills must be developed in every period. People today think that language lessons should not be held only inside the class, but it is necessary to be carried out outside the classroom. It is strongly agreed that language lessons should also be carried out outside the classroom because of practice and effectiveness.

Firstly, practice is the key to reach language skill. Students have to practice their language whenever and wherever. For example, students should go to some vacation destination where they can meet tourists from many countries. Students can try to practice their language with them. So, language lessons should to be carried out outside classroom for practice.

Secondly, teaching language in the classroom is not effective without carrying it outside. Language lessons in the classroom always limited by time and space. The teacher has to give assignments or homework to students. For instance, students have to memorize five new words at home every day. Their language will improve and develop. Thus, language lessons should to be carried out outside the classroom for effectiveness.

In conclusion, practice and effectiveness are reasons to carry out language lessons outside the classroom. It is suggested that language teachers give some assignment or homework to students.binhadjid

“Hadza al-Kitab, fiihi barakah”

Beberapa waktu lalu, kami berkesempatan untuk bersua dengan guru kami dari Gontor, Dr. Abdul Hafid Zaid, M.A. Momen tersebut tak kami sia-siakan begitu saja, kami menggelar acara Knowledge Sharing bersama beliau, tentunya dalam bidang yang beliau tekuni, Bahasa Arab. Alhamdulillah, jumlah peserta acara melebihi ekspektasi panitia, ruangan seminar penuh. Bahkan, panitia harus menambah jumlah kursi dari ruangan samping.

“Orang Arab, tak terlalu memikirkan bagaimana sulitnya orang non-Arab mempelajari detail Nahwu, Shorf, dan berbagai ilmu bahasa Arab lainnya.”

Sederhana pernyataan beliau, namun poin ini membuka pikiran kami. Lantas, jika orang Arab sendiri tak memikirkan, lalu siapa yang akan mengajarkan bahasa Arab kepada orang non-Arab? Beliau menjelaskan, bahwa orang Arab memang memiliki kemampuan berbahasa Arab dengan sangat baik, namun mereka tak memiliki kemampuan untuk mengajarkannya, khususnya untuk orang non-Arab.

Saat orang Arab menjadi pengajar bahasa Arab, ia akan mengajar dengan metode yang ia yakini, dan itu cukup sulit. Dalam beberapa kasus, beliau mencontohkan, ada saja orang non-Arab yang tak mampu diajar bahasa Arab meskipun oleh orang Arab asli sekalipun. “Mereka tak melakukan pendekatan personal terhadap siswa. Apakah siswa tersebut seorang yang pemalu, tidak cakap, atau memang benar-benar tidak mampu mengikuti materi. Para pengajar tersebut belum sampai pada titik tersebut.

Dalam kasus lain, pondok-pondok alumni Gontor, alias yang didirikan atau diasuh oleh Alumni Gontor, meskipun menggunakan buku yang sama (Durusullughah), namun mereka tetap saja tak mampu membuat para santrinya cakap dalam berbahasa Arab. Gontor menggunakan buku tersebut, dan berhasil.

Mengapa?

Sederhana saja. Tanyakan saja pada pengurus di pondok-pondok alumni, apakah mereka memiliki sistem wajib berbahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari? Apakah mereka memiliki Bagian Pengumuman yang selalu berbahasa Arab? Apakah mereka memiliki kegiatan pemberian kosakata bahasa Arab setiap pagi? Dan yang terpenting, apakah metode pengajaran buku Durusullughah yang tepat?

Pertanyaan terakhir menjadi unik. Melihat sepintas buku Durusullughah, tampak seperti buku pelajaran bahasa Arab bagi siswa pra sekolah di Arab sana. Hanya terdapata kata-kata dasar, gambar-gambar, dan rumus-rumus yang sangat sederhana. Namun mengapa bisa mencetak orang semacam Dr. Hafidz Zaid? Jawabannya adalah karena adanya guru-guru yang tahu dan melaksanakan metode mengajar yang tepat.

Karena kenal dekat dengan Dr. Abdul Hafidz Zaid, suatu saat, salah seorang pakar bahasa Arab pengarang Buku Al ‘Arabiyyah Baina Yadaik (saya lupa namanya) berkunjung ke Gontor. Saat pertama kali menginjakkan kakinya di tanah Gontor, hal pertama yang beliau ucapkan adalah, “Aina al-kitab alladzi tata’allamu minhu?” Sontak Dr. Abdul Hafidz Zaid menyodorkan kitab Durusullughah.

Pakar bahasa Arab tersebut membuka buku tersebut perlahan, per lembar, hingga halaman terakhir, kemudian kembali membuka dari halaman pertama lagi. Pertanda beliau sangat heran. Kalau saya boleh menuangkan penggambaran Dr. Hafidz tentang Pakar bahasa Arab tersebut dalam sebuah kalimat, saya akan menulis, “buku sesederhana ini kok bisa membuat anda pandai berbahasa Arab?”

Maka Pakar bahasa Arab tersebut dengan yakin menyatakan, “hadza al-kitab, fiihi barakah.”

Di lain kasus, beliau bercerita tentang kehebatan alumni Gontor dalam mempelajari bahasa baru. Menurut beliau, tak hanya bahasa Arab, saat seorang Gontory dalam kondisi mendesak untuk mempelajari suatu bahasa baru, ia mampu mempelajarinya otodidak dan menguasainya. “Dulu kawan saya ada yang jatuh cinta terhadap seorang akhwat dari Turki, maka dengan otodidak, metode yang sama saat dia belajar bahasa Arab, dia mulai mempelajari bahasa Turki perlahan. Hingga akhirnya dapat menguasai bahasa tersebut.” Jadi, otak anak Gontor sudah disetting untuk mampu beradaptasi dengan bahasa baru.

Meski hanya satu jam, namun kami mendapatkan vitamin dan gizi ilmu pengetahuan malam itu.binhadjid

 

 

 

 

Bagaimana Air Mata ini Tidak Mengalir?

Di sudut sana, ada senyuman manis dari seorang anak kecil dibarengi sodoran bungkusan teh manis. “Ini, kak. Diminum dulu, biar gak haus.” Berjalan beberapa meter, tampak seorang ibu menggendong anak sembari menangis dan mempersilahkan kami mengambil bungkusan nasi yang tertata rapi di atas meja. Di kejauhan sana barisan anak-anak berusia kisaran 8-10 tahun meneriakkan suara yang samar-samar terdengar. Saat kudekati, ternyata mereka meneriakkan takbir, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!”

Hari ini Bandung menyajikan pemandangan yang tidak biasa. Dan pemandangan itu dipersembahkan bagi para mujahid yang berteguh hati mengadakan perjalanan jauh, yang semata-mata untuk membela kitab pedomannya, al-Qur’an. Merekalah para mujahid dari Ciamis. Mujahid yang mengapresiasikan kecintaan terhadap al-Qur’an dengan berjalan kaki dari Ciamis menuju Jakarta. Satu perjalanan yang tentu saja tidak masuk akal bagi manusia normal.

Terlepas dari cemoohan di sana-sini, sekali lagi, cercaan dari berbagai pihak, yang menganggap hal ini adalah suatu pemaksaan yang biadab. Kenapa tidak mereka saja yang mencemooh memberi solusi dengan memfasilitasi kendaraan menuju Jakarta. Toh aksi ini tak akan terjadi jika ada perusahaan bus yang rela melawan aturan dengan menyewakan armadanya. Sekali lagi, tak elok kita memperdebatkan masalah mendasar jika tak tahu asal muasalnya.

Dan sambutan luar biasa dari warga Bandung ini adalah aprsesiasi dukungan bagi para mujahid Ciamis. Bak kaum Anshar yang menyambut para Muhajirin dari Makkah. Memberi makan, minum, pakaian, sandal, dan kebutuhan secukupnya. Bahkan setidaknya jika mampu, hadir di samping jalan, sembari melempar senyum kepada para mujahid dan mengucapkan, “Allahu Akbar”. Bagaimanapun juga, hanya Allah yang pantas membalas jasa-jasa mereka, entah kaum ‘Anshar’, ataupun kaum ‘Muhajirin’.

Melihat peristiwa langka ini di media sosial, rasanya air mata ini tak kuasa untuk ditahan. Kami tak pernah melihat pemandangan seperti sebelumnya. Kalaupun ada, tidak seeksttrem ini, tidak seluarbiasa ini, tidak semenakjubkan ini.

Saya pribadi, merasa malu sangat tak dapat membantu mereka secara langsung. Setidaknya dengan doa dan tumpahan rasa dalam tulisan ini, membuat saya memuaskan diri untuk tidak bermalu sangat kepada mereka yang jauh lebih hebat dalam berkorban bagi Qurannya.Binhadjid

Modern adalah Proporsional

Saya mendengar ini dari seorang putra kyai. Satu statemen menarik yang membuat saya ingin menulis. Kemodernan adalah proporsionalitas dalam suatu hal. Saat kita menempatkan sesuatu pada tempatnya, berarti modern. Saat bekerja sesuai aturan, berarti modern. Saat menggunakan pakaian sesuai dengan tempat, berarti modern. Modern adalah berpikiran maju, tidak sempit. Modern adalah berpikir secara profesional dan rasional.

Gontor sangat ahli dalam melakukan hal ini. Disiplin yang diciptakan sangat sistemik. Semua saling berhubungan. Contoh saja dari pakaian, saat olahraga, setiap santri diwajibkan mengenakan kaos, celana training, dan bersepatu. Tentu kita ketahui bersama, orang-orang di Jepang yang sering kita kaitkan dengan budaya modern, berolahraga dengan dress tersebut. Sebaliknya, di Gontor, saat beribadah, seluruh santri diwajibkan mengenakan koko, sarung, gesper, peci, dan sajadah. Satu tanda bahwa pendidikan modern sudah ditanamkan sejak dini.

Pun dengan kegiatan yang begitu padat. Di Gontor, dibiasakan dengan kesibukan padat. Mengapa demikian? Karena hal tersebut adalah pendidikan penting. Tak perlu ada seminar cara membagi waktu, namun cukup dengan menenggelamkan para santri dalam kesibukan. Seperti halnya gravitasi, tinggal mendorongnya jatuh ia akan berlari cepat ke arah tanah. Maka para santri dibiarkan saja dalam kesibukan, mereka akan belajar membagi waktu, mencari cara agar semua terpenuhi, berpikir cerdas menata diri, dan yang terpenting, adalah tenang dalam kesempitan. Seperti motto anak pramuka, bersiul dalam badai.

Satu hal lagi, saat beberapa waktu lalu saya menemani tamu dari luar negeri, setelah Maghrib saya ajak mereka berkeliling Pondok. Sekilas di mata saya, tak tampak hal menarik, semuanya berjalan rutin begitu saja. Namun saat itu, para tamu berkilah, “Para santri tampak sibuk sekali ya, tak ada satupun yang menganggur.” Tamu lain menambahi, “ Iya, seperti orang Jepang saja.”

Komentar tamu ini cukup menyentak saya. Memang benar. Karena terlalu biasa, sehingga hal luar biasa di mata tampak semu. Setelah Maghrib tak ada satu pun anak yang menganggur, duduk-duduk di depan asrama. Dari anak paling kecil sampai paling besar, tenggelam dalam kesibukan. Ada yang ingin ke dapur, ada yang ingin ke kantor Administrasi, hingga hal paling sepele, ke koperasi membeli sabun. Namun setidaknya semua kegiatan tersebut telah direncanakan. Dalam satu waktu kosong tersebut, beberapa kebutuhan harus terpenuhi. Ke koperasi dulu, kemudian makan, dan mengambil papan nama di Bagian Keamanan. Tiga hal ini harus dibagi waktunya dengan cermat dan cerdas.

Maka label modern di Pondok tak sekedar pajangan di nama depan Gontor. Namun benar-benar menjadi jiwa dan nafas. Satu falsafah yang mendarah daging dalam diri para santrinya, yang nantinya akan berguna baginya di masa mendatang.Binhadjid

Benarkan Negara Barat Mengalami Kemajuan?

“Apakah negara barat benar-benar mengalami kemajuan?”

“Jika memang demikian, bagian mana yang mengalami kemajuan?”

Negara-negara barat saat ini justru mengalami kemunduran peradaban. Gereja-gereja mereka mulai ditinggalkan oleh para jemaatnya, bahkan ada beberapa yang dijual menjadi masjid. Pusat kegiatan masyarakat barat justru berada di diskotik ataupun di stadion-stadion sepakbola.

Tentang Charlie Hebdo, hampir semua petinggi negara barat amat mengutuk penyerangan tersebut, dan menyudutkan Islam dalam setiap ucapannya. Seperti halnya Yesus dalam agama Kristen yang berkali-kali mereka animasikan, maka mereka menganggap bahwa menganimasikan Nabi Muhammad Saw adalah sesuatu yang lumrah. Padahal hal tersebut sangat dikutuk oleh umat muslim.

Selain itu, peradaban barat merupakan campuran dari peradaban Yunani kuno yang dikawinkan dengan peradaban Romawi dan disesuaikan dengan elemen kebudayaan bangsa Eropa, terutama Jerman, Inggris dan Prancis. Urusan filsafat dan seni, mereka berkiblat kepada Yunani, jika tentang hukum dan ketatanegaraan, mereka berkiblat pada Romawi.

Umat Islam di Eropa kini sangat berkembang pesat. Di Prancis, Inggris dan Belanda, imigran muslim hampir-hampir memenuhi setiap sudut kota. Masjid-masjid menjamur di mana-mana. Jamaah shalat semakin menyemut. Sedangkan gereja, semakin ditinggalkan jemaatnya seiring berjalannya waktu.

Hari ini, di negara-negara eropa, umat muslim begitu banyak. Jika kita hendak mencari makanan halal, maka di lorong-lorong kota, sudut-sudut pemukiman, begitu banyak kaum imigran muslim menjual makanan-makanan berlabel halal. Sedangkan penduduk asli, hanya bisa melongo melihat negaranya diisi oleh para imigran muslim.

Bahkan seorang Geert Wilder, seorang sutradara yang begitu benci dengan Islam hingga membuat film Fitna tahun 2005 silam, memprediksikan bahwa tahun 2030, masyarakat muslim di Belanda mencapai 80 persen. Peradaban barat kini menuju ambang kehancuran, tampaknya saja mengalami kemajuan dalam keilmuan dan perokonomian, padahal kedua hal tersebut tidak sepenting moralitas, mentalitas serta sudut spiritualitas dalam memajukan sebuah bangsa.

Bicara tentang toleran, kaum liberal di Indonesia kini sok menjadi penengah antara muslim dengan barat. Padahal sejak Rasul mendapatkan wahyu hingga hari ini, ajaran yang diajarkan kepada kita memang sangat berbeda dengan ajaran mereka. Maka jika ada yang mulai toleran terhadap kaum homoseksual, toleran terhadap pemahaman transgender, komunis dan lain-lain, maka itu ciri orang liberal. Hingga hari ini, orang-orang liberal di Jakarta, sedang berusaha agar undang-undang penistaan agama dihapuskan seperti halnya di negara-negara barat.binhadjid

Disampaikan oleh Dr. H. Hamid Fahmi Zarkasyi, M.A. dalam Kuliah Umum pada Pembukaan Kegiatan Perkuliahaan Universitas Darussalam, Sabtu (17/1/2015).

“La Jadida Tahta asy-Syams”

La Jadida Tahta as-Syams. Sebuah pepatah yang saya yakin jarang didengar oleh masyarakat Indonesia. Karena memang pepatah tersebut santer diucapkan oleh orang mesir kuno.

Tidak ada “hal baru” di bawah matahari. Kira-kira begitulah makna pepatah tersebut. Pepatah yang sederhana namun menyimpan makna yang mendalam. Mungkin inilah maksud Kiai di pesantren mengajari kami pepatah tersebut hari ini.

Usia dunia ini sudah begitu tua, bahkan saat Rasul melakukan perjalanan ke Sidratul Muntaha, Rasul menyaksikan ada seseorang yang amat sangat tua. Sang malaikat yang kala itu mengantar Rasul mengatakan bahwa orang tua itu adalah gambaran bumi saat ini, very very old.

Jika bumi sudah sangat tua, maka segala macam proses alam maupun peralihan peradaban dari masa ke masa sudah tak terhitung lagi. Terlalu banyak untuk kita bahas satu persatu sejarah umat manusia di muka bumi ini.

Dewasa kini, banyak muncul paham-paham baru yang mulai menyetir umat Islam ke arah menyesatkan. Mulai dari liberalisme, sekularisme dan isme-isme lainnya yang membawa umat semakin jauh dari an-nur.

Apa paham tersebut baru muncul belakang ini saja? Atau itu dagangan lama para misionaris yang tak laku pada masa lampau?

Kiai kami melontarkan pernyataan yang begitu menggelitik.

“Kalau sekarang muncul orang-orang sombong dengan kekayaan dan kecerdasannya, muncul orang-orang yang menyesatkan umat, muncul isu-isu yang memecah belah Islam, itu gak muncul sekali ini saja. Sudah lama umat Islam menghadapi hal-hal tersebut, hanya sekarang kemasannya saja berbeda. Kalau urusan manusia sombong, dari fir’aun bahkan iblis pun, sikap sombong sudah lebih dulu mereka miliki.”

Kami yang masih berusia belia, tiap membuka isu-isu di internet, dengan pemikiran dangkal dan prinsip yang terkadang masih dapat ditawar, seringkali terbawa arus dan isu menyesatkan. Mendengar ‘pencerahan’ kiai kami, kami kembali berpikir. Bahwa perang pemikiran, perang ideologi hingga perang urat syaraf bukan barang baru di dunia ini. Itu sudah terjadi sejak dulu, bahkan zaman sebelum masehi.

Maka benarlah kiranya orang mesir kuno mengatakan, “La Jadida Tahta as-Syams.” Tapi kalau tidak di bawah matahari, mungkin saja ada hal baru yang akan terjadi.binhadjid