Terbang ke Kuala Lumpur Hanya dengan Rp 38 Ribu

Beberapa waktu lalu saat saya menikmati liburan break semester di Jogja, ada kabar mengejutkan yang dibagikan beberapa teman melalui status whatsapp. Tak hanya satu orang, namun sampai 10 orang kawan yang juga berkuliah di Malaysia, juga membagikan foto tersebut.

Foto tersebut adalah screenshot dari daftar harga pesawat Malaysia Airlines dari Jakarta ke Kuala Lumpur pada tanggal 5 November 2018. Sepintas, tak ada yang istimewa dari foto tersebut. Hanya berisikan data seperti biasanya; nomor pesawat, tanggal dan jam penerbangan, asal dan tujuan, maskapai, dan harga.

Namun, yang mengejutkan, adalah harga tiket penerbangan tersebut, yaitu Rp 38 ribu…!#@!%@!!

Ini tidak masuk akal, mustahil, gila! Pasti ada kesalahan sistem! Pasti ada human error!

Saya tidak percaya. Beberapa kali saya terbang mondar-mandir Jakarta ke Kuala Lumpur, tiket harga promo terendah ada di kisaran Rp 380 ribu rupiah. Itu pun tiket Air Asia tanpa bagasi, tanpa pilihan asuransi, tak memilih kursi, dan tanpa setetes pun minum air di kabin. Bisa dibilang satu-satunya fasilitas selain jatah kursi di pesawat, adalah penggunaan toilet (karena memang gratis) dan senyuman mbak-mbak pramugari.

Dan mukjizat ini, ada di Malaysia Airlines. Jadi tiket Rp 38 ribu itu sudah termasuk bagasi 30 kg dan makan malam di kabin. Pokoknya sudah standar maskapai sekelas Garuda Indonesia.

Tanpa pikir panjang, saya segera booking via tiket.com untuk penerbangan tanggal 11 November 2018, dan ternyata ada juga yang seharga itu. Sehingga saya punya 2 jam ke depan untuk berpikir, jadi ambil penerbangan ini atau tidak. Total harga Rp 64 ribu, karena ditambah biaya insurance.

Satu-satunya yang menghalangi saya untuk segera transfer biaya tiket, adalah kekhawatiran bahwa ini adalah penipuan. Saya juga sempat berpikiran bahwa hal ini tidak nyata, seperti mimpi. Seperti halnya dalam film, saya coba mengucek mata, menampar wajah perlahan, dan mencubit tangan, sekedar memastikan bahwa ini bukan mimpi.

Namun saya pikir, toh kalau pun biaya segitu hangus, gak masalah. Tak terlalu besar. Maka saya mantapkan hati untuk transfer tiket tersebut.

Tibalah tanggal 11 November 2018. Saya berangkat ke Soekarno Hatta terminal 2, karena dalam tiket, tertulis bahwa saya terbang dari terminal 2. Ternyata oleh petugas, saya diarahkan ke terminal 3. Lagi-lagi kekhawatiran itu muncul. Jangan-jangan penerbangan ini memang fake.

Namun, alhamdulillah, semua kekhawatiran raib setelah saya menerima boarding pass dari petugas check in. Sempat saya cek nomor kursi pesawat. Jangan-jangan saya mendapat “tiket berdiri” seperti halnya kereta ekonomi beberapa tahun silam. Namun tidak, di pesawat tersebut saya mendapat kursi 9F.

Istri saya sempat menanyakan via whatsapp, apa para penumpang tersebut tampak sumringah dengan tiket semurah itu. Saya jawab, tak ada yang berbeda dari penerbangan biasanya. Semua sibuk dengan urusan masing-masing. Karena, tiket ini viral baru sekitaran tanggal 5 November. Jadi yang sudah pesan sebelum itu, pasti dengan harga normal. Kisaran Rp 800 ribu-Rp 1 juta rupiah.

Setelah saya foto tiket dan bagikan di status whatsapp, ada beberapa kawan yang memberi komentar. Salah satunya ada yang mencoba menganalisa, mengapa bisa ada tiket semurah itu. Dia berpikir, bahwa jatuhnya Lion Air yang baru terbang dari Soekarno Hatta kemungkinan juga menjadi salah satu faktor “jatuhnya” harga tiket tersebut. Mungkin ada instruksi dari atasan untuk membanting harga, dengan tujuan menghilangkan efek psikologis takut naik pesawat akibat kecelakaan tersebut. Dan jika bukan karena efek kecelakaan tersebut, pasti ini adalah kesalahan sistem atau kesalahan petugas.

Sekitar pukul 22.00 waktu Kuala Lumpur, alhamdulillah saya landing dengan selamat di KLIA 1.

Semoga, ke depannya, ada lagi keajaiban-keajaiban seperti ini. Khususnya penerbangan Jakarta-Jeddah. Biar bisa sekalian umrah.. hehe..

Binhadjid

Museum and Art Gallery Malaysia National Bank (Catatan Perjalanan)

Setahun saya di Malaysia, sudah dua kali saya mengunjungi Museum and Art Gallery yang disponsori oleh Bank Negara Malaysia. Sepintas saya pikir isi museum hanyalah uang-uang kuno yang dipamerkan tanpa ada keistimewaan.

Namun, saya salah menduga. Saat pertama mengunjungi museum ini bersama Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah, saya terperangah. Bangunan yang digunakan oleh museum ini saja sudah begitu unik. Didominasi oleh bahan dasar kaca yang disusun dengan sudut kemiringan tertentu.

Memasuki museum, kami diterima dengan sangat baik oleh resepsionis yang bertugas. Saat itu kami berkunjung tanpa mengirimkan sepucuk surat pun, karena memang mendadak. Namun, hal tersebut tak mengurangi keramahan guide yang mengantar kami keliling museum. Museum ini memang menyediakan free guiding saat ada rombongan atau personal yang meminta untuk dipandu mengelilingi museum.

Kami mengawali dengan children’s gallery yang berada paling dekat dengan resepsionis lantai dasar. Kami cukup kagum, bermacam pendidikan tentang pentingnya nilai mata uang yang dibalut permainan serta visual mengasyikkan. Ada edukasi cara menabung yang baik, menggambar uang, melihat pengaman pada uang kertas, dan lain sebagainya. Perlu saya akui, desain dan teknologi yang digunakan museum ini top markotop.

Lanjut ke lantai 1, kami masuk ke diorama Islamic Finance Gallery, Economics Gallery, dan Bank Negara Malaysia Gallery. Lantai inilah yang menjadi nyawa museum ini. Diorama ini menyajikan sejarah perkembangan ekonomi dalam dunia Islam. Juga menjelaskan sejarah perkembangan mata uang di Malaysia yang mempengaruhi aspek politik dan sosial. Lagi-lagi, saya terkagum-kagum dengan desain ruangan dan teknik penyajian yang disuguhkan museum ini.

Di lantai 2, ada numismatic gallery. Semacam diorama yang menyajikan sejarah uang pada zaman dahulu. Bagaimana proses barter dilakukan sebagai mata uang. Museum ini juga menyuguhkan benda-benda tiruan yang digunakan sebagai mata uang pada masa itu. Dan di lantai 3, ada galeri lukisan yang merupakan karya seniman ternama di Malaysia.

Perlu anda ketahui, museum yang penuh dengan keunikan dan teknologi berkelas ini tidak dipungut biaya sepeser pun, alias gratis. Untuk ukuran museum semegah ini, angka gratis adalah sebuah keajaiban. Belum lagi jika anda merasa lapar dan haus, anda bisa mampir ke kafe yang disediakan di lantai dasar museum. Harganya sangat bersahabat, meski sekilas tampak mahal, karena interior kafe mirip dengan kafe-kafe mahal lainnya.

Rasanya sayang sekali jika anda ke Malaysia, namun belum mengunjungi museum ini. Sayangnya, belum ada tranport umum yang mengantar anda ke sini. Anda masih perlu menggunakan mobil pribadi atau taksi online untuk menuju tempat ini.

Perlu informasi tentang agen tour travel di Kuala Lumpur? Bisa menghubungi kami di +6011 2137 6847 atau email [email protected]. binhadjid

Kuala Lumpur-Kedah, 16 Jam, dan Rasi Bintang

Malam sunyi. Angin sepoi-sepoi bertiup kencang. Menggoyangkan pepohonan. Mengisi heningnya malam yang kala itu bulan sedang tersenyum lebar.

Kami menyiapkan raga. Empat anak muda, menyatu dalam tujuan yang sama.

Sembari menyetir, aku sempat menyalakan handphone dan menyalakan GPS menuju lokasi yang dituju.

Maklum, kami belum begitu paham jalur transportasi Malaysia. Meski rata-rata sudah tinggal di sini setengah tahun, namun itu belum menjamin hafalan kuat tentang logika jalur di Malaysia.

“Ente ngapain? Nyalain GPS?” Kuncoro bertanya padaku. Ia heran dengan apa yang kulakukan.

“Iya, kan kita belum tahu jalan ke arah sana.”

“Gak usah, yang penting dari jalur Genting Highland, lurus ke utara. Perjalanan kita jauh, jadi harus hemat baterai.”

Aku ragu.

Kita sama-sama belum pernah ke lokasi yang dituju, kita mulai perjalanan malam, kita semua bukan warga negara Malaysia, dan ini, adalah pengalaman kami pertama kali melakukan perjalanan jauh.

Perjalanan sejauh ini tanpa GPS. Aneh.

Namun karena Kuncoro adalah kawan yang paling lama menetap di sini. Kami diam, menurut tanpa tahu apa akibatnya.

Malam terus saja diam. Kami isi dengan gurauan ke sana kemari. Sembari mencari pom bensin dan mini market. Kami butuh stimulus.

Di malam yang sunyi itu, bintang tampak tegar di kejauhan.

Aku pernah mendengar bahwa orang dulu, di kala teknologi belum ditentukan, bepergian jauh melintas lautan adalah menggunakan rasi bintang. Bayangkan, zaman di mana anda tak mengetahui posisi anda di lautan, tak tahu arah, dengan perahu kuno, namun dapat melintas samudera dan sampai di pulau tujuan.

Ternyata selain rasi bintang, nenek moyang kita juga memiliki beberapa cara unik untuk menentukan arah di lautan.

Yang pertama, adalah melihat warna awan di langit. Dahulu nenek moyang kita, saat akan menentukan arah, mereka memperhatikan perbedaan warna langit. Jika warna awan tampak memiliki warna keputih-putihan, maka sudah dipastikan bahwa mereka mulai dekat dengan daratan. Namun jika warna awan masih samar-samar dengan warna putih yang masih tersebar, maka menjadi sebaliknya, mereka menjauhi daratan.

Yang kedua, Burung Jagong. Melihat Burung Jagong terbang secara berkelompok, nenek moyang kita dapat menentukan arah barat dan barat laut. Kebiasaan Burung jagong adalah mencari makan ke arah tenggara. Ketika nenek moyang melihat sekelompok Burung Jagong terbang ke tenggara, maka mereka dapat menentukan arah yang lainnya.

Yang ketiga, adalah kilat. Ketika nenek moyang terdampar di laut, dan saat itu akan turun hujan, mereka menggunakan cara ini untuk menentukan arah daratan. Nenek moyang dapat menentukan arah mana ketika jenis kilat tertentu terlihat di langit. Dan jika sudah terjadi kilat dan mengetahui arah mana daratan, maka nenek moyang akan segera menuju ke daratan tersebut. Namun teknik membedakan jenis kilatnya, tampaknya kita harus kembali ke masa lalu dan bertanya pada nenek moyang.

Yang keempat, adalah menggunakan rasi bintang. Ketika nenek moyang melihat kelompok bintang biduk, maka itu adalah arah utara. Ketika nenek moyang melihat kelompok bintang pari, maka itu adalah arah selatan. Adanya kelompok bintang orion, itu sebagai arah barat. Adanya kelompok bintang tujuh, maka menunjukkan arah timur. Dan jika melihat kelompok bintang tiga, itu adalah arah tenggara.

Tampak tidak masuk akal, namun itulah orang kuno. Karena ketiadaan gadget, mereka lebih memperhatikan alam secara detail. Hingga dapat merasakan fenomena alam. Tidak seperti manusia kini, sangat bergantung pada alat.

“Ada yang pernah nonton Film Moana?” Aku membuka pembicaraan.

“Ya jelas pernah, dong!” Tamam menimpali.

“Nah, dalam film itu, kalau melaut, Moana dan kelompoknya selalu menggunakan rasi bintang.”

“Oalah, lha terus apa kita juga sekarang ingin mengikuti rasi bintang?”

“Ya, coba saja..”

Kami terus bergurau.

Bagaimanapun juga, malam semakin larut. Langit semakin kelam. Hawa semakin dingin menusuk.

Satu per satu, mulai terlelap dalam tidur. Dimulai dari Nata, Tamam, hingga akhirnya Kuncoro yang sedari tadi menemaniku, kini dengkuran khasnya mulai terdengar.

Kami sudah berjalan 3 jam. Rasa kantuk pun mulai menyerang. Aku ingin berhenti sejenak di tempat peristirahatan.

Kuamati, signboard yang kulalui satu per satu, tak ada satu pun yang menunjukkan tanda rest area akan segera dilewati.

Aku harus menunggu 30 menit, hingga akhirnya rest area kami lalui.

Namun, rest area itu, aneh.

Aku tak menemukan seorang pun di dalam rest area itu. Tak ada stasiun pengisian bahan bakar, hanya ada toilet, warung, dan mushala.

Usai buang air dan cuci muka, aku kembali ke mobil. Semua tertidur, hanya aku, mobil, dan malam.

Tiba-tiba, terbesit dalam pikiran.

Kira-kira, sudah sampai mana ya?

Aku segera mengeluarkan smartphone-ku. Tertulis dalam halaman utamanya, menunjukkan kondisi cuaca cerah di daerah Pahang. Artinya, aku saat ini berada di Pahang. Aku tak tahu Pahang itu di mana, jadi aku perlu melihat peta. Toh, dari tadi aku melewati Kerak, Kuantan, dan beberapa daerah dengan nama aneh lainnya. Namun tanpa peta, aku tak tahu apapun.

Kubuka aplikasi google maps, kemudian kulihat posisiku dalam peta.

Malam begitu sunyi. Di kesepian itu, ada satu mobil datang menemani kami. Sepertinya mereka hendak beristirahat.

Aku bermetaformosis.

Lega setelah buang air dan cuci muka – tenang dengan heningnya malam – membuka smartphone – melihat mobil datang –melihat posisi dalam peta – kaget – shock – marah – mengutuk diri sendiri – ingin teriak – membangunkan Kuncoro sembari mata tetap melihat ke layar smartphone – kemudian membangunkan seisi mobil.

!?!?<:{^$%#^&@*!!!!!*@&#?>””{}>@#!!!!!

Kita ini di mana!?!?

Kuncoro segera mengambil paksa smartphone-ku. Dia kaget.

“Kamu tadi ambil jalur mana? Lurus terus kan?” Kuncoro bertanya. Berusaha menyudutkan dan melemparkan kesalahan padaku.

“Saya yakin tidak. Jalur ini lurus terus dari jalur Genting.”

Kuncoro kemudian memastikan jalur ke arah kedah.

“Alamak… ternyata kalau mau ke Kedah, kita harus lewat jalur Rawang. Bukan Genting.” Tegas Kuncoro.

“Lalu?” Aku bertanya, melempar objek kambing hitam.

“Berarti kita salah jalan.”

Jelas sudah, ini perintah siapa dan salah siapa. Namun aku sebagai sopir, tak ingin memperpanjang masalah. Yang terpenting sekarang adalah solusi.

Jika belum paham peta Malaysia, mungkin bisa dipermudah dengan gambaran daerah di Indonesia. Anda berangkat dari Yogyakarta, menuju Jakarta dengan jarak tempuh 500 km. Karena kepercayaandirian anda, anda tak membuka GPS, dan percaya dengan arah yang anda yakini. Anda melaju sejauh 300 km, tanpa anda sadari, anda sudah sampai di Surabaya. Seperti itulah gambaran perjalanan kami di malam ‘malang’ itu.

Perlu menjadi catatan, kami, 4 orang di dalam mobil, sama sekali tak tahu menahu posisi daerah Malaysia. Jadi, saat menuju Pahang, kami melihat tulisan daerah Karak, Temerloh, Maran, Gambang, Kuantan, dan Pahang, kami biasa saja. Karena memang dasarnya tak tahu daerah apa saja yang harus dilewati jika akan ke Kedah.

Maka, sejak saat itu, kami menyetting GPS agar menunjukkan kami ke arah Kedah. Sialnya, GPS menunjukkan jalur tercepat, yaitu dengan kembali lagi ke Kuala Lumpur.

Sebagai laki-laki, kami pantang mundur. Lebih baik maju, meskipun sulit. Dengan mempertimbangkan berbagai resiko, akhirnya kami yakin untuk mengambil jalur lain. Yaitu menuju utara, Terengganu, Kelantan, kemudian menyusuri perbatasan Thailand, hingga sampai ke Kedah.

Otomatis dengan jarak tempuh yang lebih jauh, yaitu 700 km. Jarak Jakarta menuju Surabaya. Namun, waktu tempuh lebih cepat, yaitu 8 jam. Karena melalui jalur tol. Meski akhirnya, karena sering berhenti rehat, menjadi 12 jam perjalanan.

“Harusnya jam segini, matahari sudah terbit.”

Aku mengingatkan kawan-kawan. Penasaran, mengapa di jalur tol pantai timur itu, yang ada hanya bukit, hutan, dan kabut.

“Iya nih, serasa sedang di planet lain. Jalan sepi, kabut, melalui gunung-gunung, dan yang pasti, tidak ada penduduk sekitar sama sekali,” kuncoro menimpali.

Meski melewati pegunungan, namun jalan tidak berkelok. Hanya lurus saja, tak berujung. Yang unik dari jalur ini, adalah banyaknya rambu jalan bergambar hewan-hewan yang tak lazim. Kami melihat rambu bergambar Gajah, Sapi, Tapir, Rusa, dan Kambing. Cukup aneh untuk hewan-hewan yang biasa berlalu lalang di sepanjang jalur tol. Beruntung kami melakukan perjalanan pagi hari, jadi hewan-hewan tersebut tak ada yang menunjukkan batang hidungnya.

Peta yang kami anut menunjukkan, bahwa beberapa kilometer lagi akan melewati kawasan perairan.

Bukannya ini hutan nasional, mengapa ada perairan?

Dengan sikap pasrah dan sisa keberanian yang ada, kami melanjutkan perjalanan. Beruntung perjalanan di daerah antah-berantah itu kami lakukan siang hari. Setidaknya kami memiliki penglihatan yang jelas.

Tak disangka, daerah perairan yang kami lihat itu, adalah kawasan danau air tawar yang amat sangat luas. Di tengahnya ada pulau unik yang masih ditinggali suku primitif. Saat kami melewati jembatannya, kami menyempatkan untuk mampir di resort wisata yang sudah dipermak cantik. Kami makan siang sekaligus melepas penat di sana.

Royal Belum.

Itu nama yang tertulis jelas di atas pintu. Kami masih belum paham maksud dari lokasi wisata “aneh” ini. Hingga akhirnya kami mendapatkan penjelasan dari keterangan yang ditempel di dinding-dindingnya.

Taman Royal Belum adalah taman besar di bagian utara Semenanjung Malaysia. Ini adalah bagian dari Hutan Belum-Temengor Forest (BTFC). Sebagai taman negara, ini adalah salah satu hutan hujan tertua di dunia, yang berasal dari 130 juta tahun yang lalu. Lebih tua dari Hutan Amazon.

Di dalam Royal Belum State Park terletak Danau Temenggor, danau terbesar kedua di Semenanjung Malaysia setelah Danau Kenyir. Danau Temenggor adalah, sama seperti Danau Kenyir, danau buatan manusia yang digunakan untuk daerah tangkapan air. Danau ini memiliki beragam jenis ikan air tawar termasuk Kelah, Toman, Sebarau, Tenggalan dan Baung, yang menjadikannya tempat yang tepat untuk pemancing.

Selepas kunjungan singkat ke Royal Belum, kami menghabiskan sisa perjalanan. Hingga tak lama kemudian, kami kembali ke jalur yang biasa digunakan “manusia normal” untuk melakukan perjalanan dari Kuala Lumpur ke Kedah.

Memang panjang perjalanan ini, namun setidaknya kami mendapatkan pengalaman berharga. Dari melakukan perjalanan mengitari tol pantai timur Malaysia, memasuki daerah mirip planet lain, bertemu signboard hewan-hewan aneh, hingga kami menemukan peribahasa baru, “hemat baterai pangkal tersesat.”

binhadjid

 

 

Keajaiban di Kelas Celpad

Kalau boleh jujur, saya benar-benar tidak berani membuat tulisan ini, sebelum saya terlepas dari belenggu judul di atas.

Celpad, singkatan dari The Centre for Languages and Pre-University Academic Development, adalah sebuah lembaga di kampus saya, IIU Malaysia, yang bertugas menegakkan standarisasi mahasiswa yang hendak masuk dunia perkuliahan. Sederhananya, agar kuliah tidak kewalahan mendidik mahasiswa yang buta bahasa, khususnya bahasa Inggris dan Arab.

Dilema, itulah kata yang pantas menggambarkan isi hati saya saat mengikuti ujian di awal pertama kali masuk Kampus. Maaf, saya menyandang gelar sarjana S1 dari Universitas Darussalam Gontor, lembaga yang kapabel dalam bahasa Arab dan Inggris. Sesuai fakultas yang saya tuju, Pendidikan Bahasa Arab, saya diwajibkan untuk mengikuti ujian di kedua bahasa. Berbeda dengan beberapa kawan saya yang masuk Fakultas Ekonomi yang tak perlu masuk ujian bahasa Arab.

Ada kawan mengatakan, “belajar yang rajin, biar gak perlu masuk Celpad.” Sebagian lagi mengatakan, “Sudah, tak perlu belajar. Celpad banyak manfaatnya, kok!”. Dua-duanya disampaikan “orang lama” Kampus ini, bingung hendak ikut aliran yang mana.

Saya niati, belajar serius dulu, hasil belakangan. Meski akhirnya, kelulusan hanya berpihak kepada ujian bahasa Arab. Sedangkan ujian Inggris, tidak.

Saya mesti memasuki kelas bahasa selama 4 bulan. Meski jadwal kelas padat, materi yang sama dalam jangka lumayan panjang, membosankan, namun di Celpad, saya menemukan keajaiban.

Ahlis, Abbas, Altin, Fadhilah, Niam, Sareena, Lamia, dan lima belas orang lainnya, adalah keajaiban itu. Di sini kami bertukar kultur dan budaya. Budaya orang Turki, Cina, Yaman, Afrika, Bangladesh, Mesir, Thailand, dan satu lagi, Eritria, negara yang membuat anda perlu membuka google untuk mengetahuinya.

Tahukah anda, jika makan Mie Cina sambil mengecap, berarti anda menganggap masakan itu lezat dan menghormati sang koki? Jika tidak, berarti anda belum pernah makan Mie Cina bersama orang Cina langsung. Budaya orang Indonesia, makan tidak boleh mengecap, tak sopan. Namun di Cina, sebaliknya.

Informasi tentang kehidupan di Turki, kebiasaan aneh orang Thailand, panasnya Eritria, kemiripan Malaysia dengan Indonesia, uniknya cara berpakaian orang Afrika di kelas, senangnya orang Bangladesh membanggakan negaranya, hingga kehidupan rumah tangga di Mesir, semua saya ketahui secara langsung di kelas Celpad. Tentunya dengan saling berbagi cerita saat kelas kosong, di kantin, ataupun diskusi di perpustakaan. Dan semua komunikasi menggunakan bahasa Inggris, pastinya.

Semua yang saya paparkan di atas adalah pengalaman saya di Celpad dari sisi non akademik. Kalau dari sisi akademik, tentunya saya mendapat siraman ilmu tentang Reading, Writing task 1, Writing task 2, speaking, dan kisi-kisi bahasa Inggris hingga paling dalam. Sekali lagi, semuanya komunikasi di kelas adalah total berbahasa Inggris. Sampai berguraunya pun, berbahasa Inggris.

Kini, 1 Februari 2018, saya dinyatakan lulus dari lembaga ini. Jujur, selama 5 bulan di Celpad saya terus menerus merasakan kegalauan akut. “Lulus apa enggak, ya?”, “Kalau gak lulus, harus masuk kelas Celpad 4 bulan lagi.” “Kapan mulai kuliah, ya?” Itulah list pertanyaan yang selalu menggentayangi saya.

Namun bagaimana pun juga, melalui tulisan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Cik Noorita yang dengan gaya tegasnya mendidik kami, Cik Noor Hasni, Cik Fuadah, dan satu lagi (waduh, saya lupa), atas semua yang telah diberikan selama kami belajar di Celpad.

Bagi anda yang membaca tulisan ini, dan kebetulan berkuliah di IIU Malaysia serta masuk kelas Celpad, berbanggalah! Karena sejatinya anda sedang menjalani proses penting pendidikan dalam hidup anda. binhadjid

 

Naik Pesawat, Jangan Sampai Kelebihan Beban Bagasi

Sekedar sharing pengalaman, beberapa waktu lalu saat saya dan kawan-kawan akan berangkat dari Jakarta ke Kuala lumpur, kami terjebak dalam situasi rumit.

Awalnya, kami sudah sepakat untuk membeli tiket dengan bagasi 23 kg dan kabin 7 kg. Kami berangkat menggunakan pesawat KLM, maskapai belanda, agak susah menjelaskan kepanjangan dari KLM.

Saat check in, satu per satu barang kami ditimbang. Kami dengar dari kawan-kawan yang lebih berpengalaman, jika pembelian tiket dan check in dilakukan bersamaan, maka barang akan ditimbang dengan jumlah bersamaan pula. Artinya, sisa kuota kg milik satu orang, bisa dipakai oleh teman lainnya yang berat barangnya melebihi kuota. Namun apa daya, rencana itu gagal pada hari itu.

Salah seorang kawan kami, membawa satu koper yang beratnya mencapai 30 kg. Alhasil, kawan kami terkena charge. Saya kira hanya beberapa puluh ribu. Namun setelah dihitung kelebihan berat, yakni 7 kg, kawan saya disuruh membayar sebesar Rp 700 ribu. Alamak, tiket kami per orang hanya Rp 500 ribu, terkena charge Rp 700 ribu.

Alhasil, setelah ditawar, bisa turun sampai Rp 300 ribu dengan kesepakatan kami tidak mendapatkan receipt charge tersebut. Tak apalah, yang penting kami berangkat.

Hal ini menjadi pelajaran berharga, agar tak ada lagi beban barang bawaan melebihi kuota. Entah di bagasi, ataupun di kabin. Harus teliti dan jeli sebelum packing. Hanya karena sedikit kecerobohan dan kurangnya informasi, kita bisa mendapat kerugian berarti.binhadjid

Belajar untuk Menjadi Jujur di Kampus IIUM

Kampus kejujuran, begitu saya menyebut kampus ini. Sejak awal saya masuk di sini, banyak hal-hal unik yang membuat saya takjub. Dari sekian banyak hal unik tersebut, tampaknya urusan kebiasaan untuk jujur adalah yang paling membuat saya kagum terhadap kepribadian para mahasiswa di sini.

DSC_0292Sejak pertama kali datang, saya melihat tumpukan botol air mineral tertata rapi dalam sebuah rak besi. Sepintas saya pikir, air ini memang gratis bagi para jamaah masjid. Namun setelah saya perhatikan seksama, ternyata air tersebut tidak gratis. Tampak sebuah tulisan, “Choose to be honest”. Sebuah tulisan yang mengingatkan akan arti penting sebuah kejujuran. Mengapa demikian, karena bagi siapa yang ingin mengambil botol air tersebut, maka ia harus membayar 1 ringgit. Kepada siapa ia harus membayar? Di samping rak tadi terdapat sebuah kotak kecil tempat uang bagi siapa yang ingin membeli. Ini bukan mesin air minum kemasan otomatis seperti yang banyak kita temukan di bandara atau mal –meski di sini banyak juga mesin semacam itu–, namun untuk mesin ini, dijalankan dengan kejujuran dari hati para mahasiswa.

Tak berhenti pada rak minuman botol, selain itu ada juga makanan ringan dan parfum. Di depan kelas, terletak sebuah kardus kecil berisi makanan ringan dengan berlabel 1 RM. Juga sebuah kardus berisikan puluhan botol parfum terletak begitu saja di depan kantin, bertuliskan 5 RM. Untuk kardus-kardus kecil tadi, karena tidak ada tempat khusus uang untuk membayar, maka uangnya hanya diletakkan begitu saja di dalam kardus.

Bayangkan, beberapa lembar uang DSC_0294terletak begitu saja di tempat umum. Namun tak ada satu pun yang terbesit untuk mengambilnya. Mengapa? Sederhana saja, karena itu bukan haknya. Hingga nanti sang ‘penjual’ datang, mengambil uang tersebut, dan mengisi stok barang yang baru.

Maka, kebiasaan untuk melakukan sebuah kejujuran telah mendarah daging dalam diri setiap penghuni kampus ini. Tak hanya mahasiswa, karena tiap hari kampus ini juga dipadati oleh para karyawan kampus dan pengunjung dari luar. Sebuah kebiasaan yang patut diteladani dan layak dicontoh untuk diaplikasikan di Indonesia.binhadjid

 

Joglo All Star Show

Di akhir masa pengabdian, tentunya saya tak mau hanya diisi dengan hal-hal yang membuang waktu. Entah kenapa, sudah mengalir dalam darah ini, bahwa waktu kosong apapun harus dibunuh dengan hal-hal bermanfaat. Maka, kali ini, saya berniat untuk turut serta membantu penyelenggaraan Joglo All Star Show. Satu ajang pentas seni santri Gontor yang berasal dari daerah Surakarta, Yogyakarta, dan sekitarnya.

Tepat pada tanggal 18 Mei 2017, pentas tersebut digelar.

Karena bertajuk “All Star”, maka para panitia mengusahakan agar para guru pun ikut turun tangan dalam setiap penampilan dan hal detail penyelenggaraan acara. Jujur, kesibukan di kantor membuat saya agak kelimpungan mengatur waktu. Namun itu semua dapat dijalani dengan baik, tentunya dengan pengorbanan berat.

WhatsApp Image 2017-05-18 at 05.52.38Untuk menambah sumber daya manusia, kami mengajak para santri dari gontor kampus 2, 3, 5, dan 6. Jika dijumlahkan, hampir menyentuh angka 300 orang. Jumlah yang cukup untuk menggelar sebuah pementasan berkelas. Hampir-hampir seperti jumlah siswa kelas 5 gontor cabang saat menggelar pentas drama arena.

Tidak mudah mempromosikan acara ini. Karena masyarakat luar tak banyak tahu tentang pentas yang biasa digelar di Gontor. Maka untuk memudahkan dalam memahami, kami membuat promosi dengan tema, “Joglo All Star Show, 300 santri, 30 acara, 30 jam non stop.” Alhamdulillah, tema tersebut cukup membuat masyarakat paham, bahwa kaliber acara ini cukup besar, karena melibatkan 300 orang, dan itu semua santri pula. Selain itu, jumlah acaranya juga banyak, yakni 30 acara pementasan. Serta digelar dalam jangka waktu yang cukup panjang, 3 jam.

Namanya juga penyelenggaraan selevel acara konsulat, maka tentunya ada teramat banyak kekurangan dalam persiapan acara. Termasuk dana. Kami tergolong nekat dalam hal ini. Bagaimana tidak, dana kami hanya sekitar 15 juta, terkumpul dari iuran para santri. Padahal estimasi biaya pelaksanaan adalah 20 juta rupiah. Namun, kami yakin, akan ada banyak bantuan dari wali santri dan masyarakat. Dan alhamdulillah, hingga acara berakhir, kami masih memiliki saldo.

Acara yang digelar di Lapangan Karang, Kotagede, Yogyakarta ini, dimulai tepat pukul 20.00 WIB. Diawali dengan pemutaran video profil pondok selama 10 menit. Kemudian acara bergulir seperti biasanya pementasan Gontor digelar, yakni hadrah, sambutan, dan pembukaan. Namun ada yang berbeda, di pementasan ini, ada ceramah agama.

Ada 30 acara yang dipentaskan. Mudahnya, dikategorikan dalam bidang tari daerah, tari modern, drama, puisi, musik, seni visual, dan kreasi santri.

Salah satu acara yang menarik perhatian, adalah Tari Topeng Ireng. Sebagai salah satu tari khas daerah Magelang, masyakarat merasa takjub karena yang menampilkan tarian tersebut adalah para santri. Selain itu, ada Drama Alif Lam Mim yang menceritakan tentang kisah persahabatan tiga santri di pondok. Ada juga acara speed painting, yakni lukis cepat dengan durasi 4 menit, namun dapat melukis detail wajah Trimurti Pondok. Acara ini mendapat apresiasi yang luar biasa, karena jarang ada yang seperti itu di luar pondok.

Selain acara di atas, ada juga acara pantomim yang cukup memukau. Dalam hal ini, saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya pada Abdurrahman dan Maulana yang menyempatkan waktunya untuk tampil di tengah kesibukan yang ada. Cukup dengan latihan pada siang harinya, dapat mementaskan pantomim dengan luar biasa. Sekali, terima kasih.

Acara berakhir pada 23.30 WIB. Dilanjutkan dengan perfotoan dan pelepasan para santri menuju rumah masing-masing.

Alhamdulillah, acara ini mendapatkan respon positif dan apresiasi tinggi dari para wali santri. Sampai-sampai ada wali santri yang mengatakan, “jika acaranya seperti ini, saya siap tanggung biaya untuk pelaksanaan acara ini di dalam Stadion Maguwoharjo.” Tentunya ucapan ini tidak main-main adanya, karena stadion tersebut kini sudah bertaraf internasional.

Apapun itu, saya sangat berbahagia dapat berkecimpung dalam acara ini di akhir pengabdian ini. Terima kasih untuk Alifiu, Jibril, Luthfi, dan Ustadz Taqiyuddin yang telah mengeluarkan segenap tenaga bahu membahu melaksanakan acara ini. Juga untuk seluruh guru-guru dari gontor cabang, tanpa kalian, acara malam itu bakal berantakan.

Sekali lagi, terima kasih.binhadjid

Come on, Visit Tangkuban Parahu

For passing the time while my holiday, I visited Bandung which has many places destination for vacation. Even just two days in Bandung, I travelled to many destination that has recommended by my friend before. I arrived at Bandung through Leuwi Panjang Terminal,  than my friend, Arya Brahmana, picked me up there. For his time and kindness, I must give my gratitude for him. Having a friend in many cities makes me comfort for making any vacations any where.

We began the journey with breakfast at an area called by Pluncut. I forgot what the name of restaurant. The important things, we was very enjoy with the view which presented. We ate at second level of restaurant which the hill perspective coddled our eyes. Fried chicken and hot tea which being the characteristic of Pluncut, satisfied us more and more.

Than we continue our adventure to Tangkuban Parahu Mountain. Even this mountain was not active, but we can see the smoke out every second from the crater. The location of Tangkuban Parahu was very large. From the gate that we have paid 54.000 IDR  for two person and one motorcycle, until the main destination was so far. We must ride the car or motorcycle to parking location. If you arrived by bus, from bus parking to main location usually by spesial car which provided by the management.

We spend for one hours with enjoying the view from starting poin to the top of the hill. In every view meters, we cand find amazing spot for taking picture. The wind was breze and cooled the atmosphere which the sun burned us in that evening. If you were boring, you can have a horse which provided there. I have no idea about the price, because it must be so expensive.

I suggested, if you want go to Tangkuban Parahu, better for you to bring mask because the smell of sulfur was very sting. On the other hand, bringing the sunglasses will makes you comfortable more. Meanwhile, if you want to enjoy your vacation more, you have to visit Tangkuban Parahu with your family.

Furthermore, except travelling to Tangkuban Parahu, we also take our time with visiting to Floating Market and Farm House.binhadjid

Berkunjung ke Curug Cibeureum

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi kawan dekat saya di Sukabumi. Sebagai salah satu kota sejuk di Jawa Barat, Sukabumi menyimpan beberapa destinasi wisata yang cukup menarik.

Siang itu, sesampainya di Sukabumi, saya langsung diajak menuju ke Curug Cibeureum. ‘Curug’ dalam bahasa Sunda berarti air terjun. Jadi, siang itu, saya dan kawan saya, bermaksud mengisi waktu kosong mengunjungi air terjun Cibeureum.

“Jauh apa tidak jalan kakinya?” Pertanyaan sederhana yang kuajukan pada kawan saya. “Enggak kok, hanya jalan kaki sebentar.” Jawaban ini membuat saya yakin ‘mampu’ melakoni perjalanan ini.

Menuju Curug Cibeureum, kita perlu melewati beberapa jalur yang cukup curam. Jujur, saya tidak begitu hafal jalan menuju ke sana. Namun, zaman sekarang, tampaknya problem semacam itu tak terlalu sulit. Cukup membuka google maps atau waze, pasti kita sampai tempat tujuan. Harus menggunakan kendaraan pribadi, mobil atau motor boleh. Tidak ada angkutan umum mengantar ke tempat ini.

Sesampai di lokasi, kita bakal takjub dengan pesona rerimbunan hutan lebat di sekitaran parkir Curug Cibeureum. Ada beberapa pedagang makanan dan minuman di sekitaran lokasi. Karena saat itu bukan weekend, maka tak banyak pengunjung yang datang pada hari itu.

Usai parkir, kami segera berjalan menuju arah yang telah ditentukan oleh petugas. Di kawasan parkir, tampak beberapa pedagang yang sejak pagi barang dagangannya belum terjual sama sekali. Saat kami mulai menyusuri jalur menuju Curug, awalnya tampak normal-normal saja. Kanan kiri ada beberapa kantor kecil tempat pengelola bertugas. Semakin jauh, jalur semakin menyempit dan akhirnya hanya menyerupai jalan setapak pegunungan.

“Masih jauh, gak?” Tanyaku pada kawanku. “Ya, lumayan..”

Jawaban yang tidak memuaskan.

Semakin jauh, semakin lebat pula hutan di kanan kiri. Dan tampak sekali hutan ini tidak terawat. Semakin lama, jalan semakin kecil dan curam. Ada perasaan khawatir, jangan-jangan kita tersesat. Tidak mungkin, jalur wisata, namun dibuat seseram ini. Namun kawanku terus menenangkan. Katanya, jalur kita memang sudah benar. Tanpa terasa, kami sudah melewati 30 menit sejak awal tiba di tempat ini. Dan tempat yang dituju, masih juga belum ada tanda-tanda mendekati.

DSC_0568
Bersama kawan saya dan seorang tukang Cilog di Curug Cibeureum

Tiba-tiba, di tengah lebatnya hutan, kami mendengar suara gemericik air. Saya yakin, ini pertanda sebentar lagi kami akan sampai di tujuan. Ternyata tidak. Kami hanya turun menyusuri jalan setapak yang kemudian terhubung dengan jembatan kecil melewati sebuah sungai kecil pula. Usai melewati sungai, lagi-lagi jalan curam kami hadapi.

Setelah melewati sungai kedua, ada jalan yang super curam. Bahkan mendekati sudut 90 derajat. Kawanku meyakinkan, memang ini jalannya. Jalur tak masuk akal itu pun kami lalui perlahan. Alhasil, setelah melewati jalur tadi, Curug yang kami nantikan, akhirnya tampak.

Kami berlari kecil menuju Curug. Alhamdulillah, akhirnya sampai juga.

Dan yang mengagetkan, adalah di kawasan Curug itu, tak ada siapapun kecuali kami, dan seorang tukang penjual Cilog. Meski siang hari, keadaan di sekitar Curug sangat dingin. Percikan air terjun bak air embun yang berterbangan ke sana kemari. Setelah berpuas diri mengabadikan momen, kami mencicipi Cilog khas Cibeureum itu.

Untuk anda yang ingin datang ke Curug ini, kami sarankan untuk membawa beberapa perlengkapan, seperti: jaket, penutup kepala, air yang cukup, dan snack secukupnya. Usahakan jangan sendirian atau hanya berdua, kalau bisa pergi ke lokasi ini sekeluarga besar, bisa juga bersama teman-teman kampung, kantor, atau yang lainnya. Karena anda akan menyusuri jalur pendakian sejauh 3,5 km dengan estimasi jalan kaki 1,5 jam dari tempat parkir. Ditambah dengan jarak kembali ke parkiran, berarti anda akan berjalan kaki selama 3 jam. Cukup melelahkan bagi anda yang jarang berolahraga.

Namun bagaimanapun juga, Curug Cibeureum tetap menjadi destinasi yang harus anda kunjungi saat anda berada di Sukabumi. Tak hanya Curugnya, namun jalur pendakiannya juga menjadi sensasi tersendiri bagi anda yang menyukai tantangan.Binhadjid

Terima Kasih Ayah, Kami Bangga Menjadi Bagian dari Sejarah ini

Tanpa terasa Peringatan 90 Tahun Gontor telah berlalu. Suka duka kami lewati dengan kebersamaan. Kami merasa sangat bangga telah menjadi bagian dari Peringatan ini, kami sungguh bahagia menjadi bagian dari sejarah ini. Sejarah Peringatan 90 Pondok Modern Darussalam Gontor. Peringatan kesepuluh yang digelar oleh Pondok tercinta kami.

Rasanya sebulan ini adalah sebulan yang sungguh berarti bagi kami. Dari kulitnya saja kami tampak sering meninggalkan ruang kelas untuk berbagai kegiatan di sana sini. Sebagai santri, kami sangat disibukkan dengan kegiatan Peringatan 90 tahun, khususnya dengan kedatangan tiga tamu maha penting ke Pondok kami.

Berawal dari Grand Syeikh Al-Azhar, Ahmad Thayyib. Awalnya, kami tak tahu banyak tentang apa dan siapa beliau. Perlahan kami menelaah, ternyata beliau adalah Pemimpin tertinggi Universitas Al-Azhar, sebuah lembaga pendidikan yang kami idam-idamkan sejak dulu, sekaligus menjadi sintesa Pondok kami. Beberapa hari kami disibukkan dengan persiapan penyambutannya, hingga kami juga meninggalkan ruang kelas. Namun, betapa hari itu kami mendapat pelajaran berharga. Pelajaran bagaimana merajakan tamu. Pelajaran penting, bahwa Pondok kami, teramat profesional dan terlatih dalam menyambut tamu sehebat apapun.

Pun juga saat kedatangan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla. Lagi-lagi kami disibukkan dengan banyak persiapan. Termasuk gladi yang digelar berkali-kali. Sekilasnya saja persiapan tersebut adalah bagian dari prosedur Pondok menerima tamu negara. Namun sejatinya, Pondok sedang mendidik kita. Pondok sedang mengajari kita bagaimana ikromu adh-dhuyuf (menerima tamu). Satu pelajaran penting yang juga diajarkan oleh Rasulullah SAW. Kami melihat betapa banyaknya tentara dan polisi yang berlalu lalang di sekitaran Pondok. Kendaraan-kendaraan mewah dari protokoler istana, provinsi, dan daerah, serta kendaraan militer dari mobil tentara hingga Panser ‘Anoa’, juga dikerahkan mengamankan Pondok kami. Kami sungguh bangga melihat betapa besar perhatian Negara terhadap Pondok kami. Meski hanya sehari dua hari, namun kami sangat bangga dengan Pondok ini. Kami semakin cinta dan rindu terhadap Pondok ini.

Dalam bulan Peringatan ini digelar, kami sangat disibukkan dengan banyaknya kegiatan Divisi Santri. Sebagian dari kami mengikuti acara Pekan Olahraga dan Seni, Olimpiade Sains, Gontor Music Festival, Cerdas cermat, dan Haflah Tilawah al-Qur’an. Selama hari-hari itu, kegiatan belajar mengajar di kelas kami sedikit terganggu. Hingga kelas-kelas kami digabung, agar tenaga pengajar menjadi efektif dan efisien.

Ditambah lagi dengan latihan Darussalam All Star Show (DASS), ruang kelas kami menjadi semakin kosong tiap paginya. Hanya setengah atau bahkan seperempat kelas yang hadir. Namun di situ baru kami sadari, bahwa ini semua ada pelajaran yang tak dapat kami lihat dari kulitnya. Apa yang kami lakukan, apa yang dilombakan, apa yang dipentaskan, hingga persiapan untuk menuju hari H, adalah pendidikan mahal dari Pondok untuk kami. Jadi meski kami sering absen di kelas, namun kami tak pernah ketinggalan ‘pelajaran’.

Usai rentetan perlombaan tadi, belum usai juga seluruh tugas kami. Masih ada latihan DASS, Workshop Marching Band, dan Jambore. Karena Jambore digelar di Gontor Kampus 2, tak banyak pengalaman yang kami rasakan di dalamnya, terkecuali para pesertanya. Adapun yang paling berkesan bagi kami adalah latihan DASS. Jikalau Drama Arena hanya untuk kelas 5, Panggung Gembira hanya untuk para santri selain kelas 5, maka DASS, diperuntukkan bagi semua santri dan guru, muda maupun tua. Hampir seribu orang diizinkan meninggalkan beberapa jam pelajaran demi menggelar latihan. Dan hasilnya cukup manis, kami berhasil menampilkan sesuatu yang belum pernah khalayak ramai tonton. Kami sungguh bahagia. Sekali lagi, terima kasih Ayah.

Selesai seluruh rentetan kegiatan Santri, rasanya Pondok sudah beranjak normal kembali. Saat itu kami mendengar bahwa Presiden belum pasti datang. Meski pada akhirnya, dua hari sebelum hari H, kami kembali dikumpulkan untuk menggelar gladi penyambutan. Berarti, Pak Presiden, Pak Joko Widodo, pasti datang. Seluruh rentetan prosedur protokoler dan pengamanan kembali digelar.

Namun untuk yang ketiga kali ini, kami tak terlalu asing dengan cara penyambutan ini. Kami sudah tahu, kami sudah berpengalaman. Tak perlu diajari, rasanya kami sudah siap dengan proses penyambutan rumit ini. Mulai dari penyebaran pagar betis, pengadaan Paskibra dan Marching Band, penempatan santri, memasuki metal detector, pasukan militer yang berdiri sebagai ‘tirai’ di depan kami, hingga penertiban bangku dan meja, kami sudah hafal semuanya.

Hingga akhirnya, puncak kegiatan itu datang juga. Tepatnya tanggal 19 September 2016. Hari bersejarah bagi kami. Hari maha penting bagi kami. Presiden ke-7, Pak Joko Widodo hadir tepat di tengah-tengah kami. Ini seperti mimpi. Orang yang selama ini hanya hadir di televisi, kini benar-benar nyata di depan mata kami. Rasa bangga dan haru menyelimuti kami. Tak hanya Presiden, menteri-menteri, pejabat-pejabat penting, hingga petinggi militer yang selama ini kami melihat di televisi, kini berada tepat di depan kami.

Entah kami duduk di kelas berapa pun, sebagai santri, kami sangat bangga menjadi bagian dari Peringatan ini. Kami bangga menjadi bagian dari Pondok ini. Kami sungguh bangga menjadi santri Pondok ini. Terlebih saat Presiden mengatakan, “Terima kasih karena di Indonesia, ada Pondok Modern Darussalam Gontor.” Tangis kami tumpah ruah, terharu dengan apresiasi orang nomor satu di negeri kami terhadap Pondok.

Hingga suatu saat nanti, akan kami ceritakan kisah ini kepada generasi-generasi selanjutnya. Saat kami menjadi guru nanti, kami akan berkisah kepada para santri. “Nak, dulu Ustadz masih merasakan Peringatan 90 tahun. Saat itu kami……,” cerita kami sulit untuk disembunyikan dan ditutupi di depan para santri.

Sekali lagi. Terima kasih Ayah, kami bangga menjadi bagian dari sejarah ini. Ayah kami, Pondok Modern Darussalam Gontor.Binhadjid