Alif dan Semesta

Surau mendengung

Gunung mengaung

Anak kecil mengaji di saung

Alif tak tahu, untuk apa ia diciptakan

 

Apakah ia harus melucu hingga Hamzah tertawa

Apakah ia harus menangis hingga Kaf iba

Apakah ia harus membumi hingga Mim menyapa

 

Hingga fajar hampir terbenam

Ia masih saja tak tahu, kelam

 

Di akhir senja

Ia mengadu panorama

Ia memuja cakrawala

Alif menemukan filsafat, untuk apa ia berada

 

Adalah Lam dijawabnya

Alif diciptakan untuk menyatu dalam Lam

Agar saat bersama, mereka dapat menerangkan segala kegelapan

Agar saat bersama, Alif dan Lam mampu mema’rifatkan segala naqirah

 

Kini, Alif telah menemukan Lam

Ia mulai mampu mengeja semesta

Ia berani menangkap peraduan

 

Selamat beraliflam

Agar semua yang masih saja naqirah

Menjadi ma’rifat bagi anda

 

Kuala Lumpur, 7 Desember 2017

Tuhan, Gontorkah Aku?

Sebuah Puisi

Untuk perubahan yang kini sedang berproses

 

Tuhan

Layakkah kami

Saat aku-aku ini masih saja terpatri di jidat kami

Aku-aku yang membuat kuku bersiku

Aku-aku ubun-ubun setinggi kayangan

Aku-aku akal sedalam magma

Aku-aku, bahwa aku adalah Gontor

 

Namun, hingga para pujangga itu pergi

Kami masih saja tak mampu menangkap makna yang mereka hadirkan

Tepat di tengah-tengah kami

 

Kiai Ahmad Sahal

Senior, inspirator

Pemegang teguh marwah kebersahajaan kami

 

Kiai Imam Zarkasyi

Eksekutor, konseptor ulung

Pembaharu, pencerah

Tonggak perubahan ma’rifat kami

 

Kiai Zainuddin Fannani

Negosiator, aktor transmisi

Sang penjaga eksistensi kami

Satu per satu pujangga itu pergi

Para pakar ilmu itu, kini menemukan pengetahuan sejati

 

Kepergian mereka disusul satu, dua, tiga, dan selanjutnya

Tak terhitung mereka berduyun-duyun menuju ma’rifat abadi

 

Sayangnya, sekali lagi

Kami masih saja sibuk dengan keyahanuan kami

Tuhan, Gontorkah aku?

 

Masjid Shah Alam, Kuala Lumpur

5 November 2017

 

Kumcer “Santri Istimewa”, Bacaan Wajib para Santri

Alif terjaga di pesawat menuju Jakarta.

Kursi bussines class yang dia duduki bersama sang Ayah memang sangat nyaman. Membuat siapa pun bisa tidur nyaman di atasnya. Meski sang Ayah terlelap, kalimat wejangan Kiai Ahmad masih saja masih saja berputar-putar di benaknya. Ia bingung memaknainya.

Puluhan menit berlalu, hingga tak terasa kalimat itu membuat Alif tertidur. Namun, masih saja kalimat tersebut ‘mengganggu’ Alif dalam tidurnya.

Alif bertemu Kiai Ahmad dalam mimpinya.

Bocah itu bingung siapa yang ia hadapi. Kiai Ahmad mengucapkan sebuah kalimat, kalimat yang sama persis dinyatakan sang Ayah sebagai mantra ajaib dalam hidupnya, kalimat yang membuat ayahnya menangis tiap kali mengucapkannya.

Bondho, bahu, pikir, lek perlu sak nyawane pisan.”

Dan, bagaikan mukjizat, Alif langsung memahami isi dan makna dari wejangan Kiai Ahmad. Ia bertekad untuk mengingat dan mengamalkannya dalam kehidupan.

Agar ia menjadi ‘santri istimewa’, seperti ayahnya.

Kiranya demikianlah cuplikan kisah yang disajikan dalam buku Kumpulan Cerpen (Kumcer) “Santri Istimewa” persembahan para santri Warta Mingguan Darussalam Pos, Pondok Modern Darussalam Gontor. Buku setebal 198 halaman ini adalah murni karya santri Gontor. Terdiri dari 13 buah cerpen dan dari 9 penulis berbeda.

Dengan para penulis; Binhadjid, Aji Gema, Izzuddin Al Qossam, Wajdymuna Fillah, Asyam Dhiyaurrahman, Adam Aziz, Ikhlasul Amal, Farhan Fahlevi, dan Tonny Ilham; buku ini layak menjadi vitamin segar untuk menyejukkan kembali pandangan di tengah pekatnya hidup ini. Penyajiannya yang sederhana, kisah-kisah inspiratif dari para santri, dan pesan-pesan moral yang terkandung, membuat buku ini menjadi bacaan wajib bagi setiap santri ataupun para pelajar.

Selain “Santri Istimewa”, buku ini juga menyajikan kisah; “Lonceng yang Berdentang”, “Andai”, “Wawancara Horor”, “Menunggu 1 Muharam”, “Jalan Kehidupan”, “Kejutan Pahit di Pagi Buta”, “Sang Inspirator”, “Maaf”, “Rohan”, “Tak Pudar”, dan “Tanah Damai”.

Dunia pendidikan yang kini tak lagi bersahabat dengan para pelakunya, dikarenakan orientasi yang kian berubah, membuat para orang tua khawatir akan masa depan sang buah hati. Maka, banyak diantara para pelajar tersebut memilih pesantren untuk melanjutkan masa studinya. Dan pilihan ke pesantren, adalah pilihan yang cukup tepat, mengingat notabene pesantren memberlakukan sistem disiplin dan kemandirian yang cukup baik. Sehingga para santri nantinya dapat menjadi ‘manusia’ seutuhnya dan siap menghadapi kehidupan di masa depan.

Maka buku ini menjadi rujukan yang tepat untuk menggambarkan begitu indahnya, uniknya, dan serunya hidup di dunia pesantren.

Pemesanan buku dapat dilakukan di Toko Buku Latansa Gontor dengan nomor 0812 4981 1114.

Nyatanya Tanah Surga (Sebuah Resensi)

Berawal dari situasi kritis yang dialami Pesantren Harapan Bangsa, Kiai Mansur, selaku pengasuh harus segera melakukan regenerasi. Beliau merasa bahwa saat untuk menyerahkan tongkat estafet telah tiba. Estafet harus berjalan, karena ia bagian dari hukum alam.

Namun, permasalahannya sangat kompleks, siapa yang akan menggantikan beliau? Apakah Yusron selaku santri senior? Ataukah Agus, Abdullah, Roja dan beberapa santri senior lainnya?

Sepertinya tidak.

Kiai Mansur lebih mempercayakan hal ini kepada Ustadz Praja. Seorang alumnus Pesantren tersebut belasan tahun lalu. Dahulu Ustadz Praja merupakan anak kesayangan Kiai Mansur. Dan kini, Ustadz Praja sudah menjadi “orang” di Malaysia sana.

Guna menjemput Ustadz Praja, Kiai mengutus Yusron dan Agus berangkat ke Malaysia. Di tengah perjalanan, mereka berdua bertemu dengan Dito yang berkenan mengantarkan mereka berdua ke Malaysia.

Bagaimana kisah petualangan seru Yusron, Agus dan Dito ke Malaysia? Termasuk pertemuannya dengan Ustazah Hasna, putri cantik Kiai Mahmud asal Jombang? Apakah Ustadz Praja berkenan kembali ke pesantrennya? Lantas bagaimana keadaan Kiai Mansur dan Pesantren Harapan Bangsa selama ditinggal oleh Yusron dan Agus, selaku tulang punggung pesantren tersebut?

Itulah kiranya kisah yang disajikan dalam Novel “Nyatanya Tanah Surga”. Novel karangan Binhadjid ini merupakan adaptasi dari kisah insipiratif Drama Arena siswa kelas 5 KMI Pondok Modern Darussalam Gontor.

Ide cerita ini diambil dari sosok Kiai di Pondok Modern Darussalam Gontor. Di mana sang Kiai selalu memberi banyak wejangan, nasihat dan arahan. Terutama tentang keadaan bangsa ini. Keadaan yang rumit dan sengit.

Namun, Kiai yakin, bahwa dengan peradaban pesantren ini mampu membawa perubahan. Karena di pesantren ini, para santri diajarkan five commandments  atau yang lebih sering disebut dengan panca jiwa, yaitu Keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyyah dan kebebasan. Dengan kelima jiwa itu, para santri diyakini mampu terlahir sebagai pemimpin dengan kapabilitas dan kualitas yang mumpuni, sehingga dapat membawa perubahan bagi bangsa ini.

Hingga kini, banyak pemimpin-pemimpin bangsa yang terlahir dari Pondok Gontor. Mulai dari para pemimpin ormas Islam, menteri, hingga para petinggi dari unsur legislatif maupun yudikatif.

Kisah ini dapat membuka mata masyarakat tentang pandangan dan komentar miring yang selama ini dicapkan kepada pesantren. Bahwa pesantren anti pemerintah, anti kurikulum negara hingga dicap sebagai sarang teroris.

Ternyata tidak, justru sejarah awal membuktikan, bahwa Kiai dan santri mempunyai andil besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Maka sekarang pun, para santri tetap dididik dan diajari bagaimana cara mengisi kemerdekaan dengan hal-hal bermanfaat.

Tak hanya cita-cita tinggi sang Kiai yang menjadi daya tarik novel ini. Namun kisah kocak Yusron dan Agus saat berpetualang ke Malaysia. Apalagi dengan kehadiran sosok Masau Dito, si remaja tanggung yang merupakan lulusan cumlaude Fakultas Teknik UGM Jogja. Meski berkepribadian serba ‘masa bodoh’, namun Dito adalah orang yang berprinsip, terutama terhadap nasehat ibunya, “Jadilah orang yang berguna orang banyak.”

Nah, nasehat ibu Dito inilah yang membuat Dito tertarik dan mau bergabung dalam petualangan road to Malaysia. Ini semua karena nasehat tersebut sama persis dengan konsep Khoirunnas anfa’uhum linnas yang diajarkan oleh Agus.

Selain Dito, kisah perjalanan tersebut juga dibumbui dengan pertemuan Yusron dengan Ustadzah Hasna. Hingga akhirnya Yusron berkesempatan mampir ke pondok Lik Sholah, paman Ustadzah Hasna. Sayang, kisah cinta kocak tersebut hanya berakhir dengan secarik surat dari Ustadzah Hasna kepada Yusron. Ini karena memang kedua pihak sama-sama mempunyai background agama yang baik.

Tentang Malaysia, novel ini menceritakan suasana, kemajuan dan kemodernan yang ada di Kuala Lumpur International Airport dan Kota Pemerintahan Putrajaya. Hal ini dikarena petuangan Yusron, Agus dan Dito melewati kawasan tersebut. Ada juga cerita tentang menginap di Sangri-La Hotel dan makan siang di Troika Sky Dining yang terletak di Menara KLCC lantai 22.

Dengan kisah inspiratif, humor hingga kisah petualangan yang disajikan, membuat Novel Nyatanya Tanah Surga menjadi bacaan wajib bagi generasi muda yang ingin berbuat “sesuatu” bagi kemajuan bangsa ini.Binhadjid

Sebuah Puisi, Kukirim untuk Mendiang Ustadz Ali Syarqowi

Saat nafasmu ada,

Nafasku ada

Namun jiwa ini belum bertemu

Karena (mungkin) jiwaku belum siap ditemui

Oleh tamu seberat dirimu

 

Yang kutahu, sosokmu sosok guru tua

Yang kutahu, perawakanmu puncak kewibawaan

 

Aku menyesal,

Di mana masa itu, bau kencur masih menyengat

Kenapa masa itu diri ini seperti anak ‘kemarin sore’

Mengapa diri ini masih begitu jauh denganmu

 

Saat nafasmu tiada,

Orang-orang berlomba memuji

Tiap kata terselip namamu

Rupanya konsep “ wannasu yadhakuuna sururan” berlaku

Bukan omong kosong belaka

 

Kini nafasmu kembali

Namun tak dihembuskan olehmu

Nafas itu, ada pada semangat, tekad dan kekuatan santri

Tertera pada semangat ajaran,

Terangkum pada tekad iman,

Dan dibungkus dengan kekuatan doa,

 

Wahai guru yang kepada Tuhan Esa kau kembali

Pada bagian doa itulah, kami hadir

Binhadjid