Faiz

Ya Allah, berikan kepada kami pemain-pemain yang handal.

Jadikan kiper kami mampu menepis segala tendangan.

Jadikan penyerang kami mampu mencetak gol.

Berikan kepada kami hasil yang terbaik.

Faiz menangis.

Menjelang pertandingan itu, Faiz berubah. Sifat humorisnya raib entah ke mana. Penciptaannya seakan didesain ulang. Kami kaget, sekaligus kagum.

Sebegitu seriusnya Faiz untuk kompetisi ini.

Dua minggu sebelumnya.

“Ayo kawan-kawan, lapangan sudah di-booking. Mari kita latihan.” Faiz mengirim pesan melalui whatsapp dalam grup tim futsal.

Faiz, sang kapten, memang sangat rajin memimpin latihan para anggota. Kami para alumni pesantren yang sekarang kuliah di Malaysia, memutuskan untuk mengikuti turnamen futsal antarwarga Indonesia di Malaysia.

Ditemani Wira, Faiz menggebu bersemangat menunggu di lapangan. Lapangan merah yang sejatinya lebih cocok untuk basket itu menjadi lapangan favorit bagi kami, juga seluruh mahasiswa pencinta futsal di kampus ini. Selain karena lampu penerangan yang baik, bahan dasar paving yang digunakan juga nyaman.

Latihan memang masih akan dilaksanakan jam setengah 10 malam, namun Faiz dan Wira sudah berada di lapangan 2 jam sebelumnya.

Untuk apa mereka secepat itu?

Ternyata lapangan merah adalah lapangan favorit. Jadi, siapa cepat, dia dapat. Faiz dan Wira harus “mempertahankan” lapangan, sampai kami semua tiba.

Karena ini kampus internasional, maka para pemain yang datang ke lapangan juga dari berbagai negara. Dan yang paling rumit, adalah jika para mahasiswa Afrika yang notebene berbadan besar dan berkulit gelap, datang beramai-ramai ke lapangan.

Faiz dan Wira harus memutar otak agar mereka tak “diremehkan”.

Muncul sebuah ide gila.

Wira mengambil sebatang rokok, kemudian disulut di depan para mahasiswa Afrika tersebut. Tiba-tiba, wajah mereka yang sebelumnya garang ingin mengambil alih lapangan, berubah menjadi ramah.

Sembari menyebul asap rokok dengan santai, Wira memberi pernyataan bahwa lapangan tidak bisa mereka gunakan. Tanpa banyak beralasan, mereka pun meminta maaf karena sudah mengganggu, kemudian pergi keluar lapangan.

Angkat topi untuk Wira.

Aku selalu menunggu datangnya waktu latihan. Bagiku, bermain futsal adalah sangat penting. Bagaimana tidak, tugas kuliah yang begitu banyak, membuat dunia ini semakin sempit. Maka penjernihan otak dengan bermain futsal adalah efektif dan manjur.

Bagi para mahasiswi, banyak dari mereka yang mencari hiburan dengan berbelanja. Namun bagi kami, para mahasiswa, berbelanja malah membuat dunia serasa makin sempit.

Kami berlatih hampir setiap hari, terutama menjelang kompetisi bergulir. Berbagai persiapan kami lakukan, mulai dari teknis pendaftaran, strategi bermain, hingga stimulus penguat tenaga selalu kami pikirkan.

Tanpa terasa, hari pertarungan telah tiba.

Jarak dari kampus kami ke lokasi pertandingan sekitar 20 kilometer. Perlombaan digelar di Universitas Malaya. Salah satu kampus tenar di Malaysia. Sama besarnya dengan kampus kami, bedanya, mereka tak berlabel islami. Jadi mahasiswi tak berjilbab dan berpakaian minim amat mudah ditemukan.

Universitas Malaya adalah universitas pertama yang didirikan di Malaysia. Cukup luas kawasannya, sekitar 300 hektar. Sudah menjadi kebiasaan di Malaysia, bahwa yang namanya universitas, haruslah memiliki kawasan luas. Karena di dalamnya akan didesain sedemikian rupa dengan dilengkapi taman, danau, sungai, lapangan, gedung-gedung fakultas yang terintegrasi, hingga jalur-jalur pedestrian.

Kami berangkat sejak pagi buta menuju Universitas Malaya. Meski akhirnya kami datang terlalu pagi. Namun tak masalah, setidaknya kami memiliki waktu panjang untuk berlatih.

Pertandingan demi pertandingan kami lalui. Tim kami dibagi menjadi dua, karena stok pemain yang cukup banyak dengan kualitas merata. Kedua tim yang dikirimkan tampak mudah melalui 3 pertandingan pertama.

Karena pertandingan dilaksanakan di ruang terbuka, panas begitu terasa menyengat. Semakin tinggi suhu udara, semakin tinggi pula tensi pertandingan di lapangan.

Tak jarang ada protes keras dari para pemain terhadap wasit dan ofisial. Meski demikian, emosi masih dapat diredam.

Kedua tim lolos ke babak 16 besar.

Karena suhu yang sangat tinggi, pertandingan dipindahkan ke dalam ruangan. Sebuah lapangan futsal indoor milik Kampus dijadikan venue.

Berbeda lapangan, berbeda pula kondisinya. Lapangan outdoor yang tadinya ukurannya cukup luas dengan bahan lantai dari anyaman plastik, membuat cara bermain kami sedikit santai. Penguasaan bola diutamakan.

Berpindah ke indoor, lapangan lebih sempit dengan bahan lantai kayu. Sehingga tendangan langsung menjadi hal yang paling sering dilakukan. Beruntung tim kami memiliki para shooter handal, sehingga dengan mudah melaju ke babak selanjutnya.

Di babak 8 besar inilah kami mendapat ujian sesungguhnya.

Satu dari dua tim kami gagal melaju ke babak selanjutnya. Jatuhnya Niam, kiper kami, menjadi titik awal kegagalan kami.

Dalam laga itu, lawan kami menyerang dengan sekuat tenaga. Beruntung Niam tampil ciamik. Sayang, tak lama kemudian, benturan keras terjadi. Niam tak mampu melanjutkan pertandingan. Hingga akhirnya digantikan oleh pemain lain.

Dengan mudahnya kami kebobolan. Gol demi gol terjadi. Hingga akhirnya saat peluit panjang dibunyikan, kami kalah.

Meski kalah, setidaknya pertandingan berjalan sportif. Berbeda dengan nasib tim kami yang satu lagi, melawan tim yang cukup garang.

Persepakbolaan di Indonesia adalah ironi.

Ini tak lain adalah karena sifat dan mental yang dimiliki. Sikap tidak sportif, sulit menerima kekalahan, maunya menang sendiri, dan nihilnya sikap saling menghargai menjadi hubungan kausal dengan prestasi minor timnas Indonesia.

Melihat suporter rusuh, pemain memukul wasit, adu jotos antar ofisial, hingga nyawa melayang karena perkelahian anta suporter menjadi hal lumrah di Indonesia. Dan sayangnya, komite sepakbola seakan tutup mata dengan hal tersebut.

Berbeda dengan Mesir, saat ada tragedi nyawa melayang dalam liganya, pemerintah langsung membekukan seluruh kegiatan persepakbolaan. Tegas memang, namun itu harus demi kemaslahatan bersama. Karena ketegasan itulah, saat sepak bola di Mesir digulirkan kembali, prestasi mereka turut serta meningkat.

Dan yang memprihatinkan, sifat buruk para suporter di negara kita sudah mendarah daging. Bahkan saat sudah di luar negeri pun, sikap tak sportif itu masih ada.

Faiz memang pemain unik. Ia menjadi tumpuan tim kami dalam mencetak gol. Hal itu pulalah yang membuat lawan selalu mengincar Faiz. Entah dengan cara fair atau pelanggaran, yang penting Faiz dapat dihentikan.

Akhirnya aksi-aksi tidak profesional terjadi. Berkali-kali pemain lawan mencoba mengambil bola dari kaki Faiz dengan kasar. Bahkan tak jarang, langsung dengan tendangan ke arah kaki. Entah mengapa, wasit pun diam saja.

Hingga satu momen buruk terjadi, di mana saat Faiz mencoba merebut bola dari pemain lawan, namun kemudian lawan terjatuh. Saat itu pemain lawan tidak terima, kemudian dengan lagak tidak sopan seakan menantang Faiz berkelahi.

Barok, kawan satu tim Faiz, terpancing emosi. Ia mendekati orang tersebut, kemudian memasang kaki. Seakan ingin menendangnya.

Namun sayang seribu kali sayang. Gelagat tersebut membuat para suporter masuk lapangan. Barok menjadi bulan-bulanan suporter tim lawan. Beruntung, sebelum semuanya menjadi semakin runyam, tim keamanan dengan sigap melerai. Meski Barok sudah diamankan, namun kami tidak terima dengan perlakuan suporter tim lawan, yang mana sempat ada pukulan keras ke arah kepala Barok.

Kami pun mulai terpancing emosi. Kami mencari si pemukul tersebut. Kami anggap ia biang keladi semua ini.

Saat kami beramai-ramai mencari si pelaku, tiba-tiba Barok datang dan berteriak.

“Sudaaaah!! Gak perlu dicari orangnya!! Biarin saja!!”

Aku kaget setengah mati. Ini bukan Barok yang kukenal. Biasanya di tengah kondisi serumit apapun, ia tetaplah seorang penggurau. Namun, hari ini, situasi mampu melebur tawanya menjadi amarah.

Barok pun mendapat kartu merah dan meninggalkan lapangan. Sekaligus meninggalkan venue, kami amankan, kami takut ia menjadi incaran suporter lawan, meski sudah di luar lapangan.

Pertandingan kembali dilanjutkan.

Sebelum kerusuhan terjadi, kami tertinggal 1-0. Kami pun mencoba mengejar ketertinggalan. Tak ayal, usaha kami membuahkan hasil. Kami berhasil memecahkan telur. Sekaligus menyamakan kedudukan. Dan wasit pun meniup peluit panjang.

Pertandingan harus dilanjutkan ke babak adu penalti.

Namanya juga adu penalti, isinya hanya adu keberuntungan. Namun bagi kami, tidak ada keberutungan, yang ada hanyalah karunia Allah SWT. Dan sore itu, karunia Allah SWT berpihak pada kami. Penendang kedua dari tim lawan, gagal mengeksekusi penalti.

Kami pun melaju babak semi final.

Selamat, Faiz.

Sembari menunggu babak semi final, Faiz dan timnya beristirahat di mushala. Selain Memusatkan tenaga, mereka juga bermuhasabah dengan berdizikir dan membaca Quran.

Aku dan beberapa kawan tetap menunggu di lapangan, sekaligus menonton babak perempat final lainnya.

Dan kali ini, kerusuhan terjadi lebih seru.

Seorang pemain terjatuh usah diganjal kaki lawan. Pemain lain mendekati sang pelanggar, menenangkan. Namun ia terpancing emosi dan mendorong. Sudah melakukan pelanggaran, malah emosi.

Ah, sudahlah..

Panitia mencoba masuk lapangan untuk melerai. Namun ia tak terima dengan perlakuan panitia. Saling dorong pun terjadi. Suporter turun ke lapangan. Adu jotos terjadi. Saling lempar kursi mewarnai kerusuhan.

Yang paling miris, ini adalah kompetisi sesama warga Indonesia dan dilaksanakan di negara orang. Dan yang paling membuat malu, adalah seluruh wasit yang bertugas, berasal dari Malaysia.

Mungkin saja para wasit membatin dalam hatinya.

Haha, lagu lama. Namanya juga pemain dan suporter Indonesia, pasti ada kerusuhan. Kalau bertindak sportif dan damai, malah perlu dipertanyakan.

Partai semifinal berlangsung cukup ketat, namun gol semata wayang Faiz, menjadikan mereka kampiun dan melaju ke babak final.

Sejatinya, kami merasa tidak nyaman, karena lawan yang kami hadapi adalah kawan sendiri, dari kampus yang sama. Jadilah kami tidak memberi dukungan dengan stamina penuh, lebih tenang dan kalem. Cukup doa yang mengiringi, dan ternyata manjur.

Padahal penjaga gawang tim lawan cukup tenar di seantero kampus sebagai pemain handal. Handal dalam menjaga gawang. Namun malam itu, karunia belum turun pada tim mereka.

Kini, saat fokus kepada partai final. Sembari menunggu babak perebutan juara tiga bergulir, Faiz dan timnya beristirahat total.

Hingga pertandingan usai, dan kami dipanggil ke lapangan, sebuah keajaiban terjadi.

Tim kami berkumpul dalam lapangan, termasuk ofisial, satu tim lainnya yang sudah kalah, serta para suporter.

Faiz menangis.

Rintikan air matanya terjatuh saat ia melantunkan doa. Suaranya serak, sesekali tersedak. Di tengah sedaknya, hening, tak ada suara. Keheningan itulah yang membuat pertandingan final terasa khidmat.

Usai berdoa, ia memberi motivasi.

Kita sudah terlanjur melangkah jauh.

Kita sudah berada di partai final.

Maka tak ada kata lain, selain kemenangan.

Yakinlah, Allah bersama kita.

Ingatlah hari ini, kawan

Karena hari ini akan menjadi milik kita, untuk selamanya.

Aku seperti sedang melihat Thariq bin Ziyad, Shalahuddin Al-Ayyubi, Thariq bin Ziyad, atau bahkan Julius Caesar, the Great Alexander, Jengis Khan, yang sedang berpidato menjelang berperang.

Sederhana kata-kata Faiz. Karena ia memang bukan seorang pujangga. Justru malah aneh jika kata yang ia ucapkan terlalu puitis. Pasti itu hanya karangan orang, kemudian dihafal.

Kata-kata ini menunjukkan siapa Faiz sebenarnya.

Doa Faiz didengar oleh-Nya

Tim kami begitu mudah mendulang gol demi gol di partai final. Entah mengapa, tendangan Faiz yang sedari tadi mampat, kini mengalir begitu saja.

Entah karena lawan yang lemah, atau tim kami yang terlalu kuat, aku tak tahu. Yang pasti skor kini 5-0 untuk kemenangan kami. Sampai-sampai Wira, yang notabene lemah dalam bermain futsal, diberi kesempatan oleh Faiz untuk bermain.

Hingga peluit akhir ditiup, skor adalah 6-1 untuk kemenangan kami. Kami juara pada kompetisi ini.

Alhamdulillah.

Sederhana, namun mengena.

Itulah gambaran Faiz selama kompetisi ini. Bila dilihat, materi pemain timnya sebenarnya biasa-biasa saja. Bahkan ada yang baru memiliki skill akhir-akhir ini. Namun tak dinyana, mereka mampu meraih kampiun.

Ini adalah bukti, bahwa hasil tak akan pernah mengkhianati proses.

Kuala Lumpur-Kedah, 16 Jam, dan Rasi Bintang

Malam sunyi. Angin sepoi-sepoi bertiup kencang. Menggoyangkan pepohonan. Mengisi heningnya malam yang kala itu bulan sedang tersenyum lebar.

Kami menyiapkan raga. Empat anak muda, menyatu dalam tujuan yang sama.

Sembari menyetir, aku sempat menyalakan handphone dan menyalakan GPS menuju lokasi yang dituju.

Maklum, kami belum begitu paham jalur transportasi Malaysia. Meski rata-rata sudah tinggal di sini setengah tahun, namun itu belum menjamin hafalan kuat tentang logika jalur di Malaysia.

“Ente ngapain? Nyalain GPS?” Kuncoro bertanya padaku. Ia heran dengan apa yang kulakukan.

“Iya, kan kita belum tahu jalan ke arah sana.”

“Gak usah, yang penting dari jalur Genting Highland, lurus ke utara. Perjalanan kita jauh, jadi harus hemat baterai.”

Aku ragu.

Kita sama-sama belum pernah ke lokasi yang dituju, kita mulai perjalanan malam, kita semua bukan warga negara Malaysia, dan ini, adalah pengalaman kami pertama kali melakukan perjalanan jauh.

Perjalanan sejauh ini tanpa GPS. Aneh.

Namun karena Kuncoro adalah kawan yang paling lama menetap di sini. Kami diam, menurut tanpa tahu apa akibatnya.

Malam terus saja diam. Kami isi dengan gurauan ke sana kemari. Sembari mencari pom bensin dan mini market. Kami butuh stimulus.

Di malam yang sunyi itu, bintang tampak tegar di kejauhan.

Aku pernah mendengar bahwa orang dulu, di kala teknologi belum ditentukan, bepergian jauh melintas lautan adalah menggunakan rasi bintang. Bayangkan, zaman di mana anda tak mengetahui posisi anda di lautan, tak tahu arah, dengan perahu kuno, namun dapat melintas samudera dan sampai di pulau tujuan.

Ternyata selain rasi bintang, nenek moyang kita juga memiliki beberapa cara unik untuk menentukan arah di lautan.

Yang pertama, adalah melihat warna awan di langit. Dahulu nenek moyang kita, saat akan menentukan arah, mereka memperhatikan perbedaan warna langit. Jika warna awan tampak memiliki warna keputih-putihan, maka sudah dipastikan bahwa mereka mulai dekat dengan daratan. Namun jika warna awan masih samar-samar dengan warna putih yang masih tersebar, maka menjadi sebaliknya, mereka menjauhi daratan.

Yang kedua, Burung Jagong. Melihat Burung Jagong terbang secara berkelompok, nenek moyang kita dapat menentukan arah barat dan barat laut. Kebiasaan Burung jagong adalah mencari makan ke arah tenggara. Ketika nenek moyang melihat sekelompok Burung Jagong terbang ke tenggara, maka mereka dapat menentukan arah yang lainnya.

Yang ketiga, adalah kilat. Ketika nenek moyang terdampar di laut, dan saat itu akan turun hujan, mereka menggunakan cara ini untuk menentukan arah daratan. Nenek moyang dapat menentukan arah mana ketika jenis kilat tertentu terlihat di langit. Dan jika sudah terjadi kilat dan mengetahui arah mana daratan, maka nenek moyang akan segera menuju ke daratan tersebut. Namun teknik membedakan jenis kilatnya, tampaknya kita harus kembali ke masa lalu dan bertanya pada nenek moyang.

Yang keempat, adalah menggunakan rasi bintang. Ketika nenek moyang melihat kelompok bintang biduk, maka itu adalah arah utara. Ketika nenek moyang melihat kelompok bintang pari, maka itu adalah arah selatan. Adanya kelompok bintang orion, itu sebagai arah barat. Adanya kelompok bintang tujuh, maka menunjukkan arah timur. Dan jika melihat kelompok bintang tiga, itu adalah arah tenggara.

Tampak tidak masuk akal, namun itulah orang kuno. Karena ketiadaan gadget, mereka lebih memperhatikan alam secara detail. Hingga dapat merasakan fenomena alam. Tidak seperti manusia kini, sangat bergantung pada alat.

“Ada yang pernah nonton Film Moana?” Aku membuka pembicaraan.

“Ya jelas pernah, dong!” Tamam menimpali.

“Nah, dalam film itu, kalau melaut, Moana dan kelompoknya selalu menggunakan rasi bintang.”

“Oalah, lha terus apa kita juga sekarang ingin mengikuti rasi bintang?”

“Ya, coba saja..”

Kami terus bergurau.

Bagaimanapun juga, malam semakin larut. Langit semakin kelam. Hawa semakin dingin menusuk.

Satu per satu, mulai terlelap dalam tidur. Dimulai dari Nata, Tamam, hingga akhirnya Kuncoro yang sedari tadi menemaniku, kini dengkuran khasnya mulai terdengar.

Kami sudah berjalan 3 jam. Rasa kantuk pun mulai menyerang. Aku ingin berhenti sejenak di tempat peristirahatan.

Kuamati, signboard yang kulalui satu per satu, tak ada satu pun yang menunjukkan tanda rest area akan segera dilewati.

Aku harus menunggu 30 menit, hingga akhirnya rest area kami lalui.

Namun, rest area itu, aneh.

Aku tak menemukan seorang pun di dalam rest area itu. Tak ada stasiun pengisian bahan bakar, hanya ada toilet, warung, dan mushala.

Usai buang air dan cuci muka, aku kembali ke mobil. Semua tertidur, hanya aku, mobil, dan malam.

Tiba-tiba, terbesit dalam pikiran.

Kira-kira, sudah sampai mana ya?

Aku segera mengeluarkan smartphone-ku. Tertulis dalam halaman utamanya, menunjukkan kondisi cuaca cerah di daerah Pahang. Artinya, aku saat ini berada di Pahang. Aku tak tahu Pahang itu di mana, jadi aku perlu melihat peta. Toh, dari tadi aku melewati Kerak, Kuantan, dan beberapa daerah dengan nama aneh lainnya. Namun tanpa peta, aku tak tahu apapun.

Kubuka aplikasi google maps, kemudian kulihat posisiku dalam peta.

Malam begitu sunyi. Di kesepian itu, ada satu mobil datang menemani kami. Sepertinya mereka hendak beristirahat.

Aku bermetaformosis.

Lega setelah buang air dan cuci muka – tenang dengan heningnya malam – membuka smartphone – melihat mobil datang –melihat posisi dalam peta – kaget – shock – marah – mengutuk diri sendiri – ingin teriak – membangunkan Kuncoro sembari mata tetap melihat ke layar smartphone – kemudian membangunkan seisi mobil.

!?!?<:{^$%#^&@*!!!!!*@&#?>””{}>@#!!!!!

Kita ini di mana!?!?

Kuncoro segera mengambil paksa smartphone-ku. Dia kaget.

“Kamu tadi ambil jalur mana? Lurus terus kan?” Kuncoro bertanya. Berusaha menyudutkan dan melemparkan kesalahan padaku.

“Saya yakin tidak. Jalur ini lurus terus dari jalur Genting.”

Kuncoro kemudian memastikan jalur ke arah kedah.

“Alamak… ternyata kalau mau ke Kedah, kita harus lewat jalur Rawang. Bukan Genting.” Tegas Kuncoro.

“Lalu?” Aku bertanya, melempar objek kambing hitam.

“Berarti kita salah jalan.”

Jelas sudah, ini perintah siapa dan salah siapa. Namun aku sebagai sopir, tak ingin memperpanjang masalah. Yang terpenting sekarang adalah solusi.

Jika belum paham peta Malaysia, mungkin bisa dipermudah dengan gambaran daerah di Indonesia. Anda berangkat dari Yogyakarta, menuju Jakarta dengan jarak tempuh 500 km. Karena kepercayaandirian anda, anda tak membuka GPS, dan percaya dengan arah yang anda yakini. Anda melaju sejauh 300 km, tanpa anda sadari, anda sudah sampai di Surabaya. Seperti itulah gambaran perjalanan kami di malam ‘malang’ itu.

Perlu menjadi catatan, kami, 4 orang di dalam mobil, sama sekali tak tahu menahu posisi daerah Malaysia. Jadi, saat menuju Pahang, kami melihat tulisan daerah Karak, Temerloh, Maran, Gambang, Kuantan, dan Pahang, kami biasa saja. Karena memang dasarnya tak tahu daerah apa saja yang harus dilewati jika akan ke Kedah.

Maka, sejak saat itu, kami menyetting GPS agar menunjukkan kami ke arah Kedah. Sialnya, GPS menunjukkan jalur tercepat, yaitu dengan kembali lagi ke Kuala Lumpur.

Sebagai laki-laki, kami pantang mundur. Lebih baik maju, meskipun sulit. Dengan mempertimbangkan berbagai resiko, akhirnya kami yakin untuk mengambil jalur lain. Yaitu menuju utara, Terengganu, Kelantan, kemudian menyusuri perbatasan Thailand, hingga sampai ke Kedah.

Otomatis dengan jarak tempuh yang lebih jauh, yaitu 700 km. Jarak Jakarta menuju Surabaya. Namun, waktu tempuh lebih cepat, yaitu 8 jam. Karena melalui jalur tol. Meski akhirnya, karena sering berhenti rehat, menjadi 12 jam perjalanan.

“Harusnya jam segini, matahari sudah terbit.”

Aku mengingatkan kawan-kawan. Penasaran, mengapa di jalur tol pantai timur itu, yang ada hanya bukit, hutan, dan kabut.

“Iya nih, serasa sedang di planet lain. Jalan sepi, kabut, melalui gunung-gunung, dan yang pasti, tidak ada penduduk sekitar sama sekali,” kuncoro menimpali.

Meski melewati pegunungan, namun jalan tidak berkelok. Hanya lurus saja, tak berujung. Yang unik dari jalur ini, adalah banyaknya rambu jalan bergambar hewan-hewan yang tak lazim. Kami melihat rambu bergambar Gajah, Sapi, Tapir, Rusa, dan Kambing. Cukup aneh untuk hewan-hewan yang biasa berlalu lalang di sepanjang jalur tol. Beruntung kami melakukan perjalanan pagi hari, jadi hewan-hewan tersebut tak ada yang menunjukkan batang hidungnya.

Peta yang kami anut menunjukkan, bahwa beberapa kilometer lagi akan melewati kawasan perairan.

Bukannya ini hutan nasional, mengapa ada perairan?

Dengan sikap pasrah dan sisa keberanian yang ada, kami melanjutkan perjalanan. Beruntung perjalanan di daerah antah-berantah itu kami lakukan siang hari. Setidaknya kami memiliki penglihatan yang jelas.

Tak disangka, daerah perairan yang kami lihat itu, adalah kawasan danau air tawar yang amat sangat luas. Di tengahnya ada pulau unik yang masih ditinggali suku primitif. Saat kami melewati jembatannya, kami menyempatkan untuk mampir di resort wisata yang sudah dipermak cantik. Kami makan siang sekaligus melepas penat di sana.

Royal Belum.

Itu nama yang tertulis jelas di atas pintu. Kami masih belum paham maksud dari lokasi wisata “aneh” ini. Hingga akhirnya kami mendapatkan penjelasan dari keterangan yang ditempel di dinding-dindingnya.

Taman Royal Belum adalah taman besar di bagian utara Semenanjung Malaysia. Ini adalah bagian dari Hutan Belum-Temengor Forest (BTFC). Sebagai taman negara, ini adalah salah satu hutan hujan tertua di dunia, yang berasal dari 130 juta tahun yang lalu. Lebih tua dari Hutan Amazon.

Di dalam Royal Belum State Park terletak Danau Temenggor, danau terbesar kedua di Semenanjung Malaysia setelah Danau Kenyir. Danau Temenggor adalah, sama seperti Danau Kenyir, danau buatan manusia yang digunakan untuk daerah tangkapan air. Danau ini memiliki beragam jenis ikan air tawar termasuk Kelah, Toman, Sebarau, Tenggalan dan Baung, yang menjadikannya tempat yang tepat untuk pemancing.

Selepas kunjungan singkat ke Royal Belum, kami menghabiskan sisa perjalanan. Hingga tak lama kemudian, kami kembali ke jalur yang biasa digunakan “manusia normal” untuk melakukan perjalanan dari Kuala Lumpur ke Kedah.

Memang panjang perjalanan ini, namun setidaknya kami mendapatkan pengalaman berharga. Dari melakukan perjalanan mengitari tol pantai timur Malaysia, memasuki daerah mirip planet lain, bertemu signboard hewan-hewan aneh, hingga kami menemukan peribahasa baru, “hemat baterai pangkal tersesat.”

binhadjid

 

 

Keajaiban di Kelas Celpad

Kalau boleh jujur, saya benar-benar tidak berani membuat tulisan ini, sebelum saya terlepas dari belenggu judul di atas.

Celpad, singkatan dari The Centre for Languages and Pre-University Academic Development, adalah sebuah lembaga di kampus saya, IIU Malaysia, yang bertugas menegakkan standarisasi mahasiswa yang hendak masuk dunia perkuliahan. Sederhananya, agar kuliah tidak kewalahan mendidik mahasiswa yang buta bahasa, khususnya bahasa Inggris dan Arab.

Dilema, itulah kata yang pantas menggambarkan isi hati saya saat mengikuti ujian di awal pertama kali masuk Kampus. Maaf, saya menyandang gelar sarjana S1 dari Universitas Darussalam Gontor, lembaga yang kapabel dalam bahasa Arab dan Inggris. Sesuai fakultas yang saya tuju, Pendidikan Bahasa Arab, saya diwajibkan untuk mengikuti ujian di kedua bahasa. Berbeda dengan beberapa kawan saya yang masuk Fakultas Ekonomi yang tak perlu masuk ujian bahasa Arab.

Ada kawan mengatakan, “belajar yang rajin, biar gak perlu masuk Celpad.” Sebagian lagi mengatakan, “Sudah, tak perlu belajar. Celpad banyak manfaatnya, kok!”. Dua-duanya disampaikan “orang lama” Kampus ini, bingung hendak ikut aliran yang mana.

Saya niati, belajar serius dulu, hasil belakangan. Meski akhirnya, kelulusan hanya berpihak kepada ujian bahasa Arab. Sedangkan ujian Inggris, tidak.

Saya mesti memasuki kelas bahasa selama 4 bulan. Meski jadwal kelas padat, materi yang sama dalam jangka lumayan panjang, membosankan, namun di Celpad, saya menemukan keajaiban.

Ahlis, Abbas, Altin, Fadhilah, Niam, Sareena, Lamia, dan lima belas orang lainnya, adalah keajaiban itu. Di sini kami bertukar kultur dan budaya. Budaya orang Turki, Cina, Yaman, Afrika, Bangladesh, Mesir, Thailand, dan satu lagi, Eritria, negara yang membuat anda perlu membuka google untuk mengetahuinya.

Tahukah anda, jika makan Mie Cina sambil mengecap, berarti anda menganggap masakan itu lezat dan menghormati sang koki? Jika tidak, berarti anda belum pernah makan Mie Cina bersama orang Cina langsung. Budaya orang Indonesia, makan tidak boleh mengecap, tak sopan. Namun di Cina, sebaliknya.

Informasi tentang kehidupan di Turki, kebiasaan aneh orang Thailand, panasnya Eritria, kemiripan Malaysia dengan Indonesia, uniknya cara berpakaian orang Afrika di kelas, senangnya orang Bangladesh membanggakan negaranya, hingga kehidupan rumah tangga di Mesir, semua saya ketahui secara langsung di kelas Celpad. Tentunya dengan saling berbagi cerita saat kelas kosong, di kantin, ataupun diskusi di perpustakaan. Dan semua komunikasi menggunakan bahasa Inggris, pastinya.

Semua yang saya paparkan di atas adalah pengalaman saya di Celpad dari sisi non akademik. Kalau dari sisi akademik, tentunya saya mendapat siraman ilmu tentang Reading, Writing task 1, Writing task 2, speaking, dan kisi-kisi bahasa Inggris hingga paling dalam. Sekali lagi, semuanya komunikasi di kelas adalah total berbahasa Inggris. Sampai berguraunya pun, berbahasa Inggris.

Kini, 1 Februari 2018, saya dinyatakan lulus dari lembaga ini. Jujur, selama 5 bulan di Celpad saya terus menerus merasakan kegalauan akut. “Lulus apa enggak, ya?”, “Kalau gak lulus, harus masuk kelas Celpad 4 bulan lagi.” “Kapan mulai kuliah, ya?” Itulah list pertanyaan yang selalu menggentayangi saya.

Namun bagaimana pun juga, melalui tulisan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Cik Noorita yang dengan gaya tegasnya mendidik kami, Cik Noor Hasni, Cik Fuadah, dan satu lagi (waduh, saya lupa), atas semua yang telah diberikan selama kami belajar di Celpad.

Bagi anda yang membaca tulisan ini, dan kebetulan berkuliah di IIU Malaysia serta masuk kelas Celpad, berbanggalah! Karena sejatinya anda sedang menjalani proses penting pendidikan dalam hidup anda. binhadjid

 

Alif dan Semesta

Surau mendengung

Gunung mengaung

Anak kecil mengaji di saung

Alif tak tahu, untuk apa ia diciptakan

 

Apakah ia harus melucu hingga Hamzah tertawa

Apakah ia harus menangis hingga Kaf iba

Apakah ia harus membumi hingga Mim menyapa

 

Hingga fajar hampir terbenam

Ia masih saja tak tahu, kelam

 

Di akhir senja

Ia mengadu panorama

Ia memuja cakrawala

Alif menemukan filsafat, untuk apa ia berada

 

Adalah Lam dijawabnya

Alif diciptakan untuk menyatu dalam Lam

Agar saat bersama, mereka dapat menerangkan segala kegelapan

Agar saat bersama, Alif dan Lam mampu mema’rifatkan segala naqirah

 

Kini, Alif telah menemukan Lam

Ia mulai mampu mengeja semesta

Ia berani menangkap peraduan

 

Selamat beraliflam

Agar semua yang masih saja naqirah

Menjadi ma’rifat bagi anda

 

Kuala Lumpur, 7 Desember 2017

“Hadza al-Kitab, fiihi barakah”

Beberapa waktu lalu, kami berkesempatan untuk bersua dengan guru kami dari Gontor, Dr. Abdul Hafid Zaid, M.A. Momen tersebut tak kami sia-siakan begitu saja, kami menggelar acara Knowledge Sharing bersama beliau, tentunya dalam bidang yang beliau tekuni, Bahasa Arab. Alhamdulillah, jumlah peserta acara melebihi ekspektasi panitia, ruangan seminar penuh. Bahkan, panitia harus menambah jumlah kursi dari ruangan samping.

“Orang Arab, tak terlalu memikirkan bagaimana sulitnya orang non-Arab mempelajari detail Nahwu, Shorf, dan berbagai ilmu bahasa Arab lainnya.”

Sederhana pernyataan beliau, namun poin ini membuka pikiran kami. Lantas, jika orang Arab sendiri tak memikirkan, lalu siapa yang akan mengajarkan bahasa Arab kepada orang non-Arab? Beliau menjelaskan, bahwa orang Arab memang memiliki kemampuan berbahasa Arab dengan sangat baik, namun mereka tak memiliki kemampuan untuk mengajarkannya, khususnya untuk orang non-Arab.

Saat orang Arab menjadi pengajar bahasa Arab, ia akan mengajar dengan metode yang ia yakini, dan itu cukup sulit. Dalam beberapa kasus, beliau mencontohkan, ada saja orang non-Arab yang tak mampu diajar bahasa Arab meskipun oleh orang Arab asli sekalipun. “Mereka tak melakukan pendekatan personal terhadap siswa. Apakah siswa tersebut seorang yang pemalu, tidak cakap, atau memang benar-benar tidak mampu mengikuti materi. Para pengajar tersebut belum sampai pada titik tersebut.

Dalam kasus lain, pondok-pondok alumni Gontor, alias yang didirikan atau diasuh oleh Alumni Gontor, meskipun menggunakan buku yang sama (Durusullughah), namun mereka tetap saja tak mampu membuat para santrinya cakap dalam berbahasa Arab. Gontor menggunakan buku tersebut, dan berhasil.

Mengapa?

Sederhana saja. Tanyakan saja pada pengurus di pondok-pondok alumni, apakah mereka memiliki sistem wajib berbahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari? Apakah mereka memiliki Bagian Pengumuman yang selalu berbahasa Arab? Apakah mereka memiliki kegiatan pemberian kosakata bahasa Arab setiap pagi? Dan yang terpenting, apakah metode pengajaran buku Durusullughah yang tepat?

Pertanyaan terakhir menjadi unik. Melihat sepintas buku Durusullughah, tampak seperti buku pelajaran bahasa Arab bagi siswa pra sekolah di Arab sana. Hanya terdapata kata-kata dasar, gambar-gambar, dan rumus-rumus yang sangat sederhana. Namun mengapa bisa mencetak orang semacam Dr. Hafidz Zaid? Jawabannya adalah karena adanya guru-guru yang tahu dan melaksanakan metode mengajar yang tepat.

Karena kenal dekat dengan Dr. Abdul Hafidz Zaid, suatu saat, salah seorang pakar bahasa Arab pengarang Buku Al ‘Arabiyyah Baina Yadaik (saya lupa namanya) berkunjung ke Gontor. Saat pertama kali menginjakkan kakinya di tanah Gontor, hal pertama yang beliau ucapkan adalah, “Aina al-kitab alladzi tata’allamu minhu?” Sontak Dr. Abdul Hafidz Zaid menyodorkan kitab Durusullughah.

Pakar bahasa Arab tersebut membuka buku tersebut perlahan, per lembar, hingga halaman terakhir, kemudian kembali membuka dari halaman pertama lagi. Pertanda beliau sangat heran. Kalau saya boleh menuangkan penggambaran Dr. Hafidz tentang Pakar bahasa Arab tersebut dalam sebuah kalimat, saya akan menulis, “buku sesederhana ini kok bisa membuat anda pandai berbahasa Arab?”

Maka Pakar bahasa Arab tersebut dengan yakin menyatakan, “hadza al-kitab, fiihi barakah.”

Di lain kasus, beliau bercerita tentang kehebatan alumni Gontor dalam mempelajari bahasa baru. Menurut beliau, tak hanya bahasa Arab, saat seorang Gontory dalam kondisi mendesak untuk mempelajari suatu bahasa baru, ia mampu mempelajarinya otodidak dan menguasainya. “Dulu kawan saya ada yang jatuh cinta terhadap seorang akhwat dari Turki, maka dengan otodidak, metode yang sama saat dia belajar bahasa Arab, dia mulai mempelajari bahasa Turki perlahan. Hingga akhirnya dapat menguasai bahasa tersebut.” Jadi, otak anak Gontor sudah disetting untuk mampu beradaptasi dengan bahasa baru.

Meski hanya satu jam, namun kami mendapatkan vitamin dan gizi ilmu pengetahuan malam itu.binhadjid

 

 

 

 

Mari Menulis!

Belajar menulis berarti belajar berpikir. Belajar menulis berarti belajar merenung. Belajar menulis berarti belajar mengerti sesuatu. Belajar menulis berarti kembali hidup. Belajar menulis berarti menjauhi kematian. Belajar menulis berarti hebat. Belajar menulis, berarti membuat hidup menjadi berarti.

Setiap gerakan jari yang membentuk sinyal-sinyal huruf dapat mengubah dunia dalam tempo cepat. Pemikiran-pemikiran ulung dan konsep-konsep mendasar, dapat menjadi dasar revolusi sebuah bangsa. Banyak peperangan berawal hanya dari sebuah ucapan, dan banyak tulisan yang dapat membuat sebuah negara tak melupakan jasa para pahlawannya.

Itulah mengapa Pandai Tulis sangat dihormati pada masanya. Menulis puisi bagi dewasa ini adalah hal sepele, namun menjadi hal fenomenal di masa orang tak tahu apa itu pena dan kertas.

Huruf-huruf yang masih terpisah tak bermakna tanpa diikat dalam sebuah kata. Sebuah kata tak dapat dipahami tanpa dilengkapi dengan kata-kata lainnya. Dan kalimat-kalimat itu tak akan memiliki keampuhan tanpa disusun secara tertib sehingga menghasilkan sebuah taste yang klimaks.

Dan di tangan anak manusialah, huruf hingga kalimat itu dapat disusun. Anak manusia itu biasa disebut dengan penulis. Maka, marilah menulis.Binhadjid

Gontor dan Endut Blagedaba

Endut Blegedaba merupakan lava yang terdapat dalam Kawah Candradimuka. Lava yang dikenal dengan panas tujuh kali lipat dari panas api di bumi. Mendengar Kawah Candradimuka, yang terbesit dalam benak pastilah seorang ksatria pewayangan Gatotkaca. Namun sebenarnya, ada beberapa bayi yang kelahirannya tak diharapkan, pernah ‘diceburkan’ ke dalam kawah ini. Sebut saja Bambang Wisageni, Boma Narakasura dan Bambang Nagatatmala juga pernah dijebloskan ke dalam kawah ini.

Namun, uniknya, menurut cerita pewayangan, tak satupun dari bayi yang masuk, mati karena Endut Blegedaba. Yang ada, para bayi tersebut justru ‘digodok’ dengan panasnya lava, suhu kawah yang sangat tinggi dan keadaan api yang membara, membuat mereka semakin sakti dan kuat. Artinya, mesti tak semua, justru penggemblengan dalam keadaan kritis dan mencekiklah, yang dapat melahirkan ‘orang sakti’ macam Gatotkaca di dunia pewayangan.

Mendengar cerita ini, kita menjadi teringat dengan pidato Bung Karno. “Tidak ada pemimpin dilahirkan dari kutub utara atau selatan, karena di sana hanya adem ayem tentrem. Akan tetapi, dari bangsa Indonesia ini, Kawah Candradimuka ini, bisa melahirkan pemimpin-pemimpin hebat dunia.” Kurang lebih demikianlah pidato Bung Karno di depan rakyat.

Negeri yang berisi banyak gejolak, konflik di sana-sini, permasalahan abadi dan kekalutan yang tak kunjung selesai ini, menurut Bung Karno, justru akan melahirkan orang-orang besar yang terbiasa menghadapi masalah-masalah besar.

Beberapa hari terakhir ini, Pondok Modern Darussalam Gontor sedang dalam masa super sibuknya menghadapi kegiatan Gontor Olympiad. Jika kita berkeliling pada pagi atau sore hari, tak satupun anak yang tampak menganggur. Tiap orang dari mereka bergerak dinamis dalam setiap perlombaan, perjuangan, persaingan hingga terkadang sedikit pertengkaran ringan. Ini semua terlahir dari sikap memperjuangkan kelompok masing-masing, namun masih tetap dalam koridor pendidikan ala Gontor hasil desain para Kiai.

Gontor yakin, bahwa semakin banyak pergolakan dan ruh persaingan yang diciptakan di pondok ini, akan semakin membuat anak-anak berpikir dan berjuang keras. Dalam kondisi tersebut, anak-anak dituntut untuk berpikir dan cepat mengambil keputusan, seperti halnya kriteria yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu mampu mengambil keputusan dengan cepat meski di saat sempit.

K.H. Hasan Abdullah Sahal mengatakan bahwa tidak ada pendidikan yang ahsan (paling benar). Yang ada adalah pendidikan yang ansab (paling sesuai). Dan Gontor Olympiad ini merupakan bagian dari pendidikan yang diyakini ansab dengan visi dan misi Gontor, yakni melahirkan pemimpin-pemimpin perekat umat. Tanpa kegiatan ekstra dan menguras tenaga, anak-anak hanya akan menjadi singa ompong yang tak mampu mengaum.

Wal usdu lau la firoqul ghobi ma iftarosyat. Seekor tak akan menjadi buas jika tak digembleng dengan kehidupan keras di hutan. Sejak lahirnya pun, anak singa sudah diancam akan dimakan oleh ayahnya sendiri. Jadilah kerasnya kehidupan singa sudah dihadapinya sejak lahir. Maka saat dewasa, singa layak disandangkan menjadi raja hutan, karena sudah ‘biasa’ menghadapi rintangan di belantara hutan.

Gontor dan Kawah Candradimuka, meski tak mutlak sama, merupakan dua tempat penggemblengan yang dapat melahirkan pemimpin-pemimpin besar dan ksatria-ksatria pejuang umat. Walaupun kawah tersebut hanya ada dalam dunia pewayangan, namun ini dapat menjadi gambaran bagi orang yang masih asing terhadap pesantren. Bahwa apa yang ada di pesantren, sejatinya adalah pendidikan ‘keras’ untuk melahirkan pemimpin hebat.

Maka Gontor Olympiad dan Endut Blagedaba, sekali lagi, meski tak mutlak, adalah dua variabel yang tak bisa dilepaskan satu sama lain. Gontor Olympiad di pondok, sudah menjadi semacam ajang persaingan yang akan menggembleng siapapun di dalamnya. Seperti halnya Endut Blagedaba yang akan menggodok siapa saja yang ‘berani’ masuk ke Kawah Candradimuka.binhadjid

Telak

Siang kemarin kami belajar banyak dari Kiai kami. Tampaknya, label kebesaran nama pesantren kami banyak membuat kami lalai. Acapkali melihat santri dari pesantren lain, kami merasa ‘lebih’ dari mereka. Entah dari segi kualitas, mental ataupun keilmuan. Apalagi jika melirik ke pesantren-pesantren tradisional, kami selalu saja merasa lebih pandai, lebih modern, atau apalah, yang jelas penyakit ‘merasa lebih’ itu selalu ada.

“Jangan sombong! Merasa lebih itu adalah penyakit iblis. Ana khairun minhu, itu yang diucapkan iblis saat disuruh menyembah Adam.”

Jadi, jika saat ini ada orang mengatakan ‘saya lebih baik’, maka dia telah terjangkit virus iblis, dan harus segera diberikan pertolongan pertama.

Ada tiga pertanyaan yang disodorkan kepada kami siang itu. Tiga pertanyaan yang menyentak kami, menggertak sekaligus membuat kami malu.

“Apakah orang yang hadir di ruangan ini, ada 30 persen yang sudah memahami seluruh isi Qur’an?”

Salah seorang guru senior menjawab, “tidak sampai.”

Kiai menimpali, “jika 20 persen?”

“Belum sampai.”

“Lantas, apa hanya 10 persen?”

“Kira-kira.”

Padahal, hadirin munasabah itu lebih dari 400 orang. Ada yang bertitel doktor, magister, sarjana dan sebagian besar merupakan mahasiswa reguler.

Tak hanya itu, Kiai melanjutkan pertanyaan kedua dan ketiga dengan cara yang sama.

“Apakah orang yang hadir di ruangan ini, ada 30 persen yang sudah khatam membaca bulughul maram?”

Jawaban guru senior tadi pun sama. Kami pun semakin merasa malu.

Pertanyaan ketiga, ““apakah orang yang hadir di ruangan ini, ada 30 persen yang sudah khatam membaca kitab-kitab nahwu semacam alfiyah, ajrumiyah atau kitab lainnya?”

Untuk ketiga kalinya sang guru senior menjawab dengan jawaban yang sama. Kami, terutama mahasiswa yang menjurus ke bahasa Arab, tentunya paling malu.

Lantas, apa yang bisa kita banggakan? Tiga pertanyaan tadi adalah pertanyaan mendasar mencakup keilmuan dasar atau kelebihan yang seharusnya dimiliki oleh seorang santri.

Jika ia belajar di pondok tahfidz, maka seharusnya para santri lebih memahami isi Qur’an. Jika pondok salaf, maka buku-buku Nahwu macam Ajrumiyah atau Alfiyah adalah konsumsi sehari-hari. Juga buku bulughul maram, sahih bukhari atau kitab lainnya, tentunya santri di pondok salaf lebih tahu dan lebih menguasai.

Pantaskah kita disebut seorang santri? Setiap individulah yang berhak menjawabnya. Namun, minimal, dengan tiga pertanyaan tadi, kita menjadi lebih tahu, sampai di mana kadar keilmuan kita.Binhadjid

Liverpool, ‘Musamahah’ dan Jeda Waktu Babak Pertama

Masih ingat dengan Miracle of Istanbul? Kisah perjuangan para punggawa Liverpool yang berhasil menciptakan keajaiban berkat usaha tiada henti Steven Gerrard dan kawan-kawan. Drama 120 menit yang menguras emosi bagi siapa saja yang menyaksikan.

Bagaimana tidak? 45 menit awal AC Milan dengan komando Andriy Sevchenko, berhasil memborbardir pertahanan Liverpool. Alhasil, tiga gol bersarang ke gawang Liverpool tanpa balas.

Trofi Liga Champions kali itu, seakan sudah siap untuk diterbangkan ke San Siro andai skor tersebut bertahan hingga usai.

Namun, malam itu, keajaiban terjadi Istanbul Stadium. Ratusan ribu penonton di lapangan dan jutaan pasang mata menjadi saksi akan kerja keras Steven Gerard dan kawan-kawan. Bahwa pertandingan malam itu belum usai. Dan tiupan peluit panjang, belum terdengar hingga detik itu.

Berkat strategi yang diramu dan perombakan formasi saat istirahat, si Merah berhasil membalikkan keadaan. Ini berkat kecerdasan sang pelatih, Rafael Benitez, yang berhasil membaca kelemahan AC Milan sepanjang pertandingan babak pertama.

Jeda babak pertama memang hanyalah 15 menit, namun waktu sesempit seringkali menjadi nafas, motivasi dan semangat baru. 15 Menit itu menjadi batu loncatan untuk meraih sesuatu yang hampir dianggap mustahil. Dan Liverpool, malam itu berhasil membuktikannya.

Di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ujian Tulis Pertengahan Tahun maupun Akhir Tahun dilaksanakan selama 10 hari. Pada masa itu, para santri berjuang menghadapi soal-soal yang disodorkan di ruang ujian. Dan pada masa itu pula, semuanya kembali kepada kemampuan diri sendiri dan pertolongan Tuhan.

Sepuluh hari tersebut bak sebuah pertandingan sepakbola, di mana kerja keras, kemampuan diri, motivasi dan semangat, menjadi penentu hasil akhir pertandingan. Banyak dari para santri yang melewati 5 hari pertama dengan kegagalan. Mereka merasa tidak mampu banyak menjawab soal-soal yang tertera di lembaran soal. Mereka merasa gagal, seolah baru saja kebobolan banyak gol tanpa perlawanan berarti.

Namun, seperti halnya sebuah pertandingan sepakbola, Gontor memberikan jeda waktu bagi para santrinya. Jeda waktu itu bernama musamahah. Meski hanya satu hari, waktu sesempit itu dirasa sangat cukup untuk memperbaharui niat, menghela nafas, charging power, atur ulang strategi hingga perombakan formasi.

Jikalau para santri dapat memanfaatkan musamahahseperti halnya Rafael Benitez saat 15 menit rehat babak pertama dalam Final Liga Champion 2005 silam, niscaya hari-hari sisa ujian tulis, akan berlangsung seperti halnya Liverpool berhasil menyabet Trofi Liga Champions kali itu.

Rafael Benitez berhasil membaca kelemahan, menganalisa kekuatan, memperhitungkan kemampuan serta berani mengambil resiko kala itu. Maka, para santri juga harus bisa mengetahui kelemahan diri, menganalisa sebab, memperhitungkan sisa waktu dan jumlah materi ujian, serta yang terpenting adalah berani untuk mengambil resiko dengan mengubah teknik, formasi dan strategi menghadapi hari-hari ujian selanjutnya.

Dengan musamahah tersebut, niscaya para santri dapat ‘menghabisi’ lawan-lawannya pada ujian kemudian hari.binhadjid

Kenali Diri Anda!

Ada beberapa hal unik yang sering kita temukan dalam kehidupan ini. Dalam suatu kesempatan, saya diminta oleh seorang senior untuk menyebutkan kelebihan dari seseorang yang kebetulan saat itu adalah sahabat karib saya.

Tanpa ragu, saya sebutkan semua kelebihan, kepandaian dan kehebatan dia daripada teman-teman yang lainnya. Tentang kemampuannya dalam olahraga, kepandaiannya di kelas, hingga mendapatkan ranking. Serta kehebatan-kehebatan lainnya. Semua saya sebutkan tanpa terlewat satupun, seakan saya sudah menghafal sebelumnya.

Setelah itu, sang seniorpun meminta saya untuk menyebutkan kelebihan diri saya sendiri. Betapa diri ini bingung. Entah harus menjawab apa? Seakan lidah ini kelu saat akan berbicara? Bukan takut, tapi karena memang tak tahu harus menjawab apa? Berarti, diri ini lebih mengenal orang lain, daripada diri sendiri.

Hal ini merupakan hal super unik. Saya yakin, dan anda pasti sepakat, bahwa kita lebih sering mengenal orang lain, daripada mengenal diri sendiri. Kita tak tahu siapa diri kita? Dari mana kita? Apa kelebihan kita? Dan untuk apa kita dilahirkan? Karena tak tahu siapa kita, maka kita hidup seperti halnya air mengalir. Mengikuti arus yang diatur oleh lekukan tanah, bukan membuat aliran sendiri. Jika hanya demikian, maka untuk apa kita hidup, dibekali dengan kelebihan-kelebihan yang kita sendiri tak tahu.

Maka, sudah saatnya kita berinstropeksi diri. Mulai dari pertanyaan, saya ini siapa? Berawal dari sana, kita akan mulai bertanya banyak hal. Dan sedikit demi sedikit, akan mulai mengetahui, apa kelebihan dari diri kita? Apakah ada suatu hal, yang bisa saya lakukan, sedangkan orang lain tidak? Kelebihan itu pasti ada, karena memang kita diciptakan dengan desain yang berbeda-beda, meskipun kita berasal dari satu desainer.

Seperti satu pepatah arab yang pernah saya dengar, “Barang siapa yang mengenal dirinya sendiri, maka ia akan mengenal Tuhannya.”binhadjid