9 Syawwal

Dua tahun lalu, saya mengikat janji dengan seorang perempuan, Hasna Nur Faza. Tulisan ini saya persembahkan dalam rangka memperingati 2 tahun pernikahan kami, 9 Syawwal 1439-9 Syawwal 1441.

Sore itu, saya bersama keluarga berangkat dari Jogja menuju Sukoharjo. Setiap keluarga menggunakan mobilnya masing-masing. Niatan awal ingin berangkat beriringan, namun karena padatnya jalan, kami berpencar dan langsung bertemu di Sukoharjo.

Sebelum acara akad nikah pada malam harinya, keluarga kami transit dan beristirahat di Gubuk Jannati, sebuah penginapan di dekat alun-alun kota Sukoharjo.

Konon, mendengar cerita para senior, saat-saat menjelang akad nikah adalah hal yang tak terlupakan. Perasaan bercampur aduk. Dari bayangan filosofis, hingga pikiran teknis mewarnai. Jantung berdegup kencang, sembari lafadz dzikir terus menemani. Agar akad malam ini berjalan lancar.

Iya, sederhana saja. Semoga berjalan lancar. Karena saya sendiri mendengar banyak cerita, banyak akad nikah yang pelafalannya kurang tepat, sehingga perlu diulang beberapa kali. Maka harapan saya kala itu, semoga tiap kalimat yang sudah saya persiapkan, mengalir tanpa ada halangan. Terucap tanpa ada sekat, semoga. Terlebih lagi,ada sebuah nasihat, jika lafal akad terucap terbata, maka ada niatan yang tak tulus untuk menjalani hidup rumah tangga. Tentunya hal tersebut benar-benar saya hindari.

Saat beberapa kali konsultasi, saya diingatkan agar nanti saat akad harus mempersiapkan diri dengan matang. Termasuk permintaan mertua, yaitu sekaligus menjadi qari’ Qur’an dan menyampaikan kalimat ‘pamit’ kepada kedua pihak orang tua usai akad nikah.

Jadilah momen akad nikah malam ini lebih kompleks dari yang dibayangkan. Maka tak ayal, persiapan yang saya lakukan memang cukup panjang.

Malam itu, keluarga kami berkumpul sejenak untuk menyamakan persepsi dan doa bersama. Bersama kami mengenakan pakaian serba putih, sesuai konsep acara akad nikah malam itu. Usai doa, bersama kami berangkat menuju Masjid Al-Huda, masjid kelurahan yang posisinya pas depan rumah Hasna.

Di perjalanan saya kembali mengulang lafal akad berkali-kali, sehingga hampir hafal luar kepala. Karena akad nikah ini ada momen sakral, bukan seperti amaliyah tadris yang dulu saya lakukan saat masih santri. Akad nikah adalah janji suci, pernyataan fundamental, dan ikatan tanggung jawab. Konsekuensinya dunia dan akhirat.

Sesampai di masjid, saya dan keluarga segera menuju ke tempat yang telah disediakan. Suasana cukup ramai. Semua berbaju serba putih. Kebanyakan adalah kerabat keluarga mertua. Ada beberapa kawan saya hadir, hendak menyapa, namun urung karena mungkin melihat saya sedang konsentrasi menjelang akad.

Acara diawali dengan pembacaan ayat Quran. Dengan bacaan murattal, saya membaca tiap ayatnya perlahan hingga usai. Setelah beberapa prosesi, akhirnya momen itu tiba.

“Ahmad Zaki Annafiri, saya nikahkan…..” Mertua saya memulai prosesi. Tak lupa saat nama saya disebut, saya mengucapkan, “iya, saya.”

Setelah mertua saya menyesaikan bagiannya, giliran saya untuk berjanji. “Saya terima nikahnya Hasna Nur Faza binti Suwignyo dengan mahar tersebut dibayar tunai!” Kedua saksi menyatakan sah, dan dilanjutkan dengan doa.

Saya masih hafal betul lafal itu. Dan akan selalu saya ingat hingga kapanpun. Ada kawan mengatakan, baiknya dengan bahasa Arab, agar kita saat mengucapkan janji, lebih mudah dan ringkas. Namun terkadang, hal tersebut justru mempersulit mertua kita saat menyebutkan mahar, apalagi jika mertua kita tidak fasih berbahasa arab. Untuk akad saya, sejak awal memang sudah dikehendaki oleh mertua untuk berbahasa Indonesia. Agar para saksi juga betul-betul memahami apa yang disaksikannya.

Usai akad, dilanjutkan dengan doa, dan seterusnya. Hingga perfotoan, yang cukup meriuhkan seisi ruangan. Juga saya. Karena itu momen pertama kali saya menyentuh istri saya, juga mencium keningnya. Para hadiri ramai, sebagian ada yang mengenang masanya dulu saat menikah, sebagian ada yang membayangkan masanya nanti saat ia menikah.

Dan di akhir, mertua saya memberi wejangan pernikahan. Dilanjutkan dengan kalimat ‘pamit’ dari saya. Agar terkonsep dan tidak melebar, saya membaca teks yang sudah saya siapkan. Intinya, saya memohon izin kepada kedua pihak orang tua, untuk mengarungi bahtera rumah tangga.

Usai seluruh prosesi akad, saya berjalan ke rumah bersanding dengan Hasna, sembari bergandengan tangan, berlari, dan tertawa… eh maaf, itu akadnya Payung Teduh. Sesampai di rumah, masih ada prosesi pengajian pernikahan. Sekitar satu jam acara itu berjalan, berisikan nasihat membina rumah tangga dan lain sebagainya. Dilanjutkan dengan perfotoan dan jamuan makan.

9 Syawwal, setiap tahunnya selalu menjadi kenangan indah. Kenangan sekaligus refleksi atas kesyukuran hadirnya Hasna, dan tahun ini, ditambah buat hati Nadwa. Refleksi perjalanan rumah tangga kami, suka dan dukanya, problem dan solusinya, untuk menambah bekal perjalanan rumah tangga ke depannya.

Meski sudah dua tahun menikah, doa agar sakinah mawaddah wa rahmah selalu saya panjatkan. Agar ia terus ada, dan terus menaungi rumah tangga kami hingga akhir hayat.

Melati Suci Kiai Syamsul Hadi Abdan

Air mukanya kedamaian

Bermekaran melati suci

Pusaran kezuhudan kesajahaan

Menuju kekekalan abadi

Selamat jalan, guru kami

Kiai Syamsul Hadi Abdan

Hari ini, 18 Mei 2020, Gontor berduka. Pimpinan kami, Kiai kami, Kiai Syamsul Hadi Abdan, kembali ke haribaan-Nya.

Setiap dari kita; santri, guru, alumni, keluarga, dan siapapun yang merasa dirinya Gontory, benar-benar merasa kehilangan. Pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, di tengah ujian pandemi, beliau meninggalkan kita semua.

Setiap dari kita memiliki kenangan tersendiri terhadap beliau. Khususnya kita sebagai santri, karena Kiai Syamsul adalah guru kita semua. Kesederhanaan, keikhlasan, dan kezuhudannya tak pernah hilang hingga akhir hayatnya.  

Kiai Syamsul menjadi Pimpinan Pondok Gontor sejak 2006, saat saya duduk di bangku kelas 2 KMI, menggantikan Kiai Imam Badri. Kiai Syamsul melepaskan amanah sebelumnya, Direktur KMI, untuk diserahkan kepada Ustadz Ali Syarqowi. Saat itu, tak banyak hal yang saya ingat.

Saat menjadi Sekretaris Pimpinan pada 2012-2017, saya menjadi saksi perjuangan Kiai Syamsul dalam memimpin Gontor yang kala itu, Pimpinan yang aktif, hanya beliau bersama Kiai Hasan. Selepas Kiai Syukri harus menjalani berbagai perawatan dan pemulihan kesehatan.

Kiai Syamsul adalah sosok bersahaja, santun, dan penyayang. Rasa-rasanya, saya belum mendengar cerita bahwa beliau pernah marah terhadap guru ataupun santri. Tidak marah bukan berarti tidak tegas. Kiai Syukri pernah berkelakar, diamnya Kiai Syamsul itu ya marahnya beliau.

Pada berbagai kesempatan, Kiai Syamsul seringkali mengisi pidato dengan bercerita tentang sejarah Pondok. Cerita yang tak ditemukan di berbagai buku-buku sejarah Gontor. Cerita tentang asal muasal Masjid Atiq, Ustadz Imam Badri yang sering meletakkan sepeda di bawah pohon depan Kantor Pimpinan agar kehadirannya ‘dianggap ada’ oleh Kiai Imam Zarkasyi, cerita asal muasal adanya fathul kutub, bagaimana guru zaman dulu menulis i’dad, bagaimana panitia ujian zaman dulu menulis rapor KMI, dan masih banyak cerita yang lain yang membuat saya merasa berhutang untuk tidak menuangkannya dalam sebuah buku.

Ramadhan tahun 2013 kalau tidak salah, pernah saya menghadap ke Kiai Syamsul untuk melaporkan suatu hal. Karena di Kantor Pimpinan tidak ada, saya menuju ke rumah beliau di Mambil. Saat itu rumah tampak lengang. Sempat saya urungkan niat untuk menemui beliau. Namun, saat itu ada sosok orang tua dengan kaos oblong dan celana santai sedang menyusun gabah untuk dikeringkan di samping rumah beliau. Posisinya membelakangi saya. Saya terbersit untuk menanyakan keberadaan Kiai Syamsul. Tak dinyana, sosok tua itu adalah Kiai Syamsul. Dalam perjalanan pulang menuju kantor, saya masih tidak habis pikir, bagaimana Gontor dengan 25 ribu santri, ratusan gedung megah, ribuan hektar tanah, dan aset miliyaran, pimpinannya mengeringkan gabah di depan mata saya. Tentunya, selain karena tidak ada sepeser pun uang pondok masuk ke kantong beliau, saya yakin, bahwa itu merupakan wujud nyata kisah kezuhudan dan kesederhanaan dari seorang Kiai Syamsul.

Pembawaan Kiai Syamsul yang jarang bergurau, menurut saya, menjadi paduan ideal untuk memimpin Gontor bersama dengan Kiai Hasan -yang kita semua tahu sifat beliau sangat humoris-, dan Kiai Syukri dengan ketegasan serta idealisme beliau. Meski memiliki belasan kampus, Gontor masih tetap dipimpin oleh 3 pimpinan yang usianya ketiganya sudah di atas 60 tahun. Yang mana, seharusnya orang seusia itu, harusnya sudah pensiun dan tidak lagi memikirkan hal-hal yang dianggap memberatkan. Setiap hari, beliau bertiga harus memikirkan perputaran uang milyaran, kebijakan pembelian tanah, permasalahan santri dan guru, hubungan dengan masyarakat, dan lain sebagainya.  Apalagi kalau bukan barakah tiada henti serta doa para santri yang menguatkan beliau bertiga.

Dan masih banyak kenangan lainnya yang tak dapat saya tuangkan dalam tulisan ini.

Setelah tiga trimurti pendiri Gontor, kemudian Kiai Shoiman dan Kiai Imam Badri, Kiai Syamsul menjadi Pimpinan Pondok Gontor selanjutnya yang dipanggil oleh Allah SWT. Semoga Kiai Hasan Abdullah Sahal dan Kiai Abdullah Syukri Zarkasyi dikaruniai kesehatan dan kekuatan dalam mengemban amanah umat ini.

Selamat jalan Kiai Syamsul, husnul khatimah dan syahid, in sya Allah.