Tesis dan Cinta (Bag. 2)

Sekembali saya dari Malaysia, September 2020, bukan berarti ‘urusan’ dengan tesis selesai. Saya masih ada PR membantu istri saya dalam proses pengerjaan tesisnya.

Prosesnya kali ini agak sedikit rumit, di mana istri saya sedang mengasuh anak berusia 1,5 tahun, masa aktif-aktifnya. Kemudian, semester perkuliahan istri saya yang kala itu sudah cukup ‘tua’, mengharuskan proses harus segera disudahi, maksimal di bulan Ramadhan 2021 ini.

Seingat saya, Desember 2020, untuk kembali memunculkan motivasi, saya mengajak istri dan anak melakukan konsultasi offline ke kampus di Ponorogo. Mengapa offline? Padahal online pun bisa. Karena konsultasi offline jauh lebih memacu motivasi. Sekaligus kembali me-refresh pikiran dan bernostalgia melihat kampus yang dulu membesarkan kami.

Sekembali dari Ponorogo, kami mendapat banyak ‘bekal’ untuk melanjutkan tesis. Meskipun, sebulan berlalu, tesis kembali terbengkalai, karena berbagai kesibukan. Awal Februari, bab 1-3 selesai, segera dikirimkan via email ke dosen pembimbing. Sempat melalui beberapa revisi, akhirnya ketiga bab tersebut rampung.

Saat penelitian akan dimulai, ujian kembali datang. Tempat penelitian yang baru akan didatangi, terkena klaster covid besar-besaran. Sehingga kami tidak diizinkan meneliti. Tanpa perlu galau terlalu lama, kami segera mengajukan untuk memindah tempat penelitian, dosen pun mengizinkan, mengingat waktu kami yang tidak banyak lagi. Tempat penelitian yang baru ini jaraknya cukup jauh dari rumah, perlu pengaturan waktu yang baik, karena masih harus bekerja dan mengasuh anak.

Akhir Maret, di saat proses penelitian berjalan, Dosen Kaprodi tiba-tiba memasukkan istri saya ke sebuah grup whatsapp bernama ‘Wisuda Syawwal’. Sepintas hanya grup untuk koordinasi saja, namun tetiba Dosen membagikan jadwal sidang tesis yang mana istri saya terjadwal sidang tanggal 8 April 2021.

Sontak istri saya kaget bercampung bingung. Mulai muncul lagi keputusasaan masa lalu, keinginan untuk menyudahi, dan mencukupkan proses ini. Namun saya mencoba untuk memotivasi istri saya, sekaligus memotivasi diri saya sendiri. Karena saya pun mulai putus asa juga. Setelah merenungi, mempertimbangkan, dan mengatur waktu, kami mantap melanjutkan. Justru ini menjadi momentum untuk menyelesaikan. Karena untuk menyelesaikan sebuah masalah, terkadang kita harus mengatakan “ya” terlebih dahulu, baru memikirkan cara menyelesaikannya.

Saat itu bab 1-5 dalam bahasa Indonesia sudah disetujui, kemudian segera kami terjemahkan. Karena waktu super mepet, saya meminta tolong pada beberapa kawan dan keluarga yang memiliki kapabilitas penerjemahan dan mampu menyelesaikan dalam waktu singkat.

Qadarallah, semua berjalan sesuai rencana, dan kami pun berangkat ke Ponorogo untuk menjalani sidang. Tepat pada Ahad, 11 April 2021, istri saya dinyatakan lulus dalam sidang tesis. Banyak kawan dan keluarga cukup kaget dengan hal ini, sebagian mengira bahwa menyelesaikan tesis dalam kondisi tersebut dianggap sulit.

Tidak hanya istri saya yang mampu menyelesaikan tesis dalam kondisi sulit seperti ini. Saya yakin, semua dari kita berjuang dengan cara kita masing-masing. Apapun itu hasilnya, semua adalah ketentuan Allah SWT yang harus kita syukuri.

Tesis dan Cinta (Bag. 1)

Menyelesaikan tesis, bagi sebagian orang memang mudah, namun sebagian lain merasa kesulitan. Terutama dengan keterbatasan kondisi dalam prosesnya, seperti kurangnya data, akses perpustakaan sulit, keterbatasan dana penelitian, hingga keterbatasan non-riset, seperti halnya mahasiswi yang mengerjakan tesis sembari mengasuh anak ataupun dalam kondisi hamil, atau seperti halnya mahasiswa yang ‘nyambi’ bekerja di tengah mengerjakan tesis.

Tulisan ini saya fokuskan ke tesis, agar berimbang. Karena skripsi, bagi mahasiswa doktoral tergolong mudah, dan desertasi, bagi mahasiswa sarjana, terlihat rumit.

Tepatnya 28 Februari 2020, saya melakukan penelitian untuk tesis saya di sebuah Pondok Pesantren di Jawa Timur. Selama 5 hari saya tinggal di dalam komplek pondok, karena memang data yang perlu dikumpulkan cukup kompleks. Saat data dirasa cukup, saya berniat kembali ke Malaysia agar segera memulai olah data dan analisis. Dalam posisi sudah berkeluarga, meninggalkan istri dan anak di Jogja bukan satu hal yang mudah.

16 Maret 2020 saya terbang ke Malaysia. Sempat diperingatkan oleh orangtua, karena kondisi Covid yang semakin berkembang. Namun tekad saya untuk segera menyelesaikan tesis terlampau kuat, akhirnya saya berangkat. Tepat setelah saya landing di Kuala Lumpur International Airport, ada informasi bahwa Malaysia memberlakukan lockdown total sejak 18 Maret. Saya merasa beruntung, bisa masuk ke Malaysia sebelum ditutup, di samping merasa sedih, karena tidak bisa leluasa berkonsultasi kepada dosen pembimbing.

Lockdown berlarut-larut berlangsung di Malaysia. Dari dua pekan, menjadi empat pekan, berlanjut berbulan-bulan. Meski akhirnya dilonggarkan. Pada rentang bulan Maret, April, Mei, dan Juni, saya mencoba untuk menganalisis data ‘semampunya’. Karena ada beberapa kebutuhan yang tidak bisa mudah didapatkan di masa lockdown.

Hal yang terberat, adalah memacu motivasi. Bagaimana tidak, lockdown di kampus saya, tidak diperkenankan melakukan aktivitas apapun, selain tinggal di dalam kamar, ke kantin mengambil jatah makan, serta ke minimarket dalam kampus untuk membeli kebutuhan. Itu saja. Tidak diperkenankan olahraga, berjalan-jalan, dan aktivitas non-esensial lainnya.

Sepintas, jika dilogikakan, justru ini saat tepat untuk mengurung diri menyelesaikan tesis. Namun, tidak semudah itu, ferguso! Kalau tidak karena pertanyaan dari istri di setiap waktu, “Bagaimana perkembangan tesis?”, “Kurang data apa?”, “Sudah konsultasi belum?”, dan pertanyaan-pertanyaan yang seakan ‘meneror’setiap harinya, tesis saya tidak akan selesai. Mental dan motivasi di saat ini benar-benar diuji. Benar saja, beberapa kawan lain, justru tidak bisa menyelesaikan tugas-tugasnya, sebagian besar justru terlena dengan game, film, dan hal-hal lain non-akademis.

Akhir Juli, saya memberanikan diri menyerahkan tesis bab 1-5 kepada dosen. Dengan beberapa revisi, dosen menyarankan untuk langsung diujikan. Setelah melalui beberapa proses, seperti proofread, turn it in check, dan menyerahkan berkas-berkas yang cukup banyak, Tesis saya diuji di bulan September.

Saat Tesis sudah diserahkan, 2 September 2020, saya kembali ke Indonesia melalui Bandara Soekarno Hatta. Saat itu belum ada karantina wajib bagi pendatang, jadi saya bisa langsung menuju Jogja.

Akhir Januari 2021, ijazah S2 saya sudah bisa diambil. Sekedar informasi, istilah ijazah di kampus saya bukan menggunakan terjemahan ‘certificate’, namun menggunakan istilah ‘scroll’. Mungkin merujuk pada kertas ‘gulungan’ yang biasa diserahkan saat wisuda.

Bagi anda yang sedang berproses dengan tesis, ingatlah pesan Prof Hamid, “Sebaik-baik tesis, adalah tesis yang jadi”, dan “Sebaik-baik tesis yang jadi, adalah yang dijadikan buku.” Jika poin kedua dirasa sulit, setidaknya lakukan poin pertama dahulu. Itupun sudah cukup menguras ‘segalanya’.

Selamat berkorban, para pejuang tesis!

Mengapa Ter(di)lupakan?(Review Buku)

Judul: Buku Perjuangan Yang Dilupakan

Penulis: Rizki Lesus

Rasanya tak adil menyingkirkan peran umat Islam dalam sejarah panjang perjalanan kemerdekaan Indonesia. Tak hanya pra kemerdekaan, namun juga pasca kemerdekaan. Karena memproklamirkan kemerdekaan itu adalah awal, mempertahankan serta mendapat pengakuan internasional adalah proses lanjutan yang juga tak mudah. Dan di balik itu, ada jasa para ulama tokoh nasional.

Mari bersikap objektif pada sejarah. Perubahan kata “Mukaddimah” menjadi “Pembukaan”; Kalimat “Berdasarkan kepada Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” diganti menjadi “Berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa”; Pasal 6 ayat (1) pada kalimat “Presiden ialah orang Indonesia dan beragama Islam”, kata-kata ‘dan beragama Islam’ dicoret.

Kita sedang tidak berbicara tentang kebhinekaan yang seharusnya dijaga, bahwa yang hidup di Indonesia tak hanya umat Islam, bahwa kebebasan beragama harus dijamin, dan pola-pola pikir lainnya yang sebenarnya hanya sikap tak suka pada umat Islam yang berperan besar. Namun coba bayangkan betapa kebesaran hati para ulama yang saat itu mengikuti sidang. Para ulama pejuang bersama santrinya berperang mempertahankan kemerdekaan, termasuk di dalamnya fatwa Jihad Kiai Hasyim Asy’ari.  Begitu juga dengan pekikan “Allahu Akbar” oleh Bung Tomo saat membakar semangat juang di Surabaya pada 10 November.

Selain itu, pada awal Desember 1946, perlu diingat bahwasanya Liga Arab mengambil keputusan untuk merekomendasikan negara-negaranya mengakui kedaulatan Negara Indonesia. Keputusan ini dimuat dalam Harian Akhbar Al-Yaum berjudul Al-Jaami’ah al-‘Arabiyyah wa Indonesia (Liga Arab dan Indonesia). Pengakuan ini membuat Belanda dan negara-negara barat dongkol. Hingga akhirnya Sekjen Liga Arab, Azzam Pasya, yang saat itu ingin mengunjungi Indonesia, tidak diberikan visa untuk melalui wilayah yang dikuasai Inggris dan Belanda dalam proses menuju tanah Indonesia.

Hingga beberapa kisah unik para ulama diplomat Indonesia lainnya yang patut kita ingat kembali peran dalam mendapat pengakuan internasional. Buku ini mengingatkan kita akan peran umat Islam yang sangat vital dalam meraih kemerdekaan, mempertahankannya, dan mendapatkan pengakuan dari dunia internasional.

Dengan diksi yang tepat, bumbu fakta yang valid, serta argumen yang tajam, Rizki Lesus berhasil menyegarkan ingatan kita akan peran umat Islam dalam proses kemerdekaan Indonesia yang kini perlahan mulai ter(di)lupakan. Buku ini layak menjadi salah satu referensi sejarah Indonesia.

Selamat Menikah, Ardhika dan Murti!

Selamat buat Ardhika dan Murti. Selamat berlayar dengan bahtera rumah tangga menuju pulau impian. Kadang layar tak sesuai dengan arah angin, badai datang tak diduga, rayap melapukkan kayu, namun itu semua dapat diatasi dengan kesepahaman kapten dan awak kapal. Semoga sampai dengan selamat!

Ardhika ini yang membuat saya menginjakkan kaki ke negeri Jiran. Dia mengajak saya untuk melanjutkan studi di Malaysia. Dengan gaya khasnya yang ‘agak memaksa’, saya tertarik untuk masuk ke IIUM, satu kampus dengannya. Tak hanya mengajak, Ardhika juga mengarahkan, menjemput, dan ‘mengajari’ detail bagaimana hidup di tanah Malaysia. Dari cara menyambungkan koneksi wifi kampus, sampai cara pesan jus semangka tanpa gula di kantin Ali. Ngomong-ngomong, terima kasih ya, Ardhika!

Pernah suatu kali melakukan perjalanan menuju Kedah. Yang kala itu bertujuan mengantar salah satu kawan kami, Badruttamam, yang akan mengajar di sebuah pondok di Kedah. Dengan gayanya, Ardhika berseloroh kepada saya yang menjadi sopir malam itu, “gak usah buka maps, ikutin tol ini saja, pasti sampai!” Dan akhirnya, kami tersesat. Perjalanan 5 jam, menjadi 12 jam. Yang seharusnya perjalanan 300 km, menjadi 700 km.

Pernah suatu kali ‘bekerja’ mencari tambahan sangu sebagai tour guide jamaah umroh berkeliling Malaysia. Saya bertugas dengan Ardhika. Alih-alih menjadi tour guide, saya malah menjadi petugas medis, karena hampir separuh jamaah sakit. Akhirnya saya stand by di hotel, mengantar para jamaah bergantian ke klinik samping hotel. Dan Ardhika sibuk membawa dua rombongan bus berkeliling Kuala Lumpur. Saat mereka sudah kembali ke Indonesia, qodarallah salah satu jamaah harus rawat lanjutan di Hospital Serdang, hingga menghembuskan nafas terakhir.

Beberapa kali sibuk mengurus kedatangan mahasiswa Unida yang datang studi pengayaan ke Malaysia. Dari yang dimudahkan dalam segala urusan, sampai yang bermasalah. Salah satunya, ada anak yang kehilangan paspor. Sampai yang bersangkutan dilarang terbang oleh imigrasi. Saya dan Ardhika harus ‘ngopeni’ anak ini. Selama beberapa hari, kami kawal kepengurusan ke KBRI, kantor imigrasi Sri Rampai, hingga Putrajaya. Agar tidak stress, sempat kami ajak jalan-jalan ke Penang, kebetulan bersamaan dengan tour Ikpm Malaysia. Meski akhirnya, saat setelah semua urusan surat keterangan selesai, hari terakhir anak tersebut di Malaysia, paspornya ditemukan.

Dan masih ada beberapa cerita konyol selama di Malaysia, yang saya kira terlalu panjang untuk dikupas di sini. Alasan sebenarnya bukan itu, namun karena saya masih punya malu untuk menceritakan di sini. Mari tertawa sejenak, haha!

Apapun itu, kemarin Sabtu, Ardhika sudah menikah. Di lingkaran pertemanan kami, Ardhika mendapat giliran terakhir untuk berakad. Selamat!

Yuk Kuliah di IIUM!

Ini adalah bagian pertama dari sekian tulisan yang akan saya tulis. Bisa jadi ada belasan atau puluhan bagian, atau bisa jadi juga di bawah sepuluh tulisan. Ya, kita lihat saja nanti.

IIUM memiliki kepanjangan International Islamic University of Malaysia. Sejarahnya bisa dicari sendiri di internet. Singkatnya, ia adalah bagian dari perwujudan cita-cita Organisasi Konferensi Islam (OKI) dalam mengembangkan keilmuan Islam. Itulah mengapa ada kampus di Islamabad, Pakistan, yang namanya mirip. Awalnya, OKI masih memegang penuh manajemen. Namun pada perkembangannya, diserahkan pada pemerintah Malaysia.

Saya pribadi memilih IIUM sebagai tempat berlabuh karena beberapa pertimbangan. Salah satunya, jurusan saya Pendidikan Bahasa Arab, IIUM menyediakan jurusan linear tersebut tepat di bawah Fakultas Pendidikan. Artinya, sesuai dengan rencana saya. Sempat saya hampir masuk ke Kajian Timur Tengah di UGM, namun setelah berdiskusi dengan beberapa alumninya, saya mengurungkan niat. Juga ada ajakan untuk masuk di UIN Malang -yang terkenal dengan PBA-nya juga-, namun saya pribadi belum tertarik.

Ada tantangan tersendiri bagi saya untuk melanjutkan studi master di luar negeri, meski jarak dan budayanya tidak jauh-jauh amat dari Indonesia.

Ada beberapa kawan tidak tertarik melanjutkan kuliah di Malaysia, alasan utamanya adalah biaya. Saya katakan, keputusan tersebut adalah tepat, namun juga tidak tepat. Tergantung dari sudut pandang mana kita melihat.

Guyonan seorang kawan, mahasiswa Indonesia di Malaysia itu dibagi tiga; mahasiswa pintar alias berprestasi hingga mendapatkan beasiswa, mahasiswa anak sultan, dan mahasiswa nekat. Sayangnya, kategori ketiga, sepertinya adalah presentase terbesar, meski belum ada -atau saya tidak tahu- riset terkait hal ini. (bersambung)

Covid dan Soekarno-Hatta

Beberapa hari lalu, saya kembali dari Malaysia. Kepulangan ke Jogja kali ini terasa istimewa, karena menyandang istilah “back for good”. Ada yang mengatakan dengan “boyongan” atau “balik terus” dll. Apapun itu, sederhananya, saya tidak perlu lagi kembali ke Malaysia untuk studi, karena sisa prosesnya bisa diurus dari rumah.

Di masa pandemi, perjalanan lintas negara menjadi sebuah challenge. Di awal pandemi kemarin, beberapa kawan sampai harus memesan tiket melalui agen travel yang memesan sebuah pesawat sewa. Tentunya dengan biaya yang tidak sedikit. Namun berangsur covid-19 mereda di Malaysia, maskapai-maskapai mula membuka penerbangannya. Termasuk Air Asia, Malindo, Garuda, dan Malaysia Airlines.

Di akhir bulan Agustus, saya memesan tiket Kuala Lumpur langsung ke Jogja dengan harga 239 RM (800 ribu rupiah) untuk tanggal 5 September, sangat murah untuk harga masa pandemi. Cukup aneh, di masa pandemi, saat maskapai gak mau rugi, ini justru menjual murah. Tak dinyana, ternyata penerbangan saya diubah ke tanggal 10 September. Saya pun mencari maskapai lain yang lebih ‘pasti’, karena beberapa kawan sudah mengalami perubahan jadwal Air Asia mendadak, bahkan di H-1.

Tanggal 2 September saya terbang menggunakan Malindo dari Kuala Lumpur ke Jakarta dengan harga 299 RM (1 juta rupiah), masih tergolong murah juga. Sebelum penerbangan, saya menjalani tes covid dengan metode PCR di rumah sakit Malaysia dengan harga 300 RM (1 juta rupiah). Memang cukup mahal, namun di sinilah proses penting yang ingin saya ceritakan.

Saat landing di Jakarta, seluruh penumpang langsung diarahkan untuk mengisi beberapa formulir. Sejak awal membagikan formulir, petugas langsung membedakan mana penumpang yang memiliki hasil tes PCR, dan mana yang tidak. Karena formulir yang diisi memang berbeda. Saya sarankan, anda wajib membawa pulpen saat proses tersebut. Saat itu saya tidak membawa, akhirnya kebingungan mencari ke sana kemari, beruntung ada orang baik yang mau meminjamkan.

Setelah mengisi formulir, penumpang diarahkan untuk tes suhu tubuh dan tekanan darah. Hasil tes tersebut, bersama surat hasil tes PCR, kemudian disahkan oleh petugas kesehatan yang lebih senior, juga diperiksa detailnya, benarkah surat ini menandakan sang penumpang sehat, dll. Setelah melewati imigrasi dan mengambil bagasi, para penumpang diperiksa oleh tentara yang berjaga, tujuannya adalah untuk memisahkan mana penumpang yang harus karantina di wisma atlet atau di hotel, dan mana penumpang yang boleh melanjutkan perjalanan. Perlu saya sampaikan, personel militer cukup banyak di bandara, rasa-rasanya kita sedang dalam kondisi perang.

Boleh saya sarankan, bagi anda yang akan masuk Indonesia melalui Soekarno-Hatta, hasil tes PCR adalah hal yang sangat penting. Kecuali memang anda merencanakan untuk dikarantina, tidak masalah. Karena saya dengar, karantina di wisma atlet tidak dipungut biaya sepeser pun, lumayan, liburan gratis. Namun bisa berbeda jika anda mendarat di Surabaya, Yogyakarta, ataupun Medan. Saya belum tahu bagaimana kondisi tempat-tempat tersebut.

Saya melanjutkan perjalanan dengan menaiki kereta Taksaka dari Stasiun Gambir ke Yogyakarta. Untuk menaiki kereta, syaratnya lebih sederhana, cukup rapid test atau surat keterangan sehat. Malahan saat saya menunjukkan hasil tes PCR, petugasnya terlihat bingung, sampai harus menanyakan ke petugas yang lebih senior. Padahal tes PCR ini yang paling valid dan mahal.

Selain hal-hal di atas, kondisi dalam pesawat dan kereta sama saja. Tidak ada social distancing, para penumpang duduk sesuai pesanan kursinya masing-masing. Ada yang sendiri, ada yang berdampingan.

Semoga pandemi segera berakhir, sehingga segala sesuatunya bisa kembali normal. Meski ada yang mengatakan inilah new normal, namun sejujurnya kita mengingkan kenormalan yang sebelum ini.

Pakde Muchlis dan Persemar

Desember 2017 lalu, saya berkesempatan mengunjungi rumah Pakde Muchlis dan Bude Tutik di Tebet, Jakarta Selatan. Kunjungan kala itu sekaligus dalam rangka pembuatan SIM Internasional di Korlantas Polri, yang kebetulan lokasinya berdekatan dengan rumah Pakde.

Selain saya sendiri, Pakde adalah satu-satunya alumni Gontor dalam keluarga Bani Haiban dan Bani Cokrosunaryo. Dan semenjak saya di Gontor, belum sekalipun saya ngobrol santai dengan Pakde tentang Gontor. Hingga akhirnya, momen itu datang.

Kala itu, Pakde sedang bersantai di ruang tamu. Kami duduk membersamai. Seksama mendengar kisah itu.

“Dulu Pakde ini salah satu santri yang diusir saat persemar.”

Aku menelan ludah. Wah, berarti Pakde saya sendiri adalah salah satu saksi sejarah peristiwa 19 Maret 1967. Sejarah yang sangat penting bagi Gontor. Saking pentingnya, Gontor memperingatinya tiap tahun. Lebih penting dari tanggal berdirinya, karena Gontor tidak pernah memperingati miladnya tiap tahun, hanya pada momen-momen tertentu saja.

“Beberapa bulan setelah peristiwa itu terjadi, sebagian siswa yang dianggap tidak terlibat, dipanggil. Pakde termasuk yang dipanggil. Saat itu Pakde sudah tidak begitu minat untuk kembali. Hanya saja karena dorongan orang tua, Pakde kembali ke Gontor.”

Sampai di situ, saya belum begitu tertarik dengan cerita Pakde. Sudah banyak cerita tentang hal itu dari para senior di Gontor. Ternyata, drama dari kisah itu baru saja dimulai.

Pakde berkisah, saat sampai di Gontor, Pakde bertemu seorang kawan di dekat rumah Pak Zar. Kawan itu berkelakar, “Muchlis, mendingan ente gak usah balik lagi ke Gontor. Nanti ente harus mengikuti disiplin ketat, diawasi penuh sama Pengasuhan, kalau melanggar sedikit saja, langsung diusir.”

Menurut Pakde, setelah Gontor mengusir seluruh santrinya, disiplin kala itu diperketat. Segala hal yang menunjukkan tindak tanduk perlawanan, langsung diusir. Memang sulit bagi Gontor, namun mungkin saja ini menjadi titik balik Gontor untuk mendisiplinkan santrinya, hingga hari ini. Bisa jadi, sebelum adanya Persemar, disiplin di Gontor tidak terlalu ketat.

“Saat itu Pakde ragu, apalagi ada info seperti itu dari kawan. Namun setelah berkonsultasi dengan beberapa asatidz, saya lanjut. Setelah datang ke Pengasuhan, saya harus melewati semacam wawancara oleh Pengasuhan Santri. Karena, beberapa saat sebelum peristiwa terjadi, saya memimpin baris-berbaris siswa kelas 5 Konsulat Jakarta. Jadi, saya dianggap terlibat peristiwa. Kan yang menjadi motor peristiwa itu siswa kelas 5.”

Namun, setelah melalui beberapa pertimbangan, Pakde tetap diperbolehkan kembali ke Gontor. Meski pada akhirnya, beberapa waktu setelah itu, saya tidak yakin berapa lama, Pakde memutuskan untuk pindah ke Sekolah Persiapan (SP) IAIN.

Dalam penuturan kisah itu, sebenarnya Pakde menyebutkan beberapa nama. Termasuk nama kawan, nama ustadz yang mana Pakde berkonsultasi dengannya, juga nama ustadz staf pengasuhan santri yang mengawasi penuh gerak-gerik pakde. Namun, mohon maaf, saya lupa.

Rabu, 29 Juli 2020, pukul 15.15 WIB, Pakde Muchlis dipanggil Yang Maha Kuasa. Kondisi fisiknya memang sudah melemah beberapa waktu terakhir.

Keluarga besar Bani Haiban Hadjid, Muhammadiyah Tebet, serta Gontor, tentunya sangat merasa kehilangan. Semoga segala amalan beliau diterima Allah SWT, aamiin.binhadjid

22 Juni, Resepsi, dan ‘Liburan’

Jikalau kemarin saat milad pernikahan versi hijriyah (9 Syawwal) saya berbagi cerita tentang akad nikah. Maka hari ini, pada milad pernikahan versi masehi (22 Juni), izinkan saya berbagi cerita tentang kisah lainnya.

Setelah akad tanggal 22 Juni, keesokan paginya kami menggelar resepsi pernikahan di Gedung IPHI Sukoharjo. Menurut informasi, Gedung IPHI ini merupakan salah satu gedung terbesar yang biasa digunakan untuk pernikahan. Meski besar, gedung ini terjangkau untuk pembiayaan.

Sejak pukul 06.00 pagi, saya dan istri diminta untuk datang ke ruang tata rias. Sebagai laki-laki, saya banyak menghabiskan waktu untuk duduk, sembari menunggu istri saya dirias. Giliran saya dirias, cukup diberi bedak tipis saja. Mungkin karena aslinya memang sudah ganteng.

Sekitar pukul sepuluh pagi, gedung sudah terisi penuh. Para hadirin duduk tenang di tempat yang telah disediakan. Dimulai dengan prosesi masuk gedung, kemudian duduk di kursi pelaminan, hingga acara demi acara berlangsung. Saya lupa persisnya susunan acara. Yang saya ingat, isinya sambutan-sambutan. Beruntung, saat itu ada grup musik yang meramaikan acara. Karena tema acara islami, jadilah lagu-lagu yang dinyanyikan religi modern.

Sebuah kesyukuran bagi kami, kala itu Kiai Hasan Abdullah Sahal berkenan hadir bersama keluarga. Dan lebih membahagiakannya lagi, beliau menyampaikan sambutan sekaligus nasihat. “Dulu, yang menulis bahan-bahan pidato saya ya Zaki ini, mempelai pria,” sulit bagi saya melupakan bagian itu.

Acara diakhiri dengan proses perfotoan. Bagian ini cukup menguras tenaga. Apalagi istri saya sebagai alumni Gontor Putri, dan timing pernikahan kami sangat tepat bagi para ustadzah untuk hadir. Jadilah pernikahan kami ini ajang reuni dan perfotoan. Sesi perfotoan sendiri memakan waktu yang cukup lama.

Satu nasihat dari saya untuk anda para calon pengantin, bersabarlah di kala resepsi pernikahan dilaksanakan. Kuatkanlah diri anda berdiri berjam-jam sembari menahan senyuman. Karena senyuman pengantin, akan menjadi pusat perhatian para tamu undangan. Juga saat foto-foto pernikahan tersebar, senyuman anda akan mewarnai status dan story medsos keluarga, juga teman-teman anda.

Usai rententan acara pernikahan, ditambah menyambut para tamu yang datang ke rumah, kami merencanakan liburan. Ada yang habis menikah, langsung honey moon ke Bali, atau luar negeri, sembari menginap di hotel berhari-hari. Ada juga yang cukup berwisata di dalam kota. Saya dan istri saya, masuk ke golongan kedua. Karena bagi kami, bukan di mana kita berlibur, tapi dengan siapa kita berlibur.

Kala itu kami berlibur ke Tawangmangu, tepatnya Kemuning. Naik motor berdua sembari menembus hujan. Sempat berteduh di pom bensin sembari beli teh hangat dan siomay di pinggir jalan. Sekali lagi, untuk romantis, tidak perlu merogoh kantong terlalu dalam. Jajan di pinggir jalan, asalkan sama-sama bahagia, bakal terasa romantis juga.

Selain ke Tawangmangu, kami sempat juga berlibur ke mall, nonton film, car free day, dan beberapa tempat wisata lainnya. Hanya sekali kami menginap di hotel, itu pun karena menghadiri walimah kawan di Semarang. Tidak sulit menemukan hotel murah dan ‘aman’ zaman now. Karena aplikasi penyedia hotel murah sudah begitu banyak di internet.

Bagi anda yang belum pernah duduk di kursi pelaminan, belum menggandeng pasangan sah, alias jomblo, bersabarlah. Karena waktu ‘berlibur’ pasca nikah itu niscaya akan datang. Datang jika anda menginginkannya. Datang jika anda mengusahakannya.

Tidak perlu terlalu ribet memikirkan liburan dan honey moon, cukup sederhana dan sesuai budget. Karena sejatinya, setelah menikah, kita akan honey moon bersama pasangan seumur hidup.

9 Syawwal

Dua tahun lalu, saya mengikat janji dengan seorang perempuan, Hasna Nur Faza. Tulisan ini saya persembahkan dalam rangka memperingati 2 tahun pernikahan kami, 9 Syawwal 1439-9 Syawwal 1441.

Sore itu, saya bersama keluarga berangkat dari Jogja menuju Sukoharjo. Setiap keluarga menggunakan mobilnya masing-masing. Niatan awal ingin berangkat beriringan, namun karena padatnya jalan, kami berpencar dan langsung bertemu di Sukoharjo.

Sebelum acara akad nikah pada malam harinya, keluarga kami transit dan beristirahat di Gubuk Jannati, sebuah penginapan di dekat alun-alun kota Sukoharjo.

Konon, mendengar cerita para senior, saat-saat menjelang akad nikah adalah hal yang tak terlupakan. Perasaan bercampur aduk. Dari bayangan filosofis, hingga pikiran teknis mewarnai. Jantung berdegup kencang, sembari lafadz dzikir terus menemani. Agar akad malam ini berjalan lancar.

Iya, sederhana saja. Semoga berjalan lancar. Karena saya sendiri mendengar banyak cerita, banyak akad nikah yang pelafalannya kurang tepat, sehingga perlu diulang beberapa kali. Maka harapan saya kala itu, semoga tiap kalimat yang sudah saya persiapkan, mengalir tanpa ada halangan. Terucap tanpa ada sekat, semoga. Terlebih lagi,ada sebuah nasihat, jika lafal akad terucap terbata, maka ada niatan yang tak tulus untuk menjalani hidup rumah tangga. Tentunya hal tersebut benar-benar saya hindari.

Saat beberapa kali konsultasi, saya diingatkan agar nanti saat akad harus mempersiapkan diri dengan matang. Termasuk permintaan mertua, yaitu sekaligus menjadi qari’ Qur’an dan menyampaikan kalimat ‘pamit’ kepada kedua pihak orang tua usai akad nikah.

Jadilah momen akad nikah malam ini lebih kompleks dari yang dibayangkan. Maka tak ayal, persiapan yang saya lakukan memang cukup panjang.

Malam itu, keluarga kami berkumpul sejenak untuk menyamakan persepsi dan doa bersama. Bersama kami mengenakan pakaian serba putih, sesuai konsep acara akad nikah malam itu. Usai doa, bersama kami berangkat menuju Masjid Al-Huda, masjid kelurahan yang posisinya pas depan rumah Hasna.

Di perjalanan saya kembali mengulang lafal akad berkali-kali, sehingga hampir hafal luar kepala. Karena akad nikah ini ada momen sakral, bukan seperti amaliyah tadris yang dulu saya lakukan saat masih santri. Akad nikah adalah janji suci, pernyataan fundamental, dan ikatan tanggung jawab. Konsekuensinya dunia dan akhirat.

Sesampai di masjid, saya dan keluarga segera menuju ke tempat yang telah disediakan. Suasana cukup ramai. Semua berbaju serba putih. Kebanyakan adalah kerabat keluarga mertua. Ada beberapa kawan saya hadir, hendak menyapa, namun urung karena mungkin melihat saya sedang konsentrasi menjelang akad.

Acara diawali dengan pembacaan ayat Quran. Dengan bacaan murattal, saya membaca tiap ayatnya perlahan hingga usai. Setelah beberapa prosesi, akhirnya momen itu tiba.

“Ahmad Zaki Annafiri, saya nikahkan…..” Mertua saya memulai prosesi. Tak lupa saat nama saya disebut, saya mengucapkan, “iya, saya.”

Setelah mertua saya menyesaikan bagiannya, giliran saya untuk berjanji. “Saya terima nikahnya Hasna Nur Faza binti Suwignyo dengan mahar tersebut dibayar tunai!” Kedua saksi menyatakan sah, dan dilanjutkan dengan doa.

Saya masih hafal betul lafal itu. Dan akan selalu saya ingat hingga kapanpun. Ada kawan mengatakan, baiknya dengan bahasa Arab, agar kita saat mengucapkan janji, lebih mudah dan ringkas. Namun terkadang, hal tersebut justru mempersulit mertua kita saat menyebutkan mahar, apalagi jika mertua kita tidak fasih berbahasa arab. Untuk akad saya, sejak awal memang sudah dikehendaki oleh mertua untuk berbahasa Indonesia. Agar para saksi juga betul-betul memahami apa yang disaksikannya.

Usai akad, dilanjutkan dengan doa, dan seterusnya. Hingga perfotoan, yang cukup meriuhkan seisi ruangan. Juga saya. Karena itu momen pertama kali saya menyentuh istri saya, juga mencium keningnya. Para hadiri ramai, sebagian ada yang mengenang masanya dulu saat menikah, sebagian ada yang membayangkan masanya nanti saat ia menikah.

Dan di akhir, mertua saya memberi wejangan pernikahan. Dilanjutkan dengan kalimat ‘pamit’ dari saya. Agar terkonsep dan tidak melebar, saya membaca teks yang sudah saya siapkan. Intinya, saya memohon izin kepada kedua pihak orang tua, untuk mengarungi bahtera rumah tangga.

Usai seluruh prosesi akad, saya berjalan ke rumah bersanding dengan Hasna, sembari bergandengan tangan, berlari, dan tertawa… eh maaf, itu akadnya Payung Teduh. Sesampai di rumah, masih ada prosesi pengajian pernikahan. Sekitar satu jam acara itu berjalan, berisikan nasihat membina rumah tangga dan lain sebagainya. Dilanjutkan dengan perfotoan dan jamuan makan.

9 Syawwal, setiap tahunnya selalu menjadi kenangan indah. Kenangan sekaligus refleksi atas kesyukuran hadirnya Hasna, dan tahun ini, ditambah buat hati Nadwa. Refleksi perjalanan rumah tangga kami, suka dan dukanya, problem dan solusinya, untuk menambah bekal perjalanan rumah tangga ke depannya.

Meski sudah dua tahun menikah, doa agar sakinah mawaddah wa rahmah selalu saya panjatkan. Agar ia terus ada, dan terus menaungi rumah tangga kami hingga akhir hayat.

Melati Suci Kiai Syamsul Hadi Abdan

Air mukanya kedamaian

Bermekaran melati suci

Pusaran kezuhudan kesajahaan

Menuju kekekalan abadi

Selamat jalan, guru kami

Kiai Syamsul Hadi Abdan

Hari ini, 18 Mei 2020, Gontor berduka. Pimpinan kami, Kiai kami, Kiai Syamsul Hadi Abdan, kembali ke haribaan-Nya.

Setiap dari kita; santri, guru, alumni, keluarga, dan siapapun yang merasa dirinya Gontory, benar-benar merasa kehilangan. Pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, di tengah ujian pandemi, beliau meninggalkan kita semua.

Setiap dari kita memiliki kenangan tersendiri terhadap beliau. Khususnya kita sebagai santri, karena Kiai Syamsul adalah guru kita semua. Kesederhanaan, keikhlasan, dan kezuhudannya tak pernah hilang hingga akhir hayatnya.  

Kiai Syamsul menjadi Pimpinan Pondok Gontor sejak 2006, saat saya duduk di bangku kelas 2 KMI, menggantikan Kiai Imam Badri. Kiai Syamsul melepaskan amanah sebelumnya, Direktur KMI, untuk diserahkan kepada Ustadz Ali Syarqowi. Saat itu, tak banyak hal yang saya ingat.

Saat menjadi Sekretaris Pimpinan pada 2012-2017, saya menjadi saksi perjuangan Kiai Syamsul dalam memimpin Gontor yang kala itu, Pimpinan yang aktif, hanya beliau bersama Kiai Hasan. Selepas Kiai Syukri harus menjalani berbagai perawatan dan pemulihan kesehatan.

Kiai Syamsul adalah sosok bersahaja, santun, dan penyayang. Rasa-rasanya, saya belum mendengar cerita bahwa beliau pernah marah terhadap guru ataupun santri. Tidak marah bukan berarti tidak tegas. Kiai Syukri pernah berkelakar, diamnya Kiai Syamsul itu ya marahnya beliau.

Pada berbagai kesempatan, Kiai Syamsul seringkali mengisi pidato dengan bercerita tentang sejarah Pondok. Cerita yang tak ditemukan di berbagai buku-buku sejarah Gontor. Cerita tentang asal muasal Masjid Atiq, Ustadz Imam Badri yang sering meletakkan sepeda di bawah pohon depan Kantor Pimpinan agar kehadirannya ‘dianggap ada’ oleh Kiai Imam Zarkasyi, cerita asal muasal adanya fathul kutub, bagaimana guru zaman dulu menulis i’dad, bagaimana panitia ujian zaman dulu menulis rapor KMI, dan masih banyak cerita yang lain yang membuat saya merasa berhutang untuk tidak menuangkannya dalam sebuah buku.

Ramadhan tahun 2013 kalau tidak salah, pernah saya menghadap ke Kiai Syamsul untuk melaporkan suatu hal. Karena di Kantor Pimpinan tidak ada, saya menuju ke rumah beliau di Mambil. Saat itu rumah tampak lengang. Sempat saya urungkan niat untuk menemui beliau. Namun, saat itu ada sosok orang tua dengan kaos oblong dan celana santai sedang menyusun gabah untuk dikeringkan di samping rumah beliau. Posisinya membelakangi saya. Saya terbersit untuk menanyakan keberadaan Kiai Syamsul. Tak dinyana, sosok tua itu adalah Kiai Syamsul. Dalam perjalanan pulang menuju kantor, saya masih tidak habis pikir, bagaimana Gontor dengan 25 ribu santri, ratusan gedung megah, ribuan hektar tanah, dan aset miliyaran, pimpinannya mengeringkan gabah di depan mata saya. Tentunya, selain karena tidak ada sepeser pun uang pondok masuk ke kantong beliau, saya yakin, bahwa itu merupakan wujud nyata kisah kezuhudan dan kesederhanaan dari seorang Kiai Syamsul.

Pembawaan Kiai Syamsul yang jarang bergurau, menurut saya, menjadi paduan ideal untuk memimpin Gontor bersama dengan Kiai Hasan -yang kita semua tahu sifat beliau sangat humoris-, dan Kiai Syukri dengan ketegasan serta idealisme beliau. Meski memiliki belasan kampus, Gontor masih tetap dipimpin oleh 3 pimpinan yang usianya ketiganya sudah di atas 60 tahun. Yang mana, seharusnya orang seusia itu, harusnya sudah pensiun dan tidak lagi memikirkan hal-hal yang dianggap memberatkan. Setiap hari, beliau bertiga harus memikirkan perputaran uang milyaran, kebijakan pembelian tanah, permasalahan santri dan guru, hubungan dengan masyarakat, dan lain sebagainya.  Apalagi kalau bukan barakah tiada henti serta doa para santri yang menguatkan beliau bertiga.

Dan masih banyak kenangan lainnya yang tak dapat saya tuangkan dalam tulisan ini.

Setelah tiga trimurti pendiri Gontor, kemudian Kiai Shoiman dan Kiai Imam Badri, Kiai Syamsul menjadi Pimpinan Pondok Gontor selanjutnya yang dipanggil oleh Allah SWT. Semoga Kiai Hasan Abdullah Sahal dan Kiai Abdullah Syukri Zarkasyi dikaruniai kesehatan dan kekuatan dalam mengemban amanah umat ini.

Selamat jalan Kiai Syamsul, husnul khatimah dan syahid, in sya Allah.