Covid dan Soekarno-Hatta

Beberapa hari lalu, saya kembali dari Malaysia. Kepulangan ke Jogja kali ini terasa istimewa, karena menyandang istilah “back for good”. Ada yang mengatakan dengan “boyongan” atau “balik terus” dll. Apapun itu, sederhananya, saya tidak perlu lagi kembali ke Malaysia untuk studi, karena sisa prosesnya bisa diurus dari rumah.

Di masa pandemi, perjalanan lintas negara menjadi sebuah challenge. Di awal pandemi kemarin, beberapa kawan sampai harus memesan tiket melalui agen travel yang memesan sebuah pesawat sewa. Tentunya dengan biaya yang tidak sedikit. Namun berangsur covid-19 mereda di Malaysia, maskapai-maskapai mula membuka penerbangannya. Termasuk Air Asia, Malindo, Garuda, dan Malaysia Airlines.

Di akhir bulan Agustus, saya memesan tiket Kuala Lumpur langsung ke Jogja dengan harga 239 RM (800 ribu rupiah) untuk tanggal 5 September, sangat murah untuk harga masa pandemi. Cukup aneh, di masa pandemi, saat maskapai gak mau rugi, ini justru menjual murah. Tak dinyana, ternyata penerbangan saya diubah ke tanggal 10 September. Saya pun mencari maskapai lain yang lebih ‘pasti’, karena beberapa kawan sudah mengalami perubahan jadwal Air Asia mendadak, bahkan di H-1.

Tanggal 2 September saya terbang menggunakan Malindo dari Kuala Lumpur ke Jakarta dengan harga 299 RM (1 juta rupiah), masih tergolong murah juga. Sebelum penerbangan, saya menjalani tes covid dengan metode PCR di rumah sakit Malaysia dengan harga 300 RM (1 juta rupiah). Memang cukup mahal, namun di sinilah proses penting yang ingin saya ceritakan.

Saat landing di Jakarta, seluruh penumpang langsung diarahkan untuk mengisi beberapa formulir. Sejak awal membagikan formulir, petugas langsung membedakan mana penumpang yang memiliki hasil tes PCR, dan mana yang tidak. Karena formulir yang diisi memang berbeda. Saya sarankan, anda wajib membawa pulpen saat proses tersebut. Saat itu saya tidak membawa, akhirnya kebingungan mencari ke sana kemari, beruntung ada orang baik yang mau meminjamkan.

Setelah mengisi formulir, penumpang diarahkan untuk tes suhu tubuh dan tekanan darah. Hasil tes tersebut, bersama surat hasil tes PCR, kemudian disahkan oleh petugas kesehatan yang lebih senior, juga diperiksa detailnya, benarkah surat ini menandakan sang penumpang sehat, dll. Setelah melewati imigrasi dan mengambil bagasi, para penumpang diperiksa oleh tentara yang berjaga, tujuannya adalah untuk memisahkan mana penumpang yang harus karantina di wisma atlet atau di hotel, dan mana penumpang yang boleh melanjutkan perjalanan. Perlu saya sampaikan, personel militer cukup banyak di bandara, rasa-rasanya kita sedang dalam kondisi perang.

Boleh saya sarankan, bagi anda yang akan masuk Indonesia melalui Soekarno-Hatta, hasil tes PCR adalah hal yang sangat penting. Kecuali memang anda merencanakan untuk dikarantina, tidak masalah. Karena saya dengar, karantina di wisma atlet tidak dipungut biaya sepeser pun, lumayan, liburan gratis. Namun bisa berbeda jika anda mendarat di Surabaya, Yogyakarta, ataupun Medan. Saya belum tahu bagaimana kondisi tempat-tempat tersebut.

Saya melanjutkan perjalanan dengan menaiki kereta Taksaka dari Stasiun Gambir ke Yogyakarta. Untuk menaiki kereta, syaratnya lebih sederhana, cukup rapid test atau surat keterangan sehat. Malahan saat saya menunjukkan hasil tes PCR, petugasnya terlihat bingung, sampai harus menanyakan ke petugas yang lebih senior. Padahal tes PCR ini yang paling valid dan mahal.

Selain hal-hal di atas, kondisi dalam pesawat dan kereta sama saja. Tidak ada social distancing, para penumpang duduk sesuai pesanan kursinya masing-masing. Ada yang sendiri, ada yang berdampingan.

Semoga pandemi segera berakhir, sehingga segala sesuatunya bisa kembali normal. Meski ada yang mengatakan inilah new normal, namun sejujurnya kita mengingkan kenormalan yang sebelum ini.

Pakde Muchlis dan Persemar

Desember 2017 lalu, saya berkesempatan mengunjungi rumah Pakde Muchlis dan Bude Tutik di Tebet, Jakarta Selatan. Kunjungan kala itu sekaligus dalam rangka pembuatan SIM Internasional di Korlantas Polri, yang kebetulan lokasinya berdekatan dengan rumah Pakde.

Selain saya sendiri, Pakde adalah satu-satunya alumni Gontor dalam keluarga Bani Haiban dan Bani Cokrosunaryo. Dan semenjak saya di Gontor, belum sekalipun saya ngobrol santai dengan Pakde tentang Gontor. Hingga akhirnya, momen itu datang.

Kala itu, Pakde sedang bersantai di ruang tamu. Kami duduk membersamai. Seksama mendengar kisah itu.

“Dulu Pakde ini salah satu santri yang diusir saat persemar.”

Aku menelan ludah. Wah, berarti Pakde saya sendiri adalah salah satu saksi sejarah peristiwa 19 Maret 1967. Sejarah yang sangat penting bagi Gontor. Saking pentingnya, Gontor memperingatinya tiap tahun. Lebih penting dari tanggal berdirinya, karena Gontor tidak pernah memperingati miladnya tiap tahun, hanya pada momen-momen tertentu saja.

“Beberapa bulan setelah peristiwa itu terjadi, sebagian siswa yang dianggap tidak terlibat, dipanggil. Pakde termasuk yang dipanggil. Saat itu Pakde sudah tidak begitu minat untuk kembali. Hanya saja karena dorongan orang tua, Pakde kembali ke Gontor.”

Sampai di situ, saya belum begitu tertarik dengan cerita Pakde. Sudah banyak cerita tentang hal itu dari para senior di Gontor. Ternyata, drama dari kisah itu baru saja dimulai.

Pakde berkisah, saat sampai di Gontor, Pakde bertemu seorang kawan di dekat rumah Pak Zar. Kawan itu berkelakar, “Muchlis, mendingan ente gak usah balik lagi ke Gontor. Nanti ente harus mengikuti disiplin ketat, diawasi penuh sama Pengasuhan, kalau melanggar sedikit saja, langsung diusir.”

Menurut Pakde, setelah Gontor mengusir seluruh santrinya, disiplin kala itu diperketat. Segala hal yang menunjukkan tindak tanduk perlawanan, langsung diusir. Memang sulit bagi Gontor, namun mungkin saja ini menjadi titik balik Gontor untuk mendisiplinkan santrinya, hingga hari ini. Bisa jadi, sebelum adanya Persemar, disiplin di Gontor tidak terlalu ketat.

“Saat itu Pakde ragu, apalagi ada info seperti itu dari kawan. Namun setelah berkonsultasi dengan beberapa asatidz, saya lanjut. Setelah datang ke Pengasuhan, saya harus melewati semacam wawancara oleh Pengasuhan Santri. Karena, beberapa saat sebelum peristiwa terjadi, saya memimpin baris-berbaris siswa kelas 5 Konsulat Jakarta. Jadi, saya dianggap terlibat peristiwa. Kan yang menjadi motor peristiwa itu siswa kelas 5.”

Namun, setelah melalui beberapa pertimbangan, Pakde tetap diperbolehkan kembali ke Gontor. Meski pada akhirnya, beberapa waktu setelah itu, saya tidak yakin berapa lama, Pakde memutuskan untuk pindah ke Sekolah Persiapan (SP) IAIN.

Dalam penuturan kisah itu, sebenarnya Pakde menyebutkan beberapa nama. Termasuk nama kawan, nama ustadz yang mana Pakde berkonsultasi dengannya, juga nama ustadz staf pengasuhan santri yang mengawasi penuh gerak-gerik pakde. Namun, mohon maaf, saya lupa.

Rabu, 29 Juli 2020, pukul 15.15 WIB, Pakde Muchlis dipanggil Yang Maha Kuasa. Kondisi fisiknya memang sudah melemah beberapa waktu terakhir.

Keluarga besar Bani Haiban Hadjid, Muhammadiyah Tebet, serta Gontor, tentunya sangat merasa kehilangan. Semoga segala amalan beliau diterima Allah SWT, aamiin.binhadjid

22 Juni, Resepsi, dan ‘Liburan’

Jikalau kemarin saat milad pernikahan versi hijriyah (9 Syawwal) saya berbagi cerita tentang akad nikah. Maka hari ini, pada milad pernikahan versi masehi (22 Juni), izinkan saya berbagi cerita tentang kisah lainnya.

Setelah akad tanggal 22 Juni, keesokan paginya kami menggelar resepsi pernikahan di Gedung IPHI Sukoharjo. Menurut informasi, Gedung IPHI ini merupakan salah satu gedung terbesar yang biasa digunakan untuk pernikahan. Meski besar, gedung ini terjangkau untuk pembiayaan.

Sejak pukul 06.00 pagi, saya dan istri diminta untuk datang ke ruang tata rias. Sebagai laki-laki, saya banyak menghabiskan waktu untuk duduk, sembari menunggu istri saya dirias. Giliran saya dirias, cukup diberi bedak tipis saja. Mungkin karena aslinya memang sudah ganteng.

Sekitar pukul sepuluh pagi, gedung sudah terisi penuh. Para hadirin duduk tenang di tempat yang telah disediakan. Dimulai dengan prosesi masuk gedung, kemudian duduk di kursi pelaminan, hingga acara demi acara berlangsung. Saya lupa persisnya susunan acara. Yang saya ingat, isinya sambutan-sambutan. Beruntung, saat itu ada grup musik yang meramaikan acara. Karena tema acara islami, jadilah lagu-lagu yang dinyanyikan religi modern.

Sebuah kesyukuran bagi kami, kala itu Kiai Hasan Abdullah Sahal berkenan hadir bersama keluarga. Dan lebih membahagiakannya lagi, beliau menyampaikan sambutan sekaligus nasihat. “Dulu, yang menulis bahan-bahan pidato saya ya Zaki ini, mempelai pria,” sulit bagi saya melupakan bagian itu.

Acara diakhiri dengan proses perfotoan. Bagian ini cukup menguras tenaga. Apalagi istri saya sebagai alumni Gontor Putri, dan timing pernikahan kami sangat tepat bagi para ustadzah untuk hadir. Jadilah pernikahan kami ini ajang reuni dan perfotoan. Sesi perfotoan sendiri memakan waktu yang cukup lama.

Satu nasihat dari saya untuk anda para calon pengantin, bersabarlah di kala resepsi pernikahan dilaksanakan. Kuatkanlah diri anda berdiri berjam-jam sembari menahan senyuman. Karena senyuman pengantin, akan menjadi pusat perhatian para tamu undangan. Juga saat foto-foto pernikahan tersebar, senyuman anda akan mewarnai status dan story medsos keluarga, juga teman-teman anda.

Usai rententan acara pernikahan, ditambah menyambut para tamu yang datang ke rumah, kami merencanakan liburan. Ada yang habis menikah, langsung honey moon ke Bali, atau luar negeri, sembari menginap di hotel berhari-hari. Ada juga yang cukup berwisata di dalam kota. Saya dan istri saya, masuk ke golongan kedua. Karena bagi kami, bukan di mana kita berlibur, tapi dengan siapa kita berlibur.

Kala itu kami berlibur ke Tawangmangu, tepatnya Kemuning. Naik motor berdua sembari menembus hujan. Sempat berteduh di pom bensin sembari beli teh hangat dan siomay di pinggir jalan. Sekali lagi, untuk romantis, tidak perlu merogoh kantong terlalu dalam. Jajan di pinggir jalan, asalkan sama-sama bahagia, bakal terasa romantis juga.

Selain ke Tawangmangu, kami sempat juga berlibur ke mall, nonton film, car free day, dan beberapa tempat wisata lainnya. Hanya sekali kami menginap di hotel, itu pun karena menghadiri walimah kawan di Semarang. Tidak sulit menemukan hotel murah dan ‘aman’ zaman now. Karena aplikasi penyedia hotel murah sudah begitu banyak di internet.

Bagi anda yang belum pernah duduk di kursi pelaminan, belum menggandeng pasangan sah, alias jomblo, bersabarlah. Karena waktu ‘berlibur’ pasca nikah itu niscaya akan datang. Datang jika anda menginginkannya. Datang jika anda mengusahakannya.

Tidak perlu terlalu ribet memikirkan liburan dan honey moon, cukup sederhana dan sesuai budget. Karena sejatinya, setelah menikah, kita akan honey moon bersama pasangan seumur hidup.

9 Syawwal

Dua tahun lalu, saya mengikat janji dengan seorang perempuan, Hasna Nur Faza. Tulisan ini saya persembahkan dalam rangka memperingati 2 tahun pernikahan kami, 9 Syawwal 1439-9 Syawwal 1441.

Sore itu, saya bersama keluarga berangkat dari Jogja menuju Sukoharjo. Setiap keluarga menggunakan mobilnya masing-masing. Niatan awal ingin berangkat beriringan, namun karena padatnya jalan, kami berpencar dan langsung bertemu di Sukoharjo.

Sebelum acara akad nikah pada malam harinya, keluarga kami transit dan beristirahat di Gubuk Jannati, sebuah penginapan di dekat alun-alun kota Sukoharjo.

Konon, mendengar cerita para senior, saat-saat menjelang akad nikah adalah hal yang tak terlupakan. Perasaan bercampur aduk. Dari bayangan filosofis, hingga pikiran teknis mewarnai. Jantung berdegup kencang, sembari lafadz dzikir terus menemani. Agar akad malam ini berjalan lancar.

Iya, sederhana saja. Semoga berjalan lancar. Karena saya sendiri mendengar banyak cerita, banyak akad nikah yang pelafalannya kurang tepat, sehingga perlu diulang beberapa kali. Maka harapan saya kala itu, semoga tiap kalimat yang sudah saya persiapkan, mengalir tanpa ada halangan. Terucap tanpa ada sekat, semoga. Terlebih lagi,ada sebuah nasihat, jika lafal akad terucap terbata, maka ada niatan yang tak tulus untuk menjalani hidup rumah tangga. Tentunya hal tersebut benar-benar saya hindari.

Saat beberapa kali konsultasi, saya diingatkan agar nanti saat akad harus mempersiapkan diri dengan matang. Termasuk permintaan mertua, yaitu sekaligus menjadi qari’ Qur’an dan menyampaikan kalimat ‘pamit’ kepada kedua pihak orang tua usai akad nikah.

Jadilah momen akad nikah malam ini lebih kompleks dari yang dibayangkan. Maka tak ayal, persiapan yang saya lakukan memang cukup panjang.

Malam itu, keluarga kami berkumpul sejenak untuk menyamakan persepsi dan doa bersama. Bersama kami mengenakan pakaian serba putih, sesuai konsep acara akad nikah malam itu. Usai doa, bersama kami berangkat menuju Masjid Al-Huda, masjid kelurahan yang posisinya pas depan rumah Hasna.

Di perjalanan saya kembali mengulang lafal akad berkali-kali, sehingga hampir hafal luar kepala. Karena akad nikah ini ada momen sakral, bukan seperti amaliyah tadris yang dulu saya lakukan saat masih santri. Akad nikah adalah janji suci, pernyataan fundamental, dan ikatan tanggung jawab. Konsekuensinya dunia dan akhirat.

Sesampai di masjid, saya dan keluarga segera menuju ke tempat yang telah disediakan. Suasana cukup ramai. Semua berbaju serba putih. Kebanyakan adalah kerabat keluarga mertua. Ada beberapa kawan saya hadir, hendak menyapa, namun urung karena mungkin melihat saya sedang konsentrasi menjelang akad.

Acara diawali dengan pembacaan ayat Quran. Dengan bacaan murattal, saya membaca tiap ayatnya perlahan hingga usai. Setelah beberapa prosesi, akhirnya momen itu tiba.

“Ahmad Zaki Annafiri, saya nikahkan…..” Mertua saya memulai prosesi. Tak lupa saat nama saya disebut, saya mengucapkan, “iya, saya.”

Setelah mertua saya menyesaikan bagiannya, giliran saya untuk berjanji. “Saya terima nikahnya Hasna Nur Faza binti Suwignyo dengan mahar tersebut dibayar tunai!” Kedua saksi menyatakan sah, dan dilanjutkan dengan doa.

Saya masih hafal betul lafal itu. Dan akan selalu saya ingat hingga kapanpun. Ada kawan mengatakan, baiknya dengan bahasa Arab, agar kita saat mengucapkan janji, lebih mudah dan ringkas. Namun terkadang, hal tersebut justru mempersulit mertua kita saat menyebutkan mahar, apalagi jika mertua kita tidak fasih berbahasa arab. Untuk akad saya, sejak awal memang sudah dikehendaki oleh mertua untuk berbahasa Indonesia. Agar para saksi juga betul-betul memahami apa yang disaksikannya.

Usai akad, dilanjutkan dengan doa, dan seterusnya. Hingga perfotoan, yang cukup meriuhkan seisi ruangan. Juga saya. Karena itu momen pertama kali saya menyentuh istri saya, juga mencium keningnya. Para hadiri ramai, sebagian ada yang mengenang masanya dulu saat menikah, sebagian ada yang membayangkan masanya nanti saat ia menikah.

Dan di akhir, mertua saya memberi wejangan pernikahan. Dilanjutkan dengan kalimat ‘pamit’ dari saya. Agar terkonsep dan tidak melebar, saya membaca teks yang sudah saya siapkan. Intinya, saya memohon izin kepada kedua pihak orang tua, untuk mengarungi bahtera rumah tangga.

Usai seluruh prosesi akad, saya berjalan ke rumah bersanding dengan Hasna, sembari bergandengan tangan, berlari, dan tertawa… eh maaf, itu akadnya Payung Teduh. Sesampai di rumah, masih ada prosesi pengajian pernikahan. Sekitar satu jam acara itu berjalan, berisikan nasihat membina rumah tangga dan lain sebagainya. Dilanjutkan dengan perfotoan dan jamuan makan.

9 Syawwal, setiap tahunnya selalu menjadi kenangan indah. Kenangan sekaligus refleksi atas kesyukuran hadirnya Hasna, dan tahun ini, ditambah buat hati Nadwa. Refleksi perjalanan rumah tangga kami, suka dan dukanya, problem dan solusinya, untuk menambah bekal perjalanan rumah tangga ke depannya.

Meski sudah dua tahun menikah, doa agar sakinah mawaddah wa rahmah selalu saya panjatkan. Agar ia terus ada, dan terus menaungi rumah tangga kami hingga akhir hayat.

Melati Suci Kiai Syamsul Hadi Abdan

Air mukanya kedamaian

Bermekaran melati suci

Pusaran kezuhudan kesajahaan

Menuju kekekalan abadi

Selamat jalan, guru kami

Kiai Syamsul Hadi Abdan

Hari ini, 18 Mei 2020, Gontor berduka. Pimpinan kami, Kiai kami, Kiai Syamsul Hadi Abdan, kembali ke haribaan-Nya.

Setiap dari kita; santri, guru, alumni, keluarga, dan siapapun yang merasa dirinya Gontory, benar-benar merasa kehilangan. Pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, di tengah ujian pandemi, beliau meninggalkan kita semua.

Setiap dari kita memiliki kenangan tersendiri terhadap beliau. Khususnya kita sebagai santri, karena Kiai Syamsul adalah guru kita semua. Kesederhanaan, keikhlasan, dan kezuhudannya tak pernah hilang hingga akhir hayatnya.  

Kiai Syamsul menjadi Pimpinan Pondok Gontor sejak 2006, saat saya duduk di bangku kelas 2 KMI, menggantikan Kiai Imam Badri. Kiai Syamsul melepaskan amanah sebelumnya, Direktur KMI, untuk diserahkan kepada Ustadz Ali Syarqowi. Saat itu, tak banyak hal yang saya ingat.

Saat menjadi Sekretaris Pimpinan pada 2012-2017, saya menjadi saksi perjuangan Kiai Syamsul dalam memimpin Gontor yang kala itu, Pimpinan yang aktif, hanya beliau bersama Kiai Hasan. Selepas Kiai Syukri harus menjalani berbagai perawatan dan pemulihan kesehatan.

Kiai Syamsul adalah sosok bersahaja, santun, dan penyayang. Rasa-rasanya, saya belum mendengar cerita bahwa beliau pernah marah terhadap guru ataupun santri. Tidak marah bukan berarti tidak tegas. Kiai Syukri pernah berkelakar, diamnya Kiai Syamsul itu ya marahnya beliau.

Pada berbagai kesempatan, Kiai Syamsul seringkali mengisi pidato dengan bercerita tentang sejarah Pondok. Cerita yang tak ditemukan di berbagai buku-buku sejarah Gontor. Cerita tentang asal muasal Masjid Atiq, Ustadz Imam Badri yang sering meletakkan sepeda di bawah pohon depan Kantor Pimpinan agar kehadirannya ‘dianggap ada’ oleh Kiai Imam Zarkasyi, cerita asal muasal adanya fathul kutub, bagaimana guru zaman dulu menulis i’dad, bagaimana panitia ujian zaman dulu menulis rapor KMI, dan masih banyak cerita yang lain yang membuat saya merasa berhutang untuk tidak menuangkannya dalam sebuah buku.

Ramadhan tahun 2013 kalau tidak salah, pernah saya menghadap ke Kiai Syamsul untuk melaporkan suatu hal. Karena di Kantor Pimpinan tidak ada, saya menuju ke rumah beliau di Mambil. Saat itu rumah tampak lengang. Sempat saya urungkan niat untuk menemui beliau. Namun, saat itu ada sosok orang tua dengan kaos oblong dan celana santai sedang menyusun gabah untuk dikeringkan di samping rumah beliau. Posisinya membelakangi saya. Saya terbersit untuk menanyakan keberadaan Kiai Syamsul. Tak dinyana, sosok tua itu adalah Kiai Syamsul. Dalam perjalanan pulang menuju kantor, saya masih tidak habis pikir, bagaimana Gontor dengan 25 ribu santri, ratusan gedung megah, ribuan hektar tanah, dan aset miliyaran, pimpinannya mengeringkan gabah di depan mata saya. Tentunya, selain karena tidak ada sepeser pun uang pondok masuk ke kantong beliau, saya yakin, bahwa itu merupakan wujud nyata kisah kezuhudan dan kesederhanaan dari seorang Kiai Syamsul.

Pembawaan Kiai Syamsul yang jarang bergurau, menurut saya, menjadi paduan ideal untuk memimpin Gontor bersama dengan Kiai Hasan -yang kita semua tahu sifat beliau sangat humoris-, dan Kiai Syukri dengan ketegasan serta idealisme beliau. Meski memiliki belasan kampus, Gontor masih tetap dipimpin oleh 3 pimpinan yang usianya ketiganya sudah di atas 60 tahun. Yang mana, seharusnya orang seusia itu, harusnya sudah pensiun dan tidak lagi memikirkan hal-hal yang dianggap memberatkan. Setiap hari, beliau bertiga harus memikirkan perputaran uang milyaran, kebijakan pembelian tanah, permasalahan santri dan guru, hubungan dengan masyarakat, dan lain sebagainya.  Apalagi kalau bukan barakah tiada henti serta doa para santri yang menguatkan beliau bertiga.

Dan masih banyak kenangan lainnya yang tak dapat saya tuangkan dalam tulisan ini.

Setelah tiga trimurti pendiri Gontor, kemudian Kiai Shoiman dan Kiai Imam Badri, Kiai Syamsul menjadi Pimpinan Pondok Gontor selanjutnya yang dipanggil oleh Allah SWT. Semoga Kiai Hasan Abdullah Sahal dan Kiai Abdullah Syukri Zarkasyi dikaruniai kesehatan dan kekuatan dalam mengemban amanah umat ini.

Selamat jalan Kiai Syamsul, husnul khatimah dan syahid, in sya Allah.

Catatan Kiai Kafrawi Ridwan (1932-2019)

“Sampai di mana kita, Zaki?”

Kiai Kafrawi bertanya. Mobil berhenti di sebuah persimpangan. Perlu beberapa saat untuk menjawab pertanyaan beliau. Aku memastikan setelah melihat baliho sebuah perguruan terpampang jelas di pinggir jalan.

“Di Jalan Taman Siswa, Ustadz.” Jawabku, yakin.

Wah, Taman Siswa itu dulu sekolah saya.”

Menarik, bukannya sekolah itu milik seorang tokoh pendidikan nasional.

“Berarti antum kenal Ki Hajar Dewantara, Ustadz?”

Lha, kamu ini gimana. Itu guru saya.”

Aku tak melanjutkan pembicaraan. Dalam imajinasiku, beliau duduk rapi di atas bangku sekolah, kemudian Ki Hajar Dewantara masuk kelas, kemudian menulis di papan tulis:

Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani

Kemarin, 13 Maret 2019, Kiai Kafrawi Ridwan meninggal dunia. Riwayat penyakit beliau cukup panjang, saya pribadi tidak mempunyai data akurat tentang hal tersebut. Yang pasti, beberapa tahun terakhir, kemampuan beliau untuk melihat menurun. Sehingga untuk melakukan pelbagai aktivitas, harus dibantu oleh orang lain. Dalam data, beliau lahir 5 Januari 1932, hingga kemarin menghembuskan nafas terakhir, beliau memasuki usia ke 87 pada tahun ini. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

Kiai Kafrawi dikenal sebagai sosok tangguh, tegas, dan pekerja keras. Meski memiliki berbagai riwayat penyakit, namun beliau masih saja aktif dalam berbagai aktivitas Pondok. Setidaknya hingga tahun 2015, beliau selalu hadir dalam Sidang Badan Wakaf, Apel Tahunan, Peresmian Unida Gontor, dan beberapa aktivitas lainnya.

Satu hal yang paling saya ingat, adalah betapa cintanya beliau terhadap lagu Hymne oh Pondokku. Di berbagai acara -meskipun tidak resmi-, beliau selalu meminta hadirin untuk bersama menyanyikan lagu tersebut.

“Lagu ini, sudah menyebutkan ‘Indonesia’ sebelum Indonesia sendiri itu lahir.”

Kalimat itu masih selalu terngiang dalam benak saya hingga hari ini.

Haiban, Zaki Haiban

Semenjak kemampuan melihat Kiai Kafrawi menurun, setiap kali beliau bertemu orang, harus bertanya nama. Namun, terkadang banyak nama yang sama. Maka beliau biasanya mencari satu julukan khas bagi setiap orang. Bahkan bagi staf-staf muda, seperti saya kala itu.

“Kamu orang Kauman, ya?”

“Iya, Ustadz?”

“Cucunya siapa?”

“Haiban Hadjid.”

“Oh, itu pernah haji sama saya. Saya kenal baik.”

Semenjak itu, beliau selalu memanggil saya Zaki Haiban.

Dalam buku Santri Inklusif, dikisahkan secara gamblang perjuangan beliau saat nyantri di Gontor. Bagaimana keikhlasan Trimurti, kesederhanaan para guru dan santri, semangat perjuangan para pemuda kala itu, kesibukan sebagai pengurus Pelajar Islam Indonesia, hingga kisah kawan sekelas beliau yang kala itu hanya 4 orang siswa; Kiai Ibrahim Thoyyib, Muhammad Toha, dan satu nama lagi saya lupa.

Dan kalau tidak salah, kisah tentang bagaimana Kiai Imam Zarkasyi meletakkan songkok di atas meja, kemudian meninggalkan kelas untuk suatu urusan penting, terjadi di kelas beliau. Satu kisah turun temurun dari generasi ke generasi, menandakan ketaatan para siswa kepada Kiai Zarkasyi. Karena memang saat songkok masih nyingkruk di atas meja guru, tak ada seorang siswa pun berani beranjak keluar, meski pelajaran telah usai.

Kini, Kiai Kafrawi Ridwan telah pergi. Begitu banyak amal jariyah yang beliau tinggalkan untuk Gontor. Selain pemikiran, kewibawaan, dan power beliau dalam menjaga marwah ISID (yang kini menjadi Unida Gontor), juga wakaf tanah istri beliau yang kini menjadi Pondok Pesantren Darul Qiyam (Gontor 6).

In sya Allah amal jariyah tersebut akan selalu mengalirkan pahala kepada beliau di alam sana. Aamin ya rabbal alamin.

Selamat jalan, Kiai Kafrawi. Doa kami selalu menyertai.Binhadjid

 

Terbang ke Kuala Lumpur Hanya dengan Rp 38 Ribu

Beberapa waktu lalu saat saya menikmati liburan break semester di Jogja, ada kabar mengejutkan yang dibagikan beberapa teman melalui status whatsapp. Tak hanya satu orang, namun sampai 10 orang kawan yang juga berkuliah di Malaysia, juga membagikan foto tersebut.

Foto tersebut adalah screenshot dari daftar harga pesawat Malaysia Airlines dari Jakarta ke Kuala Lumpur pada tanggal 5 November 2018. Sepintas, tak ada yang istimewa dari foto tersebut. Hanya berisikan data seperti biasanya; nomor pesawat, tanggal dan jam penerbangan, asal dan tujuan, maskapai, dan harga.

Namun, yang mengejutkan, adalah harga tiket penerbangan tersebut, yaitu Rp 38 ribu…!#@!%@!!

Ini tidak masuk akal, mustahil, gila! Pasti ada kesalahan sistem! Pasti ada human error!

Saya tidak percaya. Beberapa kali saya terbang mondar-mandir Jakarta ke Kuala Lumpur, tiket harga promo terendah ada di kisaran Rp 380 ribu rupiah. Itu pun tiket Air Asia tanpa bagasi, tanpa pilihan asuransi, tak memilih kursi, dan tanpa setetes pun minum air di kabin. Bisa dibilang satu-satunya fasilitas selain jatah kursi di pesawat, adalah penggunaan toilet (karena memang gratis) dan senyuman mbak-mbak pramugari.

Dan mukjizat ini, ada di Malaysia Airlines. Jadi tiket Rp 38 ribu itu sudah termasuk bagasi 30 kg dan makan malam di kabin. Pokoknya sudah standar maskapai sekelas Garuda Indonesia.

Tanpa pikir panjang, saya segera booking via tiket.com untuk penerbangan tanggal 11 November 2018, dan ternyata ada juga yang seharga itu. Sehingga saya punya 2 jam ke depan untuk berpikir, jadi ambil penerbangan ini atau tidak. Total harga Rp 64 ribu, karena ditambah biaya insurance.

Satu-satunya yang menghalangi saya untuk segera transfer biaya tiket, adalah kekhawatiran bahwa ini adalah penipuan. Saya juga sempat berpikiran bahwa hal ini tidak nyata, seperti mimpi. Seperti halnya dalam film, saya coba mengucek mata, menampar wajah perlahan, dan mencubit tangan, sekedar memastikan bahwa ini bukan mimpi.

Namun saya pikir, toh kalau pun biaya segitu hangus, gak masalah. Tak terlalu besar. Maka saya mantapkan hati untuk transfer tiket tersebut.

Tibalah tanggal 11 November 2018. Saya berangkat ke Soekarno Hatta terminal 2, karena dalam tiket, tertulis bahwa saya terbang dari terminal 2. Ternyata oleh petugas, saya diarahkan ke terminal 3. Lagi-lagi kekhawatiran itu muncul. Jangan-jangan penerbangan ini memang fake.

Namun, alhamdulillah, semua kekhawatiran raib setelah saya menerima boarding pass dari petugas check in. Sempat saya cek nomor kursi pesawat. Jangan-jangan saya mendapat “tiket berdiri” seperti halnya kereta ekonomi beberapa tahun silam. Namun tidak, di pesawat tersebut saya mendapat kursi 9F.

Istri saya sempat menanyakan via whatsapp, apa para penumpang tersebut tampak sumringah dengan tiket semurah itu. Saya jawab, tak ada yang berbeda dari penerbangan biasanya. Semua sibuk dengan urusan masing-masing. Karena, tiket ini viral baru sekitaran tanggal 5 November. Jadi yang sudah pesan sebelum itu, pasti dengan harga normal. Kisaran Rp 800 ribu-Rp 1 juta rupiah.

Setelah saya foto tiket dan bagikan di status whatsapp, ada beberapa kawan yang memberi komentar. Salah satunya ada yang mencoba menganalisa, mengapa bisa ada tiket semurah itu. Dia berpikir, bahwa jatuhnya Lion Air yang baru terbang dari Soekarno Hatta kemungkinan juga menjadi salah satu faktor “jatuhnya” harga tiket tersebut. Mungkin ada instruksi dari atasan untuk membanting harga, dengan tujuan menghilangkan efek psikologis takut naik pesawat akibat kecelakaan tersebut. Dan jika bukan karena efek kecelakaan tersebut, pasti ini adalah kesalahan sistem atau kesalahan petugas.

Sekitar pukul 22.00 waktu Kuala Lumpur, alhamdulillah saya landing dengan selamat di KLIA 1.

Semoga, ke depannya, ada lagi keajaiban-keajaiban seperti ini. Khususnya penerbangan Jakarta-Jeddah. Biar bisa sekalian umrah.. hehe..

Binhadjid

Museum and Art Gallery Malaysia National Bank (Catatan Perjalanan)

Setahun saya di Malaysia, sudah dua kali saya mengunjungi Museum and Art Gallery yang disponsori oleh Bank Negara Malaysia. Sepintas saya pikir isi museum hanyalah uang-uang kuno yang dipamerkan tanpa ada keistimewaan.

Namun, saya salah menduga. Saat pertama mengunjungi museum ini bersama Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah, saya terperangah. Bangunan yang digunakan oleh museum ini saja sudah begitu unik. Didominasi oleh bahan dasar kaca yang disusun dengan sudut kemiringan tertentu.

Memasuki museum, kami diterima dengan sangat baik oleh resepsionis yang bertugas. Saat itu kami berkunjung tanpa mengirimkan sepucuk surat pun, karena memang mendadak. Namun, hal tersebut tak mengurangi keramahan guide yang mengantar kami keliling museum. Museum ini memang menyediakan free guiding saat ada rombongan atau personal yang meminta untuk dipandu mengelilingi museum.

Kami mengawali dengan children’s gallery yang berada paling dekat dengan resepsionis lantai dasar. Kami cukup kagum, bermacam pendidikan tentang pentingnya nilai mata uang yang dibalut permainan serta visual mengasyikkan. Ada edukasi cara menabung yang baik, menggambar uang, melihat pengaman pada uang kertas, dan lain sebagainya. Perlu saya akui, desain dan teknologi yang digunakan museum ini top markotop.

Lanjut ke lantai 1, kami masuk ke diorama Islamic Finance Gallery, Economics Gallery, dan Bank Negara Malaysia Gallery. Lantai inilah yang menjadi nyawa museum ini. Diorama ini menyajikan sejarah perkembangan ekonomi dalam dunia Islam. Juga menjelaskan sejarah perkembangan mata uang di Malaysia yang mempengaruhi aspek politik dan sosial. Lagi-lagi, saya terkagum-kagum dengan desain ruangan dan teknik penyajian yang disuguhkan museum ini.

Di lantai 2, ada numismatic gallery. Semacam diorama yang menyajikan sejarah uang pada zaman dahulu. Bagaimana proses barter dilakukan sebagai mata uang. Museum ini juga menyuguhkan benda-benda tiruan yang digunakan sebagai mata uang pada masa itu. Dan di lantai 3, ada galeri lukisan yang merupakan karya seniman ternama di Malaysia.

Perlu anda ketahui, museum yang penuh dengan keunikan dan teknologi berkelas ini tidak dipungut biaya sepeser pun, alias gratis. Untuk ukuran museum semegah ini, angka gratis adalah sebuah keajaiban. Belum lagi jika anda merasa lapar dan haus, anda bisa mampir ke kafe yang disediakan di lantai dasar museum. Harganya sangat bersahabat, meski sekilas tampak mahal, karena interior kafe mirip dengan kafe-kafe mahal lainnya.

Rasanya sayang sekali jika anda ke Malaysia, namun belum mengunjungi museum ini. Sayangnya, belum ada tranport umum yang mengantar anda ke sini. Anda masih perlu menggunakan mobil pribadi atau taksi online untuk menuju tempat ini.

Perlu informasi tentang agen tour travel di Kuala Lumpur? Bisa menghubungi kami di +6011 2137 6847 atau email [email protected]. binhadjid

Saatnya Media Pembelajaran Bahasa Arab “Online” Merebak

Pada semester lalu, saya mengambil materi kuliah master Instructional Method in teaching Arabic di bawah bimbingan Dr. Shobri Sahrir. Awalnya, saya pikir materi ini “hanya” akan membahas bermacam metode pembelajaran Bahasa Arab, teknik pelaksanaanya, evaluasi, dan pengembangannya.

Namun, ternyata terkaan saya salah. Mungkin karena terlalu terpaku dengan materi pembelajaran Bahasa Arab selama saya belajar di Unida Gontor. Dalam materi yang saya pelajari saat degree, selalu hanya melibatkan: Siswa (objek), guru (subjek), metode, dan media. Untuk tiga hal pertama, saya kira Gontor sudah menjadi kiblat untuk beberapa sekolah, pondok, dan kampus di banyak tempat. Namun, untuk sisi media pembelajaran, khususnya media yang bersentuhan dengan teknologi, meski sudah ada, tampaknya Gontor masih perlu banyak pengembangan. Mengingat anak zaman now sudah mulai beralih dari dunia “manual” ke dunia teknologi.

Dalam perkuliahan saya, Dosen tidak banyak memberikan materi di tiap pertemuannya. Ya, mungkin hanya ada beberapa poin penting saja yang perlu kami pahami. Selebihnya, hanya penekanan terhadap apa yang sudah kami pahami saat degree. Sisanya, kami diwajibkan untuk nugas.

Tugas inilah yang menarik. Kami diinstruksikan untuk membuat sebuah media online pembelajaran Bahasa Arab untuk tujuan tertentu (spesific purpose), kemudian dipromosikan dalam sebuah poster, serta dituangkan dalam sebuah proposal. Cukup dengan mengerjakan 3 poin tugas ini saja, kami sudah dianggap lulus, tak perlu hadir di ruang kuliah.

Tampaknya sederhana, namun ternyata rumit.

Dosen saya tidak kaburo maqtan dalam penugasan ini. Dengan bangga beliau seringkali membawa produk-produk media pembelajaran bahasa Arab hasil karyanya ke kelas. Entah dalam bentuk website, aplikasi, video, buku, hingga ada semacam permainan anak yang dapat “hidup” secara hologram. Pastinya, semua produk itu mendapat sokongan besar dari sponsor, kampus, pemerintah, atau perusahaan, entah apa itu namanya. Karena produk semacam ini jelas-jelas tidak gratis.

Ada kawan saya yang menggunakan skypee, ada pula yang membuat blog sederhana, ada pula yang sedikit modal dengan merancang sebuah website. Dosen sempat merekomendasikan kami untuk membuat sebuah aplikasi yang bisa diakses di playstore atau appstore, namun, tak satupun dari kami mampu.

Saya memilih untuk membuat sebuah blog sederhana, kemudian diisi dengan materi pembelajaran Bahasa Arab untuk diplomasi. Artinya, bagi orang yang akan memasuki dunia diplomasi Bahasa Arab, namun buta bahasa Arab, blog saya ini adalah jawaban tepat untuk mengatasinya. Blog saya isi dengan kosakata khusus dunia diplomasi, artikel-artikel politik, video-video wawancara, dan rujukan buku-buku politik, semua tentu berbahasa Arab.

Dalam menggarap tugas ini, diperlukan pengetahuan mengenai teknik built up sebuah blog, mengisi konten, kemudian mengunggah. Saya tidak perlu menyusun ratusan kosa kata bahasa Arab dalam dunia politik satu per satu, cukup dengan mengambil dari sebuah kamus bahasa Arab diplomasi yang ada dalam internet. Ingat, dalam pengerjaan tugas, proses dan isi adalah penting, namun titik “done” dan “submit” pada waktu yang ditentukan adalah sangat jauh lebih penting. Maka sisi efektivitas dan efisiensi perlu kita kedepankan.

Alhamdulillah, di akhir semester saya berhasil mengumpulkan tepat waktu, kemudian mendapatkan nilai yang “cukup”, meski tidak memuaskan.

Materi ini benar-benar menggugah pola pikir saya selaku seorang pengajar bahasa Arab. Berharap agar Unida Gontor dapat fokus mengembangkan metode pembelajaran Bahasa Arab melalui media online.binhadjid

Berikut adalah link blog hasil tugas saya: https://arabicdiplomacy.wordpress.com/

Sumber foto: https://www.republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/16/09/01/ocu3io313-tingkat-adopsi-alat-digital-di-sekolah-rendah

Faiz

Ya Allah, berikan kepada kami pemain-pemain yang handal.

Jadikan kiper kami mampu menepis segala tendangan.

Jadikan penyerang kami mampu mencetak gol.

Berikan kepada kami hasil yang terbaik.

Faiz menangis.

Menjelang pertandingan itu, Faiz berubah. Sifat humorisnya raib entah ke mana. Penciptaannya seakan didesain ulang. Kami kaget, sekaligus kagum.

Sebegitu seriusnya Faiz untuk kompetisi ini.

Dua minggu sebelumnya.

“Ayo kawan-kawan, lapangan sudah di-booking. Mari kita latihan.” Faiz mengirim pesan melalui whatsapp dalam grup tim futsal.

Faiz, sang kapten, memang sangat rajin memimpin latihan para anggota. Kami para alumni pesantren yang sekarang kuliah di Malaysia, memutuskan untuk mengikuti turnamen futsal antarwarga Indonesia di Malaysia.

Ditemani Wira, Faiz menggebu bersemangat menunggu di lapangan. Lapangan merah yang sejatinya lebih cocok untuk basket itu menjadi lapangan favorit bagi kami, juga seluruh mahasiswa pencinta futsal di kampus ini. Selain karena lampu penerangan yang baik, bahan dasar paving yang digunakan juga nyaman.

Latihan memang masih akan dilaksanakan jam setengah 10 malam, namun Faiz dan Wira sudah berada di lapangan 2 jam sebelumnya.

Untuk apa mereka secepat itu?

Ternyata lapangan merah adalah lapangan favorit. Jadi, siapa cepat, dia dapat. Faiz dan Wira harus “mempertahankan” lapangan, sampai kami semua tiba.

Karena ini kampus internasional, maka para pemain yang datang ke lapangan juga dari berbagai negara. Dan yang paling rumit, adalah jika para mahasiswa Afrika yang notebene berbadan besar dan berkulit gelap, datang beramai-ramai ke lapangan.

Faiz dan Wira harus memutar otak agar mereka tak “diremehkan”.

Muncul sebuah ide gila.

Wira mengambil sebatang rokok, kemudian disulut di depan para mahasiswa Afrika tersebut. Tiba-tiba, wajah mereka yang sebelumnya garang ingin mengambil alih lapangan, berubah menjadi ramah.

Sembari menyebul asap rokok dengan santai, Wira memberi pernyataan bahwa lapangan tidak bisa mereka gunakan. Tanpa banyak beralasan, mereka pun meminta maaf karena sudah mengganggu, kemudian pergi keluar lapangan.

Angkat topi untuk Wira.

Aku selalu menunggu datangnya waktu latihan. Bagiku, bermain futsal adalah sangat penting. Bagaimana tidak, tugas kuliah yang begitu banyak, membuat dunia ini semakin sempit. Maka penjernihan otak dengan bermain futsal adalah efektif dan manjur.

Bagi para mahasiswi, banyak dari mereka yang mencari hiburan dengan berbelanja. Namun bagi kami, para mahasiswa, berbelanja malah membuat dunia serasa makin sempit.

Kami berlatih hampir setiap hari, terutama menjelang kompetisi bergulir. Berbagai persiapan kami lakukan, mulai dari teknis pendaftaran, strategi bermain, hingga stimulus penguat tenaga selalu kami pikirkan.

Tanpa terasa, hari pertarungan telah tiba.

Jarak dari kampus kami ke lokasi pertandingan sekitar 20 kilometer. Perlombaan digelar di Universitas Malaya. Salah satu kampus tenar di Malaysia. Sama besarnya dengan kampus kami, bedanya, mereka tak berlabel islami. Jadi mahasiswi tak berjilbab dan berpakaian minim amat mudah ditemukan.

Universitas Malaya adalah universitas pertama yang didirikan di Malaysia. Cukup luas kawasannya, sekitar 300 hektar. Sudah menjadi kebiasaan di Malaysia, bahwa yang namanya universitas, haruslah memiliki kawasan luas. Karena di dalamnya akan didesain sedemikian rupa dengan dilengkapi taman, danau, sungai, lapangan, gedung-gedung fakultas yang terintegrasi, hingga jalur-jalur pedestrian.

Kami berangkat sejak pagi buta menuju Universitas Malaya. Meski akhirnya kami datang terlalu pagi. Namun tak masalah, setidaknya kami memiliki waktu panjang untuk berlatih.

Pertandingan demi pertandingan kami lalui. Tim kami dibagi menjadi dua, karena stok pemain yang cukup banyak dengan kualitas merata. Kedua tim yang dikirimkan tampak mudah melalui 3 pertandingan pertama.

Karena pertandingan dilaksanakan di ruang terbuka, panas begitu terasa menyengat. Semakin tinggi suhu udara, semakin tinggi pula tensi pertandingan di lapangan.

Tak jarang ada protes keras dari para pemain terhadap wasit dan ofisial. Meski demikian, emosi masih dapat diredam.

Kedua tim lolos ke babak 16 besar.

Karena suhu yang sangat tinggi, pertandingan dipindahkan ke dalam ruangan. Sebuah lapangan futsal indoor milik Kampus dijadikan venue.

Berbeda lapangan, berbeda pula kondisinya. Lapangan outdoor yang tadinya ukurannya cukup luas dengan bahan lantai dari anyaman plastik, membuat cara bermain kami sedikit santai. Penguasaan bola diutamakan.

Berpindah ke indoor, lapangan lebih sempit dengan bahan lantai kayu. Sehingga tendangan langsung menjadi hal yang paling sering dilakukan. Beruntung tim kami memiliki para shooter handal, sehingga dengan mudah melaju ke babak selanjutnya.

Di babak 8 besar inilah kami mendapat ujian sesungguhnya.

Satu dari dua tim kami gagal melaju ke babak selanjutnya. Jatuhnya Niam, kiper kami, menjadi titik awal kegagalan kami.

Dalam laga itu, lawan kami menyerang dengan sekuat tenaga. Beruntung Niam tampil ciamik. Sayang, tak lama kemudian, benturan keras terjadi. Niam tak mampu melanjutkan pertandingan. Hingga akhirnya digantikan oleh pemain lain.

Dengan mudahnya kami kebobolan. Gol demi gol terjadi. Hingga akhirnya saat peluit panjang dibunyikan, kami kalah.

Meski kalah, setidaknya pertandingan berjalan sportif. Berbeda dengan nasib tim kami yang satu lagi, melawan tim yang cukup garang.

Persepakbolaan di Indonesia adalah ironi.

Ini tak lain adalah karena sifat dan mental yang dimiliki. Sikap tidak sportif, sulit menerima kekalahan, maunya menang sendiri, dan nihilnya sikap saling menghargai menjadi hubungan kausal dengan prestasi minor timnas Indonesia.

Melihat suporter rusuh, pemain memukul wasit, adu jotos antar ofisial, hingga nyawa melayang karena perkelahian anta suporter menjadi hal lumrah di Indonesia. Dan sayangnya, komite sepakbola seakan tutup mata dengan hal tersebut.

Berbeda dengan Mesir, saat ada tragedi nyawa melayang dalam liganya, pemerintah langsung membekukan seluruh kegiatan persepakbolaan. Tegas memang, namun itu harus demi kemaslahatan bersama. Karena ketegasan itulah, saat sepak bola di Mesir digulirkan kembali, prestasi mereka turut serta meningkat.

Dan yang memprihatinkan, sifat buruk para suporter di negara kita sudah mendarah daging. Bahkan saat sudah di luar negeri pun, sikap tak sportif itu masih ada.

Faiz memang pemain unik. Ia menjadi tumpuan tim kami dalam mencetak gol. Hal itu pulalah yang membuat lawan selalu mengincar Faiz. Entah dengan cara fair atau pelanggaran, yang penting Faiz dapat dihentikan.

Akhirnya aksi-aksi tidak profesional terjadi. Berkali-kali pemain lawan mencoba mengambil bola dari kaki Faiz dengan kasar. Bahkan tak jarang, langsung dengan tendangan ke arah kaki. Entah mengapa, wasit pun diam saja.

Hingga satu momen buruk terjadi, di mana saat Faiz mencoba merebut bola dari pemain lawan, namun kemudian lawan terjatuh. Saat itu pemain lawan tidak terima, kemudian dengan lagak tidak sopan seakan menantang Faiz berkelahi.

Barok, kawan satu tim Faiz, terpancing emosi. Ia mendekati orang tersebut, kemudian memasang kaki. Seakan ingin menendangnya.

Namun sayang seribu kali sayang. Gelagat tersebut membuat para suporter masuk lapangan. Barok menjadi bulan-bulanan suporter tim lawan. Beruntung, sebelum semuanya menjadi semakin runyam, tim keamanan dengan sigap melerai. Meski Barok sudah diamankan, namun kami tidak terima dengan perlakuan suporter tim lawan, yang mana sempat ada pukulan keras ke arah kepala Barok.

Kami pun mulai terpancing emosi. Kami mencari si pemukul tersebut. Kami anggap ia biang keladi semua ini.

Saat kami beramai-ramai mencari si pelaku, tiba-tiba Barok datang dan berteriak.

“Sudaaaah!! Gak perlu dicari orangnya!! Biarin saja!!”

Aku kaget setengah mati. Ini bukan Barok yang kukenal. Biasanya di tengah kondisi serumit apapun, ia tetaplah seorang penggurau. Namun, hari ini, situasi mampu melebur tawanya menjadi amarah.

Barok pun mendapat kartu merah dan meninggalkan lapangan. Sekaligus meninggalkan venue, kami amankan, kami takut ia menjadi incaran suporter lawan, meski sudah di luar lapangan.

Pertandingan kembali dilanjutkan.

Sebelum kerusuhan terjadi, kami tertinggal 1-0. Kami pun mencoba mengejar ketertinggalan. Tak ayal, usaha kami membuahkan hasil. Kami berhasil memecahkan telur. Sekaligus menyamakan kedudukan. Dan wasit pun meniup peluit panjang.

Pertandingan harus dilanjutkan ke babak adu penalti.

Namanya juga adu penalti, isinya hanya adu keberuntungan. Namun bagi kami, tidak ada keberutungan, yang ada hanyalah karunia Allah SWT. Dan sore itu, karunia Allah SWT berpihak pada kami. Penendang kedua dari tim lawan, gagal mengeksekusi penalti.

Kami pun melaju babak semi final.

Selamat, Faiz.

Sembari menunggu babak semi final, Faiz dan timnya beristirahat di mushala. Selain Memusatkan tenaga, mereka juga bermuhasabah dengan berdizikir dan membaca Quran.

Aku dan beberapa kawan tetap menunggu di lapangan, sekaligus menonton babak perempat final lainnya.

Dan kali ini, kerusuhan terjadi lebih seru.

Seorang pemain terjatuh usah diganjal kaki lawan. Pemain lain mendekati sang pelanggar, menenangkan. Namun ia terpancing emosi dan mendorong. Sudah melakukan pelanggaran, malah emosi.

Ah, sudahlah..

Panitia mencoba masuk lapangan untuk melerai. Namun ia tak terima dengan perlakuan panitia. Saling dorong pun terjadi. Suporter turun ke lapangan. Adu jotos terjadi. Saling lempar kursi mewarnai kerusuhan.

Yang paling miris, ini adalah kompetisi sesama warga Indonesia dan dilaksanakan di negara orang. Dan yang paling membuat malu, adalah seluruh wasit yang bertugas, berasal dari Malaysia.

Mungkin saja para wasit membatin dalam hatinya.

Haha, lagu lama. Namanya juga pemain dan suporter Indonesia, pasti ada kerusuhan. Kalau bertindak sportif dan damai, malah perlu dipertanyakan.

Partai semifinal berlangsung cukup ketat, namun gol semata wayang Faiz, menjadikan mereka kampiun dan melaju ke babak final.

Sejatinya, kami merasa tidak nyaman, karena lawan yang kami hadapi adalah kawan sendiri, dari kampus yang sama. Jadilah kami tidak memberi dukungan dengan stamina penuh, lebih tenang dan kalem. Cukup doa yang mengiringi, dan ternyata manjur.

Padahal penjaga gawang tim lawan cukup tenar di seantero kampus sebagai pemain handal. Handal dalam menjaga gawang. Namun malam itu, karunia belum turun pada tim mereka.

Kini, saat fokus kepada partai final. Sembari menunggu babak perebutan juara tiga bergulir, Faiz dan timnya beristirahat total.

Hingga pertandingan usai, dan kami dipanggil ke lapangan, sebuah keajaiban terjadi.

Tim kami berkumpul dalam lapangan, termasuk ofisial, satu tim lainnya yang sudah kalah, serta para suporter.

Faiz menangis.

Rintikan air matanya terjatuh saat ia melantunkan doa. Suaranya serak, sesekali tersedak. Di tengah sedaknya, hening, tak ada suara. Keheningan itulah yang membuat pertandingan final terasa khidmat.

Usai berdoa, ia memberi motivasi.

Kita sudah terlanjur melangkah jauh.

Kita sudah berada di partai final.

Maka tak ada kata lain, selain kemenangan.

Yakinlah, Allah bersama kita.

Ingatlah hari ini, kawan

Karena hari ini akan menjadi milik kita, untuk selamanya.

Aku seperti sedang melihat Thariq bin Ziyad, Shalahuddin Al-Ayyubi, Thariq bin Ziyad, atau bahkan Julius Caesar, the Great Alexander, Jengis Khan, yang sedang berpidato menjelang berperang.

Sederhana kata-kata Faiz. Karena ia memang bukan seorang pujangga. Justru malah aneh jika kata yang ia ucapkan terlalu puitis. Pasti itu hanya karangan orang, kemudian dihafal.

Kata-kata ini menunjukkan siapa Faiz sebenarnya.

Doa Faiz didengar oleh-Nya

Tim kami begitu mudah mendulang gol demi gol di partai final. Entah mengapa, tendangan Faiz yang sedari tadi mampat, kini mengalir begitu saja.

Entah karena lawan yang lemah, atau tim kami yang terlalu kuat, aku tak tahu. Yang pasti skor kini 5-0 untuk kemenangan kami. Sampai-sampai Wira, yang notabene lemah dalam bermain futsal, diberi kesempatan oleh Faiz untuk bermain.

Hingga peluit akhir ditiup, skor adalah 6-1 untuk kemenangan kami. Kami juara pada kompetisi ini.

Alhamdulillah.

Sederhana, namun mengena.

Itulah gambaran Faiz selama kompetisi ini. Bila dilihat, materi pemain timnya sebenarnya biasa-biasa saja. Bahkan ada yang baru memiliki skill akhir-akhir ini. Namun tak dinyana, mereka mampu meraih kampiun.

Ini adalah bukti, bahwa hasil tak akan pernah mengkhianati proses.